Breakfast At Tiffany’s

And I said what about Breakfast at Tiffany’s?
She said I think I remember the film
And as I recall I think, we both kind o’ liked it
And I said well that’s, the one thing we’ve got
-Deep Blue Something

Tiap hubungan, baik itu pertemanan, pekerjaan, apalagi percintaan, pasti punya Breakfast At Tiffany’s masing-masing — setidaknya satu hal yang menyatukan kedua pihak.

Kalau hubungan pekerjaan cukup jelas disatukan oleh tujuan bersama (atau tujuannya klien?). Walau kadang sering perjalanan untuk mencapai tujuan bersama tidak selalu satu jalan, bisa jadi berselisih jalan malah. Saat keadaan mulai ngaco, kita selalu bisa berhenti sejenak dan ngobrol baik-baik dan mengingat-ingat kembali kalau sebenarnya kita punya tujuan bersama. Selalu bisa. Belum tentu selalu dilakukan.

Hal yang menyatukan hubungan percintaan juga cukup jelas: bercinta. (Eh, bukan itu doang ya?) Dan walaupun tau-apa-sih-gue-soal-cinta-cintaan, survey membuktikan kalau Breakfast At Tiffany’s-nya urusan percintaan tergolong paling jelas; I want you and you want me, we’re gonna make a big family. Or a small one. Size doesn’t matter. Oh, wait, sometimes size does matter. Saya yakin kalian lebih ngerti soal cinta-cintaan dan hal-hal terkait till-death-do-us-apart lainnya.

Nah gimana dengan hubungan pertemanan? Gak ada tujuan bersama (kecuali konteksnya memang lagi merencanakan jalan-jalan bareng). Gak ada klien yang bisa diomongin di belakang. Gak ada urusan ranjang dan selangkang (kecuali memang kesepakatannya demikian). Gak ada cicilan yang ditanggung bersama. Kita bahkan gak pernah bikin janji sampai-ajal-memisahkan-kita sama teman-teman kita.

Menurut saya hubungan pertemanan adalah yang paling rentan di antara ketiga hubungan ini, karena kekurangan tujuan bersama. Tapi sekaligus yang paling subur. Kesamaan-kesamaan kecil saja sudah bisa memupuk dan menggemburkan hubungan, sehingga menjadi bunga dan buah yang bisa dinikmati sepanjang musim. Kalau cukup kuat melewati pancaroba, bunga dan buah ini malah bisa dinikmati sepanjang tahun.

Oh, lo tuh anaknya temennya omnya kakak iparnya sepupunya tetangga gue toh!

Loh, lo suka baca Murakami? Gue juga! Gue punya buku-bukunya lengkap.

Asli! Lagu-lagunya KoC emang paling pas buat road trip kaya gini!

Berawal dari six degree of separation atau kesamaan minat seperti ini saja ada kalanya sudah cukup sebagai pondasi pertemanan. Ada kalanya. Karena di lain waktu, kesamaan-kesamaan sebesar apapun (seolah kesamaan memang bisa diukur kecil besarnya), bisa jadi gak cukup sebagai bahan untuk merajut hubungan pertemanan.

Tiap hubungan, baik itu pertemanan, pekerjaan, apalagi percintaan, pasti punya Breakfast At Tiffany’s masing-masing. Tinggal bagaimana menjadikan Breakfast At Tiffany’s ini (tetap) relevan dalam suatu hubungan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked. *

Related articles