Eulogi Untuk Lexy

image

Ini Lexy, waktu nenenin anaknya dua setengah tahun lalu.

Kemarin malam dia meninggal. Memang sudah tua dan lelah; sudah 13 tahun lebih. Umur pastinya kurang jelas; waktu masih bocah, kakak saya “pinjam” dia dari temannya. Dan gak pernah kami kembalikan.

Saya ingat angkat kaki ke kursi waktu pertama kali didekati bocah itu. Masih takut anjing waktu itu; even a cute puppy. Kemudian waktu berlalu. Tau-tau dia, dan sekarang anaknya juga, sudah ngontrak di rumah. Dan hati ini.

Semasa hidupnya Lexy dikenal orang-orang di sekitar sebagai anjing galak. In my defence, Lexy was just misunderstood. Galak itu cuma tampilan depannya; sebenarnya dia hanya protektif. Dan kelalaian kami sebagai manusianya untuk membantu Lexy beradaptasi di lingkungan penuh manusia di sekitarnya.

In the end we all will die, I keep that in mind. Supaya siap kalau-kalau siapapun yang saya sayangi harus “pindah tongkrongan” duluan. Termasuk Lexy.

Terima kasih sudah jadi anjing pertama yang saya sayangi; yang kemudian membuka hati saya untuk anjing-anjing lainnya. Terima kasih sudah menerima kami apa adanya, tanpa syarat dan ketentuan berlaku.

Oleh-Oleh dari Bangkok dan Chiang Mai

Seperti kebanyakan orang yang saya kenal, saya gak suka dititipin oleh-oleh saat berjalan-jalan. Apalagi kalau solo traveling. Memangnya saya personal shopper kamu?

Namun saat Yudis meminta oleh-oleh dari Bangkok dan Chiang Mai, saya tidak menolaknya, bahkan menyambut antusias. Maklum, oleh-oleh yang Yudis minta bukan berupa barang bakal menuh-menuhin backpack melainkan cerita dalam dua artikel untuk konten coffee magazine yang dikelolanya. Challenge accepted!

Oleh-oleh cerita ngopi di Bangkok dan Chiang Mai bisa dibaca di artikel Krema.id.

Rocket-Coffeebar-BKK-9-1024x578-1040x585

 

Ergo Sum

I enjoy
Tidying up and decluttering
So much

The dust escaping into thin air
The sweat rolling beneath my clothes
The before and after outlook
The losing track of time
Every should I trash this or keep this contemplation
Every wait I think it’s better the other way change of mind
Every shit I’m hungry but I’m in the middle of THIS
Every dammit who’s calling at this time of the day glare at the mobile phone
I think I’m good at it
I mean REALLY good at it
I should make this a profession
I could moonlight this, couldn’t I

I enjoy
Tidying up and decluttering
So much
That I think
I might have found
My reason of being

Sawatdi Kha, Thailand

Sawatdi adalah kalimat yang diucapkan saat memberi salam di Thailand (wai). Kalau kamu perempuan akhiri dengan “kha”, kalau kamu lelaki akhiri dengan “khrap”. Walaupun pada praktinya, khususnya di kalangan orang lokal, cukup dengan penggalan “kha” atau “khrap”.

Kalau pada penambahan usia sebelumnya saya menghadiahi diri dengan bertandang ke negeri Paman Ho, tahun kemarin saya membawa diri lost in translation ke Thailand. (Dari perjalanan kali ini saya mendapati fakta bahwa wajah saya memang tipikal oriental Asia Tenggara. Selama perjalanan di Vietnam saya sering disangka orang lokal; begitupun selama di Thailand.)

Untuk tips dan trik traveling ke Thailand, silakan cari-cari di travel website dan travel blog di luar sana, karena di sini saya hanya akan cerita tentang hal-hal menarik yang saya temui selama empat hari di Bangkok dan empat hari di Chiang Mai.

(more…)

You Don’t Have to Score

Ada masanya dalam hidup, kita disalahpahami oleh orang lain. Dituduh berbuat tidak baik terhadap orang lain itu, walaupun kita tau perkataan, perbuatan, bahkan pikiran kita tidak begitu.

Kita pun berupaya mengurai benang yang kusut.

Lalu saat kita kira kesalahpahaman sudah diluruskan, tiba-tiba kita dengar kabar dari orang ketiga bahwa si orang lain masih mengganggap kita sebagai orang jahat.

Kita tidak terima. Kita bahkan mungkin marah. Kita setidaknya merasa dikhianati. Kita ingin mengajak si orang lain kembali duduk berhadapan; kembali beradu argumen. Kembali ingin menjelaskan bahwa kita tidak jahat; si orang lain hanya salah paham.

“Ikhlasin.”

“You don’t have to score.”

Seburuk kedengarannya, nasihat di atas benar adanya.

Terima saja. Silakan marah. Silakan sedih. Tapi gak perlulah kembali mencoba menjelaskan diri. You did that already. If it was not enough for that person, it’s never gonna be enough.

Dan gak akan mudah. Saya berkali-kali kepikiran untuk kembali melakukan konfrontasi, supaya kelak saya mati saya tau kalau orang lain itu tidak salah paham terhadap saya. Namun, pada akhirnya, apapun yang orang lain itu pikirkan tentang saya gak relevan; saya gak bisa mengendalikan pikiran orang lain.

“I’m only responsible for what I say or do, I’m not responsible for what you understand.”

Dan kehidupan terus berlangsung.

KeMESRAan Cirebon

Kalau di pertengahan Desember lalu saya ikut grup kantor #TWjamesbon alias Think.Web jalan-jalan mesra ke Cirebon, maka kemarin, dalam rangka pergantian tahun 2015 ke 2016, saya dan teman-teman dekat jalan-jalan penuh keMESRAan ke… Cirebon juga.

Penuh kemesraan karena jam terbang kebersamaan kami banyak. Dan MESRA alias MEpet Sampe-sampe RA bisa gerak di kamar hotel, di dalam mobil sewaan dan di tempat-tempat makan yang kami kunjungi; maklum bersembilan.

Ide jalan-jalan akhir tahun ini datang tiba-tiba (kaya cinta) saat kami sedang update info terkait persiapan pernikahan salah dua personil tim keMESRAan ini pada suatu kafe. Langsung saja ide ini disepakati dan ditindaklanjuti dengan membeli tiket kereta Cirebon Express di gerai Alfamart di sebelah kafe. Hotel pun segera dipesan.

Tim keMESRAan kemudian mendapat satu tambahan anggota yang langsung diinagurasi sebagai adik bersama.

Kami tidak memiliki rencana perjalanan, bahkan sampai hari kami tiba di kota Empal Gentong. Ya, kecuali itu, sowan ke warung-warung empal gentong. Tiba di Stasiun Cirebon barulah kami menentukan ke mana arah kaki kami melangkah. Destinasi berikutnya secara konsisten kami tentukan dari lokasi kami berpijak.

Destinasi (atau lebih pantas disebut menu?) yang akhirnya kami kunjungi selama di Cirebon di antaranya:

Empal Gentong Putra Mang Darma

Keluar stasiun kereta kami langsung disambut warung empal gentong. Empal gentong di sini lebih enak bila dibandingkan dengan empal gentong H Apud yang saya cobain saat #TWjamesbon. Entah karena lapar atau karena memang lebih enak.

Empal Gentong Bu Darma

Sedikit lebih jauh dari Putra Mang Darma, ada Bu Darma yang juga menyajikan empal gentong. Soal rasa, ibu dan putra ini sebelas dua belas lah.

Keraton Kasepuhan Cirebon

CMIIW, ada tiga keraton di Cirebon yang terbuka untuk kunjungan umum. Keraton Kasepuhan ini salah satunya dan yang paling besar dari ketiganya.

Dengan luas total 25 hektar, area keratonan ini terbagi menjadi empat: area untuk duduk-duduk dan (pada masanya) menyaksikan pertunjukan, area museum, bangunan utama keraton yang masih digunakan sebagai tempat tinggal, dan area sumur. Sekitar satu jam kami berkeliling di sana bersama pemandu wisata yang menyenangkan — dari info yang disampaikan dan cara penyampaiannya. Saran saya sih sewa jasa tour guide supaya kunjungan ke keraton lebih dari sekadar foto-foto.

Nasi Lengko H. Barno

Selain empal gentong, kuliner yang juga khas di Cirebon adalah nasi lengko. Nasi lengko H. Barno ini sepertinya cukup terkenal jika dilihat dari antriannya.

Pada dasarnya nasi lengko adalah nasi dengan topping sayuran, tahu tempe, sambal kacang dan kecap. Tidak ada yang bisa diistimewakan dari sajian ini, kecuali sambal kacangnya. Dan side dish berupa sate kambing muda (dengan formasi daging-lemak-jeroan dalam satu tusuk) yang lembut, gurih, nikmat.

Kawasan Batik Trusmi

Daerah Trusmi terkenal akan hasil batik khas Cirebon bermotif Mega Mendung dan Pesisir. Lembar demi lembar kain batik Cirebon bisa kamu susuri dari area pertokoan di depan gerbang, sampai blusukan ke area rumah-rumah produksi batik.

Banyu Panas Gempol

Ini mungkin deatinasi yang paling menarik yang kami kunjungi karena terletak di dalam kawasan industri Indocement. Kolam pemandian air panas ini memang memanfaatkan sumber air panas dan belerang yang dimanfaatkan juga oleh perusahaan semen ini.

Saat berendam di sini kamu akan terus mendengar pengumuman dari pihak pengelola untuk memberi jeda pada tiap sesi berendam, untuk alasan kesehatan tentunya.

image

H. Moel Seafood

Restoran seafood ini dikunjungi karena sehari sebelumnya kebetulan kami lewati dan mendadak ngidam berjamaah; sayang waktu itu restoran sudah tutup.

Menu jagoan di sini adalah kepiting saus bangkok dan udang lady rose bakar. Selama makan di sana kami khusyuk menikmati sajian di piring masing-masing sambil sesekali terdengar suara “slurps” dan “aahhh”. Silakan bayangkan sendiri penampilan dan rasanya ya.

Nasi Jamblang Bu Nur

Tempat ini epic! Antrian mengular, pilihan menu melimpah, tempat duduk terbatas, dan ruangan yang panas. Kami bersembilan duduk MESRA Tapi semua bahagia begitu keluar dari warung ini. (Mungkin bahagia karena akhirnya ketemu angin.)

CSB Mall

“Jalan-jalan ke luar kota kok malah ke mal?” Mungkin pertanyaan pertanyaan ini lebih cocok muncul saat seseorang bercerita tentang jalan-jalannya ke Singapore. Buat kami, mal ini penyelamat kedua (setelah staf Hotel Smile yang amomodatif) saat kami berencana kelaparan tengah malam (dengan menu resto takeaway-nya), butuh dopping  kesehatan (dengan drug store-nya), dan idle time management (dengan coffee shop dan rooftop-nya).

Tiga hari dua malam rupanya lebih daripada cukup — berlebihan malah — untuk berwisata di Cirebon dan sekitarnya.

Jalan-jalan ke Cirebon
Jangan lupa makan empal gentong
Cukup sekian
Dan terima kasih

(Loh kok gak nyambung non?)
(Ya terserah saya dong!)

2015 Best Nine Songs

Tahun 2015, seperti tahun-tahun sebelumnya, menyimpan banyak emosi. Beberapa bisa diwakilkan dengan lagu, beberapa cukup dibawa joget aja.

2015 Best Nine Songs versi saya (bisa juga disimak di Youtube playlist ini):

1) Your Arms Around Me – Jens Lekman

Di awal tahun ada kejadian yang mengguncang hubungan baik saya dengan seseorang. Dia sempat mengutip lirik lagu ini: What’s broken can always be fixed, what’s fixed will always be broken.

Kutipan itu melekat di ingatan, bahkan sampai penghujung tahun ini.

2) Ue O Muite Arukou – Kyu Sakamoto

Lagu ini mestinya akrab di telinga kamu juga lewat versi bahasa Inggris (Sukiyaki-nya Boyz II Men) atau versi bahasa Indonesia (Nyanyian Kode-nya Dono Kasino Indro).

Ketemu versi asli lagu ini waktu nonton From Up On The Poppy Hill (Studio Ghibli), dan makna liriknya bikin brebes mili.

3) If I Could Cry (It Would Be Like This) – Jens Lekman

Satu lagi dari Jens Lekman. Belakangan memang lagi menenangkan diri dengan alunan musik dari lelaki Skandinavia. Jens Lekman salah satunya.

4) My Tears Dry On Their Own – Amy Winehouse

Kakak Amy memang dahsyat ya suaranya! Lagu ini cukup sering saya putar di antara playlist female vocals.

5) Hello – Adele

Sungguh. Saya berusaha tidak “jatuh” ke lagu-lagu galau ala Adele, tapi lagu ini memang langsung nempel begitu pertama kali didengar.

6)  Am I The Same Girl – Swing Out Sisters

Ini lagu favorit buat berbenah kosan! Nadanya enak banget buat jejogetan sambil nyapu, ngepel dan cuci-cuci, sambil nyanyi-nyanyi tentunya.

7) Bang Diggy Bang Bang – MFBTY

Ini juga parah! Musiknya menyugesti badan untuk berjoget. Grup hiphop asal Korea ini asyik banget. Pun lagunya kali ini sarat nuansa India; jadi makin joget kan tuh.

8) Sorry – Justin Bieber

Is it too late to start listening to Bieber? Ini juga lagu yang sekali dengar langsung nempel di kuping dan nempel di badan. Bawaannya joget parah.

9) Hari Ini – Gabriel Mayo

Untuk menutup daftar kali ini, saya kasih satu lagu yang musiknya enak dan liriknya menyemangati. Lumayan, buat modal menyambut hari-hari baru di 2016.

2015 Best Nine Movies (and TV Series)

Thanks to juragan torrent Mr. Cineplaque, saya punya lebih banyak pilihan film dan serial.

2015 Best Nine Movies (and TV Series) versi saya:

1) Monster (2003)

Seorang teman membuat lagu berdasarkan film ini; it was so intense. Saya jadi penasaran seperti apa sih filmnya. Dan saya jadi paham kenapa lagu teman saya itu “gelap” (dibandingkan lagu-lagunya yang lain), karena menyalurkan jiwa gelap dalam cerita film Monster ini.

Ceritanya disadur dari kisah nyata seorang pelacur yang kemudian jadi pembunuh.

2) The Imitation Game (2014)

Juga disadur dari kisah nyata. Kali ini dari seorang ahli matematika di jaman Perang Dunia II.

Umpan casting Benedict Cummberbatch tentu saja saya sambut dengan lahap. Bang Ben menghadirkan sosok introvert yang sering kali disalahpahami orang-orang di sekitarnya.

3) The 100-Year Old Man Who Climbed Out The Window And Disappeared (2013)

Dari novel berjudul sama, yang menurut seorang teman dituturkan secara lambat.

Plot film berjalan cepat, berpindah dari satu kekonyolan ke kekonyolan lain. It was beyond hilarious. Saya menonton film ini pada suatu festival film, dan ruang auditorium Erasmus Huis dipenuhi gema suara tawa.

Film yang bikin bahagia.

4) The IT Crowd (2006)

“Hello, IT. Have you tried turning it off and on again?”

Tiga orang staff technical support — dua geek dan satu control freak– bekerja dari lantai basement kantor korporasi besar.

Ah, premis ini saja sudah menjanjikan komedi.

5) Still Alice (2014)

Yang menarik dari film ini justru kehadiran Kristen Stewart. Saya tidak terpesona pada K-Stew sejak perannya di Twilight. Ekspresinya begitu-gitu aaja. Emosinya begitu-gitu saja.

Namun di film ini saya melihat dia lebih hidup. Lebih berekspresi. Lebih beremosi.

K-Stew, you now have my attention.

6) Mr. Robot (2015- )

Instant crush on Rami Malek!

Pilot episodenya setting the bar too high, gak bisa dicapai episode-episode lanjutannya.

