Jumat malam lalu saya mengikuti #kelaskreatif yang diadakan oleh Akademi Berbagi. Kelas malam hari itu mengambil tema Creative Writing dan dibawakan oleh Djito Kasilo — yang, konon, adalah legenda hidup di dunia periklanan.

Djito Kasilo ialah seorang marketing communication strategic planner yang sudah malang-melintang di Indonesia. Ia memulai karirnya pada tahun 80-an di Matari Advertising Jakarta, advertising agency nasional terbesar. Kemudian ia menjadi Creative Director beberapa agensi seperti Binamark, Fortune Indonesia, Poliyama, maupun Hotline Advertising. Ia terakhir menjadi Creative Director TBWA Indonesia, advertising agency kaliber dunia yang berpusat di New York. Kini, dia menjadi Branding Consultant dan Creative Partner di beberapa perusahaan.

-sekilas profil pak guru Djito hasil copy/paste dari sini

Kalau kamu kira saya akan bercerita tentang kelas malam itu, maaf.. kamu akan kecewa. Yang akan saya ceritakan di posting ini adalah secuil-pesan-tidak-penting-tapi-mengena.. setidaknya buat saya :D

Consumer Insight jadi salah satu poin yang dibahas dalam presentasi pak guru Djito. Kalau saya tidak salah mengartikan yah.. consumer insight adalah upaya mengenali karakter target komunikasi (atau, lebih spesifik, target audience); mengidentifikasi pikiran atau perasaan mereka yang mengarah pada tingkah laku. Umumnya, pikiran atau perasaan ini terjadi dibawah kesadaran seseorang.

Tentang ‘alam bawah sadar’ ini, pak guru Djito menceritakan preferensinya pada warna cokelat.

Contoh kasus #1: Pak guru Djito sedang mengaudisi peserta kontes (kecantikan, sepertinya) dan mendapati salah satu dari 3 finalis terlihat mencolok di matanya; sementara rekan-rekan kerjanya sepakat memilih kontestan yang lain. Saat mempertimbangkan ulang kontestan ini, beliau pun sepakat kalau peserta yang sebelumnya ia pilih sebenarnya kalah set dengan peserta pilihan rekan-rekannya.

Contoh kasus #2: Pak guru Djito sedang meeting dengan klien (atau calon klien) dan merasa bahwa kliennya ini terlihat menarik. Tapi pada sesi meeting berikutnya, beliau merasa kalau kliennya itu sebenarnya bisasa-biasa saja, tidak se-menarik itu.

Usut punya usut, rupanya si kontestan di contoh kasus #1 dan si klien di contoh kasus #2 terlihat mencolok dan menarik karena mengenakan pakaian berwarna cokelat pada saat pertama. Saat mereka tidak mengenakan pakaian berunsur cokelat, mereka justru terlihat biasa saja.

Nah.. inilah yang dimaksud dengan pikiran atau perasaan yang terbentuk dibawah sadar. Semoga saya tidak salah menyimpulkan. :D

Saya sendiri memiliki ‘kecenderungan’ yang hampir sama. Bedanya, bukan pada unsur warna cokelat, tapi pada unsur berikut…

Dia kelihatan keren kan..

Bukan karena kaos Rockstar atau rambut bergelombangnya.. (walaupun memang tambah keren sih..)

Coba yang satu dua ini..

*mimisan*

Atau yang ini..

*pingsan*

Bahkan yang ini..

Woof you :D

Yes. Faktor K.

Selain faktor Karisma, rupanya faktor Kacamata mempengaruhi preferensi saya. Tidak melulu sih.. Tapi orang berkacamata cenderung terlihat lebih menarik di mata saya (yang tidak berkaca).

Tidak sembarang kacamata sih..

Tidak yang seperti ini..

Atau yang seperti ini..

Yasudahlah. Sudah saya bilang kalau posting ini tidak penting kan..

Oia. Saya sudah bilang belum kalau pak guru Djito Kasilo berkacamata? Jangan-jangan ini yang membuat saya ‘memperhatikan’ presentasinya ya? :D

8 thoughts on “Bukan Sembarang Empat Mata

  1. huaaaaaaaaa… kau menginspirasi saya untuk berkata jujur dalam blog. Kau suka yang berkacamata, aku suka yang bersuku Jawa. *mulai menulis*

  2. Bagaimana dengan harry potter? Kau kan tidak suka dengan filmnya :D (ini pertanyaan nyambung ga sih?) Sayang juga kacamatanya kadang tidak berlensa.

    Btw, kenapa yah kita bisa memiliki kecenderungan seperti itu? Apa ada gunanya? Ini kan membuktikan bahwa kita menyukai pria-pria yang bermasalah dengan penglihatan. Bukan begitu? Hahaha

    1. Hmm.. Harry Potter ya? Kepalang gak ngikutin series-nya nih.. Tp Harry Potter oke jg berkacamata. Plus ‘codet’ kilatnya :B
      “Sayang juga kacamatanya kadang tidak berlensa.” « Maksudnya kacamata bolong, gituh? Kalo iya, nganeh juga tuh, hehehe..

      Gakpapa kok pria-pria yang bermasalah dengan penglihatan. Asal jangan bermasalah dengan pikiran, perkataan, perbuatan. #eaaa
      Sent from my BlackBerry®
      powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *