They Said I Could Be Anything

Bicara tentang perempuan Indonesia tentunya tidak bisa lepas dari bicara tentang RA Kartini — sosok yang dikenal sebagai pelopor kebangkitan perempuan pribumi Jawa pada khususnya dan perempuan Indonesia pada umumnya.

Kenapa kebangkitan? Apakah sebelumnya perempuan Indonesia dalam keadaan tidak sadar atau malah mati? Mungkin tidak secara literal, tapi secara “positioning” perempuan pada masa itu. Kartini jadi salah satu tokoh yang menggebrak pemikiran umum tentang peran perempuan dalam masyarakat; menuntut kebebasan bagi perempuan untuk belajar dan mengembangkan diri. Salah satu tokoh, karena Kartini bukan satu-satunya. Di masa yang sama, Dewi Sartika juga sudah mengupayakan pendidikan untuk perempuan di sekitarnya.

Saya tidak tahu apakah sebelum Kartini dan Dewi Sartika sudah ada tokoh perempuan lain yang juga “disruptive” pada masanya. Yang saya tahu kedua tokoh ini membukakan jalan untuk perempuan Indonesia di masa kini untuk bisa menjadi diri mereka saat ini. Perempuan yang bebas menikmati pendidikan setinggi-tingginya, mendalami bidang profesi yang beragam — bahkan beberapa sampai sekarang masih disebut sebagai “pekerjaan laki-laki”, berperan dan berkontribusi aktif dalam masyarakat pada berbagai skala.

Kini nama Mari Elka Pangestu, Pia Alisjahbana, Ayu Utami, Mira Lesmana, Butet Manurung, Ratna Sarumpaet, Alexandra Asmasoebrata, Susi Pudjiastuti, Desi Anwar, Anne Aviantie, dan masih banyak tokoh perempuan lainnya sudah tidak asing di telinga. Karya mereka di bidang masing-masing juga sudah diakui secara nasional bahkan internasional. (Jika para ningrat dari masa lalu bangkit dan melihat Andra ngebut di lintasan bapalan, mungkin mereka bisa pingsan lalu mengubur diri lagi.)

Namun bukan berarti perempuan Indonesia harus menjadi setenar mereka; memimpin perusahaan, memegang keputusan tertinggi, menjadi yang tercepat, mendunia. Menjadi pekerja penuh waktu di perusahaan, menjalani start up, menjadi freelancer, menjadi pengusaha skala kecil, menjadi ibu rumah tangga penuh waktu. Sah-sah saja. Kebangkitan perempuan Indonesia artinya perempuan memiliki pilihan yang lebih luas untuk menjadi apapun; mempunyai kebebasan menjadi diri mereka sendiri. Tidak didikte harus bagaimana atau menjadi siapa oleh siapapun, kecuali diri mereka sendiri.

They said I could be anything, so I become an Indonesian woman.

*Ditulis untuk proyek tulisan pribadi Teuku Irmansyah

 

Biar Kanak-Kanak Datang Kepadaku

Hampir dua tahun saya menjadi umat “gelap” di Gereja St. Yohanes Penginjil, sejak saya menghuni rumah persinggahan beberapa kilometer dari sini.

Ritual ibadah di tiap gereja Katolik umumnya sama, mengikuti tata laksana standar dari “pusat”. Walaupun ada sedikit penyesuaian di masing-masing gereja.

Salah satunya adalah ritual pemberkatan untuk anak-anak yang belum menerima Sakramen Ekaristi. Kalau di gereja asal saya — gereja di mana saya terdata sebagai umat — ritual tersebut tidak ada. Umat yang sudah menerima sakramen dan yang belum akan sama-sama berbaris maju ke pastor atau prodiakon untuk menerima sakramen atau berkat. Mereka yang belum menerima sakramen cukup menangkupkan tangan menyilang di dada. Ini jadi kode pembeda.

Sementara di gereja di sini, anak-anak yang belum menerima sakramen akan menunggu giliran sesudah penerimaan sakramen ekaristi. Pada kesempatan pertama saya melihat ritual yang berbeda ini, lagu Biar Kanak-kanak Datang KepadaKu mengiringi berkat dari pastor untuk anak-anak. Yang menarik justru adegan anak-anak itu maju ke arah altar. Mereka berlarian memekik kegirangan seperti puas setelah lama menunggu giliran mereka untuk maju. Beberapa dengan berani langsung maju; beberapa lainnya — entah malu-malu atau malah malas — baru melangkah setelah mendapat gestur “ayo maju” dari orangtuanya.

Adegan seperti ini berulang tiap kali saya ke gereja. Dan adegan ini selalu memancing saya tersenyum. Senangnya jadi anak-anak. Dengan pikiran masih polos; belum terkorupsi. Mereka menerima berkat dari imam layaknya menerima kado istimewa.

Kapan kita saya, yang katanya orang dewasa, terakhir kali berlarian memekik kegirangan seperti akan menerima kado istimewa? Ataukah kita saya takut kalau berlarian memekik kegirangan tidak terlihat dewasa? Ataukah kita saya tidak lagi melihat hal-hal biasa — seperti berkat dari pastor — sebagai kado istimewa?

Your Arms Around Me

Tiba di kosan, tiba-tiba teringat lirik suatu lagu. Lalu kepikiran untuk bermain cat air dan kuas.

Maka jadilah…

image

…interpretasi saya atas lirik lagu Your Arms Around Me – Jens Lekman.

What’s broken can always be fixed
What’s fixed will always be broken

Please enjoy the full song here.

After Dark*

Langit memudar lebih awal
Memeras awan yang berair tebal
Lalu menjemur jingga sesaat
Sebelum gelap datang dan melumat

Darah muda beradu suara
Berlomba jadi yang paling gembira
Sementara Frank Sinatra berdendang swing
Menemani Barbie yang kepalanya pusing

I should go home and catch some sleep
Before the circles grow dark and deep
Tapi Mari, Eri dan Takahashi tidak setuju
“Hey, selesaikan kami dulu!”

Begitulah ia menunda kesulitan
Sampai waktu yang tidak ditentukan
Karena waktu tak pernah cukup
Dan pintu hari telah ditutup

*Mengambil judul salah satu novel karya Haruki Murakami

Daruma

Adalah dia yang bermata satu
yang pertama mendengar doaku
walau dia tanpa telinga

Sering matanya yang hanya satu
beradu tatap dengan kedua mataku
Dan kedua mataku selalu kalah,
dipecundangi dia si wayang semata

Sering tanganku jahil mengguncang tubuhnya
yang kecil bundar, tanpa kaki tanpa tangan
Dan selalu tubuhnya yang kecil kembali
menghadapiku dengan nyali yang besar

Maka kupindahkan dia dari hadapanku
ke tempat lain di ujung kakiku
berharap kelak aku lupa pernah ada dia di depanku
Namun lagi-lagi aku gagal
Karena dia selalu ingat cara menemukanku

Doa apa yang kubisikkan kepadamu
sehingga kau begitu keras kepala
mengingatkanku padanya?
Padahal aku ingin lupa

Hari ini kutambahkan mata kedua
pada wajahmu yang biasa saja
Kubuat kau istimewa
dengan warna mata yang berbeda

Paling tidak kau kini melihatku
dengan cara yang berbeda
Paling tidak aku kini melihat doaku
lewat matamu (yang sebelumnya satu)
dengan cara yang berbeda

Aku, kau, doaku
kita tidak lagi sama

Cerita Dari Kota Di Tepi Pantai

Terlentang di atas matras
Mendengar diri bernafas
Slowly breathe in
Slowly breathe out
Regangkan leher tangan kaki
Kencangkan perut pantat
Use your core muscle
Use your core muscle

Suara warna rupa
Cerita dari kota di tepi pantai
Tirai panggung menutup
Tata cahaya meredup
“Kami akan kembali setelah rehat”

Sun Salutation
More Sun Salutation
Warrior
More Warrior
Otot tegangkan tubuh
Peluh lahirkan bulir
Mengalir seperti air
Dari bendungan di hilir

Savasana terserap gelap
Tirai panggung disingkap
Tata cahaya menyorot seperti melotot
Cerita dari kota di tepi pantai
Kembali berlarian
Mengejar pertanyaan
Dikejar jawaban
“Pemirsa bisa berlari tapi tidak bersembunyi”

Ting!
Ting!
Ting!

Suara warna rupa
Kembali nyata
Tirai panggung dan tata cahaya
Dilipat digulung
Kembali maya
Kita kembali sama

Namaste

Tentang ABCD

Mereka menamai diri ABCD, A Bunch of Caffeine Dealers. Mengambil posisi di lantai atas Pasar Santa; salah satu dari business makers yang turut mengembangkan pasar tradisional yang kini menjadi kalcer senter hipster Jakarta.

Pertama tau tentang mereka dari Yudis. Pertengahan tahun lalu menyempatkan diri ke sana, kebetulan mereka sedang pop up, dan mencicip piccolo latte racikan salah satu barista di sana. Dari awal gimmick lapak mereka memang menarik: kaleng merah bertuliskan “pay as generous as you can”, stiker “Come for the coffee and stay because nobody loves you”, dan setumpuk majalah Monocle…sebagai ganjalan jendela lapak yang berfungsi ganda sebagai meja. Tampilan lapak mereka jadi antithesis untuk tampilan kedai-kedai kopi lain yang sedang berkembang.

Enam bulan kemudian, bulan kemarin, saya kembali ke ABCD. Kali ini untuk belajar di  ABCD School of Coffee. Sekolah terbagi menjadi 4 kelas: Appreciation, Brewing, Cupping dan Definitive Espresso. Kelas dipimpin paman guru Hendri Kurniawan, yang punya sederet sertifikasi juri, lisensi dan aktif sebagai konsultan di balik kedai-kedai kopi ternama di Jakarta. Selain paman guru, ada juga kakak guru Ve yang mendampingi di kelas Brewing dan Izman yang mendampingi di kelas Definitive Espresso.

Saya dan tiga murid lainnya belajar mengapresiasi kopi, dari biji kopi sampai secangkir minuman kopi. Di kelas Appreciation menjelajah dari Ethiopia ke Yemen, dari Yemen ke penjuru dunia. Menyimak cerita perjalanan biji kopi yang jadi komoditas rebutan; diselundupkan, dicuri, bahkan nyaris dilarang dalam agama Katolik (terima kasih Paus Clement VIII). Berkenalan dengan karakter Arabica yang manis asam manja. Di kelas Brewing belajar mengekstrak biji kopi menjadi minuman kopi, dengan bonus latihan berhitung dan pengendalian diri. Mendekonstruksi minuman kopi ke elemen-elemen dasarnya dengan panca indera di kelas Cupping. Bermain-main dengan grinder dan espresso machine; berlatih membuat foam susu yang baik untuk latte di kelas Definitive Espresso.

Appreciation

Appreciation

Brewing

Brewing

Cupping

Cupping

Definitive Espresso

Definitive Espresso

Empat kelas, tiga hari, empat belas jam yang menyenangkan. Banyak hal baru yang membuat melongo, banyak hitung-hitungan yang meleset, banyak rasa yang belum tereksplorasi, banyak percobaan yang belum berhasil. Semuanya menyenangkan!

Tentang Segenap Alam Semesta

“Jika kamu menginginkan sesuatu, segenap alam semesta akan membantumu mencapainya,” kata raja tua itu.

Tapi sang raja tua itu tidak bilang apa-apa tentang dirampok, atau tentang gurun pasir yang menghampar tak terbatas atau tentang orang-orang yang tahu impian-impian mereka tapi tidak mau mewujudkannya. Raja tua itu tidak mengatakan padanya bahwa Piramida hanyalah tumpukan batu, atau bahwa setiap orang dapat membuatnya di halaman rumahnya. Dan dia lupa menyebut bahwa kalau kita punya uang yang cukup untuk membeli kawanan domba yang lebih besar daripada yang pernah kita miliki, maka kita perlu membelinya. -Sang Alkemis, Paulo Coelho

Terakhir saya meminta sesuatu untuk diri sendiri kepada manusia lain, saya mendapatkan persetujuan dengan cepat. Bahkan jeda waktu antara pesanan makanan dicatat pelayan dan makanan pesanan tiba di meja terasa terlalu lama.

“Hah? Udah nih? Oke aja? Gak ada penolakan atau penawaran?” pikir saya saat itu.

Saya kira segenap alam semesta sudah turun tangan saat itu.

Rupanya segenap alam semesta juga punya syarat dan ketentuan berlaku yang bersembunyi di balik asterik dengan ukuran font kecil dan warna menyaruh seperti pada iklan-iklan komersil umumnya.

Segenap alam semesta tidak bilang apa-apa tentang tidak diacuhkan, atau tentang hal-hal kecil dan besar yang menghampar tak terbatas, atau tentang orang yang tau perannya tapi sulit menyatu dengan skenario.

Lalu saya kembali lagi ke pasal pertama: segenap alam semesta akan membantumu mencapainya.

Tentang Gone Girl

What are you thinking? How are you feeling? What have we done to each other? What will we do?

Kalimat di atas jadi pembuka dan penutup film Gone Girl (2014). Film yang sudah dipuji-puji banyak teman di timeline. Jadi saya gak akan ikutan memuji.

Cerita tentang bad relationship. Dan, orang-orang yang bertahan dalam hubungan yang tidak sehat itu –saya tidak yakin– antara tidak mudah menyerah atau terlalu takut untuk menyerah.

image

#SemuaItuButuhWaktu

Untuk sampai ke studio radio untuk siaran live tepat waktu, melewati miskalkulasi waktu dan keadaan lalu lintas.

Untuk menyelesaikan hal-hal lama yang belum tuntas di sela-sela hal-hal baru yang perlu segera ditangani.

Untuk menurunkan shield dan belajar berinteraksi dengan orang-orang asing sambil pasang senyum dan basa-basi ramah tamah atas nama social networking.

Untuk merasa nyaman menjadi sekadar teman tanpa ekspektasi.

*cek juga #SemuaItuButuhWaktu lainnya di sini