Cinta Itu Hal Kecil

Cinta itu hal kecil…

Cinta itu hal kecil seperti menyimpan utuh Pepsi yang diberikan si senior ganteng dari klub sepakbola saat antrianmu diselak senior dari klub basket.

Cinta itu hal kecil seperti menyimpan box cokelat yang sudah meleleh karena ditaruh diam-diam di atas motormu yang diparkir dibawah terik matahari. Bahkan saat kamu tahu box cokelat itu dari si junior berwajah aneh.

Cinta itu hal kecil seperti menyimpan kancing yang tersisa dari perkelahian si senior ganteng dari klub sepakbola vs senior klub basket gara-gara antrian Pepsi. (Bertahun-tahun kemudian kamu baru tau kalau kancing itu bukan milik si senior ganteng ^^)

Cinta itu hal kecil seperti menanam pohon mawar putih dan mendokumentasikan pertumbuhannya. Setelah mawar putih tumbuh dan berkembang, di hari Valentine kamu mencabutnya sampai ke akar dan memberikannya ke junior berwajah-aneh-yang-kini-menjelma-cantik, tetapi dengan bodohnya kamu bilang bunga itu titipan seorang teman.

Cinta itu hal kecil seperti diam-diam memotret wajah si junior berwajah-aneh-yang-makin-hari-makin-cantik. Menyimpan tiap lembar fotonya dalam sebuah notebook. Sebelum meninggalkan kota, kamu meletakkan notebook itu di depan rumahnya.

Cinta itu hal kecil. Yang kemudian berkembang menjadi hal besar.

Setidaknya itu yang saya ‘dapat’ dari film teenage love affair ala Thailand menggemaskan berjudul Crazy Little Thing Called Love (alias A Little Thing Called Love, alias First Love).

Ceritanya seputar cinta-cintaan Nam, si junior berwajah aneh yang kemudian menjelma cantik, dan Shone, si senior ganteng dari klub sepak bola pecinta fotografi. Saling suka, saling berusaha menyatakan perasaan, saling memendam perasaan.. selama bertahun-tahun.

Sekali lagi film romantis komedi dari negeri Gajah Putih berhasil memikat perhatian saya. Mungkin karena ceritanya yang ringan, alurnya yang mengalir, karakternya yang manusiawi, komedi slapstiknya. Atau mungkin karena hal kecil seperti Mario Muarer yang gantengnya bikin saya merasa lahir terlalu cepat. :D

It’s a happy ending, by the way. 9 years later destiny meets them. Just in time, when they are all grown up, yet still keeping the sparkling feeling.

Cek juga movie traillernya di sini.

Posted with WordPress for TwirasBerry.

1 Thought.

  1. paling suka scene pas Shone buka buku hasil stalking-nya dan flashback.aaaa… walopun agak ngeri ya ngeliat buku isinya poto diri sendiri hasil ‘kuntitan’ orang lain.haha.. Indahnya kehidupan remaja..hihihi.. *mesem-mesem jijay*

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *