Sedih, Gak?

Hari ini saya menutup perjalanan bekerja di dua perusahaan sekaligus. Sekaligus, karena selepas perusahaan yang satu saya langsung pindah ke perusahaan yang lain, a sister company, yang secara fisik masih numpang di ruang kantor perusahaan yang satu. Jadi, ya begitulah.

Hari ini ada beberapa orang yang menanyai saya: Sedih, gak? 

Mungkin karena saya memajang tampang yang biasa-biasa saja.

***

Jumat lalu saya sudah mengepak hampir semua barang pribadi yang menemani hari-hari saya selama 6 tahun 8 bulan di dua perusahaan ini. Layaknya adegan dalam film Hollywood, saya membawa barang-barang tersebut dalam suatu kardus; bekas satu pak kertas A4, tepatnya.

Sebelumnya, saya melewatkan waktu beberapa jam di area kantin kantor sambil ngobrol bersama beberapa dedengkot kantor. Saya belum siap pulang dan menghadapi sepi yang menyelinap masuk ke dalam kardus itu.

Sabtu pagi saya bangun dan sarapan duel dengan pikiran-pikiran yang menggerogoti dari dalam: Jangan-jangan keputusan resign sebelum mengamankan tempat kerja berikutnya ini sangat tidak benar? Setelah hari terakhir nanti, akankah hal-hal berubah? Akankah saya masih bisa berkomunikasi dengan teman-teman kerja yang terlanjur saya sayangi seperti saat ini? How would I navigate my life after this?

Saya sadar semua kekhawatiran ini berlebihan, karena saya mengkhawatirkan hal-hal yang belum terjadi. Saya tidak atau belum dapat melakukan apapun untuk mengubah hal-hal yang saya khawatirkan dapat terjadi, karena memang belum terjadi.

Namun saya juga sadar ada emosi dalam pikiran-pikiran ini yang ingin hadir dalam tubuh saya, maka saya izinkan dia hadir. Saya memberi ruang dan waktu untuk emosi itu menampakkan wujudnya; tetes-tetes air yang mengalir dari mata, suara-suara yang jarang meluncur dari diafragma, dan nafas yang seperti baru mengenal oksigen.

Sabtu sore saya dan sahabat menghadiri konser perpisahan Cause, band dengan musik yang menyenangkan hati, di Bogor. Untung saya sudah menjadwalkan menonton konser pada hari itu; jika tidak, mungkin sepanjang hari itu saya hanya akan larut dalam pertunjukkan emosi sendiri.

Menonton Cause membawakan 25 lagu dalam 2 jam bersama sahabat saya ini mengingatkan saya akan sisi lain perpisahan: bahwa pada akhirnya semua akan baik-baik saja. 

Sahabat saya ini pernah sekantor di perusahaan yang satu, sebelum dia resign sekitar dua-tiga tahun lalu. Sampai hari ini kami masih berkomunikasi dengan baik, masih menyempatkan waktu melakukan hal menyenangkan bersama, masih bertransaksi tukar pikiran. Kami pernah berpisah, tetapi sampai sekarang kami masih bersahabat. Pada akhirnya, persahabatan kami baik-baik saja. Mengingat hal ini membuat saya lebih tenang.

Minggu lalu saya kembali diingatkan tentang kekhawatiran lewat kutipan ini:

Siapakah di antara kamu yang karena kekhawatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?

Merenungkan kutipan ini membuat saya semakin tenang.

***

Hari ini ada beberapa orang yang menanyai saya: Sedih, gak?

Biasa saja. Karena saya sadar, pada akhirnya, semua akan baik-baik saja.

Pagut dan Selusup

Saya sedang menyusun satu artikel untuk keperluan pekerjaan ditemani playlist penyemangat ini, saat tiba-tiba saya terbawa arus emosi dari salah satu lagu lawas milik Padi.

Begini liriknya menurut catatan Kapanlagi:

Aku tak bisa luluhkan hatimu
Dan aku tak bisa menyentuh cintamu
Seiring jejak kakiku bergetar
Aku tlah terpaku oleh cintamu
Menelusup hariku dengan harapan
Namun kau masih terdiam membisu

Sepenuhnya aku…ingin memelukmu
Mendekap penuh harapan…tuk mencintaimu
Setulusnya aku…akan terus menunggu
Menanti sebuah jawaban tuk memilikimu

Betapa pilunya rindu menusuk jiwaku
Semoga kau tau isi hatiku…
Dan seiring waktu yang terus berputar
Aku masih terhanyut dalam mimpiku

Aku tak bisa luluhkan hatimu
Dan aku tak bisa menyentuh cintamu

Ada dua kata yang sengaja saya garis bawahi, karena ingin saya bahas khusus di pos ini.

Sebagai Sobat Padi (yang harus merelakan kaset-kaset album mereka rusak dilahap banjir) saya selalu kagum dengan pilihan kata dan kalimat dalam lirik-lirik lagu mereka, termasuk dalam lagu Menanti Sebuah Jawaban ini. Puitis dan mudah dicerna.

Saat saya dengarkan baik-baik kali ini, ada kesalahan pencatatan lirik versi Kapanlagi. Yang tertulis “Aku tlah terpaku oleh cintamu”; sementara seharusnya “Aku tlah terpagut oleh cintamu”. Kesalahan penulisan yang wajar, saya pikir. Kata “terpaku” lebih umum dikenal orang daripada “terpagut”. Padahal makna kata dasar “pagut” itu sendiri sangat kuat; kata itu telah memagut saya.

memagut

pagut 1 » me.ma.gut
v mematuk; mencatuk; menggigit (tentang ular)
pagut 2 » me.ma.gut
v Mk memeluk: tiba-tiba ada orang yang ~nya dari belakang

*Mk: kata serapan dari bahasa Minangkabau

Kata “terpagut” tidak ada di KBBI, tapi untuk sementara saya asumsikan kata ini sebagai kesalahpahaman bentuk kata kerja pasif intransitif dari “memagut”. Seharusnya tidak ada bentuk pasif intransitif dari kata “memagut”, karena seharusnya ada objek yang terlibat di dalam kata kerja ini. CMIIW.

Sekarang mari coba kita baca ulang kalimat lirik tersebut:

Aku telah terpagut oleh cintamu

Ada kekuatan makna yang lebih pada kalimat ini dibandingkan dengan kalimat “Aku telah terpaku oleh cintamu”. Kalau “terpaku” hanya membuat si aku diam berdiri di tempat, “terpagut” memberi kesan si aku tertambat pada sesuatu yang datang tiba-tiba.

Lalu pada kata kedua yang saya garis bawahi:

Menelusup hariku dengan harapan

Saya hampir yakin yang dimaksud penulis lirik ini adalah “menyelusup”.

menyelusup

selusup » me.nye.lu.sup
v masuk dengan sembunyi-sembunyi; menyusup: pencuri itu ~ ke dalam belukar
v menyelundup: ~ ke daerah yang dikuasai musuh

Lagi-lagi pilihan kata yang kuat. Lebih dari sekadar “menyelinap”, kata “menyelusup” seolah menegaskan adanya ketidakjelasan di area yang diselusupi.

Dengan dua kata ini–pagut dan selusup–saya memaknai lagu Menanti Sebuah Jawaban dengan pemahaman baru, dengan kedalaman makna baru, dan tentunya dengan kebaperan baru.

2016 Year in Review: It Feels Natural

Jumat lalu saya sempat bilang ingin ngeblog, merangkum tahun 2016 dalam satu posting. Tidak terjadi. Saya memilih YouTube hoping, dari satu video ke video lainnya. I just didn’t have the words.

Sekarang, dalam perjalanan kembali ke kost, saya teringat satu kalimat yang berulang di dalam benak tiap kali saya mengalami hal baru di tahun lalu: It feels natural.

Ya. Sebagian besar hal yang terjadi secara aktif–yang berdasarkan pilihan saya–dan yang terjadi secara pasif–yang tak terelakkan– terasa wajar. Semua kesenangan, kekhawatiran, kegundahan, kenikmatan, hal-hal yang sebelumnya asing di indera,… semua pengalaman terasa wajar; sudah layak dan sepantasnya begitu.

Di suatu sudut di kepala saya terdengar suara, “Mungkin lo lebih nrimo.” Di sudut lain ada suara lain, “Atau lo emang gak punya ekspektasi apa-apa.” Saya biarkan suara-suara mereka lenyap ditelan alunan lagu dari radio yang tiba-tiba mengambil alih ruang dengar saya.

So, what’s next, 2017?

