Mangsa Terakhir

Dari selempeng permen bergula dengan rasa pepermint dia berubah wujud menjadi segumpal karet putih penuh liur. Terjun bebas dari ketinggian satu setengah meter, dia kini teronggok di tepi jalan beraspal.

Diam, tapi bukan tanpa rencana. Dia mengincar mangsanya.

Sepasang manusia, lelaki dan perempuan, tengah berdebat dalam bahasa mereka di dekatnya. Hap! Dia memeluk ujung tumit sepatu si perempuan. Beberapa meter dari tempatnya terjun bebas, menyeberangi jalan beraspal, sepasang manusia itu menghentikan langkah. Si perempuan mengeluhkan tentang dia yang melekat di alas kakinya. Sambil mencoba melepaskan dia dari ujung tumit sepatu itu, si lelaki mengeluh, “Lagian kamu udah tau susah jalan kalau pakai sepatu ini, malah tetap dipakai!”

Dia selamat, meski harus mengorbankan sebagian dirinya mati sebagai gumpalan-gumpalan kecil. Kini tergeletak di tengah jalan, terpental dari ujung jemari si lelaki.

Tak lama roda sepeda menggilas dia. Dia senang bisa melihat dunia dari sisi berbeda. Bergerak ke atas, melihat pemandangan dari ketinggian roda, bergerak ke bawah, kembali ke aspal. Terus-menerus, sampai sepeda itu tiba di sebuah rumah. Si anak yang mengendarainya lantas berteriak, “MAMAA!! TOLONG!” Si mama tergopoh-gopoh menghampirinya dari dalam rumah. “Ada apa teriak-teriak?”

“Ada permen karet di ban sepedaku,” rengek si anak. “Hih! Bikin kaget. Mama kira ada apa,” si mama menghembuskan nafas lega. “Minta tolong sama kakakmu ya, mama lagi masak.”

Tak lama si kakak mulai mencungkil-cungkil dia dari roda sepeda. Lagi-lagi sebagian dirinya mati sebagai gumpalan-gumpalan kecil. Sebelum akhirnya dia berpelukan erat dengan sebilah tusuk gigi yang mencabutnya dari roda itu. “Bego amat sih nih orang buang bekas permen karet sembarangan!” serapah si kakak. Dia mengamati mulut si kakak yang bercerocos. Pemandangan yang familiar, pikirnya. Ah, iya. Mulut itu yang sebelumnya membuang dia dari ketinggian ke tepian jalan beraspal.

Dia bahagia. Sekarang tidak lagi sendirian. Ada tusuk gigi yang setia menemani dalam pelukan. Cerita perjalanan mereka dimulai dari ruang gelap, lembap dan berbau menyengat yang manusia sebut tempat sampah.

Banyak Bangsat di Jalanan Jakarta

Bangsat Satu menurunkan paksa penumpang sebelum tiba di tujuan masing-masing, karena dia mau memutar balik dan mengambil penumpang dari jalur sebaliknya.

Bangsat Dua menyetir angkot rongsoknya pada kecepatan penuh, mengambil lajur berlawanan demi melewati mobil demi mobil di depannya. Lalu menepi di dekat warung, menunggu penumpang. Sambil lalu dia mengeluh pada teman-temannya yang sedang duduk-duduk di sana. “Si Bangsat Satu kurang ajar sih, puter balik seenaknya, ngambilin sewa gua!” Temannya menimpali, “”Ya, namanya ngejar setoran. Maklum, baru punya bayi.” “Ya kaga bisa gitu, gua juga ngejar setoran kan!” si Bangsat Dua membela diri. Sementara para penumpang di dalam angkot bertanya dalam hati, mau sampai kapan si Bangsat Dua ngetem di sana?

Bangsat Delapan melaju di atas motor melewati jalan layang yang tidak diperbolehkan untuk kendaraan tersebut. Dia melawan arah lajur, membuat kagok mobil boks dan taksi yang melintasi.

Bangsat Empatbelas menginjak-injak pedal gas dan rem bertukaran di atas garis-garis hitam putih di dekat lampu lalu lintas, membuat pejalan kaki was-was kalau-kalau bus berwarna jingga itu akan menabraknya saat menyeberang jalan.

Bangsat Duapuluh Lima menekan-nekan klakson, berpindah dari lajur kiri ke lajur kanan, seolah mengumandangkan puisi ketergesaan. Mengeluhkan macetnya Jakarta dari dalam kabin ber-AC, ditemani lagu-lagu kesukaannya di radio, CD atau MP3.

 

Sudah terlalu banyak bangsat di jalanan Jakarta. Please don’t be one.

He’s Not All Weird After All

Balada grammar police dalam lagu Word Crimes

 

Selain bekerja penuh waktu pada sebuah digital agency, saya juga bekerja tanpa kenal waktu membela tata bahas dan ejaan yang tepat. Sebagai pengguna bahasa, saya pikir itu hal paling sederhana yang bisa saya lakukan. Tata bahasa dan ejaan yang tepat memang perlu dibela, karena mereka tidak dapat membela diri sendiri saat disepelekan oleh begitu banyak orang.

Baru-baru ini Weird Al Yankovic merilis 8 video dalam 8 hari dalam rangka promosi album terbarunya, Mandatory Fun. Kedelapannya adalah parodi lagu dan video dari lagu-lagu populer yang sudah ada. Salah satunya, yang menjadi favorit saya, adalah Word Crimes, yang berisi sindiran tentang kesalahan penggunaan kata-kata yang sering terjadi (dalam bahasa Inggris, tentunya).

Pop quiz: Kapan kita menggunakan “It’s less” dan kapan kita menggunakan “It’s fewer”? Simak jawabannya di video ini.

Reaksi pertama saya melihat video ini: THANK YOU, WEIRD AL!

Sebagai yang sering dituduh sebagai grammar police, saya seperti mendapatkan dukungan moral untuk meneruskan misi saya memberantas word crimes, khususnya dalam bahasa Indonesia.

Berikut adalah beberapa “kejahatan” yang sering terjadi di sekitar saya:

Disini. Demi Kamus Besar Bahasa Indonesia, tolong bedakan “di” sebagai preposisi dan “di” sebagai imbuhan! Sebagai keterangan tempat, kata itu seharusnya ditulis sebagai “di sini” (dengan spasi). Sebagai kata kerja pasif, kata itu ditulis sebagai “ditulis” (tanpa spasi). Hal yang sama juga berlaku untuk penggunaan kata “ke” dan “dari”.

Aktivitas VS Aktifitas. Dan kata-kata berakhiran -itas lainnya seharusnya ditulis dengan -vitas, dan bukan -fitas. Loh kok begitu? Kan “aktifitas” diambil dari kata dasar “aktif” yang menggunakan “f”? Begini penjelasannya: Bahasa Indonesia menyerap bahasa asing dalam berbagai bentuk, di antaranya kata dasar (active) dan kata berimbuhan (activity). Bentuk kata serapan pun menyesuaikan bentuk aslinya secara penuh, sehingga “active” menjadi “aktif” dan “activity” menjadi “aktivitas”. “Aktivitas” bukanlah bentuk serapan kata ”aktif” ditambah imbuhan -itas (karena Bahasa Indonesia tidak mempunyai imbuhan semacam itu!).

Merubah. Menjadi rubah? Sebagai bentuk kata berimbuhan dari kata dasar “ubah” (yang bermakna menjadi lain atau berbeda dari semula), seharusnya ditulis mengubah, yaitu kata dasar “ubah” dipertemukan dengan variasi dari imbuhan me- (meng).

Sekedar. Sekadar mengingatkan, untuk makna “seperlunya atau seadanya”, “hanya untuk”, dan “sesuai atau seimbang atau sepadan”, penulisan kata yang tepat adalah “sekadar”.

Kedua atau ke dua? Kata ke- yang diikuti kata bilangan (satu, dua, sepuluh, seratus, dll)bertindak sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (contoh: anak kedua, orang ketiga, abad kesepuluh) dan kata bilangan kumpulan (contoh: kedua anak, kesebelas pemain sepak bola) ditulis tanpa spasi. Bentuk kata bilangan ditulis secara berbeda jika bilangan dituliskan dalam angka (1, 2, 10, 100, dll) dan bukan kata (satu, dua, sepuluh, seratus, dll), menjadi: anak ke-2, ke-11 pemain sepak bola, abad ke-10. Pada kondisi tertentu, penulisan kata bilangan dapat menggunakan bilangan Romawi (I, II, X, XX, dll). Di sini, penggunaan ke- luruh, sehingga kata bilangan ditulis menjadi: abad X.

Masih banyak “kejahatan” lainnya yang (terlalu) sering kita — penutur asli Bahasa Indonesia — gunakan. Saya pikir tidak terlambat untuk kita belajar ulang tentang penggunaan Bahasa Indonesia yang tepat guna dari waktu ke waktu.

Untuk sementara waktu, tolong jangan ulangi kesalahan yang sama. Terima kasih.

 

 

 

Tulisan juga dipublish di medium.

Belajar Dari Pied Piper

WARNING: Mengandung spoiler serial Silicon Valley S01

 

 

Beberapa hari menjelang libur Lebaran lalu saya sempat mengumpulkan beberapa file video film yang direkomendasikan teman-teman untuk ditonton selama berlibur.

Salah satu judul film seri yang kemudian saya selesaikan selama masa hibernasi di rumah dan kost adalah Silicon Valley (SV) — yang dirangkum HBO sebagai berikut:

In the high-tech gold rush of modern Silicon Valley, the people most qualified to succeed are the least capable of handling success. A comedy partially inspired by Mike Judge’s own experiences as a Silicon Valley engineer in the late 1980s. Dari judulnya, saya kira serial itu akan serius. Namun, teman saya sudah memperingatkan di awal kalau serial itu bergenre komedi.

Yang tidak saya duga justru banyak adegan di dalam serial itu yang menggambarkan kisah klise tentang kehidupan startup, sebagaimana yang diceritakan di media. Tidak dalam pengertian negatif. Momen-momen klise itu justru memberi beberapa pelajaran (hidup). Di antaranya…

Hidup selalu memberi pilihan sulit: yang baik vs yang baik. (Karena pilihan yang baik vs yang buruk terlalu mudah.) Di SV diceritakan Richard si computer programmer dihadapkan pada dua pilihan setelah memaparkan produk algoritma kompresi file bernama Pied Piper: A) 10 juta dollar dari Gavin untuk membeli kepemilikan produk startup itu, atau B) 200.000 dollar dari Peter untuk berkontribusi dalam pengembangan produk dan startup milik Richard.

Barang yang sudah dicuri tidak dapat dikembalikan. (Atau dapat?) Richard kemudian menolak tawaran Gavin dan menerima tawaran Peter. Ada perang psikologis yang berlangsung antara Gavin dan Peter. Gavin lantas mencuri ide Richard dan mengembangkan produk serupa Pied Piper, yang dinamai Nucleus. Curi-mencuri pun tidak berhenti di ide, tapi juga di personel. Salah satu personil tim Gavin, Jared, memutuskan resign dan bergabung dengan tim Richard. Lalu Gavin merebut salah satu personil tim Richard, Big Head, dengan iming-iming gaji yang lebih memuaskan. Klise. Di industri digital agency tempat saya beraktivitas pun, curi-mencuri ide dan personil sudah jadi cerita sehari-hari.

Determinasi. Negosiasi. Argumentasi. Richard sangat kukuh untuk menggunakan nama Pied Piper untuk startup-nya, walaupun mereka tahu kalau sudah ada perusahaan lain yang menggunakan nama tersebut. Richard, yang selalu gugup saat berkomunikasi dengan orang lain, terpaksa mendekati pemilik perusahaan Pied Piper lainnya untuk merundingkan kepemilikan nama perusahaan. Walaupun mengalami beberapa hambatan karena kesalahpahaman, dan lewat negosiasi dan argumentasi yang masuk akal Richard akhirnya memenangkan kepemilikan nama perusahaan Pied Piper.

Beberapa orang memang dilahirkan menyebalkan, tapi kita tetap membutuhkan mereka. Admit it. Ada beberapa orang (kalau tidak bisa disebut banyak) di sekitar kita yang menyebalkan dalam berbagai level. Kadang (atau sering) kita berharap tidak harus berhadapan, apalagi berinteraksi, dengan orang-orang tersebut. Namun, kita juga harus mengakui kalau kita butuh orang-orang tersebut, untuk berbagai alasan. Dalam kondisi mabuk, Richard sempat menjanjikan Erlich, pemilik rumah tempat startup Pied Piper tumbuh dan berkembang, kapasitas sebagai anggota direksi. Pernyataan Richard tersebut membuat anggota tim yang lain bertanya-tanya; Erlich bukanlah orang yang Richard dan anggota tim lainnya bayangkan sebagai anggota direksi. Singkat cerita, pada akhirnya Richard mengakui kalau dia memang membutuhkan Erlich.

Identitas diri. You are what you think you are. You are what you say. You are what you eat. Atau apapun statement tentang identitas diri. Pada sebuah startup, identitas itu salah satunya ditunjukkan dalam sebuah logo perusahaan. Setelah sukses membeli nama perusahaan Pied Piper, Richard dan tim harus mempertimbangkan sebuah logo. Erlich yang nyentrik menyewa graffiti artist berbayaran mahal untuk membuatkan logo. Logo buatannya tidak hanya eksentrik tetapi juga menimbulkan keresahan sosial. Setelah melewati fase khilaf itu, Pied Piper kemudian kembali ke logo tipikal dengan inisial huruf kecil. Banyak cara untuk mengidentifikasi diri. Yang penting kita mau benar-benar jujur pada diri sendiri dan orang lain.

It’s never too old to learn, and never too young to teach. Pada suatu titik, Richard dan tim mengalami kesulitan dalam pengembangan produk mereka. Mereka terpaksa menyewa tenaga kerja tambahan untuk meyelesaikan beberapa coding. Pilihan mereka jatuh kepada Kevin, seorang bocah muda jenius yang terkenal dengan aksinya meretas kode website sebuah bank. Richard belajar beberapa hal dari Kevin, begitupun sebaliknya. Gak perlu gengsi lah kalau harus belajar kepada yang lebih muda (usia dan pengalaman).

Bring it on! Pada kondisi-kondisi tertentu dalam hidup, kita harus benar-benar beraksi untuk bisa maju selangkah ke depan, atau ke atas, atau ke samping. Tidak hanya memimpikan mimpi, tapi juga menghidupi mimpi. Richard dan tim ambil bagian dalam TechCrunch Distrupt untuk mempresentasikan Pied Piper. Untuk kesempatan mendapatkan investor. Untuk mendapatkan kepercayaan publik. Walaupun produk mereka masih belum benar-benar “matang”. Kalau kata orang sih: Kalau nunggu siap, sampai kapan pun gak bakal siap.

Stick to the plan, but be flexible. Saat semua rencana tersusun rapi, sisakan ruang terbuka di ujung jalan. Bukan karena kita tidak percaya kalau rencana tersebut dapat diwujudnyatakan. Justru karena kita sadar bahwa perubahan selalu datang di detik-detik yang tidak kita duga. Pada TechCrunch Distrupt, Gavin mempresentasikan Nucleus tanpa cela. Pied Piper mulai terancam dicap sebagai versi KW-nya Nucleus. Semua anggota tim, kecuali Jared, mulai pasrah dengan kekalahan. Mereka mengalihkan perhatian mereka dari Pied Piper ke hal-hal ringan seperti menghitung kemungkinan Erlich jerking off seluruh pendatang TCD dalam waktu singkat. Siapa sangka hal-hal ringan yang mereka diskusikan secara serius itu justru jadi ruang terbuka di ujung jalan bagi Richard untuk mengarahkan Pied Piper sebagai ide lain yang lebih brilian daripada Nucleus. They nailed it.

Cerita-cerita klise tentang berkembangnya sebuah startup dari Silicon Valley mungkin sudah sering kita dengar. Tapi banyak hikmah yang bisa kita ambil dari cerita-cerita klise tersebut.

 

 

 

Tulisan juga dipublish di Medium.

Kepada Langit dan Laut

Dek depan kapal penumpang bermuatan dua puluhan orang mulai dipadati mereka yang ingin mengabadikan matahari tenggelam. Dalam diam dia melangkah menjauhi keramaian itu; menyelinap ke ruang kemudi kapal.

Sebatang rokok yang ditawarkan kapten kapal diselipkan di bibirnya lalu dibakar. Di sela-sela kepulan asap dia dan si kapten bertukar cerita. Matanya menunjukkan keingintahuan.

Setelah selesai sebatang rokok itu, mereka terdiam. Si kapten kembali berkonsentrasi pada kemudi. Sementara dia, masih duduk di dipan ruang kemudi, melayangkan pandangannya ke utara di mana langit dan laut bertemu pada garis horizontal. Semburat jingga matahari tenggelam mewarnai pemandangan biru-biru itu.

Saat kerumunan di dek depan semakin riuh menarasikan pemandangan yang mereka saksikan bersama, dia semakin tenggelam dalam lamunannya. Matanya, yang tadi penuh keingintahuan, kini penuh embun. Satu kedipan dan embun itu meleleh. Dibiarkannya lelehan itu semakin membasahi pipi. Hidungnya bergetar menghembuskan nafas berderu, melampiaskan sesak dari rongga dadanya. Semua terjadi dalam sembuyi.

Dia keluar dari persembunyiannya sebelum matahari benar-benar tenggelam. Deru nafasnya mereda. Basah di pipi disekanya. Lalu bibir yang tadi mengepulkan asap, kini mengembang. Tanpa suara dia mengucap “Selamat tinggal.”

Pak Pos

Tanpa saya sadari rupanya sosok seorang pak pos telah menjadi bagian dari hidup saya.

