Langit Malam Ini

Langit malam ini terlihat berbeda. Pekat, tanpa jejak awan, yang mungkin larut bersama hujan yang mendadak turun tadi sore. Namun, bertabur bintang.

Awalnya aku tidak yakin benda gemerlap di antara pohon dan bangunan yang kulihat saat tengadah itu memang sebuah bintang. Ah jangan-jangan lampu menara atau lampu pesawat yang terbang di kegelapan, pikirku.

Kuamat-amati, ternyata tidak hanya satu melainkan beberapa bintang tengah memamerkan cahaya mereka, seolah mencari perhatian dari manusia yang sibuk menunduk mengamati cahaya dari layar smartphone mereka.

“Kamukah itu?” tanyaku ke angkasa.

Kutelusuri butir demi butir cahaya di kanvas langit malam itu. Lalu kutemukan tiga bintang penanda dirimu. Tiga bintang di sabukmu.

Aku menahan senyum yang ingin mengembang lebar.

Ingatan tentang kejadian berjuta tahun lalu kembali muncul di depan mataku. Pertarungan kita. Kamu dengan misimu, dan aku dengan misiku. Dari dulu memang kita tidak pernah sepakat. Semesta pun seperti tidak tahan melihat pertikaian kita, memisahkan kita untuk tidak pernah berada di tempat yang sama.

Dan walaupun sekarang aku menjejak bumi ini dan kamu di angkasa sana, masih bisa kurasakan energimu. Energi perlawanan yang tidak pernah kuhindari, justru kunanti. Karena hanya kamu yang bisa memberi perlawanan setara untukku. Dan itu yang selalu membuatku rindu.

She Adores Him

Kalau ada satu pesan moral yang coba disampaikan film berjudul Elle L’adore (She Admires Him) (2014), mungkin bunyinya:

ngefans sama public figure gak usah gitu-gitu amat lah!

Setidaknya itu satu dari beberapa kesan yang saya dapat dari 105 menit duduk di bangku baris paling depan pada pemutaran salah satu film di Festival Sinema Prancis 2014 baru-baru ini.

Film ini bercerita tentang Muriel Bayen yang mengidolakan pianis Vincent Lacroix. Muriel mengikuti jejak langkah Vincent sebagai musisi; menyimpan semua kliping artikelnya, dan datang ke setiap penampilannya di atas panggung maupun di acara TV. Selain sebagai fans besar  Vincent Lacroix, Muriel dikenal oleh orang-orang di sekitarnya sebagai pembual besar; setiap kisah yang diceritakan Muriel disampaikan sedemikian rupa sehingga orang-orang menganggap cerita tersebut sebagai bualan. Sampai suatu hari Vincent datang ke tempat apartemen Muriel untuk meminta tolong. Yang dilakukan Muriel untuk Vincent ternyata berujung panjang, bahkan sampai ke meja interogasi kepolisian. Dan, menceritakan apa yang dilakukan Muriel untuk Vincent hanya akan terdengar sebagai bualan berikutnya.

Film bergenre komedi (atau dark comedy?)  ini memang punya cerita yang kuat. Plot bergulir tanpa ada adegan yang tersia-siakan tanpa makna. Walaupun cerita berpusat pada Muriel dan Vincent, “drama” yang terjadi antara personil kepolisian juga menambah pelik situasi yang sudah rumit. Naskah film dengan cerdasnya mempertemukan konflik Muriel-Vincent dan konflik antara personil kepolisian dalam sebuah adegan yang menjadi penentu arah akhir cerita.

Terpaksa duduk di bangku baris paling depan (dan bangku kosong terakhir pula!) rupanya tidak berhasil membuat saya tidak nyaman mengikuti alur cerita. Film ini berhasil menyeret emosi saya untuk ambil bagian di dalamnya. Beberapa kali saya sempat menahan nafas, memekik tertahan atau berbisik seolah Mauriel bisa mendengar suara saya. Sekali lagi saya puas akan sajian film Eropa dengan naskah yang kuat tanpa bumbu berlebih dan sinematografi yang elok. Salut!

Supaya semakin penasaran, simak official trailer berikut:

Tentang Mencoba Bikram Yoga

Awal bulan lalu saya bercerita tentang quotes

When was the last time you did something for the first time?

Waktu itu saya bilang saya akhirnya punya jawaban atas pertanyaan ini.

Jawabannya ada di dalam ruang yang dihangatkan pada suhu 42 derajat Celcius.

bikram yoga

Kamis (25/9) lalu saya dan belasan perempuan lainnya berkesempatan mencoba bikram hot yoga untuk pertama kalinya dalam Live Great Community Meet Up, hasil kerjasama Great Eastern Life Indonesia dan Bikram Yoga Jakarta. Rasanya… surprisingly refreshing!

Awalnya saya terintimidasi. Saat masuk ke ruang kelas untuk menaruh yoga mat, handuk alas dan sebotol air, saya merasakan panasnya ruangan menyengat kulit. Pada sesi briefing, mbak admin Bikram Yoga Jakarta pun berpesan agar kami tidak perlu malu jika panasnya ruangan terasa membebani; kami diingatkan untuk segera mengambil posisi duduk di atas kedua betis (seperti orang-orang Jepang itu loh!) jika kami merasa pusing. Posisi duduk seperti ini disarankan untuk mengembalikan fokus pada tubuh kita.

Sesi regular seharusnya berjalan selama 90 menit dan dalam ruang yang dihangatkan sampai 42 derajat. Namun, karena kami semua pemula, dan sesi ini sebenarnya bertujuan mengenalkan bikram yoga, sore itu kami diberi kemudahan dengan sesi yang berlangsung selama 60 menit saja dan dalam suhu ruang 39 derajat. (Diskon 30 menit dan 3 derajat lumayan banget!) Guru yoga kami menjelaskan bahwa sesi bikram yoga terdiri dari total 26 gerakan; masing-masing dengan beberapa repetisi. Gerakan-gerakan yoga yang kami praktikkan pun tidak serumit yoga advance, melainkan gerakan-gerakan basic yang hampir dikuasai seluruh peserta meet up yang rata-rata sudah berlatih yoga secara rutin.

Sore itu mungkin jadi sore paling panas buat saya, dalam arti kata sebenarnya. Tetapi sesudahnya, seperti yang saya bilang tadi, tubuh justru terasa segar dan ringan. (Mungkin efek sugesti?)

Sesi percobaan hari itu masih membuat saya penasaran: bagaimana rasanya mengikuti sesi regular? Mungkin suatu hari akan saya coba. Untuk sementara saya harus membiasakan diri dengan panasnya udara Jakarta yang semakin hari semakin tidak logis.

Tentang Relevansi CD di Era Musik Digital [Bonus: Quiz Berhadiah CD]

Komunitas Grup Orang Bener sekali lagi menggelar acara Selecta Pop, kali ini edisi vol.4, pada Kamis (2/10) malam di Basement Cafe, Arion Swiss-Bel Hotel, Kemang, Jakarta Selatan. Acara musik hura-hura malam itu menjadi spesial khususnya untuk band indie-pop thedyingsirens yang merilis album ‘Our Times Our Feelings’ dalam format CD. Selain thedyingsirens, Selecta Pop vol.4 diramaikan oleh band indie lainnya: The Safari, The Young Liars, Floyd, Glue, The Bananas, 4 People at the Pool, dan Anestesi.

DSCF1585 -e

The Young Liars

DSCF1586 -e

The Young Liars

DSCF1592 -e

The Young Liars

Anestesi menghangatkan sesi malam itu dengan lagu-lagu cover Morissey dan The Smith, sebelum akhirnya memperkenalkan lagu milik sendiri. Glue menyusul dengan beberapa lagu Weezer, sementara pengunjung terlihat semakin meramaikan area Basement. Lagu berjudul ‘Sudahkah Kamu Minum Obat?’ milik C’mon Lennon mengawali penampilan Flyod, yang juga memperdengarkan lagu milik sendiri pada malam itu. Penampilan The Young Liars membawa aura tersendiri di venue; semangat muda mengalir lewat musik indie rock yang dimainkan keempat personilnya. The Safari melanjutkan gebrakan di atas panggung dengan lagu-lagu milik sendiri dan cover version beberapa band Brit pop.

DSCF1608 -e

The Safari

DSCF1597 -e

The Safari

DSCF1605 -e

The Safari

Hampir tengah malam saat thedyingsirens mengambil alih panggung. Proyek musik kolaboratif ini tampil dalam formasi lengkap: Pugar “Uga” Restu Julian (guitar, vocal), Stephanie “Sessi” Eka (backing vocal, tambourine), Olivia “Onta” Imelda (backing vocal, tambourine), Dave “Dape” Leonard Purba (keyboard), Branandi “Mbenk” W Madya K (gitar), Dhendy Mawardi (guitar), Pronky Karamoy (bass), dan Gabriel Mayo (drums). Ekplorasi keberagaman musik yang menjadi latar belakang masing-masing personil terdengar kental pada alunan lagu-lagu yang dibawakan thedyingsirens pada malam itu, di antaranya Lovely Eyes yang dibawakan dengan twist manis di akhir lagu, dan Teman Baikku Mati Bunuh Diri — lagu ciptaan Uga yang biasa dimainkan bersama proyek puisi perkusifnya, Otak and Chair.

DSCF1614 -e

thedyingsirens

DSCF1615 -e

thedyingsirens

DSCF1626 -e

thedyingsirens

Album Our Times Our Feelings sendiri bukan barang baru di industri musik, mengingat album yang sama telah dirilis dalam format digital setahun yang lalu.

Lalu, apa yang mendorong thedyingsirens untuk merilis album ini dalam format CD di era musik digital seperti hari-hari ini? Frontman thedyingsirens, Uga, menjawab:

Sekarang CD sudah beralih fungsi. Dulu jadi modal jualan utama para musisi, sekarang jadi merchandise atau collectible item — karena kami percaya orang-orang masih suka mengoleksi barang-barang yang bersifat fisik.

 

QUIZ TIME!

OTOFquiz

CD Our Times Our Feelings

Itu kata thedyingsirens tentang mengapa akhirnya mereka memutuskan merilis album dalam format CD. Kalau menurut kamu, bagaimana relevansi keping CD di era musik digital? Follow @thedyingsirens di Twitter, lalu tweet pendapat kamu tentang topik ini dengan mention @twiras @thedyingsirens #OTOFquiz. Saya punya satu CD Our Times Our Feelings untuk kamu yang share pendapat yang (menurut saya) paling menarik. Saya tunggu tweet kalian sampai 10 Oktober berakhir ya :)

 

UPDATE

Pemenang terpilih untuk #OTOFquiz adalah @I_Pade. SELAMAT :)

Tentang Melakukan Hal Baru

Suatu hari di timeline Path, seorang teman share image dengan tipografi berikut…

When was the last time you did something for the first time?

Pertanyaan tersebut mengganggu saya sampai hari ini.

Menggangu karena sepanjang tahun ini saja, seingat saya, belum ada kegiatan baru yang saya lakukan untuk pertama kalinya.

Lalu, pada saat akhirnya saya punya jawaban atas pertanyaan ini, dan Googling kalimat tersebut (dengan tujuan untuk mencari image terkait) barulah saya tau kalau quotes tersebut adalah pesan utama dari sebuah campaign yang berlangsung di tahun 2012. (Kok saya baru tau sekarang ya?)

In our busy lives, we tend to forget doing things we’ve always wanted to do, we make promises to ourselves “I’ll do that one day”, but that one day never comes. The 2012 EASTPAK campaign is all about helping us keep those promises, by reminding us of the things that truly inspires us. By making us think about the things we really live for.

Because life in the city is all about transformation and metamorphosis, invention and reinvention, evolution and revolution. The urban environment is in constant flux. You can either move with it, rebel against it or give it new meaning and direction.

Website campaign ini didesain menarik dengan slide video-video yang mengilustrasikan contoh hal-hal baru yang dilakukan untuk pertama kalinya; salah satu favorit saya adalah #89 Write your own book. Dan jika cukup rajin mengklik tombol next, kita akan tiba di slide penghujung yang isinya…

And what about you?

When was the last time you did something for the first time?

kemudian diikuti slide terkahir yang isinya…

#I’ve always wanted to _____

(Slide terakhir ini seharusnya mengarah ke Facebook App milik Eastpack, sayang FB App tersebut sudah tidak aktif.)

Mungkin, campaign yang efektif memang yang semacam ini, menggebrak nurani dengan ide yang membuat kita bertanya pada diri sendiri. Mungkin.

 

 

Oh, by the way, when was the last time you did something for the first time? ;)

Tentang Bermain, Berbagi, Belajar

Sabtu (27/9)  malam suasana dbar Plaza Pondok Indah II terdengar riuh rendah, berganti dari alunan musik satu ke alunan musik yang lain. Rupanya Xabi Music Studio tengah mengadakan KINDERGARDEN Level IV. Gig rutin ini sebelumnya selalu mengambil lokasi di studio milik mereka. Maka tidak berlebihan jika dikatakan gig kali ini cukup istimewa. Para musisi yang tampil pada malam itu adalah Atillion, thedyingsirens, Gabriel Mayo, Circarama dan Sandman.

Dua nama yang akan saya ceritakan kali ini adalah thedyingsirens dan Gabriel Mayo.

thedyingsirens malam itu tampil beda. Proyek musik kolaborasi yang biasanya tampil full band, pada malam itu tampil dalam formasi duo “kebapakan” Pugar Restu Julian dan Dhendy Mawardi — maklum keduanya sudah bapak-bapak. Deretan lagu-lagu ciptaan thedyingsirens seperti Our Times Our Feelings, The Rain Song dan Never Was You dibawakan dalam versi akustik. Bahkan lagu Vapour Trail (Ride cover version), yang biasanya dibawakan dalam tempo cepat dan menghentak, pada malam itu dibawakan lebih halus dan menyayat perasaan pendengar. Formasi duo kebapakan memang memberi warna tersendiri, tetapi tetap pada konsep kolaboratif yang thedyingsirens usung.

Ruang dbar semakin padat saat Gabriel Mayo mengambil alih area panggung. Singer-songwriter ini tampil percaya diri ditemani gitarnya, membawakan deretan lagu ciptaan sendiri, di antaranya I’m the Rain, Another Day, dan And Why. Seperti di gig-gig sebelumnya, Mayo juga membawakan single pertamanya, You and Me (yang turut menjadi original soundtrack film lokal Hijabers in Love) dan I Think of You (Rodriguez cover version) dengan penuh penghayatan. Seolah belum puas menikmati alunan melodi dreamy khas Mayo, penonton pun menuntut encore yang tentunya disanggupi pria yang juga tergabung sebagai drummer dalam Vox dan thedyingsirens.

Gig yang mengusung musik lokal seperti KINDERGARDEN Level IV ini turut berkontribusi memperkenalkan musisi indie pada industri yang semakin penuh sesak dengan produk-produk impor. Gig seperti ini mengajak para musisi indie untuk bermain, berbagi dan belajar dari satu sama lain. Salut untuk Xabi Music Studio!

Mangsa Terakhir

Dari selempeng permen bergula dengan rasa pepermint dia berubah wujud menjadi segumpal karet putih penuh liur. Terjun bebas dari ketinggian satu setengah meter, dia kini teronggok di tepi jalan beraspal.

Diam, tapi bukan tanpa rencana. Dia mengincar mangsanya.

Sepasang manusia, lelaki dan perempuan, tengah berdebat dalam bahasa mereka di dekatnya. Hap! Dia memeluk ujung tumit sepatu si perempuan. Beberapa meter dari tempatnya terjun bebas, menyeberangi jalan beraspal, sepasang manusia itu menghentikan langkah. Si perempuan mengeluhkan tentang dia yang melekat di alas kakinya. Sambil mencoba melepaskan dia dari ujung tumit sepatu itu, si lelaki mengeluh, “Lagian kamu udah tau susah jalan kalau pakai sepatu ini, malah tetap dipakai!”

Dia selamat, meski harus mengorbankan sebagian dirinya mati sebagai gumpalan-gumpalan kecil. Kini tergeletak di tengah jalan, terpental dari ujung jemari si lelaki.

Tak lama roda sepeda menggilas dia. Dia senang bisa melihat dunia dari sisi berbeda. Bergerak ke atas, melihat pemandangan dari ketinggian roda, bergerak ke bawah, kembali ke aspal. Terus-menerus, sampai sepeda itu tiba di sebuah rumah. Si anak yang mengendarainya lantas berteriak, “MAMAA!! TOLONG!” Si mama tergopoh-gopoh menghampirinya dari dalam rumah. “Ada apa teriak-teriak?”

“Ada permen karet di ban sepedaku,” rengek si anak. “Hih! Bikin kaget. Mama kira ada apa,” si mama menghembuskan nafas lega. “Minta tolong sama kakakmu ya, mama lagi masak.”

Tak lama si kakak mulai mencungkil-cungkil dia dari roda sepeda. Lagi-lagi sebagian dirinya mati sebagai gumpalan-gumpalan kecil. Sebelum akhirnya dia berpelukan erat dengan sebilah tusuk gigi yang mencabutnya dari roda itu. “Bego amat sih nih orang buang bekas permen karet sembarangan!” serapah si kakak. Dia mengamati mulut si kakak yang bercerocos. Pemandangan yang familiar, pikirnya. Ah, iya. Mulut itu yang sebelumnya membuang dia dari ketinggian ke tepian jalan beraspal.

Dia bahagia. Sekarang tidak lagi sendirian. Ada tusuk gigi yang setia menemani dalam pelukan. Cerita perjalanan mereka dimulai dari ruang gelap, lembap dan berbau menyengat yang manusia sebut tempat sampah.

Tentang Bangsat di Jalanan Jakarta

Bangsat Satu menurunkan paksa penumpang sebelum tiba di tujuan masing-masing, karena dia mau memutar balik dan mengambil penumpang dari jalur sebaliknya.

Bangsat Dua menyetir angkot rongsoknya pada kecepatan penuh, mengambil lajur berlawanan demi melewati mobil demi mobil di depannya. Lalu menepi di dekat warung, menunggu penumpang. Sambil lalu dia mengeluh pada teman-temannya yang sedang duduk-duduk di sana. “Si Bangsat Satu kurang ajar sih, puter balik seenaknya, ngambilin sewa gua!” Temannya menimpali, “”Ya, namanya ngejar setoran. Maklum, baru punya bayi.” “Ya kaga bisa gitu, gua juga ngejar setoran kan!” si Bangsat Dua membela diri. Sementara para penumpang di dalam angkot bertanya dalam hati, mau sampai kapan si Bangsat Dua ngetem di sana?

Bangsat Delapan melaju di atas motor melewati jalan layang yang tidak diperbolehkan untuk kendaraan tersebut. Dia melawan arah lajur, membuat kagok mobil boks dan taksi yang melintasi.

Bangsat Empatbelas menginjak-injak pedal gas dan rem bertukaran di atas garis-garis hitam putih di dekat lampu lalu lintas, membuat pejalan kaki was-was kalau-kalau bus berwarna jingga itu akan menabraknya saat menyeberang jalan.

Bangsat Duapuluh Lima menekan-nekan klakson, berpindah dari lajur kiri ke lajur kanan, seolah mengumandangkan puisi ketergesaan. Mengeluhkan macetnya Jakarta dari dalam kabin ber-AC, ditemani lagu-lagu kesukaannya di radio, CD atau MP3.

 

Sudah terlalu banyak bangsat di jalanan Jakarta. Please don’t be one.