Tentang “Emma”

​​Kalau ada manusia –selain kedua atau salah satu orangtua– yang bisa menerima dan menyayangi kita apa adanya, kemungkinan besar adalah nenek atau kakek. (Atau kalau kamu cukup beruntung, ada “dia” –siapapun definisi “dia” di kamus kamu; kalau kamu belum beruntung, “dia” bahkan belum tentu membaca apalagi membalas pesan yang kamu kirim via WhatsApp. *pukpuk*)

Tanpa bermaksud ke-Amerika-Amerika-an, mari ikut merayakan National Grandparents Day, dengan mengenang –jika yang tersisa hanya kenangan– tentang nenek atau kakek kita.

Saya hanya mengenal salah satu dari lima peluang nenek/kakek (lima karena ibu saya punya ibu angkat) semasa kecil. Nenek dan kakek lainnya sudah tiada saat saya mulai bisa mengingat; sementara nenek angkat tidak dekat secara fisik dan emosional.

“Emma” (seperti Emma pada Emma Thompson) adalah nama panggilan kami untuk beliau. Di-Inggris-Inggris-kan dari panggilan “emak”. Emma meninggal di akhir bulan April saat saya duduk di bangku SD kelas… saya bahkan sudah lupa kapan Emma meninggal. 

Walaupun mengenal Emma hanya sesaat, kenangan samar-samar tentang Emma masih terasa hangat.

Emma adalah teman main pertama saya, sebelum saya bermain petak umpet atau petak benteng dengan anak-anak seumuran di dekat rumah, dan bermain lompat tali (karet) atau bersepeda bersama teman-teman sekolah.

Permainan pertama kami adalah Jalan Kembang, yaitu berjalan-jalan sore mengitari rumah-rumah sekitar tempat tinggal –tidak jauh-jauh, paling hanya radius setengah kilometer– sambil sesekali memetik kembang di pohon-pohon pembatas jalan.

Permainan lain yang sering saya lakukan bersama adik, dan melibatkan Emma, adalah Jangan Ketahuan Emma. Tidak seperti petak umpet di mana pihak yang mencari sudah tahu kalau dia harus mencari, di permainan ini saya dan adik akan tiba-tiba menghilang dari pandangan Emma –bersembunyi di balik pintu atau di kolong ranjang– sampai Emma mulai mencari-cari kami. Setelah Emma meninggal, saya pikir permainan ini cukup jahat.

Sesekali Emma akan menjepit hidung saya di antara jempol dan telunjuknya. “Biar mancung,” katanya. Sayangnya hidung saya sampai sekarang masih setia pada model hidung Benyamin.

Lalu ada dua foto (yang kini entah di mana; mungkin hanyut bersama banjir) saya dan Emma, yang masih terlihat jelas di lemari arsip memori jangka panjang. Kedua foto itu diambil saat ulang tahun pertama adik saya; berarti saya sekitar umur tiga setengah tahun. Di satu foto, saya dengan rambut bob berponi dan dress selutut berlengan buntung bersandar pada tubuh Emma (yang selalu) dengan kebaya potongan kutubaru berlengan panjang dan kain batik semata kaki dililit pada pinggang; Emma sedang membetulkan salah satu kancing pada baju saya. Di foto lain, kami masih di sofa kulit sintetis merah marun yang sama, saya mengangkat salah satu kaki sambil menggigit kuku jari tangan, Emma di sebelah saya menggaruk rambut berubannya yang selalu dikonde; kacamata plusnya tersangkut di hidung.

Dulu saat saya dijemput pulang dari sekolah teriring kabar Emma meninggal, saya tidak ingat apakah saya menangis. Sekarang saat usia sudah berkali lipat dari usia SD dan hati ini sudah berkali lipat mengenal rasa kehilangan, saya rasanya ingin menangis. Bukan menangisi kenangan manis, tetapi menangisi betapa terbatasnya waktu untuk mengenal Emma; dan kekhawatiran sampai kapan saya bisa menyimpan kenangan tentang Emma dengan baik.

Kota Ini Kembang Api*

Pijarnya memukau, menyemburat hangat

Membuat kepala hingga kakiku terpana

Sekadar memandang-mandanginya

Selagi ia menyala-nyala di dalam gelap, walau hanya sesaat

Sebelum meredup dan meninggalkan bau yang terus menetap dalam sela dan rongga

🎆
*Judul dan isi tulisan ini dibuat sebagai apresiasi atas buku kumpulan puisi Kota Ini Kembang Api karya Gratiagusti Chananya Rompas (tersedia di Gramedia) yang membuat saya ingin bermain kata-kata

​Sekaleng Soda

Cklek.

Pssshh.

Ada sensasi menenangkan dari bunyi sekaleng minuman berkarbonasi yang baru dibuka. Ada harapan bahwa minuman itu akan membilas masalah yang tengah melumuri tubuh si peminum. Setidaknya itu caraku membalas tekanan dari luar yang mendesak ke dalam pikiranku.

Cara orang memang berbeda: ada yang memilih menyelubungi diri dengan asap bakaran tembakau, ada yang mengguyurnya dengan larutan berkafein, dan ada yang meleleh bersama cokelat. Buatku, minuman kaleng –kalau bisa yang bersoda– jadi teman bersembunyi.

Bersembunyi, karena aku tidak sedang berlari. Bersembunyi, karena aku butuh waktu bersendiri sebelum kemudian kembali ke permukaan dan menghadapi apapun atau siapapun yang perlu kuhadapi.

Sembunyiku pun tak perlu jauh-jauh atau menghabiskan banyak waktu. (Berapa lama sih waktu yang dibutuhkan seseorang untuk menghabiskan sekaleng minuman?) Cukup ke convenient store yang kini semakin banyak dan tersebar di hampir setiap persimpangan jalan. Cukup berbaur di tengah wajah-wajah asing, lalu mengambil posisi duduk yang tidak mencolok (misalnya di ujung meja dekat rak majalah) sambil menikmati pemandangan apapun yang disajikan di depan mata dari balik dinding kaca.

Seperti pemandangan wajah familiar yang memasuki gerai. Dia melihatku tapi terus berlalu ke arah lemari pendingin minuman. Aku mengamatinya dari balik pundakku. Sedang apa dia di sini?

“Bangku ini kosong, kan?” Tau-tau dia sudah di sampingku.

Kubuka telapak tanganku ke arah bangku di sebelahku. Silakan.

“Jadi lo suka ke sini kalo mendadak ngilang,” komentarnya sebelum kemudian membuka kaleng minuman pilihannya. Aku hening sejenak mendengar bunyi itu.

“Lagi ribet apa?” tanyanya lagi.

“Gak ribet apa-apa. Lagian, kalaupun ribet, gue gak perlu cerita ke lo,” jawabku sekenanya.

“Gak perlu. Tapi kalo lo mau cerita, gue mau dengerin kok,” komentarnya lagi. “Gue gak janji bisa bantu apa-apa sih. Tapi paling gak lo gak perlu ngobrol sama kaleng minuman doang.”

“Kenapa? Aneh?” Aku mulai terganggu dengan komentarnya.

“Gak kok. Yang aneh itu kalau kaleng minuman lo yang ngajak ngobrol duluan,” jawabnya asal. Aku tak bisa menahan senyumku atas usahanya melucu.

“Lo sendiri ngapain ke sini? Lagi ribet?” Tanyaku sebelum mereguk lagi minuman soda di tanganku.

“Gak kok. Gue ke sini khusus ngikutin lo.” Jawabannya membuatku berhenti meneruskan tegukanku. 

Kutatap matanya, mencari tau apakah ini usahanya melucu lagi atau bukan. Tak kutemukan jawabannya. Aku memang tidak terlalu mengenalnya.

“Kapan-kapan kita makan ramen bareng yuk! Lo suka ramen kan?” Tiba-tiba dia mencerocos tentang hal lain.

“Eh? Ramen? Mm…suka.” Dari mana dia tau aku suka makan ramen?

“Nanti gue kasih tau kapannya ya.” Dan dengan kalimat itu dia pun berlalu dari hadapanku.

Minuman soda di tanganku sudah berkurang dinginnya. Kubiarkan waktu berlalu sambil menyesap sisa minuman pelan-pelan. Dan mengingat-ingat seperti apa hubungan kami di tempat kerja? Karena sepertinya dia baru saja mendobrak masuk ke hidupku. Dan aku tidak nyaman dengan hal itu.

​Kembali Ke Pasar Santa

Sabtu lalu saya main ke Pasar Santa, menyambangi Post Santa yang tengah menyajikan koleksi #BeyondHaruki (Murakami, tentunya). 

Terakhir saya ke sana, proyek pembangunan jalan layang di Wolter Monginsidi belum memperlihatkan wujudnya (baca: penyempitan jalan), parkiran pasar penuh mobil-mobil kelas menengah ngehe, dan tiap petak dan lapak di dalam pasar disesaki muda-mudi Jakarta dan sekitarnya.

Pasar Santa kini terlihat… muram, ditinggalkan orang-orang yang satu-dua tahun lalu rutin berkunjung. Banyak lapak yang tutup. Bahkan jajaran kedai makanan yang dulu membuat antrean mengular, kini terlihat lengang dengan hanya satu-dua orang duduk-duduk santai. Kemarin saya sempat menikmati nasi lidah sapi pedas dari salah satu kedai yang “merayakan” hari terakhirnya di sana.

Post sedikit berbeda. Nongkrong di sana selama dua jam, saya melihat belasan-dua puluhan wajah silih berganti masuk toko, berdiam sejenak, kemudian berlalu — beberapa di antaranya pulang dengan mengadopsi buku-buku dari Post. Saya menikmati mengintip barang dua-tiga bab isi beberapa buku, ditemani playlist yang nyaman didengar. Teddy, setengah dari nyawa Post, merekomendasikan beberapa judul buku dengan secuil storyline dan mood dari masing-masing buku. “Ini buku cerita anak. Manis, penuh nostalgia tahun 60’an bahkan untuk kita yang gak punya kemewahan hidup di masa itu,” katanya tentang Na Willa. “Kalau suka tulisannya Banana (Yoshimoto, maksudnya), coba baca ini deh. Ceritanya menarik. Cukup aneh. Tapi melankolis,” kali ini dia merekomendasikan The Bridegroom Was A Dog. (Guess what? Kedua buku itu akhirnya saya adopsi.)

Obrolan berlanjut dengan Maesy, setengah dari nyawa Post lainnya, dan Nisa, rekan Teddy dan Maesy yang terlihat menikmati waktunya mengurus lapak sambil membaca buku.

Menurut mereka Pasar Santa memang kehilangan banyak pengunjungnya secara umum, tetapi denyut gairah masih ada dan datangnya dari para pengelola lapak hobbyist dan para pengunjung setianya. Benar saja, lapak seperti Post, Sub-Store dan beberapa lapak dengan display mainan (yaitu, action figure dan kawan-kawannya) masih terlihat benderang dibandingkan sudut-sudut pasar lainnya.

Baru kali ini saya betah berlama-lama di Pasar Santa, bahkan hanya di satu lapak. Baru kali ini saya duduk santai menikmati bacaan dan obrolan dengan sesama penikmat buku tanpa merasa tergesa harus membayar atau memesan gelas kedua minuman kemahalan. (Oh, wait, saya pernah betah berlama-lama di Pasar Santa sebelumnya kok; before it was a hit.)

UPDATE: Kata teman saya, Teddy dan Maesy adalah dua pertiga dari Post. Apologise for the error.

Kenapa Cetaphil Mahal?

Sejak menginjak usia 30 beberapa tahun lalu, saya jadi lebih perhatian pada isu kesehatan — perawatan tubuh dari rambut, wajah, sampai kaki; asupan makanan dan minuman; termasuk olahraga dan gaya hidup. Simply because I realise I’m not getting any younger.

Salah satu yang cukup delicate adalah urusan perawatan wajah; dari produk sabun, pelembab, minyak serum, masker, makeup, sampai vitamin untuk kesehatan kulit wajah. Perkaranya, produk perawatan wajah ini cocok-cocokan dengan kondisi kulit… dan kondisi dompet.

Ada beberapa merek produk perawatan wajah yang sudah saya cobain; beberapa cukup sekali coba, beberapa sampai repurchase. Namun saya masih terus mencari. Sampai akhirnya dua minggu lalu saya cobain Cetaphil Gentle Skin Cleanser, yang selama ini hanya bisa saya pandang-pandang dari rak drugstore sambil bertanya-tanya “Kenapa dia mahal sih?”

Rupanya produk pembersih non-sabun ini mengerti kebutuhan kulit wajah saya dan menerima saya apa adanya. FYI, kondisi kulit wajah saya normal-berminyak (cukup wajar untuk tipikal kulit Asia) dengan pori-pori yang cukup “menantang”. Ditambah saya gak suka sama perawatan yang ribet; kalau bisa selesai dalam satu-dua langkah, kenapa harus ribet dengan lima langkah.

Review-Cetaphil-Gentle-Skin-Cleanser-1

Pertama kali cobain Cetaphil Gentle Skin Cleanser, saya baru selesai olahraga malam. Sambil cooling down saya menyimak saran penggunaannya. Cetaphil ini cukup inovatif untuk urusan penggunaan, dengan opsi penggunaan basah, yaitu dengan dibilas air seperti sabun wajah pada umumnya, dan opsi penggunaan kering, yaitu mengaplikasikan cleanser langsung ke wajah dan membersihkannya dengan kapas atau tisu atau tisu basah (bayangkan penggunaan milk cleanser).

Biasanya setelah menggunakan sabun, kulit wajah terasa “kencang”, sehingga saya perlu lanjut menggunakan face lotion/milk untuk mengembalikan kekenyalan kulit wajah. Namun saat cobain Cetaphil Gentle Skin Cleanser, saya mendapatkan efek kulit kenyal bahkan tanpa face lotion/milk. Efek kulit kenyal sesudah penggunaan cleanser dari Cetaphil ini seperti sensasi baru melepas masker wajah; kulit seperti “terbuka”, segar, dan tidak kaku. Efek ini terasa sampai beberapa jam berikutnya — atau dalam kasus saya, sampai saya tertidur pulas.

Pada penggunaan kedua, keesokan paginya, saya menemukan hal baru dari cleanser ini: kelembapan wajah yang bertahan lebih lama dari sebelumnya. Biasanya selepas jam makan siang saya mulai merasa gelisah kalau-kalau wajah saya mulai jadi kilang minyak. Namun hari itu saya merasa damai bahkan sampai waktu kerja usai.

Review-Cetaphil-Gentle-Skin-Cleanser-2

Hampir dua minggu saya sudah menggunakan Cetaphil Gentle Skin Cleanser, dan saya masih menikmati sensasi kulit lembut setelah penggunaannya di pagi dan malam hari. Saya mulai memahami kenapa cleanser ini dibanderol cukup mahal, karena memang sebanding dengan hasilnya pada kulit — setidaknya kulit saya ya. Dan dengan tiap kali penggunaan hanya butuh tiga sampai lima tetes untuk membersihkan area wajah dan leher, saya perkirakan satu botol isi 125ml ini akan bertahan cukup lama.

Mungkin terlalu prematur, tapi… rasanya perjalanan saya mencari produk pembersih wajah yang cocok dengan kondisi kulit dan kebiasaan saya bisa berhenti di Cetaphil Gentle Skin Clenaser.

Kamu Berbohong Aku Pun Percaya, Kamu Lukai Ku Tak PEDULI

Akhir-akhir ini ada suatu lagu yang saya dengar di radio hari demi hari, dan membuat saya ingin menempeleng seseorang. Pasalnya, lagu tersebut membuat dua kesalahan; saya tidak yakin kesalahan mana yang paling mengganggu saya.

Pertama, lirik lagu berjudul “Aku Cuma Punya Hati” itu menyebut

Aku cuma punya hati

Tapi kamu mungkin tak pakai hati

Kamu berbohong aku pun percaya

Kamu lukai ku tak perduli

Coba kau fikir di mana ada cinta seperti ini

Ayolah Mr./Ms. Songwriter, jangan malas riset. Kroscek ejaan ke KBBI. Suatu lagu punya peran lebih dari sekadar hiburan. Dengan beredarnya lagu di radio, televisi, dan tayangnya teks lirik lagu di website dan blog pribadi, suatu lagu juga berperan menyebarkan penggunaan kata dan kalimat ke masyarakat luas; membuat penggunaan kata dan kalimat tersebut menjadi populer.

Aku cuma punya kesadaran berbahasa, tapi kamu mungkin tak punya kesadaran. Kamu salah eja, aku tak percaya, kamu lukai bahasa, ku tetap peduli. Coba kau pikir di mana ada ulasan lagu seperti ini.

Lagu ini bukan lagu pertama yang mempromosikan ejaan yang salah.  Glenn Fredly bisa saja bilang

Terserah kali ini

Sungguh aku tak ‘kan perduli

Namun saya gak bisa gak peduli. Entah berapa ribu perempuan dan lelaki yang memekik tiap kali suara melankolis Glenn mendayu-dayu membawakan lagu itu. Berapa ribu perempuan dan lelaki yang selama ini terjerumus pada ejaan yang salah?

Sampai kapan para penulis lagu ini tidak mau peduli?

Kedua, lirik lagu “Aku Cuma Punya Hati” itu berlanjut

Kau tinggalkan aku, ku tetap di sini

Kau dengan yang lain, ku tetap setia

Tak usah tanya mengapa

Aku cuma punya hati

Iya, si aku mungkin memang punya hati, tapi sepertinya tak punya otak. Buat saya lirik lagu ini mempropagandakan pembodohan diri khususnnya perempuan — karena dibawakan oleh penyanyi perempuan. Pertama kali menyimak lirik lagu itu, saya berpikir “What the hell? Tahun 2016 dan masih ada lagu bodoh seperti ini?”

Yang saya dengar dari lagu itu adalah “Ada perempuan segitu cintanya sama lelaki, dia dibohongi, dilukai, ditinggalkan, diselingkuhi, tapi dia tetap bangga dengan cintanya itu, karena menurut dia seperti itulah cinta yang pakai hati.”

This is fvcking verbal assault to oneself! Lain kali jangan pakai hati saja, coba pakai otak juga ya.

Sekali lagi, suatu lagu punya peran lebih dari sekadar hiburan. Dengan beredarnya lagu di radio, televisi, dan tayangnya teks lirik lagu di website dan blog pribadi, suatu lagu juga berperan menyebarkan pesan ke masyarakat luas; membuat pesan tersebut menjadi populer.

Sampai kapan para penulis lagu ini tidak mau peduli akan pesan yang disampaikan lewat lirik lagunya?

 

Memberantas Mitos Kopi Bersama Trafique Coffee

Katanya kita mengenali rasa pahit di pangkal lidah, asam di sisi kanan-kiri lidah, dan manis di ujung lidah.

Katanya kita mengenali rasa hanya saat makanan atau minuman tersebut berada di rongga mulut.

Katanya kita mengenali rasa hanya dengan lidah.

Ketiga mitos itu menjadi pembuka workshop bertema Home Brewing yang diadakan Trafique Coffee pada Sabtu, 4 Juni lalu. Dipandu oleh Nizar dari Coffee Department – Trafique Coffee, mini workshop ini mengajak ketujuh pesertanya mengenal gambaran besar proses pengolahan kopi dari panen sampai penyeduhan, dan — tentu saja — dasar-dasar penyeduhan kopi secara manual yang bisa kita lakukan di rumah.

Faktanya, titik di pangkal lidah kita adalah yang paling cepat mendeteksi rasa pahit, tetapi rasa pahit tetapi dikenali di seluruh permukaan lidah. Begitupun rasa asam dan manis, dideteksi paling awal di sisi kanan-kiri dan di ujung lidah, tetapi juga dikenali di seluruh permukaan lidah.

Faktanya, makanan atau minuman yang kita konsumsi sebelumnya masih meninggalkan rasa di lidah, sehingga mempengaruhi persepsi rasa makanan atau minuman yang kita konsumsi berikutnya. Misalnya, beberapa waktu lalu saya mengunyah dark chocolate, lalu sekarang saya menyesap kopi, maka saya masih mendeteksi rasa pahit yang ditinggalkan dark chocolate di lidah, dan bisa jadi keliru dalam mempersepsi rasa kopi yang saya nikmati sekarang.

Faktanya, lidah bukanlah satu-satunya indra yang mengenali rasa. Masih ada hidung yang turut menjadi reseptor rasa. Hidung bahkan mengenali rasa dari luar dan dari dalam; dari luar saat kita mengendus wangi mie instan goreng, dan dari dalam — pada rongga mulut yang terhubung dengan hidung — saat kita mengunyah mie instan goreng itu atau saat hawa dari mie instan goreng yang sudah selesai kita kunyah dan telan kembali naik ke rongga mulut.

Dari ketiga mitos yang diberantas di awal mini workshop ini, kami berlanjut mengenal rasa kopi — asam, manis, pahit dan aftertaste-nya — dengan memahami hal-hal yang turut berkontribusi memberikan rasa pada si biji kopi, di antaranya letak geografis pohon kopi, proses pascapanen, proses roasting, dan metode seduh kopi.

Selama ini mungkin kita memanjakan diri dengan datang ke coffeeshop dan memesan minuman kopi, membiarkan barista mengolah biji kopi pilihan dengan alat dan metode yang disediakan coffeeshop tersebut, dan membayar semua proses tersebut. Namun ada cara lain, yaitu dengan mengolah biji kopi pilihan sendiri dengan metode seduh sederhana yang bisa kita lakukan sendiri di rumah — atau, kalau saya, di kantor.

Salah satu alat seduh kopi yang mudah didapatkan (misalnya di sini) dan mudah digunakan,  adalah french press. Untuk “level up” dalam menikmati kopi, Nizar menyarankan kita juga berinvestasi pada digital scale, thermometer dan hand ginder (misalnya di sini). Yang biasanya juga dimiliki penikmat kopi adalah goose necek kettle dan timer; keduanya masih bisa digantikan teko biasa dan timer di handphone.

Pada diagram perbedaan hasil alat seduh, hasil seduh kopi menggunakan french press rupanya jatuh di spektrum more body, less clarity, jadi… kendalikan ekspektasi rasa yang kamu inginkan dari metode seduh ini ya.

Langkah pertama menggunakan alat seduh manual — apapun — adalah… mengenali alat tersebut. Dalam hal ini kami mempelajari rangka french press; mengenali fungsi masing-masing bagian di dalamnya. Langkah berikutnya adalah mengenali cara menyeduhnya, dengan cara mempelajari kombinasi suhu air, ukuran gilingan kopi, rasio kopi-air, dan waktu seduh yang menghasilkan rasa yang kita inginkan.

Pada eksperimen kami di workshop ini, setelah ketujuh peserta masing-masing mencoba menyeduh menggunakan french press, Nizar menyeduh menggunakan alat lain, clever dripper, dengan biji kopi yang sama, suhu air yang sama, ukuran gilingan yang sama, rasio kopi-air yang sama, waktu seduh yang sama, dan… hasil rasanya — body and clarity — jelas berbeda.

Buat saya, sesi mini workshop ini jadi pengingat kalau semakin saya mengenal kopi, dari hulu ke hilir, semakin saya bisa mengapresiasi minuman asam-manis-pahit ini, dan menikmati kopi memang butuh waktu (apapun prosesnya).

 

Memberantas Mitos Kopi - Twiradotnet 3

Tiga hasil ukuran gilingan yang berbeda

Memberantas Mitos Kopi - Twiradotnet 2

Oh, BTW, kami menggunakan gilingan otomatis

Memberantas Mitos Kopi - Twiradotnet 1

Tekan plunger perlahan, tidak perlu terburu-buru

7 Hal Tentang Diet (Mayo)

Beberapa waktu lalu, saya dan beberapa teman janjian untuk menjalani program diet (Mayo) bersama. Bersama, walaupun tujuan masing-masing belum tentu sama. Bersama, supaya bisa saling menjaga.

Berikut adalah 7 hal yang saya dapatkan selama menjalani program diet (Mayo):

1) Dari 5 Ke 13

Ada informasi yang hilang saat diet Mayo, yaitu program diet yang digagas Mayo Clinic, diterjemahkan menjadi program mengatur pola makan tanpa (atau dengan sangat sedikit) garam selama 13 hari.

Informasi di website Mayo Clinic tidak secara spesifik mendefinisikan diet dengan pola seperti itu, melainkan memaparkan diet dalam 5 kebiasaan sehat, yang lebih sesuai dengan asal kata diet itu sendiri — a way of life.

2) Commentators Gonna Comment

Seorang teman yang sudah menjalani program diet (Mayo) bilang kalau tiga hari pertama akan jadi tiga hari terberat. Dan benar saja. Tiga hari pertama memang berat untuk dijalani, karena badan menyesuaikan diri dengan pola makan baru; menahan hasrat untuk ngemil. Tapi hari-hari berikutnya pun sama berat, karena menahan hasrat membungkam mulut orang-orang di sekitar yang senang berkomentar tentang pilihan saya menjalani diet (Mayo) ini.

“Ngapain sih diet segala?”

(Saat saya tawari buah) “Gak usah deh ajak-ajak gue ikutan diet-diet lo.”

(Melihat kiriman katering menu diet tiba) “Kok mau sih bayar buat makanan begitu?”

(Melihat saya cheating ngemil kacang) “Loh kok… bukannya lo lagi diet?”

Begini loh bapak ibu sekalian. Keputusan untuk “membajak” tubuh saya sendiri, membeli katering menu diet dengan uang saya sendiri, bahkan melanggar aturan yang saya buat dengan diri sendiri adalah keputusan saya pribadi; saya bertanggung jawab penuh atas keputusan saya itu. Jadi kamu — iya kamu yang senang banget berkomentar atas urusan badan orang lain — gak punya suara dalam keputusan ini, karena badan saya ini milik saya sepenuhnya.

3) Lebih Dari Sekadar Menurunkan Berat Badan

FAQ: “Udah turun berapa kilo?”

Jawaban pendek: Cuma dua kilo.

Jawaban panjang: Cuma dua kilo. Dan hormon estrogen yang lebih seimbang dan berbahagia.

Bertahun-tahun saya hanya tahu kalau hormon estrogen saya tidak menjalankan tugas bulanannya dengan baik, tanpa tahu kenapa dan bagaimana mengatasi masalah ini secara alami, tanpa bantuan obat.

Seminggu pertama menjalani diet (Mayo) tanpa cheating, saya mendapat jawaban atas masalah hormon ini. Makanan yang “bersih”, tanpa bumbu berlebih, yang mendekati rasa alaminya, rupanya jadi katalisator yang menyeimbangkan kembali hormon ke kondisi sehat.

4) Nikmat Telur Mana Yang Kamu Dustakan

Di antara menu makanan yang disediakan katering, keberadaan telur selalu bikin saya bahagia. Telur yang direbus atau diceplok saja sudah enak dan gurih; rasa alaminya sudah bikin bahagia.

5) Diet Bukan Urusan Perempuan

Yang mengajak saya diet (Mayo) berjamaah kali ini kebetulan teman-teman lelaki. Mereka merencanakan program diet ini dengan penuh perhitungan; menghitung tanggal sehingga selesai program diet langsung disambung bulan Ramadan.

Jadi, diet bukan urusan perempuan (saja) ya.

6) Diet dan Olahraga

…adalah teman, bukan musuh. Malahan, salah satu dari lima kebiasaan sehat yang dianjurkan Mayo Clinic menganjurkan berolahraga rutin setidaknya setengah jam sehari, beberapa hari dalam seminggu.

Hari pertama diet (Mayo) saya memutuskan untuk jogging. Saya juga punya jadwal boxing sekali seminggu.

Lalu komentar-komentar pun berdatangan.

“Emang gapapa tuh diet sambil olahraga?”

The thing is… dengan berdiet saya hanya mengatur pola makanan dan pola makan saya. I did not starve myself to death. Kalau saya gak kuat ya saya gak olahraga. Kalau tengah olahraga saya gak kuat pun, saya bisa segera berhenti olahraga. Dan lagi, hanya saya yang merasakan badan saya; yang tahu gimana kondisi badan saya.

7) Not All Caterings Are Created Equal

Katering diet (Mayo) yang saya bayarkan adalah rekomendasi teman-teman yang sudah mencoba menunya duluan.

Namun sayangnya ternyata katering ini seperti tidak punya SOP; yang saya alami sedikit berbeda dari yang teman-teman saya alami. Pertama, kiriman menu yang berbeda (komposisi dan tentunya value makanan) dari rencana menu di awal. Kedua, kiriman menu di akhir pekan yang terlambat bahkan baru sampai saat jam makan siang berlangsung (padahal pihak katering bahkan mengingatkan kami untuk makan siang pada jam-jam tertentu). Ketiga, dan paling “pamungkas” buat saya, menu hari ke-13 baru dikirimkan ke saya setelah saya bertanya tentang status pengiriman, itu pun sudah memasuki jam makan siang. (Asumsi saya, menu itu tidak akan dikirimkan jika saja saya tidak bertanya.)

Ketujuh catatan ini tentunya masih prematur, karena saya baru menyudahi — iya, menyudahi, bukan menyelesaikan — rangkaian diet (Mayo) beberapa hari lalu.

Rekomendasi saya buat kamu yang tertarik cobain diet (Mayo):

  • Yuk ikuti lima kebiasaan sehat diet Mayo Clinic itu; karena diet idealnya memang gaya hidup, bukan program sesaat.
  • Kalau mau cobain program 13 hari no-salt diet atau how-many-days-whatever-diet dan punya keleluasaan waktu, coba masak sendiri; mestinya sih lebih hemat biaya.
  • Mind your own body. Kenali, dengarkan badan kamu sendiri. Jangan maksain diri.

Haruki Murakami dan Sekitarnya

Gara-gara satu nama, Haruki Murakami, tiga puluhan orang berkumpul pada bincang sore bertema Haruki Murakami and New Writings from Japan yang diadakan di Kinosaurus, Kemang, Minggu sore kemarin. Acara yang diselenggarakan The Japan Foundation (Jakarta) bekerjasama dengan Makassar International Writers Festival (MIWF) dan Monkey Business Literary Journal ini mengajak Roland Kelts (Monkey Business) dan Aoko Matsuda (penulis, penerjemah) untuk berbagi cerita tentang… tentunya Murakami-san dan kehidupan tulis-menulis di Jepang.

Roland  membuka dengan cerita perkenalannya dengan Murakami-san di tahun 1999, saat Murakami telah kembali menetap di negeri matahari terbit setelah sebelumnya berkelana ke Rusia dan Amerika Serikat. Menurut cerita Roland, kepergian Murakami-san dari Jepang adalah karena ia merasa ambivalent terhadap tanah kelahirannya itu, masyarakatnya lebih tepatnya. Murakami-san merasa tidak nyaman dengan perlakuan masyarakat di sekitarnya terhadap dirinya — khususnya setelah ia menjadi sensasi literatur internasional. Sementara kepulangannya ke Jepang adalah ia merasa “bertanggung jawab” untuk berkontribusi pada negaranya, apalagi setelah beberapa tahun sebelumnya Jepang dilanda gempa dan mengalami serangan teroris.

Dari sudut pandang Roland, tulisan-tulisan Murakami jadi bentuk pemberontakan terhadap gaya-gaya penulisan yang sudah dikenal sebelumnya, termasuk “melanggar” paradigma penulisan ala Barat yang umumnya terdiri dari 3 babak; beberapa tulisan Murakami bahkan tanpa babak ketiga, tanpa resolusi. “It’s as if he  (Murakami) decided stop writing.”

Sebagai pembaca beberapa buku Haruki Murakami, saya tidak bisa tidak setuju pada opini Roland. Tulisan-tulisan Murakami-san yang sudah saya baca memang bergerak perlahan (salah satunya bahkan menurut saya terlalu perlahan sampai-sampai saya tinggalkan di tengah cerita untuk beberapa saat), tapi kita dibuat berantisipasi karena kita tahu sesuatu akan muncul ke permukaan, lalu setelah kita terikat pada halaman demi halaman berikutnya tiba-tiba cerita selesai begitu saja. Tulisan Haruki Murakami yang pertama saya baca adalah Norwegian Wood, dan saya masih ingat suasana hati saya setelah menyelesaikan novel itu begitu… muram. Saya menolak membaca novel lain untuk beberapa saat, dan membiarkan mono no aware yang disalurkan Toru, Naoko dan Midori mengambil alih ruang hati.

Ekspektasi saya (dan mungkin ekspektasi tiga puluhan peserta bincang sore lainnya) adalah menemukan korelasi antara karya-karya Haruki Murakami pada para penulis Jepang generasi hari ini. Namun rupanya ibu Lily dari MIWF lebih senang menelisik perasaan Murakami-san terhadap negaranya korelasi itu tidak cukup organik. Sebagai salah satu penulis Jepang generasi hari ini, Aoko justru tidak merasa related dengan Murakami-san dan karya-karyanya. Aoko membaca semua buku Murakami-san pada masanya di usia sekolah menengah atas, gaya penulisan Murakami-san yang terbilang “baru” pada saat itu tidak serta merta memberi pengaruh pada gaya tulisan Aoko. Aoko justru lebih terpengaruh oleh penulis Jepang lainnya, khususnya penulis perempuan yang mengedepankan tokoh perempuan dalam tulisannya.

Hal ini kontras bila dibandingkan dengan kehidupan tulis-menulis di Indonesia, banyak penulis (atau calon penulis) yang menyebut nama Murakami sebagai influencer, seperti yang terjadi di Makassar sehari sebelumnya. Kata Aoko, dia tidak mengerti apa yang sedang didiskusikan karena dalam Bahasa Indonesia, tapi ada satu kata yang dia mengerti dan cukup sering disebut: Murakami.

Hal ini wajar, menurut saya, karena akses kita ke buku-buku dari penulis Jepang cukup terbatas; Haruki Murakami adalah salah satu yang “cukup beruntung” bisa mampir ke toko-toko buku brick and mortar dan online, bahkan dalam versi terjemahan Bahasa Indonesia. Nama-nama penulis Jepang selain Murakami-san yang saya tahu — sekaligus yang pernah saya baca — terbatas pada Banana Yoshimoto dan Soseki Natsume. Saya bahkan belum pernah mendengar nama Aoko Matsuda sebelumnya.

Lain di Jepang tentu lain di Indonesia. Namun ada satu hal yang cukup mirip di kehidupan tulis-menulis di kedua negara: kegelisahan penulis. Ada kegelisahan yang coba dituangkan dalam tulisan. Buat seorang Aoko Matsuda kegelisahan itu salah satunya berasal dari dirinya, seorang perempuan di tengah masyarakat patriarki. (Sounds familiar, kan?) Hal lain yang juga membuat Aoko gelisah adalah hal-hal yang dari-sananya-sudah-begitu, terus-menerus diturunkan begitu saja tanpa pernah dipertanyakan, hal seperti lagu kebangsaan. Aoko mempertanyakan tentang lagu kebangsaan Jepang yang harus dibawakan bahkan saat ia yang menyanyikannya tidak mengerti isi lagunya. Kegelisahannya itu dituangkan dengan menarik pada suatu cerita pendek yang diterjemahkan menjadi Love Isn’t Easy When You’re The National Anthem, yang pada acara bincang sore kemarin dibacakan dalam versi bahasa Jepang dan bahasa Inggris secara bergantian.

(Selepas acara bincang sore, saya mendekati Aoko untuk bertanya tentang satu hal terkait cerpen lagu kebangsaan itu. Pada versi bahasa Jepang, Aoko menggunakan kata “boku” [dan bukan “watashi”] yang memberi konteks informal, bahkan boyish. Aoko bilang dia memang sengaja memberi kesan itu, kesan bocah pada diri si aku. Sayangnya konteks ini hilang karena terjemahan bahasa yang tidak menemukan padanan yang sesuai konteks keakuan pada boku.)

Buat saya, sesi bincang sore kemarin adalah suatu penemuan; masih ada penulis Jepang lain di luar Haruki Murakami, dan beberapa nama yang saya kenal, yang juga sama menarik untuk dikenal, untuk dibaca, untuk dipahami. Sebagai langkah awal perkenalan dengan Aoko Matsuda, silakan baca beberapa tulisannya yang saya temukan (thanks to Google) di Granta, Newwriting, dan PDF ini.

Trivia Bahasa

Saya suka menyimak trivia bahasa, khususnya bahasa Indonesia. Terlebih karena pelajaran bahasa Indonesia selama di sekolah ternyata belum cukup membuat kita saya mampu menggunakan bahasa Indonesia dengan baik.

Ketika saya bertemu dengan pertanyaan tentang bahasa Indonesia, walaupun tidak ditujukan ke saya secara pribadi, biasanya saya tergelitik untuk ikut mencari tahu jawabannya.

Saat ada yang bertanya kenapa suatu benda dinamai “pesawat telepon”, saya jadi ikut berpikir: iya juga ya, kenapa menggunakan kata “pesawat”.

Seperti biasanya, saya langsung kroscek ke Kateglo, yang mengambil data kosakatanya dari KBBI. Dalam kasus pesawat telepon ini, Kateglo/KBBI menjawab:

pesawat
nomina (n)

1) alat perkakas; mesin: motor itu dijalankan dengan —
2) kapal terbang: naik —
3) tali (rotan, kulit, dsb) untuk menjalankan jentera, roda, perangkap, dsb: tali — , tali (kulit) untuk menjalankan jentera (roda)

Mungkin karena terlalu identik dengan makna “kapal terbang”, kita saya baru tahu kalau kata pesawat punya makna yang lebih mendasar, yaitu sebagai alat perkakas atau mesin — yang membuat “pesawat telepon” dan “pesawat televisi” masuk akal.

Selama masih ada manusia, maka bahasa akan terus berkembang. Sekarang kita bisa mengeliminasi kata “pesawat” di kedua contoh tadi tanpa mengurangi maknanya. “Telepon” tetap bermakna alat perkakas atau mesin untuk bertelepon; begitupun “televisi”.

Buat saya tetap penting untuk tahu makna suatu kata, juga paham konteks dan perubahan konteks yang terjadi pada suatu kata itu. Saya juga setuju bahwa konten KBBI memang perlu terus diperbarui, mengikuti perkembangan manusia dan budayanya. Tinggal bagaimana saya, si pengguna bahasa Indonesia ini, bisa ikut mengembangkan bahasa Indonesia?

(Jawaban saya: gunakan bahasa Indonesia sebisa mungkin; cari referensi di KBBI — banyak orang yang sudah berusaha mengumpulkan data sebanyak itu dalam sebuah kamus, setidaknya kita bisa manfaatkan kamus itu untuk saat ini; dan kalau pun tidak puas dengan jawaban dari KBBI, tak perlu lah mengeluarkan jurus mumbo jumbo yang membuat kamu semakin tidak dipahami .)