​Kembali Ke Pasar Santa

Sabtu lalu saya main ke Pasar Santa, menyambangi Post Santa yang tengah menyajikan koleksi #BeyondHaruki (Murakami, tentunya). 

Terakhir saya ke sana, proyek pembangunan jalan layang di Wolter Monginsidi belum memperlihatkan wujudnya (baca: penyempitan jalan), parkiran pasar penuh mobil-mobil kelas menengah ngehe, dan tiap petak dan lapak di dalam pasar disesaki muda-mudi Jakarta dan sekitarnya.

Pasar Santa kini terlihat… muram, ditinggalkan orang-orang yang satu-dua tahun lalu rutin berkunjung. Banyak lapak yang tutup. Bahkan jajaran kedai makanan yang dulu membuat antrean mengular, kini terlihat lengang dengan hanya satu-dua orang duduk-duduk santai. Kemarin saya sempat menikmati nasi lidah sapi pedas dari salah satu kedai yang “merayakan” hari terakhirnya di sana.

Post sedikit berbeda. Nongkrong di sana selama dua jam, saya melihat belasan-dua puluhan wajah silih berganti masuk toko, berdiam sejenak, kemudian berlalu — beberapa di antaranya pulang dengan mengadopsi buku-buku dari Post. Saya menikmati mengintip barang dua-tiga bab isi beberapa buku, ditemani playlist yang nyaman didengar. Teddy, setengah dari nyawa Post, merekomendasikan beberapa judul buku dengan secuil storyline dan mood dari masing-masing buku. “Ini buku cerita anak. Manis, penuh nostalgia tahun 60’an bahkan untuk kita yang gak punya kemewahan hidup di masa itu,” katanya tentang Na Willa. “Kalau suka tulisannya Banana (Yoshimoto, maksudnya), coba baca ini deh. Ceritanya menarik. Cukup aneh. Tapi melankolis,” kali ini dia merekomendasikan The Bridegroom Was A Dog. (Guess what? Kedua buku itu akhirnya saya adopsi.)

Obrolan berlanjut dengan Maesy, setengah dari nyawa Post lainnya, dan Nisa, rekan Teddy dan Maesy yang terlihat menikmati waktunya mengurus lapak sambil membaca buku.

Menurut mereka Pasar Santa memang kehilangan banyak pengunjungnya secara umum, tetapi denyut gairah masih ada dan datangnya dari para pengelola lapak hobbyist dan para pengunjung setianya. Benar saja, lapak seperti Post, Sub-Store dan beberapa lapak dengan display mainan (yaitu, action figure dan kawan-kawannya) masih terlihat benderang dibandingkan sudut-sudut pasar lainnya.

Baru kali ini saya betah berlama-lama di Pasar Santa, bahkan hanya di satu lapak. Baru kali ini saya duduk santai menikmati bacaan dan obrolan dengan sesama penikmat buku tanpa merasa tergesa harus membayar atau memesan gelas kedua minuman kemahalan. (Oh, wait, saya pernah betah berlama-lama di Pasar Santa sebelumnya kok; before it was a hit.)

UPDATE: Kata teman saya, Teddy dan Maesy adalah dua pertiga dari Post. Apologise for the error.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked. *

Related articles