Tentang Mencintai Produk Lokal

Beberapa waktu yang lalu Ibu di perusahaan tempat saya bekerja “menantang” beberapa pekerja perempuan untuk menggantikan dia mengisi program Indie Mom di U-FM Jakarta. Our mission, should we accept it, is to share anything digital and social media marketing-relevant to mom-preneur to support their small-medium business. Saya dan Stefani lantas menjawab tantangan tersebut.

Di program itu kami bertemu perempuan-perempuan jagoan — jago membelah diri antara keluarga dan bisnis yang mereka geluti — dan cerita-cerita menarik dari perjalanan berbisnis mereka. Banyak di antara mereka yang menawarkan produk-produk handmade — dari selai dan kue sampai aksesoris, tas dan sepatu; dan baru di episode hari ini kami berbagi cerita dengan mom-preneur yang menawarkan jasa wedding organizer.

Khususnya dari cerita bisnis produk, saya mendapati perspektif baru. Dulu saya bertanya mengapa produk lokal mahal. Sekarang, setelah mendengar cerita “perjuangan” di balik setoples selai, seuntai kalung atau sepasang sepatu, pertanyaan tersebut terjawab dengan sedirinya. Banyak proses yang terjadi di balik sebuah produk handmade lokal, mulai dari ide kreatif, riset, trial-error, menentukan standar kualitas, rekrutmen dan training karyawan, produksi, sales, distribusi, after-sales, sampai promosi dan detil-detil lainnya. Maka harga yang terkesan “mahal” itu jadi terasa “sudah selayaknya begitu”.

Usaha kecil menengah (UKM) ini mau tidak mau harus berhadapan dengan merek-merek (banyak di antaranya impor) yang sudah mapan. Konsumen dihadapkan pada pilihan: A) membeli produk bermerek dengan iklan yang tersebar di berbagai media dan outlet yang tersebar di berbagai mal, atau B) membeli produk merek lokal yang baru merintis, yang masih mengandalkan social media sebagai media dan rumah-merangkap-outlet yang berada di pinggir kota. Agak ekstrim ya? Tapi begitulah.

Seorang teman baru-baru ini bercerita kalau dia sempat ingin membeli sebuah tas kulit domba dari sebuah merek lokal. Namun kemudian dia mengurungkan niatnya karena komunikasi yang dilakukan dengan pemegang merek tersebut via social media tidak berlangsung dengan baik. Menurut teman saya, si pemegang merek terkesan tidak bersahabat saat menanggapi pertanyaan-pertanyaannya. Singkat cerita, akhirnya teman saya ini memutuskan membeli tas bermerek — dengan penggunaan bahan kulit domba yang tidak seberapa — karena kemudahan berupa pelayanan yang ramah.

Amat disayangkan. Untuk teman saya dan si pemegang merek. Kalau saja teman saya itu memberi “kesempatan kedua” kepada pemegang merek ini, mungkin dia bisa merasakan empati yang saya rasakan terhadap usaha kecil menengah ini. Kalau saja si pemegang merek berkomunikasi lebih baik, mungkin mereka sudah punya setidaknya satu lagi pelanggan yang puas.

Kalau saja mencintai itu mudah. (Nah loh, kok jadi bahas cinta?) Ya karena memang begitu.

Kita sebagai konsumen perlu memberi peluang untuk bisa mencintai produk-produk karya pengusaha lokal, sementara para pengusaha perlu memberi peluang agar produk dan jasa mereka (termasuk consumer servicing) bisa dicintai.

Semua itu memang butuh waktu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked. *

Related articles