Anger Management

Kalau ada dalam kurikulum pendidikan lokal, Anger Management pasti saya pilih sebagai program studi.

Nyatanya ilmu manajemen itu hanya ada di sekolah kehidupan. Dan setiap hari ada ujian praktik.

Kalau kamu mengenal saya cukup baik, kamu akan tahu seperti apa saya pada saat marah.

(Tenang.. Berubah jadi besar & hijau bukan diantara ciri-cirinya.)

Sejauh saya bisa menganalisa diri, ada 2 level marah: 1) marah ekstrovert, 2) marah introvert.

Marah ekstrovert, seperti namanya, terlihat di permukaan; dengan kata & perbuatan yang meletup-letup. Marah yang pertama ini berpotensi menyakiti perasaan orang lain, yang berujung menyakiti perasaan diri sendiri. Tapi amarah ini seperti hujan yang turun sesaat lalu berhenti tiba-tiba.

Lain halnya dengan marah introvert. Pada level ini biasanya saya kehabisan kata-kata, karena tidak menemukan pilihan yang tepat untuk diucapkan. Menarik diri dari orang-orang di sekitar, menangis atau melampiaskan kekesalan pada objek di sekitar biasanya turut menandai kebiasaan di fase ini.

Pada saat-saat terpuruk inilah saya butuh ruang lebih besar untuk menenangkan diri, mengkonsolidasi hati & pikiran yang bertentangan, menenangkan jiwa & raga. Yes, I need you guys to back off a little while.

Saya sadar, menjelaskan prilaku diatas bukan berarti justifikasi untuk sikap & reaksi. I just need your cooperation, so we can communicate better ;-)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *