Haruki Murakami dan Sekitarnya

Gara-gara satu nama, Haruki Murakami, tiga puluhan orang berkumpul pada bincang sore bertema Haruki Murakami and New Writings from Japan yang diadakan di Kinosaurus, Kemang, Minggu sore kemarin. Acara yang diselenggarakan The Japan Foundation (Jakarta) bekerjasama dengan Makassar International Writers Festival (MIWF) dan Monkey Business Literary Journal ini mengajak Roland Kelts (Monkey Business) dan Aoko Matsuda (penulis, penerjemah) untuk berbagi cerita tentang… tentunya Murakami-san dan kehidupan tulis-menulis di Jepang.

Roland  membuka dengan cerita perkenalannya dengan Murakami-san di tahun 1999, saat Murakami telah kembali menetap di negeri matahari terbit setelah sebelumnya berkelana ke Rusia dan Amerika Serikat. Menurut cerita Roland, kepergian Murakami-san dari Jepang adalah karena ia merasa ambivalent terhadap tanah kelahirannya itu, masyarakatnya lebih tepatnya. Murakami-san merasa tidak nyaman dengan perlakuan masyarakat di sekitarnya terhadap dirinya — khususnya setelah ia menjadi sensasi literatur internasional. Sementara kepulangannya ke Jepang adalah ia merasa “bertanggung jawab” untuk berkontribusi pada negaranya, apalagi setelah beberapa tahun sebelumnya Jepang dilanda gempa dan mengalami serangan teroris.

Dari sudut pandang Roland, tulisan-tulisan Murakami jadi bentuk pemberontakan terhadap gaya-gaya penulisan yang sudah dikenal sebelumnya, termasuk “melanggar” paradigma penulisan ala Barat yang umumnya terdiri dari 3 babak; beberapa tulisan Murakami bahkan tanpa babak ketiga, tanpa resolusi. “It’s as if he  (Murakami) decided stop writing.”

Sebagai pembaca beberapa buku Haruki Murakami, saya tidak bisa tidak setuju pada opini Roland. Tulisan-tulisan Murakami-san yang sudah saya baca memang bergerak perlahan (salah satunya bahkan menurut saya terlalu perlahan sampai-sampai saya tinggalkan di tengah cerita untuk beberapa saat), tapi kita dibuat berantisipasi karena kita tahu sesuatu akan muncul ke permukaan, lalu setelah kita terikat pada halaman demi halaman berikutnya tiba-tiba cerita selesai begitu saja. Tulisan Haruki Murakami yang pertama saya baca adalah Norwegian Wood, dan saya masih ingat suasana hati saya setelah menyelesaikan novel itu begitu… muram. Saya menolak membaca novel lain untuk beberapa saat, dan membiarkan mono no aware yang disalurkan Toru, Naoko dan Midori mengambil alih ruang hati.

Ekspektasi saya (dan mungkin ekspektasi tiga puluhan peserta bincang sore lainnya) adalah menemukan korelasi antara karya-karya Haruki Murakami pada para penulis Jepang generasi hari ini. Namun rupanya ibu Lily dari MIWF lebih senang menelisik perasaan Murakami-san terhadap negaranya korelasi itu tidak cukup organik. Sebagai salah satu penulis Jepang generasi hari ini, Aoko justru tidak merasa related dengan Murakami-san dan karya-karyanya. Aoko membaca semua buku Murakami-san pada masanya di usia sekolah menengah atas, gaya penulisan Murakami-san yang terbilang “baru” pada saat itu tidak serta merta memberi pengaruh pada gaya tulisan Aoko. Aoko justru lebih terpengaruh oleh penulis Jepang lainnya, khususnya penulis perempuan yang mengedepankan tokoh perempuan dalam tulisannya.

Hal ini kontras bila dibandingkan dengan kehidupan tulis-menulis di Indonesia, banyak penulis (atau calon penulis) yang menyebut nama Murakami sebagai influencer, seperti yang terjadi di Makassar sehari sebelumnya. Kata Aoko, dia tidak mengerti apa yang sedang didiskusikan karena dalam Bahasa Indonesia, tapi ada satu kata yang dia mengerti dan cukup sering disebut: Murakami.

Hal ini wajar, menurut saya, karena akses kita ke buku-buku dari penulis Jepang cukup terbatas; Haruki Murakami adalah salah satu yang “cukup beruntung” bisa mampir ke toko-toko buku brick and mortar dan online, bahkan dalam versi terjemahan Bahasa Indonesia. Nama-nama penulis Jepang selain Murakami-san yang saya tahu — sekaligus yang pernah saya baca — terbatas pada Banana Yoshimoto dan Soseki Natsume. Saya bahkan belum pernah mendengar nama Aoko Matsuda sebelumnya.

Lain di Jepang tentu lain di Indonesia. Namun ada satu hal yang cukup mirip di kehidupan tulis-menulis di kedua negara: kegelisahan penulis. Ada kegelisahan yang coba dituangkan dalam tulisan. Buat seorang Aoko Matsuda kegelisahan itu salah satunya berasal dari dirinya, seorang perempuan di tengah masyarakat patriarki. (Sounds familiar, kan?) Hal lain yang juga membuat Aoko gelisah adalah hal-hal yang dari-sananya-sudah-begitu, terus-menerus diturunkan begitu saja tanpa pernah dipertanyakan, hal seperti lagu kebangsaan. Aoko mempertanyakan tentang lagu kebangsaan Jepang yang harus dibawakan bahkan saat ia yang menyanyikannya tidak mengerti isi lagunya. Kegelisahannya itu dituangkan dengan menarik pada suatu cerita pendek yang diterjemahkan menjadi Love Isn’t Easy When You’re The National Anthem, yang pada acara bincang sore kemarin dibacakan dalam versi bahasa Jepang dan bahasa Inggris secara bergantian.

(Selepas acara bincang sore, saya mendekati Aoko untuk bertanya tentang satu hal terkait cerpen lagu kebangsaan itu. Pada versi bahasa Jepang, Aoko menggunakan kata “boku” [dan bukan “watashi”] yang memberi konteks informal, bahkan boyish. Aoko bilang dia memang sengaja memberi kesan itu, kesan bocah pada diri si aku. Sayangnya konteks ini hilang karena terjemahan bahasa yang tidak menemukan padanan yang sesuai konteks keakuan pada boku.)

Buat saya, sesi bincang sore kemarin adalah suatu penemuan; masih ada penulis Jepang lain di luar Haruki Murakami, dan beberapa nama yang saya kenal, yang juga sama menarik untuk dikenal, untuk dibaca, untuk dipahami. Sebagai langkah awal perkenalan dengan Aoko Matsuda, silakan baca beberapa tulisannya yang saya temukan (thanks to Google) di Granta, Newwriting, dan PDF ini.

Trivia Bahasa

Saya suka menyimak trivia bahasa, khususnya bahasa Indonesia. Terlebih karena pelajaran bahasa Indonesia selama di sekolah ternyata belum cukup membuat kita saya mampu menggunakan bahasa Indonesia dengan baik.

Ketika saya bertemu dengan pertanyaan tentang bahasa Indonesia, walaupun tidak ditujukan ke saya secara pribadi, biasanya saya tergelitik untuk ikut mencari tahu jawabannya.

Saat ada yang bertanya kenapa suatu benda dinamai “pesawat telepon”, saya jadi ikut berpikir: iya juga ya, kenapa menggunakan kata “pesawat”.

Seperti biasanya, saya langsung kroscek ke Kateglo, yang mengambil data kosakatanya dari KBBI. Dalam kasus pesawat telepon ini, Kateglo/KBBI menjawab:

pesawat
nomina (n)

1) alat perkakas; mesin: motor itu dijalankan dengan —
2) kapal terbang: naik —
3) tali (rotan, kulit, dsb) untuk menjalankan jentera, roda, perangkap, dsb: tali — , tali (kulit) untuk menjalankan jentera (roda)

Mungkin karena terlalu identik dengan makna “kapal terbang”, kita saya baru tahu kalau kata pesawat punya makna yang lebih mendasar, yaitu sebagai alat perkakas atau mesin — yang membuat “pesawat telepon” dan “pesawat televisi” masuk akal.

Selama masih ada manusia, maka bahasa akan terus berkembang. Sekarang kita bisa mengeliminasi kata “pesawat” di kedua contoh tadi tanpa mengurangi maknanya. “Telepon” tetap bermakna alat perkakas atau mesin untuk bertelepon; begitupun “televisi”.

Buat saya tetap penting untuk tahu makna suatu kata, juga paham konteks dan perubahan konteks yang terjadi pada suatu kata itu. Saya juga setuju bahwa konten KBBI memang perlu terus diperbarui, mengikuti perkembangan manusia dan budayanya. Tinggal bagaimana saya, si pengguna bahasa Indonesia ini, bisa ikut mengembangkan bahasa Indonesia?

(Jawaban saya: gunakan bahasa Indonesia sebisa mungkin; cari referensi di KBBI — banyak orang yang sudah berusaha mengumpulkan data sebanyak itu dalam sebuah kamus, setidaknya kita bisa manfaatkan kamus itu untuk saat ini; dan kalau pun tidak puas dengan jawaban dari KBBI, tak perlu lah mengeluarkan jurus mumbo jumbo yang membuat kamu semakin tidak dipahami .)

Dia Lo Gue Orang

Pada obrolan bersama super senior dan super junior tentang rupa-rupa manusia di Indonesia sekitar kita, sambil mengunyah xxl crispy chicken bumbu mecin (sungguh, detil ini penting untuk dituliskan), saya jadi teringat pada bulan-bulan pertama saya di kelas satu SMA.

SMA jadi awal saya berhadapan dengan keragaman budaya; bertemu dan berinteraksi dengan macam-macam manusia Indonesia dan latar belakang — khususnya tetapi tidak terbatas pada — suku dan agamanya. Sebelumnya saya berada di lingkungan yang walaupun cukup heterogen tapi tetap terbatas pada teman-teman keturunan Cina (atau keturunan Tionghoa, sama saja lah), umat Katolik, orang-orang asal Flores (umumnya para guru, biarawati dan pastor), kenalan dan tetangga Jawa (mayoritas Jawa Tengah dan Jogja).

Perkenalan dengan rupa-rupa manusia Indonesia waktu itu tidak seindah terdengarnya. Karena saya “terpaksa” mengompromi identitas saya yang keturunan Cina ini.

Semua berawal dari olok-olokan teman-teman saat mendengar saya atau teman-teman keturunan Cina lainnya menyebut frasa “lo orang”, “dia orang” atau “gue orang” (fyi, it’s a Chinese-Indonesian thing, yang artinya masing-masing: kalian, mereka, kami). Olok-olokan yang kalau sekarang dibawakan Sule bersama wayangnya terdengar biasa saja, tetapi dulu terdengar memarjinalkan. Seolah-olah saya aneh dan asing karena menggunakan frasa ‘lo orang’ untuk menyebut ‘mereka’. Sementara di lingkungan semi-heterogen sebelumnya, saya tidak pernah mendengar tawa maupun cibiran saat frasa ‘lo orang’ meluncur dari mulut seseorang; mereka dia orang paham.

Salah satu kesalahan mendasar manusia adalah berusaha (terlalu keras) untuk menjadi serupa dengan sekelilingnya.

Dari olok-olokan itu saya “belajar” menggunakan kata kita, mereka dan kami dalam obrolan lisan; awalnya tentu terdengar kaku dan tidak wajar. (Sama tidak wajarnya kalau mendengar teman berlogat Jawa medhok melafalkan kata “kotak” dengan akhiran -k telak demi tidak dikatai medhok.) Sehingga sekarang saat mendengar teman atau sepupu menyebut “Lo orang…,” walaupun saya paham, saya merasa frasa itu asing. Mendengarnya saja sudah asing, apalagi mengucapkannya. Di sini saya merasa satu keping puzzle keturunan Cina saya hilang.

Padahal apa salahnya menjadi aneh dan asing? Apa salahnya menjadi berbeda?

Eulogi Untuk Lexy

image

Ini Lexy, waktu nenenin anaknya dua setengah tahun lalu.

Kemarin malam dia meninggal. Memang sudah tua dan lelah; sudah 13 tahun lebih. Umur pastinya kurang jelas; waktu masih bocah, kakak saya “pinjam” dia dari temannya. Dan gak pernah kami kembalikan.

Saya ingat angkat kaki ke kursi waktu pertama kali didekati bocah itu. Masih takut anjing waktu itu; even a cute puppy. Kemudian waktu berlalu. Tau-tau dia, dan sekarang anaknya juga, sudah ngontrak di rumah. Dan hati ini.

Semasa hidupnya Lexy dikenal orang-orang di sekitar sebagai anjing galak. In my defence, Lexy was just misunderstood. Galak itu cuma tampilan depannya; sebenarnya dia hanya protektif. Dan kelalaian kami sebagai manusianya untuk membantu Lexy beradaptasi di lingkungan penuh manusia di sekitarnya.

In the end we all will die, I keep that in mind. Supaya siap kalau-kalau siapapun yang saya sayangi harus “pindah tongkrongan” duluan. Termasuk Lexy.

Terima kasih sudah jadi anjing pertama yang saya sayangi; yang kemudian membuka hati saya untuk anjing-anjing lainnya. Terima kasih sudah menerima kami apa adanya, tanpa syarat dan ketentuan berlaku.

Oleh-Oleh dari Bangkok dan Chiang Mai

Seperti kebanyakan orang yang saya kenal, saya gak suka dititipin oleh-oleh saat berjalan-jalan. Apalagi kalau solo traveling. Memangnya saya personal shopper kamu?

Namun saat Yudis meminta oleh-oleh dari Bangkok dan Chiang Mai, saya tidak menolaknya, bahkan menyambut antusias. Maklum, oleh-oleh yang Yudis minta bukan berupa barang bakal menuh-menuhin backpack melainkan cerita dalam dua artikel untuk konten coffee magazine yang dikelolanya. Challenge accepted!

Oleh-oleh cerita ngopi di Bangkok dan Chiang Mai bisa dibaca di artikel Krema.id.

Rocket-Coffeebar-BKK-9-1024x578-1040x585

 

Ergo Sum

I enjoy
Tidying up and decluttering
So much

The dust escaping into thin air
The sweat rolling beneath my clothes
The before and after outlook
The losing track of time
Every should I trash this or keep this contemplation
Every wait I think it’s better the other way change of mind
Every shit I’m hungry but I’m in the middle of THIS
Every dammit who’s calling at this time of the day glare at the mobile phone
I think I’m good at it
I mean REALLY good at it
I should make this a profession
I could moonlight this, couldn’t I

I enjoy
Tidying up and decluttering
So much
That I think
I might have found
My reason of being

Sawatdi Kha, Thailand

Sawatdi adalah kalimat yang diucapkan saat memberi salam di Thailand (wai). Kalau kamu perempuan akhiri dengan “kha”, kalau kamu lelaki akhiri dengan “khrap”. Walaupun pada praktinya, khususnya di kalangan orang lokal, cukup dengan penggalan “kha” atau “khrap”.

Kalau pada penambahan usia sebelumnya saya menghadiahi diri dengan bertandang ke negeri Paman Ho, tahun kemarin saya membawa diri lost in translation ke Thailand. (Dari perjalanan kali ini saya mendapati fakta bahwa wajah saya memang tipikal oriental Asia Tenggara. Selama perjalanan di Vietnam saya sering disangka orang lokal; begitupun selama di Thailand.)

Untuk tips dan trik traveling ke Thailand, silakan cari-cari di travel website dan travel blog di luar sana, karena di sini saya hanya akan cerita tentang hal-hal menarik yang saya temui selama empat hari di Bangkok dan empat hari di Chiang Mai.

Continue reading

You Don’t Have to Score

Ada masanya dalam hidup, kita disalahpahami oleh orang lain. Dituduh berbuat tidak baik terhadap orang lain itu, walaupun kita tau perkataan, perbuatan, bahkan pikiran kita tidak begitu.

Kita pun berupaya mengurai benang yang kusut.

Lalu saat kita kira kesalahpahaman sudah diluruskan, tiba-tiba kita dengar kabar dari orang ketiga bahwa si orang lain masih mengganggap kita sebagai orang jahat.

Kita tidak terima. Kita bahkan mungkin marah. Kita setidaknya merasa dikhianati. Kita ingin mengajak si orang lain kembali duduk berhadapan; kembali beradu argumen. Kembali ingin menjelaskan bahwa kita tidak jahat; si orang lain hanya salah paham.

“Ikhlasin.”

“You don’t have to score.”

Seburuk kedengarannya, nasihat di atas benar adanya.

Terima saja. Silakan marah. Silakan sedih. Tapi gak perlulah kembali mencoba menjelaskan diri. You did that already. If it was not enough for that person, it’s never gonna be enough.

Dan gak akan mudah. Saya berkali-kali kepikiran untuk kembali melakukan konfrontasi, supaya kelak saya mati saya tau kalau orang lain itu tidak salah paham terhadap saya. Namun, pada akhirnya, apapun yang orang lain itu pikirkan tentang saya gak relevan; saya gak bisa mengendalikan pikiran orang lain.

“I’m only responsible for what I say or do, I’m not responsible for what you understand.”

Dan kehidupan terus berlangsung.

KeMESRAan Cirebon

Kalau di pertengahan Desember lalu saya ikut grup kantor #TWjamesbon alias Think.Web jalan-jalan mesra ke Cirebon, maka kemarin, dalam rangka pergantian tahun 2015 ke 2016, saya dan teman-teman dekat jalan-jalan penuh keMESRAan ke… Cirebon juga.

Penuh kemesraan karena jam terbang kebersamaan kami banyak. Dan MESRA alias MEpet Sampe-sampe RA bisa gerak di kamar hotel, di dalam mobil sewaan dan di tempat-tempat makan yang kami kunjungi; maklum bersembilan.

Ide jalan-jalan akhir tahun ini datang tiba-tiba (kaya cinta) saat kami sedang update info terkait persiapan pernikahan salah dua personil tim keMESRAan ini pada suatu kafe. Langsung saja ide ini disepakati dan ditindaklanjuti dengan membeli tiket kereta Cirebon Express di gerai Alfamart di sebelah kafe. Hotel pun segera dipesan.

Tim keMESRAan kemudian mendapat satu tambahan anggota yang langsung diinagurasi sebagai adik bersama.

Kami tidak memiliki rencana perjalanan, bahkan sampai hari kami tiba di kota Empal Gentong. Ya, kecuali itu, sowan ke warung-warung empal gentong. Tiba di Stasiun Cirebon barulah kami menentukan ke mana arah kaki kami melangkah. Destinasi berikutnya secara konsisten kami tentukan dari lokasi kami berpijak.

Destinasi (atau lebih pantas disebut menu?) yang akhirnya kami kunjungi selama di Cirebon di antaranya:

Empal Gentong Putra Mang Darma

Keluar stasiun kereta kami langsung disambut warung empal gentong. Empal gentong di sini lebih enak bila dibandingkan dengan empal gentong H Apud yang saya cobain saat #TWjamesbon. Entah karena lapar atau karena memang lebih enak.

Empal Gentong Bu Darma

Sedikit lebih jauh dari Putra Mang Darma, ada Bu Darma yang juga menyajikan empal gentong. Soal rasa, ibu dan putra ini sebelas dua belas lah.

Keraton Kasepuhan Cirebon

CMIIW, ada tiga keraton di Cirebon yang terbuka untuk kunjungan umum. Keraton Kasepuhan ini salah satunya dan yang paling besar dari ketiganya.

Dengan luas total 25 hektar, area keratonan ini terbagi menjadi empat: area untuk duduk-duduk dan (pada masanya) menyaksikan pertunjukan, area museum, bangunan utama keraton yang masih digunakan sebagai tempat tinggal, dan area sumur. Sekitar satu jam kami berkeliling di sana bersama pemandu wisata yang menyenangkan — dari info yang disampaikan dan cara penyampaiannya. Saran saya sih sewa jasa tour guide supaya kunjungan ke keraton lebih dari sekadar foto-foto.

Nasi Lengko H. Barno

Selain empal gentong, kuliner yang juga khas di Cirebon adalah nasi lengko. Nasi lengko H. Barno ini sepertinya cukup terkenal jika dilihat dari antriannya.

Pada dasarnya nasi lengko adalah nasi dengan topping sayuran, tahu tempe, sambal kacang dan kecap. Tidak ada yang bisa diistimewakan dari sajian ini, kecuali sambal kacangnya. Dan side dish berupa sate kambing muda (dengan formasi daging-lemak-jeroan dalam satu tusuk) yang lembut, gurih, nikmat.

Kawasan Batik Trusmi

Daerah Trusmi terkenal akan hasil batik khas Cirebon bermotif Mega Mendung dan Pesisir. Lembar demi lembar kain batik Cirebon bisa kamu susuri dari area pertokoan di depan gerbang, sampai blusukan ke area rumah-rumah produksi batik.

Banyu Panas Gempol

Ini mungkin deatinasi yang paling menarik yang kami kunjungi karena terletak di dalam kawasan industri Indocement. Kolam pemandian air panas ini memang memanfaatkan sumber air panas dan belerang yang dimanfaatkan juga oleh perusahaan semen ini.

