Salam

Selamat pagi
Hai pencuri
Hari ini
Jangan balik kiri
Karena diri
Tengah menata hati
Ingin memiliki
Tapi tak berani

Selamat siang
Hai bolang
Matamu nyalang
Seperti menantang
Beradu pandang
Berkedip dilarang
Jam berdentang
Sialan, kalah perang

Selamat sore
Sahut-menyahut hore
Langit jambore
Lembayung menoreh
Melirik menoleh
Menatap pun boleh
Khayalan bokeh
Meluruh meleleh

Selamat malam
Pribadi tak terselam
Mulutmu ketam
Sembunyikan gumam
Membuatku demam
Suntuk semalam
Merangkai gurindam
Demi sebuah salam

Membaca Lelaki

SDS

Lelaki sampai kapanpun sepertinya akan jadi makhluk yang menarik untuk perempuan — bahkan sesama lelaki. Dan, memahami lelaki bukan perkara mudah.

Saya beserta 10 perempuan dan 1 lelaki lainnya  mencoba melihat lelaki dari sudut pandang masing-masing dalam sebuah kumpulan cerita pendek berjudul Siluet Dalam Sketsa. Kumcerpen kami mendapat kehormatan diberi kata pengantar oleh Ayu Utami, nama yang sudah mapan di dunia sastra Indonesia.

Buat saya, proyek menulis cerita pendek ini jadi langkah awal lahirnya mimpi dalam wujud fisik. Dengan menulis saya mengabadikan ide.

 

Buat kamu yang berminat, bisa pesan sekarang juga di http://bit.ly/formSDS

Luruh di Borobudur

image

 

Sabtu, 25 Mei, sepertinya jadi hari yang dinantikan banyak turis yang berdatangan ke Candi Borobudur untuk perayaan Waisak. Dengan modus apapun.

Saya dan beberapa teman termasuk diantara ratusan (lebih!) orang golongan mainstream yang ikut berbondong-bondong memadati area Barat candi. Tujuan saya: ikut iring-iringan (walaupun tidak dari Candi Mendut), menyaksikan ritual keagamaan dan menonton pelepasan lampion.

Singkat cerita, acara puncak perayaan Waisak di Borobudur terbilang tidak berjalan dengan baik. Bukan karena hujan, tapi karena terlalu rusuh, terlalu banyak turis — termasuk yang bercelana sangat pendek dan yang petantang-petenteng berkalung kamera DSLR. Dan karena bapak Menteri Agama dan Gubernur Jawa Tengah yang terhormat datang terlambat. (menurut saya hal ini turut berkontribusi membangun suasana yang tidak kondusif pada malam itu)

Saya dan teman-teman akhirnya menikmati suasana Waisak-an di Borobudur dengan cara kami sendiri: makan mie dalam cup dan minum kopi sachet di tengah hujan deras di area parkiran. (karena makan mie dalam cup dam minum kopi sachet di parkiran Monas terlalu mainstream, mungkin)

Saya memang gak kesampaian melihat pelepasan lampion ke langit malam Magelang, tapi saya melihat hal lain yang cukup indah. Malam itu saya memandangi tetes-tetes hujan yang terjun bebas di terpaan cahaya biru kehijauan dari lampu tembak yang menyorot ke stupa teratas Candi Borobudur. Bergerak hampir slow motion. Pemandangan itu seperti membuai perasaan saya; segala emosi negatif yang saya bawa dari Jakarta perlahan meluruh ditarik gravitasi, mengalir lalu hilang diserap bumi.

Not bad for a self-healing session ;)

Sampai Kapan?

selalu
di simpang jalan itu
kamu berhenti dan membeku
menatap ke satu titik
hujan nan rintik
membuatmu tergelitik
tawamu pecah
pipimu basah
oleh bulir-bulir resah

selalu
dua langkah di belakangmu
menikmati siluetmu
dengan payung terkembang
siap membawamu pulang
di mana bumi tenang
berhenti
dan berpalinglah ke mari
ada aku di sini

(inse)CURE

Jadi… Belakangan ini, saya dan teman-teman spesies kalajengking di kantor sering mendapat tuduhan insecure saat tidak diikutsertakan dalam suatu keriaan.

Padahal, kalau mau jujur pada diri sendiri, kamu juga ada kalanya mengalami kegalauan semacam ini kan? Karena pada dasarnya manusia punya keinginan untuk diterima kan?

Begini penjelasannya…

Belongingness is the human emotional need to be an accepted member of a group. Whether it is family, friends, co-workers, or a sports team, humans have an inherent desire to belong and be an important part of something greater than themselves. The motive to belong is the need for “strong, stable relationships with ther people.” This implies a relationship that is greater than simple acquaintance or familiarity. The need to belong is the need to give and receive affection from others.

(sumber : copy/paste dari sini)

Begitulah… Sekuat-kuatnya menjalani hidup sendiri, kita akan lebih kuat saat menjalani hidup bersama-sama kan?

Karena kebersamaan adalah “obat hati” :)

Eksperimen Kata-kata

Ceritanya saya lagi ikutan proyek puisi #BuMa13th bareng Komunitas Bunga Matahari. Silahkan baca puisi-puisi saya di sini. Jangan harap menemukan puisi-puisi ‘nuklir’ dari saya loh…

Selain itu, saya dan teman-teman di kantor juga lagi getol bermain-main dengan musik dan lirik. Saya kebagian jatah bikin lirik, tentunya. Targetnya sih mau menyaingi X Factor atau The Voice :)
Nah, kalau yang ini belum bisa saya share hasilnya, karena masih diracik di dapur rekaman. Tsaaahhh… Tunggu update-nya di sini ya :)

Yang lebih nyastra, saya juga ikutan Kursus Penulisan Kreatif Bienal Sastra Salihara 2013 yang dipandu Ayu Utami. Targetnya, dalam 10 sesi kursus plus 2 sesi sharing dari penulis lainnya, saya dan peserta lainnya masing-masing bisa menghasilkan 2 cerpen.

Ghaya bhanget khan :)

Doakan ya… semoga saya konsisten dan berkomitmen. Siapa tau, konsisten berkomitmen dengan kata-kata, bakal memudahkan saya berkomitmen dengan yang lain ;)