Dari Balik Layar Media Sosial

Apa yang terjadi saat seorang yang kurang luwes bersosialisasi nekad terjun bebas ke dunia-di-balik media sosial?

Banyak yang terjadi. Setidaknya selama 4 bulan lebih belajar di 2 sekolah digital yang berbeda.

Media sosial memang bukan barang baru. Setidaknya dengan memiliki akun Facebook dan Twitter, saya merasa sudah menapakkan kaki di zona media sosial.

Entah kenapa zona ini baru secara meluas dikenal sebagai media sosial setelah demam Facebook menjangkiti warga lokal; kenapa tidak sejak zaman Friendster disebut demikian? (Atau saya saja yang salah pengertian?)

Berinteraksi di dalamnya, saya kemudian melihat banyak brand yang turut memanfaatkan media tersebut untuk kepentingan komunikasi. Dasar norak, saya jadi penasaran: ngapain aja sih orang-orang di balik layar komunikasi via media sosial ini?

Singkat kata singkat cerita..

Juni lalu jadi awal perjalanan saya mencari tau jawaban atas keingintahuan itu. Saya bergabung dengan salah satu digital agency. Tidak banyak yang saya alami di sana; belum sempat mengalami yang terbaik atau terburuk. Maklum, saya hanya sempat menjamah laptop nganggur di sana selama 1 bulan — kemudian memutuskan untuk pindah ke digital agency yang lain. Tapi 1 bulan itu jadi bekal cukup untuk mempelajari kurikulum serupa-tak-sama di sekolah digital lain yang saya hadiri sejak Juli.

Ternyata.. dunia di balik media sosial tidak se-sederhana tampilan akhirnya. Melibatkan briefing, brainstorming, pitching, proposal, presentasi, editorial plan, approval (dan disapproval), revisi, eksekusi, kuis/kontes, application back-end, monitoring, response, key performance index, blablabla.. All as a package.

Sampai semester ini, mata pelajaran yang saya ambil baru mencakup beberapa diantaranya. Dua mata pelajaran dengan bobot terbesar adalah Editorial Plan dan Kuis/Kontes.

Editorial Plan. Istilah ini sempat membuat saya terkecoh. Membuat saya merasa menjadi editor sebuah media; memegang kendali atas isi media yang saya jual. Well, seharusnya memang demikian.. sepertinya. Pada pelaksanaannya.. saya belum sampai ke sana. Sebagian besar (kalau tidak dapat dibilang seluruhnya) isi EP adalah status update untuk media sosial yang diberdayakan — yang sejauh ini berkutat seputar Facebook, Twitter dan forum semacam Kaksus. Kalau boleh saya lancang, kegiatan merangkai kata menjadi kalimat menjadi paragraf ini sebelas-duabelas dengan kegiatan seorang copywriter. (Oke, kalau para copywriter ‘darah murni’ di luar sana protes, saya ralat menjadi copywriter ‘darah lumpur’.) Latihan di kelas editorial plan ini berkutat dengan ‘what to say’ dan ‘how to say’ yang disesuaikan dengan karakteristik target audience (baca: fans, followers, members). Lebih tricky saat merangkai status untuk Facebook dan Twitter, karena dibatasi jumlah karakter maksimum untuk satu kali update. Di sinilah tantangannya: bagaimana meramu message menjadi efektif dalam keterbatasan ruang ketik.

Baru-baru ini saya menghadiri kelas social media di #akademiberbagi yang difasilitasi oleh @pasarsapi. Di sana saya sempat bertanya mengenai efektifitas status nan panjang yang dibuat bersambung/berseri (baca: dicicil dalam beberapa kali update). Menurut pandangan @caturpw, cara seperti itu tidak efektif. O ow, berarti saya sudah beberapa kali melakukan ketidakefektifan nih :D

Lain Editorial Plan, lain pula Kuis/Kontes. Kelas yang satu ini bahkan lebih menggila karena rupanya fans dan followers di luar sana masih suka gratisan! Hehe.. Saya juga suka sih.. Tapi, berhubung jadi admin, mana bisa menang di kuis/kontes sendiri :D

Beberapa kali mengangani administrasi kuis/kontes di Facebook dan Twitter, saya menemui banyak nama yang lu-lagi-lu-lagi. Sepertinya mereka hobi (atau jangan-jangan bermata pencaharian) hunting kuis. Tidak hanya di akun-akun yang saya tangani, tapi nyaris di semua akun yang mengadakan kuis. Dan adaaa aja tingkah laku para kontestan ini; dari yang sopan sampai yang brutal, dari yang nothing-to-lose sampai yang maksa menang. (Hey, kalau kalian baca ini, ingat di perkuisan ini admin berkuasa! Haha..) Saking seringnya mereka ikutan kuis, saya mulai hafal nama dan muka beberapa orang yang menang lagi menang lagi di akun yang berbeda.

Saking seringnya menangani kuis/kontes, saya mulai terbiasa dengan sebutan ‘mbak-mbak kuis’. Malahan, dari obrolan singkat dengan mas-mas MC pada sebuah acara launching produk — yang kebetulan mengundang para pemenang kontes yang saya tangani, saya jadi berpikir untuk mengukuhkan diri sebagai Ani Sumadi-nya media sosial. Hahaha.. (Buat yang gak familiar dengan nama tersebut, coba tanya Uncle Google ya..)

Masih banyak mata pelajaran yang belum saya ambil di sekolah digital ini. Entah berapa lama saya akan bertahan di dunia di balik media sosial ini. Untuk saat ini saya hanya bisa berkata ke diri sendiri: jalanin aja dulu..

Posted with WordPress for BlackBerry.

One comment

  1. Kebanyakan memang yang di belakang layar itu tidak seindah yang tampak di bangku penonton. dan hanya orang-orang tertentu yang punya nyali besar untuk memutuskan bergelut di belakang layar dengan semua kesibukan and all the messy things.
    “masih banyak mata pelajaran yang belum diambil”, istilahnya kalo di kampus kan harus menyelesaikan beberapa mata kuliah dasar dulu baru bisa ambil yang laen bahkan skripsi. Semangat!!! semoga lulus tepat pada waktunya! (kalo S1 4 tahun lhooo :D)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked. *

Related articles