Saya terpapar budaya Jepang sejak lama–dari membaca serial cantik; menonton Doraemon, Ksatria Baja Hitam, dan Sailormoon; mengikuti sedu sedan Ordinary People, Long Vacation, dan Beach Boys; sampai mengambil kelas Bahasa Jepang selama 2 semester semasa kuliah. Buat saya, produk budaya Jepang bukan barang baru lagi. Maka wajar jika jalan-jalan ke Jepang menjadi semacam ziarah budaya. Ziarah budaya ini akhirnya terwujud di akhir Oktober sampai awal November lalu dalam perjalanan yang saya sebut sebagai #AestesGTJ, alias Aestes* Goes to Japan. Kami menjelajahi Osaka, Kyoto, Tomonoura, dan Tokyo dalam 13 hari.

Untuk tips jalan-jalan ke Jepang, silakan cari di blog-blog atau media-media lainnya. Di sini saya hanya akan menceritakan hal-hal menarik yang saya temui selama #AestesGTJ.

Pemberhentian pertama kami adalah kota Osaka.

Sejak tiba di bandara Kansai kami sudah mengalami kebaikan dan keramahan warga Jepang yang bersedia membantu kami terlepas dari kendala perbedaan bahasa. Kebaikan berlanjut saat kami tiba di Stasiun Taisho menuju apartemen yang kami sewa lewat Airbnb di Chiyozaki. Seorang onna yang kami tanyai arah tidak segan-segan meninggalkan teman-temannya sesaat demi menemani menyeberang jalan menuju pemberhentian bus dan memberikan arahan. Kebaikan masih berlanjut saat kami tiba di kamar apartemen. Rupanya pemilik apartemen khawatir akan ketiadaan kabar dari kami; lewat SMS dia memastikan kalau kami telah tiba di apartemennya tanpa kesulitan. Hari sudah malam saat kami tiba di kamar. Perut sudah lapar. Handphone sudah terkoneksi dengan internet. Dari rekomendasi di Foursquare kami memutuskan mengisi perut di suatu restoran ramen, hanya beberapa ratus meter dari apartemen. Sayangnya kami salah lokasi dan malah masuk ke restoran sushi. Mengetahui kalau kami turis yang baru tiba di Osaka, ojisan koki dan ojisan tamu restoran dengan antusias mengajak kami ngobrol, yang kami ladeni dengan keterbatasan bahasa Jepang lisan dan bahasa isyarat. Malam pertama di Osaka sudah memberikan suasana hangat layaknya di rumah sendiri.

Hari-hari berikutnya kami belajar tentang logika berkereta di Jepang. Kegiatan berekereta masih terasa asing buat saya, yang sehari-hari memang bukan anak kereta dan belakangan lebih terbiasa menggunakan transportasi umum tapi terbatas semacam Uber atau GrabBike. Namun setelah dua-tiga kali menggunakan kereta di Osaka, saya mulai memetakan hal-hal apa saja yang perlu diperhatikan sebelum berkereta di sana: stasiun terdekat, stasiun terdekat dengan lokasi tujuan, harga tiket dari stasiun A ke stasiun B, pintu keluar terdekat dengan lokasi tujuan. Awalnya saya pikir kehidupan berkereta di Osaka cukup mudah, karena tiap-tiap stasiun yang kami kunjungi tidak terlalu kompleks; sampai akhirnya kami ke Stasiun Osaka dan mendapati empat puluhan jalur kereta. Waktu itu saya pikir situasi ini semacam gladiresik untuk kompleksnya situasi berkereta di Tokyo nanti.

Dari beberapa tempat yang sempat kami datangi selama di Osaka, saya paling menikmati berjalan-jalan di sekitar Kuromon Market dan Osaka Bay Area.

Kuromon Market karena pada dasarnya situasi pasar memang menarik; melihat dinamika keseharian warga lokal, termasuk melihat banyak makanan dan barang yang memang dikonsumsi sehari-hari. Di sekitar Kuromon Market pula kami mencoba salah satu restoran ramen yang nikmat di mulut dan di mata, karena mas-mas pelayannya macam begini:

#AestesGTJ Osaka Kuromon Market Ramen Guy

Osaka Bay Area karena suasananya lebih santai sekaligus menghibur. Osaka Bay Area ini tempatnya Osaka Aquarium (Kaiyukan), Tempozan Ferris Wheel, dan Universal Studios Japan. Di sana kami hanya naik Tempozan Ferris Wheel, channeling our inner Elliot vs Mr. Robot, dan melihat-lihat situasi di sekitar.

#AestesGTJ Osaka Tempozan Ferris Wheel #AestesGTJ Osaka Bay Area Mermaid

#AestesGTJ Osaka Bay Area Tempozan Ferris Wheel

Tempat terakhir yang kami sambangi adalah Cafe Do Toyo, hanya beberapa puluh meter dari apartemen tempat kami menginap. Kafe kecil ini dikelola oleh pasangan obachan dan ojichan, dan hanya buka pagi sampai jelang siang. Sambil sarapan kopi, roti dan telur, kami mengamati bahwa pengunjung kafe ini adalah senior citizen yang sepertimya memang pelanggan tetap yang cukup akrab dengan pemiliknya. Sekali lagi kendala perbedaan bahasa tidak menghalangi interaksi kami. Kafe kecil ini terasa hangat. Saat pamit keluar toko untuk melanjutkan perjalanan #AestesGTJ ke Kyoto saya merasa seperti pamit ke kakek dan nenek sendiri.

Obachan and ojichan run this small vintage Cafe Do Toyo in Chiyozaki, Osaka. The customers were senior citizens, except Astrid and me. #AestesGTJ #peopleofjapan

*Aestes adalah duo Astrid Simatupang dan Tere Suganda yang terbentuk demi berduet bernyanyi dan berukulele di suatu rumah kos pada suatu Sabtu sore yang gerimis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *