Tadi malam, dalam perjalanan pulang menggunakan layanan Uber, seperti biasa saya duduk di kursi penumpang depan, di samping kursi sopir.

Sambil menyimak jalanan, menikmati musik yang mengalun dari suatu stasiun radio, dan sesekali mengintip keriaan yang dibagikan di teman-teman media sosial, pak sopir menyeletuk, “Wah, jadi canggung nih. Ibu duduk di depan, saya jadi bingung mau ngobrol apa.”

Saya balas, “Tenang Pak, saya menikmati hening kok.”

Ini hipotesis saya: dalam situasi berbagi ruang dengan orang lain–apalagi orang yang kita kenal, insting bertahan kita sebagai makhluk sosial adalah mengajak bicara orang tersebut; memecah keheningan canggung (awkward silence) yang terbangun. Maka terciptalah little talks.¬†(Padahal¬†belum tentu orang lain itu sedang ingin diajak bicara.)

Begini…

Saya pun ada masanya ingin memecah keheningan, apalagi saat saya berada bersama orang yang ingin saya kenal lebih baik. Saya mencoba memahami karakternya lewat percakapan. (Karena inti hubungan antar manusia ada pada komunikasi, kan?)

Lalu, setelah saya merasa mengenal orang tersebut, saya jadi tahu kapan saya perlu mengajaknya bicara dan kapan saya perlu menikmati hening bersama-sama.

Iya. Ini kondisi ideal.

Kenyataannya, saya lebih sering “diserang” little talks saat bersama orang yang tidak saya kenal (seperti sopir Uber itu), atau yang saya kenal sambil lalu (misalnya rekan kerja). Wajar. Mereka tidak kenal saya; mereka tidak tahu kalau saya ada kalanya lebih memilih diam dalam hening daripada obrolan basa-basi.

Namun, saya juga ingin mengajukan saran untuk situasi keheningan canggung (jika kamu belum pernah mencobanya):

  1. Biarkan orang lain itu menikmati hening, karena di dunia ini ada loh orang-orang yang menikmati hening;
  2. Kamu juga, coba deh nikmati hening, karena di dunia yang sudah bising ini, kamu pun butuh berada dalam hening walau sesaat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *