After Dark*

Langit memudar lebih awal
Memeras awan yang berair tebal
Lalu menjemur jingga sesaat
Sebelum gelap datang dan melumat

Darah muda beradu suara
Berlomba jadi yang paling gembira
Sementara Frank Sinatra berdendang swing
Menemani Barbie yang kepalanya pusing

I should go home and catch some sleep
Before the circles grow dark and deep
Tapi Mari, Eri dan Takahashi tidak setuju
“Hey, selesaikan kami dulu!”

Begitulah ia menunda kesulitan
Sampai waktu yang tidak ditentukan
Karena waktu tak pernah cukup
Dan pintu hari telah ditutup

*Mengambil judul salah satu novel karya Haruki Murakami

Daruma

Adalah dia yang bermata satu
yang pertama mendengar doaku
walau dia tanpa telinga

Sering matanya yang hanya satu
beradu tatap dengan kedua mataku
Dan kedua mataku selalu kalah,
dipecundangi dia si wayang semata

Sering tanganku jahil mengguncang tubuhnya
yang kecil bundar, tanpa kaki tanpa tangan
Dan selalu tubuhnya yang kecil kembali
menghadapiku dengan nyali yang besar

Maka kupindahkan dia dari hadapanku
ke tempat lain di ujung kakiku
berharap kelak aku lupa pernah ada dia di depanku
Namun lagi-lagi aku gagal
Karena dia selalu ingat cara menemukanku

Doa apa yang kubisikkan kepadamu
sehingga kau begitu keras kepala
mengingatkanku padanya?
Padahal aku ingin lupa

Hari ini kutambahkan mata kedua
pada wajahmu yang biasa saja
Kubuat kau istimewa
dengan warna mata yang berbeda

Paling tidak kau kini melihatku
dengan cara yang berbeda
Paling tidak aku kini melihat doaku
lewat matamu (yang sebelumnya satu)
dengan cara yang berbeda

Aku, kau, doaku
kita tidak lagi sama

Cerita Dari Kota Di Tepi Pantai

Terlentang di atas matras
Mendengar diri bernafas
Slowly breathe in
Slowly breathe out
Regangkan leher tangan kaki
Kencangkan perut pantat
Use your core muscle
Use your core muscle

Suara warna rupa
Cerita dari kota di tepi pantai
Tirai panggung menutup
Tata cahaya meredup
“Kami akan kembali setelah rehat”

Sun Salutation
More Sun Salutation
Warrior
More Warrior
Otot tegangkan tubuh
Peluh lahirkan bulir
Mengalir seperti air
Dari bendungan di hilir

Savasana terserap gelap
Tirai panggung disingkap
Tata cahaya menyorot seperti melotot
Cerita dari kota di tepi pantai
Kembali berlarian
Mengejar pertanyaan
Dikejar jawaban
“Pemirsa bisa berlari tapi tidak bersembunyi”

Ting!
Ting!
Ting!

Suara warna rupa
Kembali nyata
Tirai panggung dan tata cahaya
Dilipat digulung
Kembali maya
Kita kembali sama

Namaste

Tentang ABCD

Mereka menamai diri ABCD, A Bunch of Caffeine Dealers. Mengambil posisi di lantai atas Pasar Santa; salah satu dari business makers yang turut mengembangkan pasar tradisional yang kini menjadi kalcer senter hipster Jakarta.

Pertama tau tentang mereka dari Yudis. Pertengahan tahun lalu menyempatkan diri ke sana, kebetulan mereka sedang pop up, dan mencicip piccolo latte racikan salah satu barista di sana. Dari awal gimmick lapak mereka memang menarik: kaleng merah bertuliskan “pay as generous as you can”, stiker “Come for the coffee and stay because nobody loves you”, dan setumpuk majalah Monocle…sebagai ganjalan jendela lapak yang berfungsi ganda sebagai meja. Tampilan lapak mereka jadi antithesis untuk tampilan kedai-kedai kopi lain yang sedang berkembang.

Enam bulan kemudian, bulan kemarin, saya kembali ke ABCD. Kali ini untuk belajar di  ABCD School of Coffee. Sekolah terbagi menjadi 4 kelas: Appreciation, Brewing, Cupping dan Definitive Espresso. Kelas dipimpin paman guru Hendri Kurniawan, yang punya sederet sertifikasi juri, lisensi dan aktif sebagai konsultan di balik kedai-kedai kopi ternama di Jakarta. Selain paman guru, ada juga kakak guru Ve yang mendampingi di kelas Brewing dan Izman yang mendampingi di kelas Definitive Espresso.

Saya dan tiga murid lainnya belajar mengapresiasi kopi, dari biji kopi sampai secangkir minuman kopi. Di kelas Appreciation menjelajah dari Ethiopia ke Yemen, dari Yemen ke penjuru dunia. Menyimak cerita perjalanan biji kopi yang jadi komoditas rebutan; diselundupkan, dicuri, bahkan nyaris dilarang dalam agama Katolik (terima kasih Paus Clement VIII). Berkenalan dengan karakter Arabica yang manis asam manja. Di kelas Brewing belajar mengekstrak biji kopi menjadi minuman kopi, dengan bonus latihan berhitung dan pengendalian diri. Mendekonstruksi minuman kopi ke elemen-elemen dasarnya dengan panca indera di kelas Cupping. Bermain-main dengan grinder dan espresso machine; berlatih membuat foam susu yang baik untuk latte di kelas Definitive Espresso.

Appreciation

Appreciation

Brewing

Brewing

Cupping

Cupping

Definitive Espresso

Definitive Espresso

Empat kelas, tiga hari, empat belas jam yang menyenangkan. Banyak hal baru yang membuat melongo, banyak hitung-hitungan yang meleset, banyak rasa yang belum tereksplorasi, banyak percobaan yang belum berhasil. Semuanya menyenangkan!

Tentang Segenap Alam Semesta

“Jika kamu menginginkan sesuatu, segenap alam semesta akan membantumu mencapainya,” kata raja tua itu.

Tapi sang raja tua itu tidak bilang apa-apa tentang dirampok, atau tentang gurun pasir yang menghampar tak terbatas atau tentang orang-orang yang tahu impian-impian mereka tapi tidak mau mewujudkannya. Raja tua itu tidak mengatakan padanya bahwa Piramida hanyalah tumpukan batu, atau bahwa setiap orang dapat membuatnya di halaman rumahnya. Dan dia lupa menyebut bahwa kalau kita punya uang yang cukup untuk membeli kawanan domba yang lebih besar daripada yang pernah kita miliki, maka kita perlu membelinya. -Sang Alkemis, Paulo Coelho

Terakhir saya meminta sesuatu untuk diri sendiri kepada manusia lain, saya mendapatkan persetujuan dengan cepat. Bahkan jeda waktu antara pesanan makanan dicatat pelayan dan makanan pesanan tiba di meja terasa terlalu lama.

“Hah? Udah nih? Oke aja? Gak ada penolakan atau penawaran?” pikir saya saat itu.

Saya kira segenap alam semesta sudah turun tangan saat itu.

Rupanya segenap alam semesta juga punya syarat dan ketentuan berlaku yang bersembunyi di balik asterik dengan ukuran font kecil dan warna menyaruh seperti pada iklan-iklan komersil umumnya.

Segenap alam semesta tidak bilang apa-apa tentang tidak diacuhkan, atau tentang hal-hal kecil dan besar yang menghampar tak terbatas, atau tentang orang yang tau perannya tapi sulit menyatu dengan skenario.

Lalu saya kembali lagi ke pasal pertama: segenap alam semesta akan membantumu mencapainya.

Tentang Gone Girl

What are you thinking? How are you feeling? What have we done to each other? What will we do?

Kalimat di atas jadi pembuka dan penutup film Gone Girl (2014). Film yang sudah dipuji-puji banyak teman di timeline. Jadi saya gak akan ikutan memuji.

Cerita tentang bad relationship. Dan, orang-orang yang bertahan dalam hubungan yang tidak sehat itu –saya tidak yakin– antara tidak mudah menyerah atau terlalu takut untuk menyerah.

image

#SemuaItuButuhWaktu

Untuk sampai ke studio radio untuk siaran live tepat waktu, melewati miskalkulasi waktu dan keadaan lalu lintas.

Untuk menyelesaikan hal-hal lama yang belum tuntas di sela-sela hal-hal baru yang perlu segera ditangani.

Untuk menurunkan shield dan belajar berinteraksi dengan orang-orang asing sambil pasang senyum dan basa-basi ramah tamah atas nama social networking.

Untuk merasa nyaman menjadi sekadar teman tanpa ekspektasi.

*cek juga #SemuaItuButuhWaktu lainnya di sini

Perempuan Berambut Jingga

Suasana kantin yang semula riuh perlahan meredup saat Tia melangkahkan kaki ke meja untuk dua orang, tempat sahabatnya Elv duduk. Tidak hanya Elv yang terperangah melihat penampilan baru Tia rupanya.

“Rambut lo, lo apain?” Tanya Elv setelah cepat-cepat mereguk es teh manis, membilas mie ayam yang tengah dikunyahnya.

“Gue cat. Bagus kan?” Jawab Tia percaya diri sambil mengatur posisi duduknya.

“Tapi, kenapa?” Tanya Elv lagi, masih tidak percaya dengan pemandangan baru di depan matanya.

“Banyak tanya ah lo! Mending pinjemin gue catatan kelas tadi,” jawab Tia sekenanya sambil mengulurkan tangan meminta catatan.

Elv yang masih penasaran harus menahan diri dari bertanya lebih lanjut. Dia mengeluarkan lembaran mata kuliah yang telah dibubuhi coretan tangannya, lalu melanjutkan mie ayamnya.

Suasana kantin kembali riuh, dengan topik bisik-bisik terbaru: rambut jingga Tia.

Hari-hari berikutnya suara-suara di kantin masih menyebut-nyebut tentang rambut jingga Tia. Sementara Elv cukup puas dengan jawaban Tia tentang pilihan warna rambutnya. “Karena jingga menggambarkan kehangatan, Elv” jawabnya pagi tadi.

Sorenya, seperti seminggu belakangan, Tia bergegas meninggalkan kampus tepat di jam setengah lima. “Gue ngejar matahari duluan ya, Elv,” kata Tia saat bangun dari tempat duduk langganan di kantin.

“Gue boleh ikut?” sergah Elv sebelum Tia membalikkan badan.

“Eh?” Gerakan Tia terhenti. Lalu, setelah memroses permintaan Elv dalam pikirannya, Tia menjawab, “Boleh!”

Mereka pergi dengan motor yang dikendarai Tia ke tempat yang setahun belakangan dikunjungi Tia setiap hari. Satu jam kemudian mereka tiba di lokasi, dan Elv disuguhi pemandangan baru lagi. Sebuah komplek berisi beberapa rumah tempo dulu, masing-masing dengan banyak pintu. Sekilas seperti komplek kos-kosan atau rumah petak kontrakan, kecuali di sini terlihat beberapa orang berseragam seperti perawat berlalu-lalang.

“Ini tempat apa?” Elv tak kuasa menahan tanya.

Tia melepas helm, meraih sisir ungu dari dalam tas, menyikat dengan teliti, membentuk gelung pada ujung potongan bob rambut jingganya.

“Lo inget dulu gue pernah cerita tentang nyokap yang lagi jalan-jalan keliling dunia?” Tanya Tia sambil merapikan pakaiannya.

Elv mengangguk mengerti, tetapi raut wajahnya menandakan tidak.

Tia sekarang menatap wajah Elv. “Nyokap gue lagi jalan-jalan keliling dunia. Bukan dengan tubuhnya. Tapi jiwanya,” jawab Tia tersenyum.

“Yuk masuk!”

Di depan sebuah kamar mereka berhenti. Tia mengambil posisi duduk pada sebuah bangku di teras kamar, tepat di depan sebuah jendela lebar. “Lo jangan duduk di depan jendela ya,” permintaan Tia kepada Elv.

Elv menurut saja. Mengambil posisi duduk di lantai, sambil menebak-nebak apa yang dilakukan Tia saat ini.

Beberapa menit mereka duduk di posisi yang sama, tanpa kata. Lalu, setelah matahari tenggelam di sisi mereka dan langit berganti warna, mereka masuk ke dalam kamar. Di sana ibu Tia terlihat duduk di kasur memandang ke luar lewat jendela lebar.

“Kamu telat,” katanya saat melihat Tia masuk. “Tadi matahari terbenamnya bagus sekali. Belakangan ini senja lagi bagus-bagusnya. Lain kali datang lebih awal, supaya kamu bisa lihat juga.”

“Oh ya, seperti apa mataharinya, Bu?” tanya Tia antusias.

“Jingga sempurna,” jawab ibu dengan senyum merekah. Saat senyumnya memudar, ibu baru menyadari kehadiran orang lain di kamarnya. Seorang lelaki yang terlihat asing. “Dia siapa?” tanya ibu berbisik ke perempuan yang dikenalnya.

“Ini Elv, Bu. Sahabat Tia,” jawab Tia memperkenalkan Elv ke ibunya.

“Oh, kamu sahabat Tia ya. Berarti sahabat saya juga ya. Kalau kamu mau, besok boleh datang lebih awal juga, supaya bisa lihat matahari terbenam dari sini,” cerocos ibu.

Selesai menyuapi ibu makan malam, dan mendengarkan cerita ibu tentang menyelamatkan bayi yang hampir tenggelam di laut — cerita yang sama yang didengar Tia ratusan kali — mereka pamit ke perawat yang berjaga dan meninggalkan klinik itu.

Dalam perjalanan pulang, dalam diam Elv merunut mundur kepingan cerita yang dia dengar dari Tia, mulai dari hari rambut Tia dicat jingga.

***

Cerita ini juga di-publish di proyek kolaboratif The Saturday Stories.

#WriteEveryDamnDay

Tentang Bicara

image

Saya bukan belum jadi komunikator yang baik. Saya mampu menggunakan pilihan kata dan rangkaian kalimat untuk menyampaikan pesan, tapi tidak selalu mampu menyampaikannya dengan cara yang bisa diterima orang lain dengan baik.

Ada kalanya ketidakmampuan itu mengakibatkan sakit hati, pada pihak yang saya ajak bicara tentunya. Seburuk-buruknya cara saya menyampaikan pesan berujung pada sanksi moral berupa teguran. And I’m okay with that. I was wrong, you can correct me if I’m wrong.

Tapi kalau saya ditinggalkan dalam kebisuan; dalam diam yang ternyata tidak selamanya emas, saya mundur. If this is communication, then I disconnect.

Karena saya bukan cenayang yang mampu membaca pikiran. Haruskah saya mendekat dan mengajak bicara duluan? Atau haruskah saya memberi ruang dan menunggunya keluar dari kebisuannya?

Kalau teguran adalah hukuman untuk cara saya yang salah, maka kebisuan adalah hukuman untuk pribadi saya. And I plead not guilty. And if you disagree, you can always come and talk to me.

#WriteEveryDamnDay

Tentang Lingkaran

Lingkaran kecil
Lingkaran kecil
Lingkaran besar..

Lagu yang mengiringi gambar beruang atau panda pada masa kecil dulu makin relevan pada level social network. Dari lingkaran-lingkaran kecil terbentuk lingkaran besar. Atau setidaknya irisan lingkaran.

Seorang sahabat, sebut saja Dia-Yang-Punya-Seugalanya, punya kebiasaan baik mengenalkan teman-temannya satu sama lain. Saya dari lingkaran pekerjaan berkenalan dengan temannya dari lingkaran hobi. Kami menjadi irisan.

Dari Dia-Yang-Punya-Seugalanya saya belajar untuk membentuk irisan, dari lingkaran-lingkaran kecil tempat saya berada. Mula-mula kagok. Saat teman dari lingkaran satu bertemu dengan teman dari lingkaran lain dan mulai berinteraksi, saya kaget. Loh, kalian saling kenal? Kan lo yang ngenalin Ter. Oh iya ya..

Rasanya menyenangkan punya irisan lebih banyak dan lebih luas.

#WriteEveryDamnDay