Saat berendam di sini kamu akan terus mendengar pengumuman dari pihak pengelola untuk memberi jeda pada tiap sesi berendam, untuk alasan kesehatan tentunya.

image

H. Moel Seafood

Restoran seafood ini dikunjungi karena sehari sebelumnya kebetulan kami lewati dan mendadak ngidam berjamaah; sayang waktu itu restoran sudah tutup.

Menu jagoan di sini adalah kepiting saus bangkok dan udang lady rose bakar. Selama makan di sana kami khusyuk menikmati sajian di piring masing-masing sambil sesekali terdengar suara “slurps” dan “aahhh”. Silakan bayangkan sendiri penampilan dan rasanya ya.

Nasi Jamblang Bu Nur

Tempat ini epic! Antrian mengular, pilihan menu melimpah, tempat duduk terbatas, dan ruangan yang panas. Kami bersembilan duduk MESRA Tapi semua bahagia begitu keluar dari warung ini. (Mungkin bahagia karena akhirnya ketemu angin.)

CSB Mall

“Jalan-jalan ke luar kota kok malah ke mal?” Mungkin pertanyaan pertanyaan ini lebih cocok muncul saat seseorang bercerita tentang jalan-jalannya ke Singapore. Buat kami, mal ini penyelamat kedua (setelah staf Hotel Smile yang amomodatif) saat kami berencana kelaparan tengah malam (dengan menu resto takeaway-nya), butuh dopping  kesehatan (dengan drug store-nya), dan idle time management (dengan coffee shop dan rooftop-nya).

Tiga hari dua malam rupanya lebih daripada cukup — berlebihan malah — untuk berwisata di Cirebon dan sekitarnya.

Jalan-jalan ke Cirebon
Jangan lupa makan empal gentong
Cukup sekian
Dan terima kasih

(Loh kok gak nyambung non?)
(Ya terserah saya dong!)

2015 Best Nine Songs

Tahun 2015, seperti tahun-tahun sebelumnya, menyimpan banyak emosi. Beberapa bisa diwakilkan dengan lagu, beberapa cukup dibawa joget aja.

2015 Best Nine Songs versi saya (bisa juga disimak di Youtube playlist ini):

1) Your Arms Around Me – Jens Lekman

Di awal tahun ada kejadian yang mengguncang hubungan baik saya dengan seseorang. Dia sempat mengutip lirik lagu ini: What’s broken can always be fixed, what’s fixed will always be broken.

Kutipan itu melekat di ingatan, bahkan sampai penghujung tahun ini.

2) Ue O Muite Arukou – Kyu Sakamoto

Lagu ini mestinya akrab di telinga kamu juga lewat versi bahasa Inggris (Sukiyaki-nya Boyz II Men) atau versi bahasa Indonesia (Nyanyian Kode-nya Dono Kasino Indro).

Ketemu versi asli lagu ini waktu nonton From Up On The Poppy Hill (Studio Ghibli), dan makna liriknya bikin brebes mili.

3) If I Could Cry (It Would Be Like This) – Jens Lekman

Satu lagi dari Jens Lekman. Belakangan memang lagi menenangkan diri dengan alunan musik dari lelaki Skandinavia. Jens Lekman salah satunya.

4) My Tears Dry On Their Own – Amy Winehouse

Kakak Amy memang dahsyat ya suaranya! Lagu ini cukup sering saya putar di antara playlist female vocals.

5) Hello – Adele

Sungguh. Saya berusaha tidak “jatuh” ke lagu-lagu galau ala Adele, tapi lagu ini memang langsung nempel begitu pertama kali didengar.

6)  Am I The Same Girl – Swing Out Sisters

Ini lagu favorit buat berbenah kosan! Nadanya enak banget buat jejogetan sambil nyapu, ngepel dan cuci-cuci, sambil nyanyi-nyanyi tentunya.

7) Bang Diggy Bang Bang – MFBTY

Ini juga parah! Musiknya menyugesti badan untuk berjoget. Grup hiphop asal Korea ini asyik banget. Pun lagunya kali ini sarat nuansa India; jadi makin joget kan tuh.

8) Sorry – Justin Bieber

Is it too late to start listening to Bieber? Ini juga lagu yang sekali dengar langsung nempel di kuping dan nempel di badan. Bawaannya joget parah.

9) Hari Ini – Gabriel Mayo

Untuk menutup daftar kali ini, saya kasih satu lagu yang musiknya enak dan liriknya menyemangati. Lumayan, buat modal menyambut hari-hari baru di 2016.