Bagaimana Jika Dia…

Kalau kamu lewat Semanggi, coba tengok kanan dan kiri. Kalau beruntung, kamu akan melihat dia yang telah lama berdiam di sana.

Kulitnya legam terbakar matahari. Wajahnya tirus termakan hari. Tubuhnya liat, maklum dia pekerja yang giat.

Tapi itu dulu, sebelum siksa menyerang pikiran. Sebelum dia menjadi musafir tak tentu arah, berkelana cuma dengan bercelana.

Sekarang, dia hanya nama dalam kenangan keluarganya. Yang katanya tak tega, tapi memilih memalingkan muka.

Dia hanya rupa yang tak pernah kita sapa, suara yang terdengar murka, tubuh yang kehilangan jiwa.

Namun.. bagaimana jika kita menerima dia dengan tangan terbuka? Bagaimana jika dia.. adalah bagian dari kita?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked. *

Related articles