Tapi, karena banyak hal yang gak tuntas di Season 1 ini, saya sih menantikan kelanjutannya.

7) The Good Dinosaur (2015)

Pixar emang paling-paling ya untuk urusan kucek-kucek mata. Setelah Inside Out di tengah tahun, The Good Dinosaur juga bikin saya usap-usap pipi di kegelapan bioskop.

Yang bikin The Good Dinosaur masuk daftar ini ya karena animasinya yang semakin mendekati live action. Kalau kamu sempat nonton film ini, pasti ngeh kalau pemandangan sungai, hutan, gunung, langitnya lebih mirip foto daripada kartun.

8) Inside Out (2015)

Kata siapa Inside Out gak masuk daftar ini? Gila kali!

Masa saya gak masukin film yang ngacak-ngacak emosi ke dalam daftar ini? Gila kali!

Who’s your friend who likes to play?
Bing Bong Bing Bong!
His rocket makes you shout “Hooray!”
Bing Bong Bing Bong!

Sudah ya.. jangan nangis lagi.

9) Chungking Express (1994)

Dua teman saya, kakak-beradik Simatupang, suka (kayanya pake banget) sama film ini.

Ini film Wong Kar Wai pertama yang saya tonton. Dari film ini, saya jadi penasaran sama film-film lainnya garapan sutradara ini.

image

The end.
Iya, gak ada The Force Awakens.
🖖

2015 Best Nine Books

Mumpung #2015BestNine lagi trending, saya mau ikutan bikin daftar 9 terbaik versi saya ah.

2015 Best Nine Books:

1) Kafka On The Shore, Haruki Murakami

Pada Norwegian Wood saya langsung jatuh suka sama cara Murakami-san menuturkan cerita dan membiarkan saya larut di dalamnya. Bahkan meninggalkan nelangsa saat saya selesai membacanya. Maka, setelah move on dari Norwegian Wood, saya memberanikan diri terhanyut dalam tulisan-tulisannya yang lain.

Kafka On The Shore jadi buku pilihan berikutnya. Kafka bukan buku yang mudah dipegang. Berkali-kali saya ingin menyerah membacanya. Murakami-san memberi petunjuk demi petunjuk bagaimana dua tokoh utamanya akan bertemu, dan saya menghabiskan batas sabar saya menantikan pertemuan itu.

Kafka masuk daftar ini karena kegigihannya menarik saya, yang berkali-kali berusaha kabur, untuk kembali tenggelam dalam halaman demi halamannya.

2) Jatuh Ke Matahari, Djokolelono

Buku terbitan circa 1970 ini saya pinjam dari Om Bin, yang memang kolektor buku lawas.

Cerita fiksi sains tentang perjalanan para astronot menjelajahi luar angkasa ini mengingatkan pada Interstellar, yang beberapa waktu sebelumnya saya tonton. Dan, betapa buku ini ahead of time dibanding generasinya.

3) Kitchen, Banana Yoshimoto

Saya pertama membaca novelette (saya lupa judulnya) yang turut mendampingi Kitchen di buku ini. Lalu terus tertarik membaca tulisan mbak Banana yang lainnya.

Saya tak bisa menghindari membandingkan Yoshimoto dengan Murakami, untuk nuansa melankolis Jepang yang dihadirkan lewat tulisan.

Thanks to mbak Banana, saya jadi tertarik membaca novel karya penulis Jepang lainnya.

4) Kitchen, Jo Joo Hee

Kitchen yang ini berupa seri kumpulan cerita pendek grafis (1-3), yang menghadirkan kisah-kisah ringan tapi dalam dari sudut pandang perempuan muda. Resonansinya terasa kuat.

5) Kicau Kacau, Indra Herlambang

Saya paling iri pada orang-orang yang menulis dan menggambar sama baiknya. Indra salah satunya.

Awalnya sempat skeptis pada tulisan karya selebriti (dan selebtwit). Apa sih, paling juga isinya menye-menye gak jelas sembari humblebrag.

Namun tulisan (dan ilustrasi) Indra membantah keskeptisan saya. Tulisannya ringan, tepat guna, beberapa bahkan membuat saya bereaksi “Ah, bener juga ya.”

6) Melihat Api Bekerja, Aan Mansyur & Emte

Ini pertama kalinya saya membaca puisi karya Aan Mansyur, sekaligus mengagumi ilustrasi Emte. Sebenarnya, ilustrasi Emte lah yang pertama memanggil saya untuk melihat isi buku ini.

Karya mereka saling melengkapi, tulisan menegaskan gambar, dan gambar memberi makna lebih pada tulisan. Karya yang nikmat dipandang mata kepala dan mata jiwa.

7) Wonder, RJ Palacio

Covernya selalu memanggil tiap kali saya lihat di toko buku. Sayangnya excerpt di sampul belakang tidak berhasil menggaet saya untuk membawanya ke meja kasir.

Baru setelah ada rekomendasi dari teman, saya mendatangi toko buku itu dan menebus Wonder dari rak buku.

Warning: This book is such a tearjerker!

8) The Little Prince, Antoine de Saint-Exupéry

Membaca ulang novel ini demi menyambut filmnya jadi keputusan yang baik. Karena saya jadi bisa menikmati karya yang lebih baik terlebih dahulu, sebelum karya coba-lagi-besok-ya yang menyusul.

The book is better than the movie. As usual.

9) The Curious Incident Of The Dog In The Night Time, Mark Haddon

Membaca ulang buku ini, dan sekaligus memilikinya di tahun ini, setelah entah di tahun berapa saya membacanya via pinjam teman.

Buku ini mengajak pembacanya untuk ikut berpikir dan merasakan hal-hal sehari-hari dari sudut pandang yang berbeda. And it’s a lovely thing.

Ya begitulah daftar sembilan dari segelintir buku yang saya baca tuntas di tahun ini.

Seorang teman kemarin mengajak mengikuti tantangan 52 buku dalam 1 tahun. Siapa takut? Saya sih takut.

Halfworlds, Pilot Episode Spoiler

Tadi nonton episode perdana Halfworlds di Facebook Page-nya. Secara umum menarik. Mungkin karena unsur “karya anak bangsa”, mungkin karena ide cerita demit vs manusia. Tapi ada dua detil yang mengganggu.

[SPOILER ALERT]

Pertama, waktu Pinung ke tempat Sarah dan melihat ilustrasi yang ditempel di dinding. Ilustrasinya menggambarkan gimana kedua orang tua Sarah dibunuh sesosok siluet. Pada salah satu ilustrasinya digambarkan kedua orang tua Sarah merangkul Sarah di antara mereka, berhadapan dengan sosok siluet itu. Dari bangku penonton memang enak dilihat, tapi sudut pandang penceritanya jadi berantakan.

Begini, ilustrasi itu kan dari kenangan Sarah kecil pada saat kejadian berlangsung, maka sudut pandang kenangan itu dari mata Sarah kecil. Sementara ilustrasi dibuat dari sudut pandang orang ketiga, yaitu yang menyaksikan Sarah kecil dan kedua orang tuanya berhadapan dengan siluet itu; padahal yang membuat ilustrasi itu adalah Sarah dewasa. Ya, bisa aja begitu, tapi kenapa Sarah — yang mengalami kejadian itu di depan matanya — kepikiran untuk menggambarkannya dari sudut pandang orang ketiga, seolah dia menarik diri keluar dari kenangan?

Kedua, pada adegan Sarah melihat temannya yang tengah dimangsa tokoh demit yang diperankan Adinia Wirasti. Sarah sempat lari dan teriak minta tolong, lalu warga sekitar berbondong mengikuti Sarah ke tempat kejadian. Saat warga melihat tidak ada apa-apa di sana, satu persatu mereka membalik badan meninggalkan Sarah. Salah satu warga mengenakan kemeja warna terang (putih?). Saat dia membalik badan, terlihat bercak darah di belakang pakaiannya. (Mungkin bekas dipakai di adegan lainnya?) Kenapa gak ganti baju sih, mas?

Dua detil ini gak mengganggu keseluruhan cerita pilot episode Halfworlds kok. Cuma terlanjur terlihat dan bikin saya bertanya “Kenapa sih?”