Buktinya malam ini saya terpaksa pulang berjalan kaki dari 1 kilometer terakhir menuju rumah.

Semua gara-gara pengaspalan seruas jalan yang tidak taktis! (Siapapun dalang dibalik pekerjaan umum ini, brengsek kamu!)

Perlu saya jelaskan kalau rumah saya (tepatnya milik orang tua saya) berada di daerah perumahan penduduk dengan akses terbatas, dan cenderung menyesatkan.

Akses pertama: Hadiah. Ini akses yang paling nyaman, khususnya untuk kondisi pulang malam menggunakan taksi (selanjutnya disebut kondisi nokturno). Jalur dua arah, sehingga pak supir taksi ini gak perlu bingung lewat mana akses kembali keluar ke jalan raya. Dan nyaris tidak pernah ditutup, kecuali saat kerusuhan Mei 1998, dan — sialnya — malam ini, karena mau diaspal ulang itu tadi.

Akses kedua: Latumeten II. Ini akses yang paling ‘cemen’. Bulan belum juga tinggi, dia sudah pasang portal. Pun satu arah. Jalur keluarnya yah lewat akses pertama itu tadi. Jadi kalau kondisi nokturno, saya menghindari akses ini.

Akses ketiga: Empang Bahagia. Jalanannya memang lega. Tapi satu arah. (Kalau nekat sih bisa saja melawan arah, asal siap diprotes massa.) Sama pun. Jalur keluarnya yah lewat akses pertama itu tadi.

Kalau kebetulan pak supir familiar dengan daerah ini sih saya gak keberatan bawa dia berputar-putar dulu. Cuma pekerjaan berikutnya adalah menjelaskan bagaimana cara keluar dari sini — yang bunyinya kurang lebih: oke, dari sini bapak lurus, ketemu perempatan belok kanan, ketemu pertigaan belok kiri, ikutin jalan terus, ketemu pasar inpres belok kiri, dari situ ikutin jalan terus, baru deh ketemu jalan raya.

Semua berawal dari ketidaktegasan oknum pekerjaan umum saat menutup jalan Hadiah. Kalau ditutup, ya sekalian larang saya lewat situ dong. Lah ini, saya gertak ‘Rumah saya di dalam Pak,’ dikasih lewat.

Jadilah taksi yang saya tumpangi masuk ke dalam. Kemudian terhenti dan mengambil jalur berputar, menghindari kendaraan besar yang tengah membersihkan ruas jalan Hadiah di bagian medio. Sialnya, jalur berputar yang saya pilih pun ditutup pagar digembok tanpa ada petugas yang berjaga. Yuk, balik arah, keluar lagi ke jalan raya dan coba masuk dari akses lainnya. Sialnya lagi, jalur keluar ke jalan raya ditutup pagar pun. Digembok pun. Tanpa ada petugas yang berjaga pun.

Muka saya pasti sudah gak kendali di titik kejadian itu. Mas-mas warung indomie saya paksa cari orang yang megang kunci gembok pagar itu. Or else.

Saya pikir, kasian juga kalo pak supir ini saya bawa memutar ke akses ketiga cuma untuk mendapati jalur keluar via akses pertama sudah ditutup untuk pekerjaan umum ini. Yah sudah lah. Saya tutup transaksi malam ini di sini.

Sisanya, dari situ saya berjalan kaki saja.

Sudah saya bilang kan kalo muka saya pasti sudah gak kendali di titik kejadian itu?

Di tengah jalan, saya melewati beberapa orang yang sepertinya terlibat dalam skenario dogol pengaspalan jalan Hadiah. Eh, berani-beraninya dong salah satu dari mereka usil bilang ‘Kasian pulang jalan.’ (Kalo di film-film, adegannya bakal seperti ini: saya berbalik arah ke oknum itu dan bilang ‘You don’t mess with me. You just don’t.’) Karena ini bukan film, saya cuma bilang ‘Gak usah kasian segala, lo urusin aja tuh jalanan yang bener.’

Dan kenapa ini harus terjadi saat saya lagi centil bersandal hak 5cm?

Sudah dulu ya misuh-misuhnya. Saya kangen kasur.

One thought on “Banyak Jalan ke Roma. Tidak Sebanyak Itu ke Rumah Saya.

  1. saya beraharap adegan aksi di bagian terakhirnya :))
    tapi memang kadang suka gitu. apalagi mo pilkada ato apalah…liat aja abis aspalnya jadi, ada poster parpol ato sejenisnya ga :)

    hikmahnya: jalan kaki baik untuk kendali jantung :D

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *