​Sekaleng Soda

Cklek.

Pssshh.

Ada sensasi menenangkan dari bunyi sekaleng minuman berkarbonasi yang baru dibuka. Ada harapan bahwa minuman itu akan membilas masalah yang tengah melumuri tubuh si peminum. Setidaknya itu caraku membalas tekanan dari luar yang mendesak ke dalam pikiranku.

Cara orang memang berbeda: ada yang memilih menyelubungi diri dengan asap bakaran tembakau, ada yang mengguyurnya dengan larutan berkafein, dan ada yang meleleh bersama cokelat. Buatku, minuman kaleng –kalau bisa yang bersoda– jadi teman bersembunyi.

Bersembunyi, karena aku tidak sedang berlari. Bersembunyi, karena aku butuh waktu bersendiri sebelum kemudian kembali ke permukaan dan menghadapi apapun atau siapapun yang perlu kuhadapi.

Sembunyiku pun tak perlu jauh-jauh atau menghabiskan banyak waktu. (Berapa lama sih waktu yang dibutuhkan seseorang untuk menghabiskan sekaleng minuman?) Cukup ke convenient store yang kini semakin banyak dan tersebar di hampir setiap persimpangan jalan. Cukup berbaur di tengah wajah-wajah asing, lalu mengambil posisi duduk yang tidak mencolok (misalnya di ujung meja dekat rak majalah) sambil menikmati pemandangan apapun yang disajikan di depan mata dari balik dinding kaca.

Seperti pemandangan wajah familiar yang memasuki gerai. Dia melihatku tapi terus berlalu ke arah lemari pendingin minuman. Aku mengamatinya dari balik pundakku. Sedang apa dia di sini?

“Bangku ini kosong, kan?” Tau-tau dia sudah di sampingku.

Kubuka telapak tanganku ke arah bangku di sebelahku. Silakan.

“Jadi lo suka ke sini kalo mendadak ngilang,” komentarnya sebelum kemudian membuka kaleng minuman pilihannya. Aku hening sejenak mendengar bunyi itu.

“Lagi ribet apa?” tanyanya lagi.

“Gak ribet apa-apa. Lagian, kalaupun ribet, gue gak perlu cerita ke lo,” jawabku sekenanya.

“Gak perlu. Tapi kalo lo mau cerita, gue mau dengerin kok,” komentarnya lagi. “Gue gak janji bisa bantu apa-apa sih. Tapi paling gak lo gak perlu ngobrol sama kaleng minuman doang.”

“Kenapa? Aneh?” Aku mulai terganggu dengan komentarnya.

“Gak kok. Yang aneh itu kalau kaleng minuman lo yang ngajak ngobrol duluan,” jawabnya asal. Aku tak bisa menahan senyumku atas usahanya melucu.

“Lo sendiri ngapain ke sini? Lagi ribet?” Tanyaku sebelum mereguk lagi minuman soda di tanganku.

“Gak kok. Gue ke sini khusus ngikutin lo.” Jawabannya membuatku berhenti meneruskan tegukanku. 

Kutatap matanya, mencari tau apakah ini usahanya melucu lagi atau bukan. Tak kutemukan jawabannya. Aku memang tidak terlalu mengenalnya.

“Kapan-kapan kita makan ramen bareng yuk! Lo suka ramen kan?” Tiba-tiba dia mencerocos tentang hal lain.

“Eh? Ramen? Mm…suka.” Dari mana dia tau aku suka makan ramen?

“Nanti gue kasih tau kapannya ya.” Dan dengan kalimat itu dia pun berlalu dari hadapanku.

Minuman soda di tanganku sudah berkurang dinginnya. Kubiarkan waktu berlalu sambil menyesap sisa minuman pelan-pelan. Dan mengingat-ingat seperti apa hubungan kami di tempat kerja? Karena sepertinya dia baru saja mendobrak masuk ke hidupku. Dan aku tidak nyaman dengan hal itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked. *

Related articles