Bertindak dan Merasa

Awal bulan lalu saya membagikan lewat Path e-poster program “Act & Feel, Pertolongan online untuk depresi di Indonesia”. Saya terpanggil untuk mengikuti program tersebut karena ada kalanya saya merasa seperti bola karet dalam genggaman yang terlalu erat dan berada di ambang beberapa kemungkinan–pecah, gembos, atau melontar entah ke mana. Ada masanya saya merasa perlu berkonsultasi dengan psikolog; sayangnya gangguan kesehatan psikis belum masuk kategori medical reimbursement, so … yeah, I am that cheap.

Setelah mendaftar dan menjawab cukup banyak pertanyaan, saya lolos seleksi awal dan lanjut ke sesi interview. Jika lolos sesi interview, saya akan diikutsertakan ke dalam program ini. Saya lolos. (Sesungguhnya, saya merasa bangga sekaligus terhenyak; ternyata kondisi saya memang masuk kategori depresi.)

Singkatnya, program pertolongan online ini mengandalkan kemandirian masing-masing peserta dalam mengelola kondisinya. Tiap peserta diberi akses login ke website; diminta mengikuti modul mingguan yang berisi informasi, ilustrasi, dan tugas; dan didampingi seorang konselor (yang didampingi seorang psikolog dalam kegiatan konselingnya).

Konselor yang ditugaskan mendampingi akan memonitor tugas-tugas di modul dan diizinkan mengontak peserta lewat jalur pribadi. Tiga hari pertama, konselor saya menghubungi lewat WA, menanyakan kabar saya hari itu (dan megingatkan untuk menjaga perasaan positif). Awalnya jengah juga ada yang tiap hari menanyai kabar saya; emak bapak saya saja tidak setiap hari berkirim pesan. Lagi pula, saya sudah terlalu lama sendiri, sudah terlalu lama tidak ditanyai kabar.

Memasuki Minggu Ketiga

Masih terlalu awal untuk menyimpulkan “khasiat”-nya, karena program ini memang didesain untuk jangka panjang. Keikutsertaan saya di studi ini saja setidaknya akan berlangsung selama beberapa bulan.

Namun tugas-tugas selama tiga minggu ini cukup membantu saya, khususnya dalam memonitor diri secara lebih obyektif. Sederhananya, saya diminta mengisi skema harian yang berisi kegiatan yang dilakukan dan perasaan yang dialami saat kegiatan itu berlangsung. To act and to feel. Bertindak dan merasa. Tugas dalam modul online hanya meminta sampel tiga hari dalam seminggu, tetapi karena saya merasa skema ini efektif, saya bawa ke seharian dalam jurnal analog; membaca pola di balik apa, siapa, di mana, kapan, kenapa, dan bagaimana pada tiap situasi.

Saya gak akan bilang saya yang sekarang adalah versi diri yang lebih baik dibandingkan dua-tiga minggu lalu. Saya sedang menikmati perjalanan menyelami diri sendiri, dengan harapan saat suatu hari saya merasakan sesak dan bertanya diri “Gue kenapa sih?”, saya tahu bagaimana menjawabnya dan dapat melakukan sesuatu untuk melepaskan diri dari perasaan sesak itu.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked. *

Related articles