A Tale of Three Cities (Jakarta-Bandung-Ciwidey)

Menyambut long weekend kemarin, saya dan 2 orang teman – Rini dan Anas – memutuskan untuk berpetualang ke Ciwidey.  Dan bukan tanpa alasan saya memakai kata ‘berpetualang’, karena perjalanan 2 hari 1 malam itu memberi tantangan tersendiri – setidaknya bagi saya.

Jakarta

Tantangan dimulai di ‘kampung halaman saya’; dimana kami mengalami kesulitan mencari tempat menginap.  Belasan penginapan di Bandung yang kami hubungi menjawab: a) sudah penuh, b) kalau booking 1 kamar 1 malam, datang saja langsung.  Hrr… Sampai akhirnya… Atasan saya di kantor membaca sebuah majalah otomotif yang memuat liputan touring sebuah klub mobil ke daerah Ciwidey.  Artikel tersebut merekomendasikan penginapan Kampung Pa’go (www.kampungpago.com) dan rangkaian wisata alam ke Kawah Putih, Ranca Upas dan Situ Patengan.  What a nice coincidence! :)  Beruntung kami masih mendapatkan kamar di Kampung Pa’go, dan beruntung mereka menerima booking untuk 1 kamar 1 malam.
Untuk transportasi, kami memilih menggunakan kereta api, for sentimental reason.  Kami tidak mengalami kendala berarti dalam pemesanan tiket kereta; semua berjalan sesuai rencana.  Sabtu subuh kami berangkat dengan kereta Parahyangan.  Rasa ngantuk dan lapar terobati dengan hamparan pemandangan sepanjang perjalanan ke stasiun Bandung – ini yang saya maksud dengan sentimental reason.  Rini sempat mengabadikan pemandangan tersebut dari kereta (nantikan di www.flickr.com/photos/rinidisini).

Bandung

Tiba di Bandung, kami sangat antusias untuk mencicipi makanan di Festival Kuliner Stasiun untuk sarapan.  Sayang, pagi itu acara belum dimulai; kami tiba satu jam lebih awal dari jadwal acara.  Jadilah kami brunch di rumah makan Ampera, tidak jauh dari stasiun Bandung.  Selesai brunch, petualangan berikutnya menanti.  Menjadi tantangan tersendiri untuk mencari tahu kendaraan menuju terminal Lewi Panjang.  Urban alias Urang Bandung sepertinya tidak mengenali daerahnya sendiri.  Ibu-ibu penjaga warung, tukang parkir, mas-mas pelayan restoran, bahkan sopir angkot yang kami temui secara acak selama di Bandung tidak dapat memberikan jawaban meyakinkan atas pertanyaan ‘Dari sini ke sana naik apa?’. Edan, pikir saya, karena ini bukan pertama kalinya kami mengalami kesulitan menanyakan transportasi lokal di Kota Kembang.  Hrr…
Bermodalkan jawaban ragu-ragu dari seorang ibu penjaga warung, kami berangkat menuju terminal Lewi Panjang dengan 2 kali angkot; pertama menuju Tegalega, kemudian lanjut ke terminal tujuan.
Dari Lewi Panjang, kami naik angkot L300 menuju terminal Ciwidey, seperti yang disarankan temannya temannya Rini.  Perjalanan menuju terminal Ciwidey mirip perjalanan dari Jakarta ke Puncak; panjang dan berliku.  Gila, saya membatin, seumur-umur belum pernah menempuh Jakarta-Puncak menggunakan kendaraan umum, sekarang keukeuh Bandung-puncaknya Bandung pakai angkot pula.  Perjalanan dari stasiun KA ke terminal Ciwidey menghabiskan total waktu kurang lebih dua setengah jam.

Ciwidey

Tiba di terminal Ciwidey, kami langsung didekati supir angkot yang menawarkan jasa carter.  Beuhh… agresif sekali mereka!  Setelah mencapai kata sepakat, kami berangkat menuju Kawah Putih, Ranca Upas dan Situ Patengan.
Perjalanan menuju Kawah Putih sendiri sudah memakan waktu cukup panjang; 20 menit dari terminal ke gerbang, dan 20 menit lagi dari gerbang menuju puncak.  Kondisi jalanan dari gerbang ke puncak pada awalnya baik, beraspal; tetapi, semakin ke atas semakin berbatu.  Dasar, aspal palsu!  Perjalanan off-road dari gerbang menuju puncak setimpal dengan pemandangan luar biasa di Kawah Putih, yang sebelumnya hanya dapat saya nikmati melalui foto-foto hasil jepretan orang lain.  Wisatawan tumpah ruah di sana.  Semua berebut mengabadikan pemandangan tersebut (dengan mereka sebagai model utama, tentunya).  Sesudah hampir dua jam berebut spot foto dengan pengunjung lain, kabut mulai turun dan mengaburkan jarak pandang kami.  Kami memutuskan bertolak ke tempat wisata berikutnya.
Perhentian berikutnya, bumi perkemahan dan penangkaran rusa Ranca Upas, rupanya tidak jauh dari gerbang Kawah Putih – masih dapat ditempuh dengan berjalan kaki.  Di sana kami melihat beberapa kelompok tenda telah ditegakkan.  Titel penangkaran rusa agaknya terkesan dilebih-lebihkan, karena yang kami lihat hanya beberapa ekor rusa – yang sepertinya mengikuti program keluarga berencana.  Selebihnya, hamparan pepohonan menjulang tinggi ditemani ilalang yang dibiarkan tumbuh liar alami.
Destinasi terakhir, Situ Patengan, lagi-lagi menghabiskan waktu kami di perjalanan.  Situ Patengan ternyata lebih indah dilihat dari atas, beberapa ratus meter sebelum tiba di pintu masuk.  Dari dekat danau terlihat jejak tangan para pengunjung; dengan torehan tangan dan sampah bungkus sisa camilan.  Bagoosss!  Situ Patengan pada akhirnya menjadi pemandangan yang jauh dari bayangan saya; jauh dari bayangan romantis yang disajikan ala film drama Indonesia yang mengambil lokasi di sana.

