Balada Banjir

Kamis, 17 Januari, pagi saya bangun dan mendapati rumah kebanjiran. Ya, banjir sudah masuk ke dalam rumah. Rencana hari itu terpaksa larut bersama debit air banjir yang fluktuatif.

Banjir bukan barang baru buat keluarga saya. Kami sudah kenyang mendapat jatah “banjir lima tahunan”. Tahun 2012 yang kami lewati tanpa jatah banjir rupanya hanya pemberi harapan palsu. Jatah banjir hanya ditunda.

Hujan, banjir dan imbas keduanya berkeadilan sosial bagi seluruh warga Jakarta dan sekitarnya. Dan seperti yang sudah-sudah, banjir dilanjutkan dengan stok pangan yang menipis, pemadaman listrik, dan kacaunya sinyal selular – yang sebenarnya tak terelakkan.

Tapi momen banjir kali ini terasa berbeda.

Saya, warga kelas menengah ngehe yang mampu beli gadget canggih, jalan-jalan ke luar negeri, makan minum enak, nonton konser, naik turun taksi… masih saja kebanjiran. Masih belum mampu menyediakan tempat tinggal yang lebih baik untuk keluarga. Apanya yang ngehe kalau begini?

20130202-151954.jpg

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *