Trivia Bahasa

Saya suka menyimak trivia bahasa, khususnya bahasa Indonesia. Terlebih karena pelajaran bahasa Indonesia selama di sekolah ternyata belum cukup membuat kita saya mampu menggunakan bahasa Indonesia dengan baik.

Ketika saya bertemu dengan pertanyaan tentang bahasa Indonesia, walaupun tidak ditujukan ke saya secara pribadi, biasanya saya tergelitik untuk ikut mencari tahu jawabannya.

Saat ada yang bertanya kenapa suatu benda dinamai “pesawat telepon”, saya jadi ikut berpikir: iya juga ya, kenapa menggunakan kata “pesawat”.

Seperti biasanya, saya langsung kroscek ke Kateglo, yang mengambil data kosakatanya dari KBBI. Dalam kasus pesawat telepon ini, Kateglo/KBBI menjawab:

pesawat
nomina (n)

1) alat perkakas; mesin: motor itu dijalankan dengan —
2) kapal terbang: naik —
3) tali (rotan, kulit, dsb) untuk menjalankan jentera, roda, perangkap, dsb: tali — , tali (kulit) untuk menjalankan jentera (roda)

Mungkin karena terlalu identik dengan makna “kapal terbang”, kita saya baru tahu kalau kata pesawat punya makna yang lebih mendasar, yaitu sebagai alat perkakas atau mesin — yang membuat “pesawat telepon” dan “pesawat televisi” masuk akal.

Selama masih ada manusia, maka bahasa akan terus berkembang. Sekarang kita bisa mengeliminasi kata “pesawat” di kedua contoh tadi tanpa mengurangi maknanya. “Telepon” tetap bermakna alat perkakas atau mesin untuk bertelepon; begitupun “televisi”.

Buat saya tetap penting untuk tahu makna suatu kata, juga paham konteks dan perubahan konteks yang terjadi pada suatu kata itu. Saya juga setuju bahwa konten KBBI memang perlu terus diperbarui, mengikuti perkembangan manusia dan budayanya. Tinggal bagaimana saya, si pengguna bahasa Indonesia ini, bisa ikut mengembangkan bahasa Indonesia?

(Jawaban saya: gunakan bahasa Indonesia sebisa mungkin; cari referensi di KBBI — banyak orang yang sudah berusaha mengumpulkan data sebanyak itu dalam sebuah kamus, setidaknya kita bisa manfaatkan kamus itu untuk saat ini; dan kalau pun tidak puas dengan jawaban dari KBBI, tak perlu lah mengeluarkan jurus mumbo jumbo yang membuat kamu semakin tidak dipahami .)

Dia Lo Gue Orang

Pada obrolan bersama super senior dan super junior tentang rupa-rupa manusia di Indonesia sekitar kita, sambil mengunyah xxl crispy chicken bumbu mecin (sungguh, detil ini penting untuk dituliskan), saya jadi teringat pada bulan-bulan pertama saya di kelas satu SMA.

SMA jadi awal saya berhadapan dengan keragaman budaya; bertemu dan berinteraksi dengan macam-macam manusia Indonesia dan latar belakang — khususnya tetapi tidak terbatas pada — suku dan agamanya. Sebelumnya saya berada di lingkungan yang walaupun cukup heterogen tapi tetap terbatas pada teman-teman keturunan Cina (atau keturunan Tionghoa, sama saja lah), umat Katolik, orang-orang asal Flores (umumnya para guru, biarawati dan pastor), kenalan dan tetangga Jawa (mayoritas Jawa Tengah dan Jogja).

Perkenalan dengan rupa-rupa manusia Indonesia waktu itu tidak seindah terdengarnya. Karena saya “terpaksa” mengompromi identitas saya yang keturunan Cina ini.

Semua berawal dari olok-olokan teman-teman saat mendengar saya atau teman-teman keturunan Cina lainnya menyebut frasa “lo orang”, “dia orang” atau “gue orang” (fyi, it’s a Chinese-Indonesian thing, yang artinya masing-masing: kalian, mereka, kami). Olok-olokan yang kalau sekarang dibawakan Sule bersama wayangnya terdengar biasa saja, tetapi dulu terdengar memarjinalkan. Seolah-olah saya aneh dan asing karena menggunakan frasa ‘lo orang’ untuk menyebut ‘mereka’. Sementara di lingkungan semi-heterogen sebelumnya, saya tidak pernah mendengar tawa maupun cibiran saat frasa ‘lo orang’ meluncur dari mulut seseorang; mereka dia orang paham.

Salah satu kesalahan mendasar manusia adalah berusaha (terlalu keras) untuk menjadi serupa dengan sekelilingnya.

Dari olok-olokan itu saya “belajar” menggunakan kata kita, mereka dan kami dalam obrolan lisan; awalnya tentu terdengar kaku dan tidak wajar. (Sama tidak wajarnya kalau mendengar teman berlogat Jawa medhok melafalkan kata “kotak” dengan akhiran -k telak demi tidak dikatai medhok.) Sehingga sekarang saat mendengar teman atau sepupu menyebut “Lo orang…,” walaupun saya paham, saya merasa frasa itu asing. Mendengarnya saja sudah asing, apalagi mengucapkannya. Di sini saya merasa satu keping puzzle keturunan Cina saya hilang.

Padahal apa salahnya menjadi aneh dan asing? Apa salahnya menjadi berbeda?

Eulogi Untuk Lexy

image

Ini Lexy, waktu nenenin anaknya dua setengah tahun lalu.

Kemarin malam dia meninggal. Memang sudah tua dan lelah; sudah 13 tahun lebih. Umur pastinya kurang jelas; waktu masih bocah, kakak saya “pinjam” dia dari temannya. Dan gak pernah kami kembalikan.

Saya ingat angkat kaki ke kursi waktu pertama kali didekati bocah itu. Masih takut anjing waktu itu; even a cute puppy. Kemudian waktu berlalu. Tau-tau dia, dan sekarang anaknya juga, sudah ngontrak di rumah. Dan hati ini.

Semasa hidupnya Lexy dikenal orang-orang di sekitar sebagai anjing galak. In my defence, Lexy was just misunderstood. Galak itu cuma tampilan depannya; sebenarnya dia hanya protektif. Dan kelalaian kami sebagai manusianya untuk membantu Lexy beradaptasi di lingkungan penuh manusia di sekitarnya.

In the end we all will die, I keep that in mind. Supaya siap kalau-kalau siapapun yang saya sayangi harus “pindah tongkrongan” duluan. Termasuk Lexy.

Terima kasih sudah jadi anjing pertama yang saya sayangi; yang kemudian membuka hati saya untuk anjing-anjing lainnya. Terima kasih sudah menerima kami apa adanya, tanpa syarat dan ketentuan berlaku.

Oleh-Oleh dari Bangkok dan Chiang Mai

Seperti kebanyakan orang yang saya kenal, saya gak suka dititipin oleh-oleh saat berjalan-jalan. Apalagi kalau solo traveling. Memangnya saya personal shopper kamu?

Namun saat Yudis meminta oleh-oleh dari Bangkok dan Chiang Mai, saya tidak menolaknya, bahkan menyambut antusias. Maklum, oleh-oleh yang Yudis minta bukan berupa barang bakal menuh-menuhin backpack melainkan cerita dalam dua artikel untuk konten coffee magazine yang dikelolanya. Challenge accepted!

Oleh-oleh cerita ngopi di Bangkok dan Chiang Mai bisa dibaca di artikel Krema.id.

Rocket-Coffeebar-BKK-9-1024x578-1040x585

 

Ergo Sum

I enjoy
Tidying up and decluttering
So much

The dust escaping into thin air
The sweat rolling beneath my clothes
The before and after outlook
The losing track of time
Every should I trash this or keep this contemplation
Every wait I think it’s better the other way change of mind
Every shit I’m hungry but I’m in the middle of THIS
Every dammit who’s calling at this time of the day glare at the mobile phone
I think I’m good at it
I mean REALLY good at it
I should make this a profession
I could moonlight this, couldn’t I

I enjoy
Tidying up and decluttering
So much
That I think
I might have found
My reason of being

Sawatdi Kha, Thailand

Sawatdi adalah kalimat yang diucapkan saat memberi salam di Thailand (wai). Kalau kamu perempuan akhiri dengan “kha”, kalau kamu lelaki akhiri dengan “khrap”. Walaupun pada praktinya, khususnya di kalangan orang lokal, cukup dengan penggalan “kha” atau “khrap”.

Kalau pada penambahan usia sebelumnya saya menghadiahi diri dengan bertandang ke negeri Paman Ho, tahun kemarin saya membawa diri lost in translation ke Thailand. (Dari perjalanan kali ini saya mendapati fakta bahwa wajah saya memang tipikal oriental Asia Tenggara. Selama perjalanan di Vietnam saya sering disangka orang lokal; begitupun selama di Thailand.)

Untuk tips dan trik traveling ke Thailand, silakan cari-cari di travel website dan travel blog di luar sana, karena di sini saya hanya akan cerita tentang hal-hal menarik yang saya temui selama empat hari di Bangkok dan empat hari di Chiang Mai.

(more…)

You Don’t Have to Score

Ada masanya dalam hidup, kita disalahpahami oleh orang lain. Dituduh berbuat tidak baik terhadap orang lain itu, walaupun kita tau perkataan, perbuatan, bahkan pikiran kita tidak begitu.

Kita pun berupaya mengurai benang yang kusut.

Lalu saat kita kira kesalahpahaman sudah diluruskan, tiba-tiba kita dengar kabar dari orang ketiga bahwa si orang lain masih mengganggap kita sebagai orang jahat.

Kita tidak terima. Kita bahkan mungkin marah. Kita setidaknya merasa dikhianati. Kita ingin mengajak si orang lain kembali duduk berhadapan; kembali beradu argumen. Kembali ingin menjelaskan bahwa kita tidak jahat; si orang lain hanya salah paham.

“Ikhlasin.”

“You don’t have to score.”

Seburuk kedengarannya, nasihat di atas benar adanya.

Terima saja. Silakan marah. Silakan sedih. Tapi gak perlulah kembali mencoba menjelaskan diri. You did that already. If it was not enough for that person, it’s never gonna be enough.

Dan gak akan mudah. Saya berkali-kali kepikiran untuk kembali melakukan konfrontasi, supaya kelak saya mati saya tau kalau orang lain itu tidak salah paham terhadap saya. Namun, pada akhirnya, apapun yang orang lain itu pikirkan tentang saya gak relevan; saya gak bisa mengendalikan pikiran orang lain.

“I’m only responsible for what I say or do, I’m not responsible for what you understand.”

Dan kehidupan terus berlangsung.

KeMESRAan Cirebon

Kalau di pertengahan Desember lalu saya ikut grup kantor #TWjamesbon alias Think.Web jalan-jalan mesra ke Cirebon, maka kemarin, dalam rangka pergantian tahun 2015 ke 2016, saya dan teman-teman dekat jalan-jalan penuh keMESRAan ke… Cirebon juga.

Penuh kemesraan karena jam terbang kebersamaan kami banyak. Dan MESRA alias MEpet Sampe-sampe RA bisa gerak di kamar hotel, di dalam mobil sewaan dan di tempat-tempat makan yang kami kunjungi; maklum bersembilan.

Ide jalan-jalan akhir tahun ini datang tiba-tiba (kaya cinta) saat kami sedang update info terkait persiapan pernikahan salah dua personil tim keMESRAan ini pada suatu kafe. Langsung saja ide ini disepakati dan ditindaklanjuti dengan membeli tiket kereta Cirebon Express di gerai Alfamart di sebelah kafe. Hotel pun segera dipesan.

Tim keMESRAan kemudian mendapat satu tambahan anggota yang langsung diinagurasi sebagai adik bersama.

Kami tidak memiliki rencana perjalanan, bahkan sampai hari kami tiba di kota Empal Gentong. Ya, kecuali itu, sowan ke warung-warung empal gentong. Tiba di Stasiun Cirebon barulah kami menentukan ke mana arah kaki kami melangkah. Destinasi berikutnya secara konsisten kami tentukan dari lokasi kami berpijak.

Destinasi (atau lebih pantas disebut menu?) yang akhirnya kami kunjungi selama di Cirebon di antaranya:

Empal Gentong Putra Mang Darma

Keluar stasiun kereta kami langsung disambut warung empal gentong. Empal gentong di sini lebih enak bila dibandingkan dengan empal gentong H Apud yang saya cobain saat #TWjamesbon. Entah karena lapar atau karena memang lebih enak.

Empal Gentong Bu Darma

Sedikit lebih jauh dari Putra Mang Darma, ada Bu Darma yang juga menyajikan empal gentong. Soal rasa, ibu dan putra ini sebelas dua belas lah.

Keraton Kasepuhan Cirebon

CMIIW, ada tiga keraton di Cirebon yang terbuka untuk kunjungan umum. Keraton Kasepuhan ini salah satunya dan yang paling besar dari ketiganya.

Dengan luas total 25 hektar, area keratonan ini terbagi menjadi empat: area untuk duduk-duduk dan (pada masanya) menyaksikan pertunjukan, area museum, bangunan utama keraton yang masih digunakan sebagai tempat tinggal, dan area sumur. Sekitar satu jam kami berkeliling di sana bersama pemandu wisata yang menyenangkan — dari info yang disampaikan dan cara penyampaiannya. Saran saya sih sewa jasa tour guide supaya kunjungan ke keraton lebih dari sekadar foto-foto.

Nasi Lengko H. Barno

Selain empal gentong, kuliner yang juga khas di Cirebon adalah nasi lengko. Nasi lengko H. Barno ini sepertinya cukup terkenal jika dilihat dari antriannya.

Pada dasarnya nasi lengko adalah nasi dengan topping sayuran, tahu tempe, sambal kacang dan kecap. Tidak ada yang bisa diistimewakan dari sajian ini, kecuali sambal kacangnya. Dan side dish berupa sate kambing muda (dengan formasi daging-lemak-jeroan dalam satu tusuk) yang lembut, gurih, nikmat.

Kawasan Batik Trusmi

Daerah Trusmi terkenal akan hasil batik khas Cirebon bermotif Mega Mendung dan Pesisir. Lembar demi lembar kain batik Cirebon bisa kamu susuri dari area pertokoan di depan gerbang, sampai blusukan ke area rumah-rumah produksi batik.

Banyu Panas Gempol

Ini mungkin deatinasi yang paling menarik yang kami kunjungi karena terletak di dalam kawasan industri Indocement. Kolam pemandian air panas ini memang memanfaatkan sumber air panas dan belerang yang dimanfaatkan juga oleh perusahaan semen ini.

Saat berendam di sini kamu akan terus mendengar pengumuman dari pihak pengelola untuk memberi jeda pada tiap sesi berendam, untuk alasan kesehatan tentunya.

image

H. Moel Seafood

Restoran seafood ini dikunjungi karena sehari sebelumnya kebetulan kami lewati dan mendadak ngidam berjamaah; sayang waktu itu restoran sudah tutup.

Menu jagoan di sini adalah kepiting saus bangkok dan udang lady rose bakar. Selama makan di sana kami khusyuk menikmati sajian di piring masing-masing sambil sesekali terdengar suara “slurps” dan “aahhh”. Silakan bayangkan sendiri penampilan dan rasanya ya.

Nasi Jamblang Bu Nur

Tempat ini epic! Antrian mengular, pilihan menu melimpah, tempat duduk terbatas, dan ruangan yang panas. Kami bersembilan duduk MESRA Tapi semua bahagia begitu keluar dari warung ini. (Mungkin bahagia karena akhirnya ketemu angin.)

CSB Mall

“Jalan-jalan ke luar kota kok malah ke mal?” Mungkin pertanyaan pertanyaan ini lebih cocok muncul saat seseorang bercerita tentang jalan-jalannya ke Singapore. Buat kami, mal ini penyelamat kedua (setelah staf Hotel Smile yang amomodatif) saat kami berencana kelaparan tengah malam (dengan menu resto takeaway-nya), butuh dopping  kesehatan (dengan drug store-nya), dan idle time management (dengan coffee shop dan rooftop-nya).

Tiga hari dua malam rupanya lebih daripada cukup — berlebihan malah — untuk berwisata di Cirebon dan sekitarnya.

Jalan-jalan ke Cirebon
Jangan lupa makan empal gentong
Cukup sekian
Dan terima kasih

(Loh kok gak nyambung non?)
(Ya terserah saya dong!)

2015 Best Nine Songs

Tahun 2015, seperti tahun-tahun sebelumnya, menyimpan banyak emosi. Beberapa bisa diwakilkan dengan lagu, beberapa cukup dibawa joget aja.

2015 Best Nine Songs versi saya (bisa juga disimak di Youtube playlist ini):

1) Your Arms Around Me – Jens Lekman

Di awal tahun ada kejadian yang mengguncang hubungan baik saya dengan seseorang. Dia sempat mengutip lirik lagu ini: What’s broken can always be fixed, what’s fixed will always be broken.

Kutipan itu melekat di ingatan, bahkan sampai penghujung tahun ini.

2) Ue O Muite Arukou – Kyu Sakamoto

Lagu ini mestinya akrab di telinga kamu juga lewat versi bahasa Inggris (Sukiyaki-nya Boyz II Men) atau versi bahasa Indonesia (Nyanyian Kode-nya Dono Kasino Indro).

Ketemu versi asli lagu ini waktu nonton From Up On The Poppy Hill (Studio Ghibli), dan makna liriknya bikin brebes mili.

3) If I Could Cry (It Would Be Like This) – Jens Lekman

Satu lagi dari Jens Lekman. Belakangan memang lagi menenangkan diri dengan alunan musik dari lelaki Skandinavia. Jens Lekman salah satunya.

4) My Tears Dry On Their Own – Amy Winehouse

Kakak Amy memang dahsyat ya suaranya! Lagu ini cukup sering saya putar di antara playlist female vocals.

5) Hello – Adele

Sungguh. Saya berusaha tidak “jatuh” ke lagu-lagu galau ala Adele, tapi lagu ini memang langsung nempel begitu pertama kali didengar.

6)  Am I The Same Girl – Swing Out Sisters

Ini lagu favorit buat berbenah kosan! Nadanya enak banget buat jejogetan sambil nyapu, ngepel dan cuci-cuci, sambil nyanyi-nyanyi tentunya.

7) Bang Diggy Bang Bang – MFBTY

Ini juga parah! Musiknya menyugesti badan untuk berjoget. Grup hiphop asal Korea ini asyik banget. Pun lagunya kali ini sarat nuansa India; jadi makin joget kan tuh.

8) Sorry – Justin Bieber

Is it too late to start listening to Bieber? Ini juga lagu yang sekali dengar langsung nempel di kuping dan nempel di badan. Bawaannya joget parah.

9) Hari Ini – Gabriel Mayo

Untuk menutup daftar kali ini, saya kasih satu lagu yang musiknya enak dan liriknya menyemangati. Lumayan, buat modal menyambut hari-hari baru di 2016.

2015 Best Nine Movies (and TV Series)

Thanks to juragan torrent Mr. Cineplaque, saya punya lebih banyak pilihan film dan serial.

2015 Best Nine Movies (and TV Series) versi saya:

1) Monster (2003)

Seorang teman membuat lagu berdasarkan film ini; it was so intense. Saya jadi penasaran seperti apa sih filmnya. Dan saya jadi paham kenapa lagu teman saya itu “gelap” (dibandingkan lagu-lagunya yang lain), karena menyalurkan jiwa gelap dalam cerita film Monster ini.

Ceritanya disadur dari kisah nyata seorang pelacur yang kemudian jadi pembunuh.

2) The Imitation Game (2014)

Juga disadur dari kisah nyata. Kali ini dari seorang ahli matematika di jaman Perang Dunia II.

Umpan casting Benedict Cummberbatch tentu saja saya sambut dengan lahap. Bang Ben menghadirkan sosok introvert yang sering kali disalahpahami orang-orang di sekitarnya.

3) The 100-Year Old Man Who Climbed Out The Window And Disappeared (2013)

Dari novel berjudul sama, yang menurut seorang teman dituturkan secara lambat.

Plot film berjalan cepat, berpindah dari satu kekonyolan ke kekonyolan lain. It was beyond hilarious. Saya menonton film ini pada suatu festival film, dan ruang auditorium Erasmus Huis dipenuhi gema suara tawa.

Film yang bikin bahagia.

4) The IT Crowd (2006)

“Hello, IT. Have you tried turning it off and on again?”

Tiga orang staff technical support — dua geek dan satu control freak– bekerja dari lantai basement kantor korporasi besar.

Ah, premis ini saja sudah menjanjikan komedi.

5) Still Alice (2014)

Yang menarik dari film ini justru kehadiran Kristen Stewart. Saya tidak terpesona pada K-Stew sejak perannya di Twilight. Ekspresinya begitu-gitu aaja. Emosinya begitu-gitu saja.

Namun di film ini saya melihat dia lebih hidup. Lebih berekspresi. Lebih beremosi.

K-Stew, you now have my attention.

6) Mr. Robot (2015- )

Instant crush on Rami Malek!

Pilot episodenya setting the bar too high, gak bisa dicapai episode-episode lanjutannya.

Tapi, karena banyak hal yang gak tuntas di Season 1 ini, saya sih menantikan kelanjutannya.

7) The Good Dinosaur (2015)

Pixar emang paling-paling ya untuk urusan kucek-kucek mata. Setelah Inside Out di tengah tahun, The Good Dinosaur juga bikin saya usap-usap pipi di kegelapan bioskop.

Yang bikin The Good Dinosaur masuk daftar ini ya karena animasinya yang semakin mendekati live action. Kalau kamu sempat nonton film ini, pasti ngeh kalau pemandangan sungai, hutan, gunung, langitnya lebih mirip foto daripada kartun.

8) Inside Out (2015)

Kata siapa Inside Out gak masuk daftar ini? Gila kali!

Masa saya gak masukin film yang ngacak-ngacak emosi ke dalam daftar ini? Gila kali!

Who’s your friend who likes to play?
Bing Bong Bing Bong!
His rocket makes you shout “Hooray!”
Bing Bong Bing Bong!

Sudah ya.. jangan nangis lagi.

9) Chungking Express (1994)

Dua teman saya, kakak-beradik Simatupang, suka (kayanya pake banget) sama film ini.

Ini film Wong Kar Wai pertama yang saya tonton. Dari film ini, saya jadi penasaran sama film-film lainnya garapan sutradara ini.

image

The end.
Iya, gak ada The Force Awakens.
🖖