Saya memulai berkirim surat sejak kelas 4 SD, dengan seorang sahabat pena di Palembang. Dia mengetahui nama dan alamat saya dari surat pembaca tabloid Fantasy. Saya lupa, saya mengirim surat pembaca ke tabloid itu dalam rangka apa.

Selain sahabat di Palembang, saya juga berkirim surat dengan sahabat pena di Ungaran. Saya lupa bagaimana kami memulai berkenalan.

Kami terus bertukar cerita lewat surat sampai saya di tingkat SMU. Saya tidak ingat bagaimana atau kenapa kami berhenti berkirim surat.

Selama hampir sepuluh tahun saya selalu menantikan datangnya pak pos ke rumah. Pak pos yang bertugas mengantar surat ke alamat saya adalah seorang bapak berkumis, dengan timbre suara sedang, bertubuh ramping. Saya masih ingat bagaimana suaranya saat menyebut empat suku kata nama saya.

Tahun-tahun sesudah saya tidak lagi berkirim surat dengan sahabat pena, pak pos yang sama masih datang ke rumah. Tapi kali ini kirimannya berupa tagihan atau paket saja. Tak ada lagi panggilan nama saya.

Lalu, pak pos itu pun tergantikan oleh pak pos yang lain. Dan kini tergantikan oleh kurir jasa pengiriman paket. Tak ada lagi pak pos kesayangan saya.

Tanpa saya sadari rupanya sosok seorang pak pos telah hilang dari hidup saya.

pak pos

Sampai akhirnya saya menemukan buku ini, yang bercerita tentang seorang tukang pos yang bertugas di desa kecil di Korea Selatan. Lewat mata dan pikiran si tukang pos, ia menuturkan cerita-cerita kehidupan orang-orang di sana.

Lalu kenangan tentang pak pos kesayangan saya kembali hadir.

Terima kasih, Pak, telah mengantarkan cerita-cerita saya dan sahabat-sahabat pena saya selama tahun-tahun itu.

Sorry For Being Chinese

Kamis lalu saya membaca sebuah nukilan berita tentang pernyataan sikap Plt Gubernur DKI Jakarta Ahok terhadap Ketua Dinas PU DKI Jakarta Manggas di akun Google+ milik Kompas.com.

Mendadak perasaan saya bercampur aduk saat membaca beberapa komentar di post tersebut, yang menyudutkan Ahok karena dia seorang keturunan Cina (atau keturunan Tionghoa, atau apapun sebutannya kali ini).

(Disclaimer: karena pada umumnya nama tersangka pelaku kejahatan disamarkan, maka kedua nama itu saya tutupi.)

Ada rasa marah saat membaca komentar-komentar rasis tersebut. Sekaligus rasa khawatir, karena di tengah masyarakat yang katanya sudah cukup dewasa untuk menerima perbedaan ternyata masih ada orang-orang yang belum akil balig.

Namun pada saat yang sama, saya merasa menyesal kepada oknum ZZZZZZZZZ dan oknum ARRRGGH!, karena sebagai keturunan Cina saya telah ambil bagian dalam masyarakat yang lebih dewasa untuk menerima perbedaan. Maafkan saya yang terlahir sebagai keturunan Cina. Maafkan saya yang lebih dewasa untuk menerima perbedaan daripada kalian.

Ketidak-konsistenan

Saya kepikiran tentang bagaimana manusia bisa menunjukkan sikap tertentu, yang bertentangan dengan komunikasi verbalnya. Ada ketidak-konsistenan di sana.

Contoh sederhananya adalah manusia yang mengatakan ‘Gue tertarik sama cerita lo’, tetapi sibuk dengan smartphone-nya saat diajak bicara.

Atau, manusia yang bersikap layaknya ‘anak baik-baik’, tetapi omongannya ujung-ujungnya selalu ‘ngajak ke kamar’. (Oke, sekali-dua kali sih mungkin bercanda, tapi kalau tiap hari yah mungkin memang ‘jualan’.)

Atau, manusia yang bersikap seolah everything’s under control, tetapi saat ada tekanan mendadak meledak. Ledakan yang mungkin tidak dia sadari karena kalimatnya terdengar biasa saja. Ledakan yang orang lain sadari karena kalimatnya terdengar tidak biasa.

Saya bukan yang paling mengerti tentang perilaku manusia. Saya bahkan butuh waktu untuk memahami mengapa saya bersikap tertentu terhadap sesuatu.

Saya hanya khawatir apakah kita masih bisa mengenali diri sendiri kalau terus menerus tidak konsisten seperti ini.