Tentang Kedekatan

Menurut artikel yang saya baca di sini, kita pada dasarnya bisa jatuh cinta pada siapa saja. Dengan kondisi tertentu, tentunya.

Pada eksperimen yang dilakukan, mengikuti teknik yang dijabarkan psikolog Arthur Aron, penulis menyatakan:

We all have a narrative of ourselves that we offer up to strangers and acquaintances, but Dr. Aron’s questions make it impossible to rely on that narrative. Ours was the kind of accelerated intimacy I remembered from summer camp, staying up all night with a new friend, exchanging the details of our short lives. At 13, away from home for the first time, it felt natural to get to know someone quickly. But rarely does adult life present us with such circumstances.

Accelerated intimacy.

Ada masanya saya menikmati kedekatan dipercepat semacam itu. Kami berada pada momen saling menceritakan diri dari satu hal ke hal lain. Sampai kami tiba di titik ini-awalnya-gimana-deh-kok-obrolannya-bisa-sampe-sini. Lalu rangkaian momen semacam itu perlahan-lahan pudar. Pertemanan modus bubar. Kami saya hampir jatuh cinta.

Momen kedekatan untuk saling bercerita, saling membuka diri, rasanya semakin lama semakin langka. Kecuali pada pertemanan yang tulus. Or it’s just me. (Yang punya pengamanan berlapis sebelum orang asing bisa masuk ke ruang tamu pribadi. Yang jika merasa nyaman dengan orang asing itu, gak akan sungkan membukakan ruang-ruang lainnya. Yang jika merasa gak nyaman dengan orang asing itu, gak akan sungkan mengusirnya lalu memasang papan pengumuman “Dilarang melintas.”)

Saya pikir momen kedekatan itu seperti halnya kejahatan: terjadi bukan hanya karena ada niat dari pelakunya, tetapi juga karena ada kesempatan. Waspadalah.

#WriteEveryDamnDay

Tentang Tin Man

Tin Man, atau Tin Woodman, adalah katakter manusia robot penebang pohon di dongeng Wizard Of Oz. Jangan tanya seperti apa dongengnya, karena saya pun baru sedang membaca ceritanya.

Tokoh Tin Man mendadak jadi menarik saat Astrid mengajak berduet memainkan lagu Tin Man yang dibawakan America (nama band, bukan nama negara) di intimate gig You & Me Tour 2015-nya Gabriel Mayo. Saya, yang sebelumnya tidak tau tentang lagu itu, menyetel ulang lagu tersebut sampai puluhan kali demi meresapi musik dan liriknya.

Maka lagu Tin Man jadi salah satu lagu yang mengajak saya menyimak bentuk karya lain yang jadi inspirasi di balik lagu tersebut; kali ini dalam bentuk buku. (Wizard Of Oz juga hadir dalam bentuk film.)

Di buku, saya baru bertemu dengan tokoh Tin Man ini. Dan mulai memahami mengapa liriknya demikian:

But Oz never did give nothing to the Tin Man
That he didn’t, didn’t already have

Bonus: versi cover Tin Man oleh Aestes (Astrid + Tere) bisa disimak di sini.

#WriteEveryDamnDay

Tentang Menulis

image

The hard part of writing isn’t the writing; it’s the thinking. – William Zinsser

Terbukti dalam 21 hari pertama proyek pribadi #WriteEveryDamnDay ini, saya sering bingung mau menulis tentang apa.

Yang cukup menolong adalah fitur kamera di handphone. Saya membiasakan diri mengambil foto atau screen capture hal-hal yang menarik minat. Misalnya foto quotes di atas, yang malah jadi bahan tulisan hari ini.

Where there’s a will there’s a writing.  :D

#WriteEveryDamnDay

Tentang Rasa

image

Miesop Medan, salah satu makanan yang saya nikmati baru-baru ini

Indiemom yang berbagi cerita pagi ini di 94.7 U-FM Jakarta mengembangkan usaha body-mind programming center. Mengajak peserta program untuk memraktikkan mindful eating; memisahkan mood dari food.

Saya masih ingat pesan kultum KH Zainuddin MZ pada masanya dulu, tentang makan sebelum lapar dan berhenti makan sebelum kenyang. (Kata teman, ini pesan salah satu nabi. Do correct me if I’m wrong.)

Bahkan salah satu poin dari Holstee Manifesto adalah:

When you eat, appreciate every last bite.

Praktik yang seharusnya mudah dilakukan, jika kita saya berusaha lebih baik. It’s all in our mind.

Eh, ini bukan tentang diet-dietan loh.

Ini tentang mengekaplorasi rasa. Apalagi setelah weekend kemarin saya mengalami kesulitan mengevaluasi rasa saat kelas (coffee) Cupping, saya merasa perlu berusaha lebih baik untuk mengenal berbagai rasa.

#WriteEveryDamnDay

Tentang Secangkir Kopi

image

Hari ini saya ikut sekolah minggu di ABCD School of Coffee, kelas Appreciation, Brewing dan Cupping. Masing-masing kelas berlangsung sekitar dua jam. Total enam jam lebih saya berada di pasar paling hipster di Jakarta.

Di kelas Appreciation saya mendapat banyak cerita tentang dari mana datangnya secangkir kopi (khususnya specialty coffee), yang ternyata penuh muatan drama, sosial politik dan matematika. Sejarah kopi menyimpan cerita pencurian, penipuan, dan monopoli. Kopi sudah sejak lama menjadi komoditas potensial, yang tidak jarang berujung ketamakan.

Banyak proses yang dilalui kopi dari bibit untuk mencapai cangkir. Dan specialty coffee menempuh setiap prosesnya dengan persiapan penuh. Itulah yang menjadikannya specialty coffee.

Kelas Brewing memperkenalkan metode penyajian kopi, dari biji kopi yang sudah dipanggang (roasted) jadi secangkir minuman yang kita sesap setiap hari. Ada enam metode dasar, yang kemudian diadopsi alat pembuat kopi; dari french press ke saringan (untuk kopi tarik ala Melayu) ke espresso machine.

Di kelas ini saya belajar metode deep filtration menggunakan Hario V60. Menggunakan dripper ini ternyata tidak semudah mengguyur air ke atas bubuk kopi; ada beberapa variabel yang perlu diperhitungkan sekaligus. Peserta kelas harus mempertimbangkan kehalusan bubuk kopi, rasio kopi dibanding air, dan lama kopi bertemu air. Semua variabel menentukan rasa minumam kopi di cangkir.

Sementara kelas Cupping mungkin yang paling menantang buat saya. Kami diajak mencicipi kopi dan memberi penilaian atas kopi tersebut. Sebenarnya Cupping itu teknik yang digunakan para Q Grader untuk menilai kelayakan kopi. Di sini kami diajak berkenalan dengan dasar-dasar Cupping. Kami diminta mengenal kopi luar dalam; dari yang terlihat, tercium, dan khususnya yang terasa di mulut. Cupping bukan teknik yang sederhana, menurut saya. Untuk memberi penilaian tentang rasa, saya harus tau tentang berbagai rasa tersebut. Bagaimana saya bisa mendeskripsikan suatu rasa jika saya tidak tau seperti apa rasa tersebut; bagaimana saya bisa menilai rasa earthy jika saya tidak pernah mencicip rasa earthy.

Maka kelas Cupping lah yang memberi pekerjaan rumah paling besar: berkenalan dengan banyak rasa.

Masih ada kelas terakhir. D for Definitive Espresso. Bulan depan. Nantikan cerita selanjutnya!

#WriteEveryDamnDay

Tentang Aestes

image

photo by @diladifa

aestes (n): 1. One of the best wolf ranger Ionia had ever known; 2. a este — this (Spanish); 3. Summer (Latin); 4. Pretty much Astrid Simatupang and Tere Suganda

Hari ini Aestes tampil perdana di depan umum. Ceritanya kami mengawali Gabriel Mayo You & Me Tour part 2. Mumpung konsepnya intimate gig, kami pun nekat membawakan 4 lagu dengan modal vokal, ukulele dan maracas di depan khalayak terbatas.

Dan kami sukses…mempermalukan diri. Dengan chord-chord, nada dan lirik yang kepeleset. Yah paling gak kami berusaha.

Proyek bermusik bareng Astrid sudah diwacanakan sejak beberapa bulan. Di antaranya kami berniat menyanyikan lagu-lagu Natal. Manusia berencana, Tuhan berimprovisasi. Proyek bermusik (yang sebelumnya tanpa nama) ini terpaksa kami tunda. Sampai akhirnya kesempatan ini datang.

#WriteEveryDamnDay

Tentang Board Game

Malam ini sekali lagi saya ikut bertualang bersama beberapa teman dalam dunia imajinasi. Kami sudah beberapa kali menggelar board game night, program ekstra kurikuler tidak resmi yang mengambil waktu Jumat malam selepas jam kerja.

image

Lebih dari sekadar bermain, board game mengajak berstrategi untuk mencapai tujuan perorangan maupun kolektif. Tujuan ini yang harus dinyatakan di awal, karena semua tindakan yang dilakukan satu pemain di dalamnya akan mempengaruhi pemain lainnya — kadang menguntungkan bersama, kadang merugikan salah satu pihak.

Khususnya pada board game baru, ada brief dari ‘juru kunci’ tentang journey permainan dalam gambaran besar. Selanjutnya… jalanin aja dulu, toh di tengah perjalanan kami selalu bisa bertanya pada juru kunci tentang kondisi-kondisi tertentu yang dihadapi. Atau jika juru kunci tidak memahami, kami bisa beralih pada buku manual. Dan kalau buku manual gagal dipahami pun, kami selalu bisa berimprovisasi dan membuat house rules.

Turut bermain dalam papan yang sama selama beberapa kali pun tidak menjadikan tiap pemainnya — bahkan si juru kunci — ahli dalam permainan. Pemain yang terlihat menguasai area pun bisa satu dua kali terpeleset dalam langkahnya. Gak ada yang terlalu profesional atau terlalu amatir di sana.

It’s all fair in life and board game.

#WriteEveryDamnDay

Tentang Menangis

image

It is alright to cry, crying is a natural response to pain. -Baymax

Saya suka tengsin kalau ketauan diam-diam nangis. Kayanya nangis itu wujud perasaan yang cukup memalukan kalau sampai kelihatan orang lain. Padahal tangis itu reaksi alami dari rasa sakit dan emosi lainnya.

Ketawa sampai nangis. Terharu sampai nangis; biasanya efek nonton film yang tiba-tiba menyelinap dan menggedor hati. Marah — terlalu marah sehingga gak ada kata hanya tangis yang bisa mewakili perasaan. Ketakutan; biasanya kalau membayangkan orang kesayangan gak lagi ada bersama. Dan sedih, kecewa, terluka.

Yang terakhir mungkin yang paling sulit ditutup-tutupi. Berusaha tersenyum, berusaha bersikap dan menggunakan kata-kata yang biasa saja, tetap rasa sakit itu terlihat. Bulir-bulir kepalang menggenang, lalu.. gravitasi turut ambil bagian.

“It’s okay, Twiras.”

#WriteEveryDamnDay