Persaudaraan Perempuan yang Positif

Terlahir sebagai anak perempuan satu-satunya di keluarga, saya harus merengut karena iri melihat kedekatan teman-teman dengan kakak/adik perempuannya sejak jaman SD. Peluang kedekatan dengan kakak-kakak sepupu perempuan juga tidak terbangun karena jarak yang lebih dan jam main yang kurang. “Kayanya enak punya saudara perempuan, bisa saling pinjam baju,” begitu pikir saya versi bocah.

Seiring waktu saya belajar bahwa persaudaraan perempuan lebih dari sekadar perkara bertukar isi lemari tetapi juga isi pikiran. Saya beruntung berteman dengan beberapa orang di lingkaran pertemanan dekat yang bisa saya anggap saudara perempuan sendiri. Saya mendapat porsi persaudaraan perempuan dan persahabatan dalam satu paket.

Lalu pada Minggu sore lalu saya mengikuti kegiatan obrolan santai tentang Positive Sisterhood yang digerakkan oleh Kolektif Betina dalam rangkaian 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan, inisiatif #OrangeTheWorld UN Women Indonesia. Di kegiatan ini empat perempuan dari Kolektif Betina dan beberapa peserta obrolan berbagi pengalaman dan pendapat mereka tentang membina persaudaraan perempuan yang asyik di tengah masyarakat yang masih saling mengadu perempuan dengan perempuan lainnya.

(Mendengar cerita-cerita para perempuan–dan lelaki–di sore itu, saya langsung teringat pada seorang sahabat sekaligus saudara perempuan yang telah berbagi kebersamaan selama tujuh tahun terakhir. Kepada dia, saya dapat berbagi pikiran bahkan yang “tergelap” sekalipun. Thank you, sist. You know who you are.)

Iya juga ya. Masyarakat umum, media dan budaya populer ternyata masih lebih senang mempromosikan persaingan antar perempuan daripada persaudaraan perempuan. Istilah cat fight yang menempel pada perempuan. Mean Girls. Kampanye media tentang Naomi Campbel versus Tyra Banks di kancah top model berkulit hitam. (Kartika Jahja, salah satu dari Kolektif Betina, bilang seolah hanya boleh ada satu perempuan di posisi top model berkulit hitam, padahal kenapa tidak keduanya sekalian.) Emak-emak dasteran versus emak-emak dandan. Ibu rumah tangga penuh waktu versus ibu bekerja. Cewek feminin versus cewek tomboy. Dan segala tindakan bully sekecil apapun yang dilakukan perempuan kepada perempuan lainnya.

2016 hampir selesai. We need to stop competing and start embracing. Bertindak aktif untuk menciptakan kondisi yang nyaman dan aman untuk setiap keunikan perempuan; kondisi saling mendukung bukan saling menghakimi. Ada amin di sini?

Suasana Hujan

​​Siang tadi, saat berjalan kaki dalam gerimis menuju ke tempat makan, saya tersadar kalau saya merindukan hujan. Hujan yang walaupun ada kalanya membawa khawatir (maklum, pada masanya saya mengalami banjir tiap lima tahun sekali) tetapi selalu memberi perasaan nyaman.

Di bawah lindungan payung saya masih bisa merasakan ujung sepatu mulai basah dan kecipak air membasahi ujung celana, dan saya masih bisa menikmatinya tanpa merasa terganggu atau menjadi tergesa-gesa.

Dalam hujan yang setia turun sampai sore hari saya berbagi cerita dengan seorang teman tentang hal-hal yang selama ini bergumul dalam pikiran, dengan perspektif baru; mengakui amarah tanpa marah-marah.

Saat malam datang, masih dengan sisa-sisa hujan hari ini, saya kembali merindukan hujan. Hujan, yang ditemani kopi atau teh dan obrolan tentang hidup, bersama dia yang mengenal dalamnya hati. Hujan, yang meninggalkan hanya rasa nyaman.

Khususnya hari ini, saya menaruh harapan pada hujan yang membasahi Jakarta supaya membersihkan kami dari kebencian pada satu sama lain. Obliviate.

Tiga Puluhan

Gambar dari sini

Saya ingat betapa antusiasnya menyambut usia kepala tiga beberapa tahun lalu. Buat saya saat itu tiga puluh adalah angka psikologis; legitimasi kalau saya perempuan dewasa. Saya menantikan usia tiga puluh sejak lama; sejak memandang salah satu kakak sepupu yang memancarkan aura “perempuan dewasa” di usia tiga puluhannya.

And then lyfe happens.

Menginjak usia tiga puluh seperti berjalan menggunakan sandal jepit swallow yang alasnya sudah botak di atas ubin basah baru saja dipel. Tergelincir. Terpeleset. Tahu-tahu saya sudah tiga puluh empat.

Tunggu! Apa saja yang terjadi di 30, 31, dan 32?

Tenang, saya masih ingat kok apa saja yang terjadi di tahun-tahun itu. Kalaupun tidak ingat, saya bisa melihat catatan di jurnal analog.

Seperti inilah menjadi tiga puluhan versi saya: Menjadi selektif terhadap hal-hal mana yang penting untuk diingat dan diperhatikan.

Beberapa hal penting dalam setahun terakhir yang ingin saya bagikan khususnya ke kamu yang belum terperosok ke lembah usia tiga puluhan dan ke diri saya sendiri (karena suatu hari saya akan perlu diingatkan lagi):

1) Yuk Jalan-Jalan: Sendiri, Beramai-Ramai, atau Berdua Saja

Setahun ini rupanya saya cukup sering berjalan-jalan: sendiri ke Bangkok dan Chiang Mai, beramai-ramai bareng teman-teman dekat ke Cirebon, road trip bareng beberapa teman kerja ke Ngawi, dan “survey trip” berdua bareng sahabat ke empat kota di Jepang.

Cerita terbaru buat saya adalah berjalan-jalan berdua saja bareng sahabat; sebelum-sebelumnya paling sedikit bertiga. Cara baru yang masih saya evaluasi, resapi, dan endapkan.

Masing-masing cara tentu punya kelebihan, kekurangan, dan cerita sendiri. Masing-masing menyenangkan dengan caranya tersendiri.

2) Orang Tua Kita Semakin Tua

Satu hal yang semakin hari semakin saya sadari adalah bahwa orang tua kita semakin tua. Banyaknya cerita tentang kondisi kesehatan orang tua teman-teman yang menurun, ditambah lagi insiden patah tulang ibu saya sekitar dua tahun lalu, membuat saya menyadari bunyi detik jam yang semakin terdengar jelas.

Kenyataan bahwa mereka semakin tua dan suatu hari akan meninggalkan dunia bukan sesuatu yang tabu dan perlu kita hindari kok.

3) Mereka Juga Keluarga

Awal tahun ini salah satu anjing peliharaan di rumah meninggal. Sudah tua dan lelah, memang, tapi tetap terasa mengejutkan.

Kita juga perlu bersiap kehilangan anggota keluarga non-manusia. Apalagi kalau mereka sudah terlalu lama tinggal di hati kita.

4) Investasi Pada Kesehatan

Tenang. Saya tidak sedang mempromosikan produk asuransi kesehatan dengan keuntungan investasi. Saya mengajak kamu untuk menyisihkan sebagian penghasilan untuk memeriksakan kondisi kesehatan, baik secara umum maupun khusus.

Sejak tiga puluh, sudah dua kali saya memeriksakan kondisi kesehatan reproduksi. Maklum, ada kondisi khusus di area dapur saya itu. Biaya yang dikeluarkan memang lumayan, tapi sebanding dengan manfaatnya. Saya jadi tahu status kondisi saya dan tahu harus melakukan apa untuk menjaga diri tetap sehat.

5) Rasakan Suara

Tahun ini saya belajar mendengarkan suara perasaan dengan lebih baik berkat mengikuti program Act and Feel. Di program ini saya belajar untuk mengidentifikasi tiap reaksi perasaan atas aksi perbuatan yang aktif (yang saya lakukan dan dalam kendali diri) dan pasif (yang terjadi dan di luar kendali diri).

Selain suara perasaan, saya juga belajar mendengarkan suara tubuh. Sesederhana mengenali suara tubuh yang kurang tidur, masuk angin, atau butuh istirahat; sekompleks mengartikan suara tubuh yang ngidam cokelat. (Konon artinya tubuh kurang magnesium, sehinga bisa dipenuhi dengan kacang-kacangan, ikan, sayuran hijau, dan tentu saja cokelat.)

Suara lain yang perlu kita dengarkan adalah suara mereka yang kita percaya–yang menyampaikan hal yang tidak menyenangkan tentang kita di depan muka, bukan di balik punggung; yang masih menemani kita, walaupun tidak bisa membantu, dalam situasi buruk.

6) In the End, It’s Gonna Be Okay

Trump terpilih jadi presiden AS. Ahok resmi berstatus tersangka kasus penistaan agama. Bandung kebanjiran (lagi). Young Lex ngerap freestyle. Coldplay gak mungkin konser di Indonesia.

Ya sudah. Gak apa-apa. Karena pada akhirnya Trump, Ahok, Bandung, Young Lex, dan Coldplay cuma atribut dalam hidup kita.

(Sayangnya hidup belum berakhir, so we gotta deal with them.)

7) I’m (Still) Okay

Teman-teman seusia dan bahkan lebih muda dari saya pada umumnya sudah berkeluarga dengan satu atau dua anak, pada jenjang karir tinggi, berkendara sendiri, tengah menyicil KPR, berjalan-jalan lintas benua, memakai tas dan sepatu merek premium, dan/atau bisa pesan makanan tanpa pusing mikirin harganya.

Saat ini saya antitesis dari semua itu, dan saya baik-baik saja. (Oke, saya iri pada mereka yang bisa pesan makanan tanpa pusing mikirin harganya, tapi selebihnya saya baik-baik saja.)

#AestesGTJ: Osaka Terasa Seperti Rumah Sendiri

Saya terpapar budaya Jepang sejak lama–dari membaca serial cantik; menonton Doraemon, Ksatria Baja Hitam, dan Sailormoon; mengikuti sedu sedan Ordinary People, Long Vacation, dan Beach Boys; sampai mengambil kelas Bahasa Jepang selama 2 semester semasa kuliah. Buat saya, produk budaya Jepang bukan barang baru lagi. Maka wajar jika jalan-jalan ke Jepang menjadi semacam ziarah budaya. Ziarah budaya ini akhirnya terwujud di akhir Oktober sampai awal November lalu dalam perjalanan yang saya sebut sebagai #AestesGTJ, alias Aestes* Goes to Japan. Kami menjelajahi Osaka, Kyoto, Tomonoura, dan Tokyo dalam 13 hari.

Untuk tips jalan-jalan ke Jepang, silakan cari di blog-blog atau media-media lainnya. Di sini saya hanya akan menceritakan hal-hal menarik yang saya temui selama #AestesGTJ.

Pemberhentian pertama kami adalah kota Osaka.

Sejak tiba di bandara Kansai kami sudah mengalami kebaikan dan keramahan warga Jepang yang bersedia membantu kami terlepas dari kendala perbedaan bahasa. Kebaikan berlanjut saat kami tiba di Stasiun Taisho menuju apartemen yang kami sewa lewat Airbnb di Chiyozaki. Seorang onna yang kami tanyai arah tidak segan-segan meninggalkan teman-temannya sesaat demi menemani menyeberang jalan menuju pemberhentian bus dan memberikan arahan. Kebaikan masih berlanjut saat kami tiba di kamar apartemen. Rupanya pemilik apartemen khawatir akan ketiadaan kabar dari kami; lewat SMS dia memastikan kalau kami telah tiba di apartemennya tanpa kesulitan. Hari sudah malam saat kami tiba di kamar. Perut sudah lapar. Handphone sudah terkoneksi dengan internet. Dari rekomendasi di Foursquare kami memutuskan mengisi perut di suatu restoran ramen, hanya beberapa ratus meter dari apartemen. Sayangnya kami salah lokasi dan malah masuk ke restoran sushi. Mengetahui kalau kami turis yang baru tiba di Osaka, ojisan koki dan ojisan tamu restoran dengan antusias mengajak kami ngobrol, yang kami ladeni dengan keterbatasan bahasa Jepang lisan dan bahasa isyarat. Malam pertama di Osaka sudah memberikan suasana hangat layaknya di rumah sendiri.

Hari-hari berikutnya kami belajar tentang logika berkereta di Jepang. Kegiatan berekereta masih terasa asing buat saya, yang sehari-hari memang bukan anak kereta dan belakangan lebih terbiasa menggunakan transportasi umum tapi terbatas semacam Uber atau GrabBike. Namun setelah dua-tiga kali menggunakan kereta di Osaka, saya mulai memetakan hal-hal apa saja yang perlu diperhatikan sebelum berkereta di sana: stasiun terdekat, stasiun terdekat dengan lokasi tujuan, harga tiket dari stasiun A ke stasiun B, pintu keluar terdekat dengan lokasi tujuan. Awalnya saya pikir kehidupan berkereta di Osaka cukup mudah, karena tiap-tiap stasiun yang kami kunjungi tidak terlalu kompleks; sampai akhirnya kami ke Stasiun Osaka dan mendapati empat puluhan jalur kereta. Waktu itu saya pikir situasi ini semacam gladiresik untuk kompleksnya situasi berkereta di Tokyo nanti.

Dari beberapa tempat yang sempat kami datangi selama di Osaka, saya paling menikmati berjalan-jalan di sekitar Kuromon Market dan Osaka Bay Area.

Kuromon Market karena pada dasarnya situasi pasar memang menarik; melihat dinamika keseharian warga lokal, termasuk melihat banyak makanan dan barang yang memang dikonsumsi sehari-hari. Di sekitar Kuromon Market pula kami mencoba salah satu restoran ramen yang nikmat di mulut dan di mata, karena mas-mas pelayannya macam begini:

#AestesGTJ Osaka Kuromon Market Ramen Guy

Osaka Bay Area karena suasananya lebih santai sekaligus menghibur. Osaka Bay Area ini tempatnya Osaka Aquarium (Kaiyukan), Tempozan Ferris Wheel, dan Universal Studios Japan. Di sana kami hanya naik Tempozan Ferris Wheel, channeling our inner Elliot vs Mr. Robot, dan melihat-lihat situasi di sekitar.

#AestesGTJ Osaka Tempozan Ferris Wheel #AestesGTJ Osaka Bay Area Mermaid#AestesGTJ Osaka Bay Area Tempozan Ferris Wheel

Tempat terakhir yang kami sambangi adalah Cafe Do Toyo, hanya beberapa puluh meter dari apartemen tempat kami menginap. Kafe kecil ini dikelola oleh pasangan obachan dan ojichan, dan hanya buka pagi sampai jelang siang. Sambil sarapan kopi, roti dan telur, kami mengamati bahwa pengunjung kafe ini adalah senior citizen yang sepertimya memang pelanggan tetap yang cukup akrab dengan pemiliknya. Sekali lagi kendala perbedaan bahasa tidak menghalangi interaksi kami. Kafe kecil ini terasa hangat. Saat pamit keluar toko untuk melanjutkan perjalanan #AestesGTJ ke Kyoto saya merasa seperti pamit ke kakek dan nenek sendiri.

Obachan and ojichan run this small vintage Cafe Do Toyo in Chiyozaki, Osaka. The customers were senior citizens, except Astrid and me. #AestesGTJ #peopleofjapan

*Aestes adalah duo Astrid Simatupang dan Tere Suganda yang terbentuk demi berduet bernyanyi dan berukulele di suatu rumah kos pada suatu Sabtu sore yang gerimis

Menikmati Hening

Tadi malam, dalam perjalanan pulang menggunakan layanan Uber, seperti biasa saya duduk di kursi penumpang depan, di samping kursi sopir.

Sambil menyimak jalanan, menikmati musik yang mengalun dari suatu stasiun radio, dan sesekali mengintip keriaan yang dibagikan di teman-teman media sosial, pak sopir menyeletuk, “Wah, jadi canggung nih. Ibu duduk di depan, saya jadi bingung mau ngobrol apa.”

Saya balas, “Tenang Pak, saya menikmati hening kok.”

Ini hipotesis saya: dalam situasi berbagi ruang dengan orang lain–apalagi orang yang kita kenal, insting bertahan kita sebagai makhluk sosial adalah mengajak bicara orang tersebut; memecah keheningan canggung (awkward silence) yang terbangun. Maka terciptalah little talks. (Padahal belum tentu orang lain itu sedang ingin diajak bicara.)

Begini…

Saya pun ada masanya ingin memecah keheningan, apalagi saat saya berada bersama orang yang ingin saya kenal lebih baik. Saya mencoba memahami karakternya lewat percakapan. (Karena inti hubungan antar manusia ada pada komunikasi, kan?)

Lalu, setelah saya merasa mengenal orang tersebut, saya jadi tahu kapan saya perlu mengajaknya bicara dan kapan saya perlu menikmati hening bersama-sama.

Iya. Ini kondisi ideal.

Kenyataannya, saya lebih sering “diserang” little talks saat bersama orang yang tidak saya kenal (seperti sopir Uber itu), atau yang saya kenal sambil lalu (misalnya rekan kerja). Wajar. Mereka tidak kenal saya; mereka tidak tahu kalau saya ada kalanya lebih memilih diam dalam hening daripada obrolan basa-basi.

Namun, saya juga ingin mengajukan saran untuk situasi keheningan canggung (jika kamu belum pernah mencobanya):

  1. Biarkan orang lain itu menikmati hening, karena di dunia ini ada loh orang-orang yang menikmati hening;
  2. Kamu juga, coba deh nikmati hening, karena di dunia yang sudah bising ini, kamu pun butuh berada dalam hening walau sesaat.

Bertindak dan Merasa

Awal bulan lalu saya membagikan lewat Path e-poster program “Act & Feel, Pertolongan online untuk depresi di Indonesia”. Saya terpanggil untuk mengikuti program tersebut karena ada kalanya saya merasa seperti bola karet dalam genggaman yang terlalu erat dan berada di ambang beberapa kemungkinan–pecah, gembos, atau melontar entah ke mana. Ada masanya saya merasa perlu berkonsultasi dengan psikolog; sayangnya gangguan kesehatan psikis belum masuk kategori medical reimbursement, so … yeah, I am that cheap.

Setelah mendaftar dan menjawab cukup banyak pertanyaan, saya lolos seleksi awal dan lanjut ke sesi interview. Jika lolos sesi interview, saya akan diikutsertakan ke dalam program ini. Saya lolos. (Sesungguhnya, saya merasa bangga sekaligus terhenyak; ternyata kondisi saya memang masuk kategori depresi.)

Singkatnya, program pertolongan online ini mengandalkan kemandirian masing-masing peserta dalam mengelola kondisinya. Tiap peserta diberi akses login ke website; diminta mengikuti modul mingguan yang berisi informasi, ilustrasi, dan tugas; dan didampingi seorang konselor (yang didampingi seorang psikolog dalam kegiatan konselingnya).

Konselor yang ditugaskan mendampingi akan memonitor tugas-tugas di modul dan diizinkan mengontak peserta lewat jalur pribadi. Tiga hari pertama, konselor saya menghubungi lewat WA, menanyakan kabar saya hari itu (dan megingatkan untuk menjaga perasaan positif). Awalnya jengah juga ada yang tiap hari menanyai kabar saya; emak bapak saya saja tidak setiap hari berkirim pesan. Lagi pula, saya sudah terlalu lama sendiri, sudah terlalu lama tidak ditanyai kabar.

Memasuki Minggu Ketiga

Masih terlalu awal untuk menyimpulkan “khasiat”-nya, karena program ini memang didesain untuk jangka panjang. Keikutsertaan saya di studi ini saja setidaknya akan berlangsung selama beberapa bulan.

Namun tugas-tugas selama tiga minggu ini cukup membantu saya, khususnya dalam memonitor diri secara lebih obyektif. Sederhananya, saya diminta mengisi skema harian yang berisi kegiatan yang dilakukan dan perasaan yang dialami saat kegiatan itu berlangsung. To act and to feel. Bertindak dan merasa. Tugas dalam modul online hanya meminta sampel tiga hari dalam seminggu, tetapi karena saya merasa skema ini efektif, saya bawa ke seharian dalam jurnal analog; membaca pola di balik apa, siapa, di mana, kapan, kenapa, dan bagaimana pada tiap situasi.

Saya gak akan bilang saya yang sekarang adalah versi diri yang lebih baik dibandingkan dua-tiga minggu lalu. Saya sedang menikmati perjalanan menyelami diri sendiri, dengan harapan saat suatu hari saya merasakan sesak dan bertanya diri “Gue kenapa sih?”, saya tahu bagaimana menjawabnya dan dapat melakukan sesuatu untuk melepaskan diri dari perasaan sesak itu.

 

​Tentang Bersendiri

Sudah tiga tahun saya bersendiri, dalam sepetak kamar kos ukuran tiga kali tiga meter. Ukuran yang cukup untuk beristirahat, menumpuk barang, dan beraktivitas pribadi.

Di luar cerita umum seputar nasib anak kos (termasuk hubungan gelap dengan mie instan dan lauk dalam kaleng), ada beberapa hal yang jadi pengalaman baru ketika bersendiri. Tiga di antaranya:

1) Betapa Gaduhnya Sepi

Pada malam-malam pertama bersendiri, saya tercekat dengan betapa gaduhnya sepi. Kamar kecil tanpa dengung AC, tanpa nada baling-baling kipas angin, tanpa alunan musik di radio, apalagi riuh suara-suara di TV. Hanya ada suara statis yang dihasilkan sepi. Saya kesulitan memejamkan mata tanpa suara-suara latar yang sebelumnya selalu menemani.

Saking tidak nyamannya, saya segera menebus kipas angin dari toko swalayan ke kamar, demi menciptakan suara latar (dan demi sirkulasi udara, tentunya); demi membungkam gaduhnya sepi.

Namun, seiring waktu saya mulai mengenal dan memahami suara sepi. Matikan kipas angin dan radio, dan dengarkan suara-suara yang dihantarkan sepi. White noise. Detak jam tangan yang berpacu dengan jam meja. Napas. Suara kasur yang mengikuti gerak tubuh. Dengung kabel soket listrik. Kadang gonggong anjing di kejauhan. Kadang gesekan kaki atau sayap kecoa di sudut ruang. Dan yang selalu ada: dialog internal.

2) Konmari, Bahkan Sebelum Konmari

Sebelum netizen latah merapalkan metode Konmari khususnya di Pinterest, percayalah… di antara teman-teman kamu pasti ada orang yang menikmati berbenah dengan metodenya sendiri. (Kalau tidak ada, mungkin kamulah orangnya.) Orang-orang ini sering kali dituduh OCD, padahal OCD itu kondisi yang lebih dari sekadar suka berbenah.

Saya menikmati berbenah. Saya menantikan hari-hari khusus seperti libur Lebaran, libur Natal, atau pindahan karena adanya peluang berbenah. Atau, saya berbenah kalau sedang bad mood — for the sake of lifting the mood. Dan saya punya metode sendiri. Tidak perlu saya jabarkan ya. Yang pasti sejak bersendiri saya jadi lebih sering berbenah. Maklum, dengan ruang sekecil itu saya terpaksa pintar mengelola penempatan barang. (Tapi ah, semua barang itu fana.)

Salah satu efek samping senang berbenah adalah..  senang (membayangkan) membeli produk storage. Tiap kali berhadapan dengan setumpuk pilihan produk storage di AceHardware, Ikea atau Muji, sesi internal brainstorm dimulai. Kayanya rak ini cocok buat nyimpan buku-buku. Kayanya gue butuh kontainer ini buat nyimpan memento. Kayanya kotak ini lucu buat nyimpen perintilan gambar. Aduh aduh aduh mau beli semuanya!

Tinggal bersendiri juga jadi kemewahan buat kesenangan berbenah itu, karena saya tidak sedang berbagai ruang dengan siapapun. Otoritas dan wilayah yurisdiksi saya penuh. Tidak ada tangan yang mengganggu proses berbenah. Tidak ada mata yang mengugat rak, kontainer dan kotak-kotak penyimpanan pilihan. Myyyyy preeeeciousssss.

3) Jika Begini Maka Begitu

Hidup bersendiri ada kalanya cukup menantang. Menantang berimprovisasi, tepatnya. Kalau kondisi fisik mendadak turun dan gak ada nyokap yang punya tangan ajaib–sekali usap langsung sembuh. Kalau langit sudah gelap lalu listrik mati. Kalau teman-teman sibuk dengan kegiatan masing-masing di akhir pekan padahal saya sedang ingin bersama. Dan kondisi-kondisi lainnya yang memaksa saya sedikit kreatif.

Dua kondisi pertama sih cukup mudah diatasi, dengan stok obat dan lampu darurat. Kondisi terakhir cukup menantang saya untuk sedikit kreatif, untuk menemukan kebersamaan dalam kesendirian. Biasanya sih saya berlari ke fiksi dalam bentuk buku atau film; pada dua bentuk itu saya mendapat teman-teman alternatif. Atau kalau lagi punya cukup energi untuk bersosialisasi, saya bisa datang ke acara-acara atau sekadar menyatu dengan kerumunan manusia. Atau saya selalu bisa kembali ke zona aman bernama rumah.

Sudah tiga tahun saya bersendiri, dalam sepetak kamar kos ukuran tiga kali tiga meter. Waktu yang cukup untuk mengenal diri, mendengar suara sendiri, dan merasa nyaman bersendiri… dengan lebih baik.