When the going gets tough

Perjalanan pulang dari Situ Patengan menjadi klimaks petualangan kami di hari itu.  Lagi-lagi saya berhadapan dengan ujian pengendalian emosi.  Perjanjian awal kami dengan supir angkot termasuk mengangkut 1-2 orang penumpang dalam perjalanan turun.  Ah, lidah memang tidak bertulang!  Angkot (yang seharusnya) carter kami mengangkut belasan penumpang.  Penuh orang.  Penuh barang.  (Sang kenek sampai bertengger di atas mobil!)  Kecewa.  Marah.  Murka.  Perjanjian yang berlandaskan rasa percaya antara kami dan si supir dengan mudahnya dikhianati.  (Bagaimana pariwisata negri ini mau maju, kalau wisatawan lokal saja diperlakukan sembarangan seperti ini?!)  Perjanjian awal menyetujui perjalanan bolak balik dari dan ke terminal Ciwidey, tetapi kami menawar mereka untuk mengantar kami sampai ke Kampung Pa’go – yang menurut petugas di sana berjarak 10-15 menit berkendara dari terminal.  Tiba di penginapan, kami melunasi bayaran angkot (yang seharusnya) carter sesuai harga kesepakatan awal. Si supir meminta lebih; mereka beralasan bahwa perjanjian awal hanya mengantar sampai terminal.  Persetan dengan perjanjian, mas! (saya tidak benar2 mengatakan ini kok) Gak usah ngomong perjanjian lah! Perjanian awal juga cuma ngangkut 1-2 penumpang, bukan belasan! (nah, saya benar2 mengatakan ini loh)
Kejadian tersebut meninggalkan kesan buruk di kepala saya tentang orang-orang setempat.

Ke Jakarta aku ‘kan kembali

Sisa hari itu kami tutup dengan beristirahat di penginapan.  Malamnya, kami sempat melihat-lihat keramaian kota di malam hari; kami menuju pasar malam Ciwidey yang terletak di (dekat) terminal lama Ciwidey.  Kehidupan sehari-hari di sana, menurut penuturan tukang ojek setempat, mulai sepi sejak jelang magrib.  Tak ada angkot, hanya ada ojek.  Lokasi yang kami tuju menyajikan deretan warung tenda, beberapa minimarket franchise dan gelaran pasar malam di Taman Kota Ciwidey.
Esok harinya kami menghabiskan waktu sampai siang di kawasan Kampung Pa’go; melihat-lihat fasilitas yang telah ada, dan pekerjaan bangunan fasilitas yang akan datang.
Puas berkeliling penginapan, kami ‘turun gunung’ menuju kota Bandung; sekali lagi melewati jalan yang panjang dan berliku.
Tiba di kota Bandung, kami tidak terkejut melihat bahwa kota ini telah diinvasi oleh pendatang dari Jakarta; terlihat dari barisan kendaraan bernomor polisi B; sangat tipikal pada kesempatan long weekend seperti ini.  Setelah menyempatkan diri menyambangi toko oleh-oleh a la Bandung dan makan siang di Festival Kuliner Stasiun (akhirnya), kami melepas lelah di stasiun KA, sambil menanti kedatangan Argo Gede dari Jakarta.
Pertanyaan ‘Apa yang membedakan Argo Gede dari Parahyangan Eksekutif?’ akhirnya terjawab seiring waktu.  Jawabannya adalah Doel Sumbang dan Benyamin Sueb! Hehehe.. Ya, Argo Gede menyajikan hiburan tambahan berupa lagu-lagu Doel Sumbang yang diputar saat masih di area Bandung, film drama/action non-box office, dan lagu-lagu Benyamin Sueb yang diputar saat memasuki area Jabodetabek.

Saya teringat jawaban teman saya – yang saat itu kuliah dan kost di Bandung – saat saya ajak ke Ciwidey: Mending lo pulang lagi aja ke Jakarta!
Sekarang, setelah saya akhirnya telah menginjakkan kaki ke Ciwidey, saya tidak bisa lebih setuju lagi dengan jawaban kawan saya itu: Mending gue pulang lagi ke Jakarta!  Buat saya, cukuplah saya merasakan manis pahitnya perjalanan Jakarta-Bandung-Ciwidey.  Setidaknya cukup untuk menambah koleksi cerita saya.  Dan Jakarta, seberadab/sebiadab apapun kehidupan di sini, masih menjadi tempat yang dengan bangga/sedih saya akui sebagai rumah.. sejauh ini!

PS: To Rini and Anas, next destination Green Canyon, maybe? ;)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *