Biar Kanak-Kanak Datang Kepadaku

Hampir dua tahun saya menjadi umat “gelap” di Gereja St. Yohanes Penginjil, sejak saya menghuni rumah persinggahan beberapa kilometer dari sini.

Ritual ibadah di tiap gereja Katolik umumnya sama, mengikuti tata laksana standar dari “pusat”. Walaupun ada sedikit penyesuaian di masing-masing gereja.

Salah satunya adalah ritual pemberkatan untuk anak-anak yang belum menerima Sakramen Ekaristi. Kalau di gereja asal saya — gereja di mana saya terdata sebagai umat — ritual tersebut tidak ada. Umat yang sudah menerima sakramen dan yang belum akan sama-sama berbaris maju ke pastor atau prodiakon untuk menerima sakramen atau berkat. Mereka yang belum menerima sakramen cukup menangkupkan tangan menyilang di dada. Ini jadi kode pembeda.

Sementara di gereja di sini, anak-anak yang belum menerima sakramen akan menunggu giliran sesudah penerimaan sakramen ekaristi. Pada kesempatan pertama saya melihat ritual yang berbeda ini, lagu Biar Kanak-kanak Datang KepadaKu mengiringi berkat dari pastor untuk anak-anak. Yang menarik justru adegan anak-anak itu maju ke arah altar. Mereka berlarian memekik kegirangan seperti puas setelah lama menunggu giliran mereka untuk maju. Beberapa dengan berani langsung maju; beberapa lainnya — entah malu-malu atau malah malas — baru melangkah setelah mendapat gestur “ayo maju” dari orangtuanya.

Adegan seperti ini berulang tiap kali saya ke gereja. Dan adegan ini selalu memancing saya tersenyum. Senangnya jadi anak-anak. Dengan pikiran masih polos; belum terkorupsi. Mereka menerima berkat dari imam layaknya menerima kado istimewa.

Kapan kita saya, yang katanya orang dewasa, terakhir kali berlarian memekik kegirangan seperti akan menerima kado istimewa? Ataukah kita saya takut kalau berlarian memekik kegirangan tidak terlihat dewasa? Ataukah kita saya tidak lagi melihat hal-hal biasa — seperti berkat dari pastor — sebagai kado istimewa?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked. *

Related articles