Tentang Mencoba Bikram Yoga

Awal bulan lalu saya bercerita tentang quotes

When was the last time you did something for the first time?

Waktu itu saya bilang saya akhirnya punya jawaban atas pertanyaan ini.

Jawabannya ada di dalam ruang yang dihangatkan pada suhu 42 derajat Celcius.

bikram yoga

Kamis (25/9) lalu saya dan belasan perempuan lainnya berkesempatan mencoba bikram hot yoga untuk pertama kalinya dalam Live Great Community Meet Up, hasil kerjasama Great Eastern Life Indonesia dan Bikram Yoga Jakarta. Rasanya… surprisingly refreshing!

Awalnya saya terintimidasi. Saat masuk ke ruang kelas untuk menaruh yoga mat, handuk alas dan sebotol air, saya merasakan panasnya ruangan menyengat kulit. Pada sesi briefing, mbak admin Bikram Yoga Jakarta pun berpesan agar kami tidak perlu malu jika panasnya ruangan terasa membebani; kami diingatkan untuk segera mengambil posisi duduk di atas kedua betis (seperti orang-orang Jepang itu loh!) jika kami merasa pusing. Posisi duduk seperti ini disarankan untuk mengembalikan fokus pada tubuh kita.

Sesi regular seharusnya berjalan selama 90 menit dan dalam ruang yang dihangatkan sampai 42 derajat. Namun, karena kami semua pemula, dan sesi ini sebenarnya bertujuan mengenalkan bikram yoga, sore itu kami diberi kemudahan dengan sesi yang berlangsung selama 60 menit saja dan dalam suhu ruang 39 derajat. (Diskon 30 menit dan 3 derajat lumayan banget!) Guru yoga kami menjelaskan bahwa sesi bikram yoga terdiri dari total 26 gerakan; masing-masing dengan beberapa repetisi. Gerakan-gerakan yoga yang kami praktikkan pun tidak serumit yoga advance, melainkan gerakan-gerakan basic yang hampir dikuasai seluruh peserta meet up yang rata-rata sudah berlatih yoga secara rutin.

Sore itu mungkin jadi sore paling panas buat saya, dalam arti kata sebenarnya. Tetapi sesudahnya, seperti yang saya bilang tadi, tubuh justru terasa segar dan ringan. (Mungkin efek sugesti?)

Sesi percobaan hari itu masih membuat saya penasaran: bagaimana rasanya mengikuti sesi regular? Mungkin suatu hari akan saya coba. Untuk sementara saya harus membiasakan diri dengan panasnya udara Jakarta yang semakin hari semakin tidak logis.

Tentang Relevansi CD di Era Musik Digital [Bonus: Quiz Berhadiah CD]

Komunitas Grup Orang Bener sekali lagi menggelar acara Selecta Pop, kali ini edisi vol.4, pada Kamis (2/10) malam di Basement Cafe, Arion Swiss-Bel Hotel, Kemang, Jakarta Selatan. Acara musik hura-hura malam itu menjadi spesial khususnya untuk band indie-pop thedyingsirens yang merilis album ‘Our Times Our Feelings’ dalam format CD. Selain thedyingsirens, Selecta Pop vol.4 diramaikan oleh band indie lainnya: The Safari, The Young Liars, Floyd, Glue, The Bananas, 4 People at the Pool, dan Anestesi.

DSCF1585 -e

The Young Liars

DSCF1586 -e

The Young Liars

DSCF1592 -e

The Young Liars

Anestesi menghangatkan sesi malam itu dengan lagu-lagu cover Morissey dan The Smith, sebelum akhirnya memperkenalkan lagu milik sendiri. Glue menyusul dengan beberapa lagu Weezer, sementara pengunjung terlihat semakin meramaikan area Basement. Lagu berjudul ‘Sudahkah Kamu Minum Obat?’ milik C’mon Lennon mengawali penampilan Flyod, yang juga memperdengarkan lagu milik sendiri pada malam itu. Penampilan The Young Liars membawa aura tersendiri di venue; semangat muda mengalir lewat musik indie rock yang dimainkan keempat personilnya. The Safari melanjutkan gebrakan di atas panggung dengan lagu-lagu milik sendiri dan cover version beberapa band Brit pop.

DSCF1608 -e

The Safari

DSCF1597 -e

The Safari

DSCF1605 -e

The Safari

Hampir tengah malam saat thedyingsirens mengambil alih panggung. Proyek musik kolaboratif ini tampil dalam formasi lengkap: Pugar “Uga” Restu Julian (guitar, vocal), Stephanie “Sessi” Eka (backing vocal, tambourine), Olivia “Onta” Imelda (backing vocal, tambourine), Dave “Dape” Leonard Purba (keyboard), Branandi “Mbenk” W Madya K (gitar), Dhendy Mawardi (guitar), Pronky Karamoy (bass), dan Gabriel Mayo (drums). Ekplorasi keberagaman musik yang menjadi latar belakang masing-masing personil terdengar kental pada alunan lagu-lagu yang dibawakan thedyingsirens pada malam itu, di antaranya Lovely Eyes yang dibawakan dengan twist manis di akhir lagu, dan Teman Baikku Mati Bunuh Diri – lagu ciptaan Uga yang biasa dimainkan bersama proyek puisi perkusifnya, Otak and Chair.

DSCF1614 -e

thedyingsirens

DSCF1615 -e

thedyingsirens

DSCF1626 -e

thedyingsirens

Album Our Times Our Feelings sendiri bukan barang baru di industri musik, mengingat album yang sama telah dirilis dalam format digital setahun yang lalu.

Lalu, apa yang mendorong thedyingsirens untuk merilis album ini dalam format CD di era musik digital seperti hari-hari ini? Frontman thedyingsirens, Uga, menjawab:

Sekarang CD sudah beralih fungsi. Dulu jadi modal jualan utama para musisi, sekarang jadi merchandise atau collectible item — karena kami percaya orang-orang masih suka mengoleksi barang-barang yang bersifat fisik.

 

QUIZ TIME!

OTOFquiz

CD Our Times Our Feelings

Itu kata thedyingsirens tentang mengapa akhirnya mereka memutuskan merilis album dalam format CD. Kalau menurut kamu, bagaimana relevansi keping CD di era musik digital? Follow @thedyingsirens di Twitter, lalu tweet pendapat kamu tentang topik ini dengan mention @twiras @thedyingsirens #OTOFquiz. Saya punya satu CD Our Times Our Feelings untuk kamu yang share pendapat yang (menurut saya) paling menarik. Saya tunggu tweet kalian sampai 10 Oktober berakhir ya :)

 

UPDATE

Pemenang terpilih untuk #OTOFquiz adalah @I_Pade. SELAMAT :)

Tentang Melakukan Hal Baru

Suatu hari di timeline Path, seorang teman share image dengan tipografi berikut…

When was the last time you did something for the first time?

Pertanyaan tersebut mengganggu saya sampai hari ini.

Menggangu karena sepanjang tahun ini saja, seingat saya, belum ada kegiatan baru yang saya lakukan untuk pertama kalinya.

Lalu, pada saat akhirnya saya punya jawaban atas pertanyaan ini, dan Googling kalimat tersebut (dengan tujuan untuk mencari image terkait) barulah saya tau kalau quotes tersebut adalah pesan utama dari sebuah campaign yang berlangsung di tahun 2012. (Kok saya baru tau sekarang ya?)

In our busy lives, we tend to forget doing things we’ve always wanted to do, we make promises to ourselves “I’ll do that one day”, but that one day never comes. The 2012 EASTPAK campaign is all about helping us keep those promises, by reminding us of the things that truly inspires us. By making us think about the things we really live for.

Because life in the city is all about transformation and metamorphosis, invention and reinvention, evolution and revolution. The urban environment is in constant flux. You can either move with it, rebel against it or give it new meaning and direction.

Website campaign ini didesain menarik dengan slide video-video yang mengilustrasikan contoh hal-hal baru yang dilakukan untuk pertama kalinya; salah satu favorit saya adalah #89 Write your own book. Dan jika cukup rajin mengklik tombol next, kita akan tiba di slide penghujung yang isinya…

And what about you?

When was the last time you did something for the first time?

kemudian diikuti slide terkahir yang isinya…

#I’ve always wanted to _____

(Slide terakhir ini seharusnya mengarah ke Facebook App milik Eastpack, sayang FB App tersebut sudah tidak aktif.)

Mungkin, campaign yang efektif memang yang semacam ini, menggebrak nurani dengan ide yang membuat kita bertanya pada diri sendiri. Mungkin.

 

 

Oh, by the way, when was the last time you did something for the first time? ;)

Tentang Bermain, Berbagi, Belajar

Sabtu (27/9)  malam suasana dbar Plaza Pondok Indah II terdengar riuh rendah, berganti dari alunan musik satu ke alunan musik yang lain. Rupanya Xabi Music Studio tengah mengadakan KINDERGARDEN Level IV. Gig rutin ini sebelumnya selalu mengambil lokasi di studio milik mereka. Maka tidak berlebihan jika dikatakan gig kali ini cukup istimewa. Para musisi yang tampil pada malam itu adalah Atillion, thedyingsirens, Gabriel Mayo, Circarama dan Sandman.

Dua nama yang akan saya ceritakan kali ini adalah thedyingsirens dan Gabriel Mayo.

thedyingsirens malam itu tampil beda. Proyek musik kolaborasi yang biasanya tampil full band, pada malam itu tampil dalam formasi duo “kebapakan” Pugar Restu Julian dan Dhendy Mawardi — maklum keduanya sudah bapak-bapak. Deretan lagu-lagu ciptaan thedyingsirens seperti Our Times Our Feelings, The Rain Song dan Never Was You dibawakan dalam versi akustik. Bahkan lagu Vapour Trail (Ride cover version), yang biasanya dibawakan dalam tempo cepat dan menghentak, pada malam itu dibawakan lebih halus dan menyayat perasaan pendengar. Formasi duo kebapakan memang memberi warna tersendiri, tetapi tetap pada konsep kolaboratif yang thedyingsirens usung.

Ruang dbar semakin padat saat Gabriel Mayo mengambil alih area panggung. Singer-songwriter ini tampil percaya diri ditemani gitarnya, membawakan deretan lagu ciptaan sendiri, di antaranya I’m the Rain, Another Day, dan And Why. Seperti di gig-gig sebelumnya, Mayo juga membawakan single pertamanya, You and Me (yang turut menjadi original soundtrack film lokal Hijabers in Love) dan I Think of You (Rodriguez cover version) dengan penuh penghayatan. Seolah belum puas menikmati alunan melodi dreamy khas Mayo, penonton pun menuntut encore yang tentunya disanggupi pria yang juga tergabung sebagai drummer dalam Vox dan thedyingsirens.

Gig yang mengusung musik lokal seperti KINDERGARDEN Level IV ini turut berkontribusi memperkenalkan musisi indie pada industri yang semakin penuh sesak dengan produk-produk impor. Gig seperti ini mengajak para musisi indie untuk bermain, berbagi dan belajar dari satu sama lain. Salut untuk Xabi Music Studio!

Mangsa Terakhir

Dari selempeng permen bergula dengan rasa pepermint dia berubah wujud menjadi segumpal karet putih penuh liur. Terjun bebas dari ketinggian satu setengah meter, dia kini teronggok di tepi jalan beraspal.

Diam, tapi bukan tanpa rencana. Dia mengincar mangsanya.

Sepasang manusia, lelaki dan perempuan, tengah berdebat dalam bahasa mereka di dekatnya. Hap! Dia memeluk ujung tumit sepatu si perempuan. Beberapa meter dari tempatnya terjun bebas, menyeberangi jalan beraspal, sepasang manusia itu menghentikan langkah. Si perempuan mengeluhkan tentang dia yang melekat di alas kakinya. Sambil mencoba melepaskan dia dari ujung tumit sepatu itu, si lelaki mengeluh, “Lagian kamu udah tau susah jalan kalau pakai sepatu ini, malah tetap dipakai!”

Dia selamat, meski harus mengorbankan sebagian dirinya mati sebagai gumpalan-gumpalan kecil. Kini tergeletak di tengah jalan, terpental dari ujung jemari si lelaki.

Tak lama roda sepeda menggilas dia. Dia senang bisa melihat dunia dari sisi berbeda. Bergerak ke atas, melihat pemandangan dari ketinggian roda, bergerak ke bawah, kembali ke aspal. Terus-menerus, sampai sepeda itu tiba di sebuah rumah. Si anak yang mengendarainya lantas berteriak, “MAMAA!! TOLONG!” Si mama tergopoh-gopoh menghampirinya dari dalam rumah. “Ada apa teriak-teriak?”

“Ada permen karet di ban sepedaku,” rengek si anak. “Hih! Bikin kaget. Mama kira ada apa,” si mama menghembuskan nafas lega. “Minta tolong sama kakakmu ya, mama lagi masak.”

Tak lama si kakak mulai mencungkil-cungkil dia dari roda sepeda. Lagi-lagi sebagian dirinya mati sebagai gumpalan-gumpalan kecil. Sebelum akhirnya dia berpelukan erat dengan sebilah tusuk gigi yang mencabutnya dari roda itu. “Bego amat sih nih orang buang bekas permen karet sembarangan!” serapah si kakak. Dia mengamati mulut si kakak yang bercerocos. Pemandangan yang familiar, pikirnya. Ah, iya. Mulut itu yang sebelumnya membuang dia dari ketinggian ke tepian jalan beraspal.

Dia bahagia. Sekarang tidak lagi sendirian. Ada tusuk gigi yang setia menemani dalam pelukan. Cerita perjalanan mereka dimulai dari ruang gelap, lembap dan berbau menyengat yang manusia sebut tempat sampah.

Tentang Bangsat di Jalanan Jakarta

Bangsat Satu menurunkan paksa penumpang sebelum tiba di tujuan masing-masing, karena dia mau memutar balik dan mengambil penumpang dari jalur sebaliknya.

Bangsat Dua menyetir angkot rongsoknya pada kecepatan penuh, mengambil lajur berlawanan demi melewati mobil demi mobil di depannya. Lalu menepi di dekat warung, menunggu penumpang. Sambil lalu dia mengeluh pada teman-temannya yang sedang duduk-duduk di sana. “Si Bangsat Satu kurang ajar sih, puter balik seenaknya, ngambilin sewa gua!” Temannya menimpali, “”Ya, namanya ngejar setoran. Maklum, baru punya bayi.” “Ya kaga bisa gitu, gua juga ngejar setoran kan!” si Bangsat Dua membela diri. Sementara para penumpang di dalam angkot bertanya dalam hati, mau sampai kapan si Bangsat Dua ngetem di sana?

Bangsat Delapan melaju di atas motor melewati jalan layang yang tidak diperbolehkan untuk kendaraan tersebut. Dia melawan arah lajur, membuat kagok mobil boks dan taksi yang melintasi.

Bangsat Empatbelas menginjak-injak pedal gas dan rem bertukaran di atas garis-garis hitam putih di dekat lampu lalu lintas, membuat pejalan kaki was-was kalau-kalau bus berwarna jingga itu akan menabraknya saat menyeberang jalan.

Bangsat Duapuluh Lima menekan-nekan klakson, berpindah dari lajur kiri ke lajur kanan, seolah mengumandangkan puisi ketergesaan. Mengeluhkan macetnya Jakarta dari dalam kabin ber-AC, ditemani lagu-lagu kesukaannya di radio, CD atau MP3.

 

Sudah terlalu banyak bangsat di jalanan Jakarta. Please don’t be one.

Tentang Word Crimes

Balada grammar police dalam lagu Word Crimes

 

Selain bekerja penuh waktu pada sebuah digital agency, saya juga bekerja tanpa kenal waktu membela tata bahas dan ejaan yang tepat. Sebagai pengguna bahasa, saya pikir itu hal paling sederhana yang bisa saya lakukan. Tata bahasa dan ejaan yang tepat memang perlu dibela, karena mereka tidak dapat membela diri sendiri saat disepelekan oleh begitu banyak orang.

Baru-baru ini Weird Al Yankovic merilis 8 video dalam 8 hari dalam rangka promosi album terbarunya, Mandatory Fun. Kedelapannya adalah parodi lagu dan video dari lagu-lagu populer yang sudah ada. Salah satunya, yang menjadi favorit saya, adalah Word Crimes, yang berisi sindiran tentang kesalahan penggunaan kata-kata yang sering terjadi (dalam bahasa Inggris, tentunya).

Pop quiz: Kapan kita menggunakan “It’s less” dan kapan kita menggunakan “It’s fewer”? Simak jawabannya di video ini.

Reaksi pertama saya melihat video ini: THANK YOU, WEIRD AL!

Sebagai yang sering dituduh sebagai grammar police, saya seperti mendapatkan dukungan moral untuk meneruskan misi saya memberantas word crimes, khususnya dalam bahasa Indonesia.

Berikut adalah beberapa “kejahatan” yang sering terjadi di sekitar saya:

Disini. Demi Kamus Besar Bahasa Indonesia, tolong bedakan “di” sebagai preposisi dan “di” sebagai imbuhan! Sebagai keterangan tempat, kata itu seharusnya ditulis sebagai “di sini” (dengan spasi). Sebagai kata kerja pasif, kata itu ditulis sebagai “ditulis” (tanpa spasi). Hal yang sama juga berlaku untuk penggunaan kata “ke” dan “dari”.

Aktivitas VS Aktifitas. Dan kata-kata berakhiran -itas lainnya seharusnya ditulis dengan -vitas, dan bukan -fitas. Loh kok begitu? Kan “aktifitas” diambil dari kata dasar “aktif” yang menggunakan “f”? Begini penjelasannya: Bahasa Indonesia menyerap bahasa asing dalam berbagai bentuk, di antaranya kata dasar (active) dan kata berimbuhan (activity). Bentuk kata serapan pun menyesuaikan bentuk aslinya secara penuh, sehingga “active” menjadi “aktif” dan “activity” menjadi “aktivitas”. “Aktivitas” bukanlah bentuk serapan kata ”aktif” ditambah imbuhan -itas (karena Bahasa Indonesia tidak mempunyai imbuhan semacam itu!).

Merubah. Menjadi rubah? Sebagai bentuk kata berimbuhan dari kata dasar “ubah” (yang bermakna menjadi lain atau berbeda dari semula), seharusnya ditulis mengubah, yaitu kata dasar “ubah” dipertemukan dengan variasi dari imbuhan me- (meng).

Sekedar. Sekadar mengingatkan, untuk makna “seperlunya atau seadanya”, “hanya untuk”, dan “sesuai atau seimbang atau sepadan”, penulisan kata yang tepat adalah “sekadar”.

Kedua atau ke dua? Kata ke- yang diikuti kata bilangan (satu, dua, sepuluh, seratus, dll)bertindak sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (contoh: anak kedua, orang ketiga, abad kesepuluh) dan kata bilangan kumpulan (contoh: kedua anak, kesebelas pemain sepak bola) ditulis tanpa spasi. Bentuk kata bilangan ditulis secara berbeda jika bilangan dituliskan dalam angka (1, 2, 10, 100, dll) dan bukan kata (satu, dua, sepuluh, seratus, dll), menjadi: anak ke-2, ke-11 pemain sepak bola, abad ke-10. Pada kondisi tertentu, penulisan kata bilangan dapat menggunakan bilangan Romawi (I, II, X, XX, dll). Di sini, penggunaan ke- luruh, sehingga kata bilangan ditulis menjadi: abad X.

Masih banyak “kejahatan” lainnya yang (terlalu) sering kita — penutur asli Bahasa Indonesia — gunakan. Saya pikir tidak terlambat untuk kita belajar ulang tentang penggunaan Bahasa Indonesia yang tepat guna dari waktu ke waktu.

Untuk sementara waktu, tolong jangan ulangi kesalahan yang sama. Terima kasih.

 

 

 

Tulisan juga dipublish di medium.

Tentang Pied Piper

WARNING: Mengandung spoiler serial Silicon Valley S01

 

 

Beberapa hari menjelang libur Lebaran lalu saya sempat mengumpulkan beberapa file video film yang direkomendasikan teman-teman untuk ditonton selama berlibur.

Salah satu judul film seri yang kemudian saya selesaikan selama masa hibernasi di rumah dan kost adalah Silicon Valley (SV) — yang dirangkum HBO sebagai berikut:

In the high-tech gold rush of modern Silicon Valley, the people most qualified to succeed are the least capable of handling success. A comedy partially inspired by Mike Judge’s own experiences as a Silicon Valley engineer in the late 1980s. Dari judulnya, saya kira serial itu akan serius. Namun, teman saya sudah memperingatkan di awal kalau serial itu bergenre komedi.

Yang tidak saya duga justru banyak adegan di dalam serial itu yang menggambarkan kisah klise tentang kehidupan startup, sebagaimana yang diceritakan di media. Tidak dalam pengertian negatif. Momen-momen klise itu justru memberi beberapa pelajaran (hidup). Di antaranya…

Hidup selalu memberi pilihan sulit: yang baik vs yang baik. (Karena pilihan yang baik vs yang buruk terlalu mudah.) Di SV diceritakan Richard si computer programmer dihadapkan pada dua pilihan setelah memaparkan produk algoritma kompresi file bernama Pied Piper: A) 10 juta dollar dari Gavin untuk membeli kepemilikan produk startup itu, atau B) 200.000 dollar dari Peter untuk berkontribusi dalam pengembangan produk dan startup milik Richard.

Barang yang sudah dicuri tidak dapat dikembalikan. (Atau dapat?) Richard kemudian menolak tawaran Gavin dan menerima tawaran Peter. Ada perang psikologis yang berlangsung antara Gavin dan Peter. Gavin lantas mencuri ide Richard dan mengembangkan produk serupa Pied Piper, yang dinamai Nucleus. Curi-mencuri pun tidak berhenti di ide, tapi juga di personel. Salah satu personil tim Gavin, Jared, memutuskan resign dan bergabung dengan tim Richard. Lalu Gavin merebut salah satu personil tim Richard, Big Head, dengan iming-iming gaji yang lebih memuaskan. Klise. Di industri digital agency tempat saya beraktivitas pun, curi-mencuri ide dan personil sudah jadi cerita sehari-hari.

Determinasi. Negosiasi. Argumentasi. Richard sangat kukuh untuk menggunakan nama Pied Piper untuk startup-nya, walaupun mereka tahu kalau sudah ada perusahaan lain yang menggunakan nama tersebut. Richard, yang selalu gugup saat berkomunikasi dengan orang lain, terpaksa mendekati pemilik perusahaan Pied Piper lainnya untuk merundingkan kepemilikan nama perusahaan. Walaupun mengalami beberapa hambatan karena kesalahpahaman, dan lewat negosiasi dan argumentasi yang masuk akal Richard akhirnya memenangkan kepemilikan nama perusahaan Pied Piper.

Beberapa orang memang dilahirkan menyebalkan, tapi kita tetap membutuhkan mereka. Admit it. Ada beberapa orang (kalau tidak bisa disebut banyak) di sekitar kita yang menyebalkan dalam berbagai level. Kadang (atau sering) kita berharap tidak harus berhadapan, apalagi berinteraksi, dengan orang-orang tersebut. Namun, kita juga harus mengakui kalau kita butuh orang-orang tersebut, untuk berbagai alasan. Dalam kondisi mabuk, Richard sempat menjanjikan Erlich, pemilik rumah tempat startup Pied Piper tumbuh dan berkembang, kapasitas sebagai anggota direksi. Pernyataan Richard tersebut membuat anggota tim yang lain bertanya-tanya; Erlich bukanlah orang yang Richard dan anggota tim lainnya bayangkan sebagai anggota direksi. Singkat cerita, pada akhirnya Richard mengakui kalau dia memang membutuhkan Erlich.

Identitas diri. You are what you think you are. You are what you say. You are what you eat. Atau apapun statement tentang identitas diri. Pada sebuah startup, identitas itu salah satunya ditunjukkan dalam sebuah logo perusahaan. Setelah sukses membeli nama perusahaan Pied Piper, Richard dan tim harus mempertimbangkan sebuah logo. Erlich yang nyentrik menyewa graffiti artist berbayaran mahal untuk membuatkan logo. Logo buatannya tidak hanya eksentrik tetapi juga menimbulkan keresahan sosial. Setelah melewati fase khilaf itu, Pied Piper kemudian kembali ke logo tipikal dengan inisial huruf kecil. Banyak cara untuk mengidentifikasi diri. Yang penting kita mau benar-benar jujur pada diri sendiri dan orang lain.

It’s never too old to learn, and never too young to teach. Pada suatu titik, Richard dan tim mengalami kesulitan dalam pengembangan produk mereka. Mereka terpaksa menyewa tenaga kerja tambahan untuk meyelesaikan beberapa coding. Pilihan mereka jatuh kepada Kevin, seorang bocah muda jenius yang terkenal dengan aksinya meretas kode website sebuah bank. Richard belajar beberapa hal dari Kevin, begitupun sebaliknya. Gak perlu gengsi lah kalau harus belajar kepada yang lebih muda (usia dan pengalaman).

Bring it on! Pada kondisi-kondisi tertentu dalam hidup, kita harus benar-benar beraksi untuk bisa maju selangkah ke depan, atau ke atas, atau ke samping. Tidak hanya memimpikan mimpi, tapi juga menghidupi mimpi. Richard dan tim ambil bagian dalam TechCrunch Distrupt untuk mempresentasikan Pied Piper. Untuk kesempatan mendapatkan investor. Untuk mendapatkan kepercayaan publik. Walaupun produk mereka masih belum benar-benar “matang”. Kalau kata orang sih: Kalau nunggu siap, sampai kapan pun gak bakal siap.

Stick to the plan, but be flexible. Saat semua rencana tersusun rapi, sisakan ruang terbuka di ujung jalan. Bukan karena kita tidak percaya kalau rencana tersebut dapat diwujudnyatakan. Justru karena kita sadar bahwa perubahan selalu datang di detik-detik yang tidak kita duga. Pada TechCrunch Distrupt, Gavin mempresentasikan Nucleus tanpa cela. Pied Piper mulai terancam dicap sebagai versi KW-nya Nucleus. Semua anggota tim, kecuali Jared, mulai pasrah dengan kekalahan. Mereka mengalihkan perhatian mereka dari Pied Piper ke hal-hal ringan seperti menghitung kemungkinan Erlich jerking off seluruh pendatang TCD dalam waktu singkat. Siapa sangka hal-hal ringan yang mereka diskusikan secara serius itu justru jadi ruang terbuka di ujung jalan bagi Richard untuk mengarahkan Pied Piper sebagai ide lain yang lebih brilian daripada Nucleus. They nailed it.

Cerita-cerita klise tentang berkembangnya sebuah startup dari Silicon Valley mungkin sudah sering kita dengar. Tapi banyak hikmah yang bisa kita ambil dari cerita-cerita klise tersebut.

 

 

 

Tulisan juga dipublish di Medium.