Tentang Perjalanan Dari Lombok Sampai Rote (2)

Setelah sukses terombang-ambing di Laut Flores selama empat hari tiga malam tanpa mengalami mabuk laut, saya dan dua travelmates berlabuh lalu meneruskan trip overland Pulau Flores.

 

Berlabuh di Labuan Bajo

Saat kami merapat ke darat, hujan mengguyur Labuan Bajo sampai malam. Tidak sulit mencari penginapan di Labuan Bajo, cukup keluar dari pelabuhan dan susuri Jl. Soekarno Hatta. Banyak penginapan, tempat makan dan tour organizer berserakan di jalan itu. Kami mengambil kamar di Hotel (dan Restoran) Matahari yang menghadap ke arah laut. Selain tempat menginap dan tempat makan, hotel ini juga menyediakan layanan cuci kiloan. Jadilah saya dan travelmates memanfaatkan layanan ini untuk membersikan pakaian basah dan bekas pakai selama empat hari sebelumnya.

Kami menggunakan waktu lengang untuk regroup dan menentukan ke mana kaki kami akan melangkah di pulau ini. Salah satu destinasi yang ingin kami kunjungi selama overland adalah desa adat Wae Rebo. Namun, karena keterbatasan tenaga, waktu, dan dana, kami sepakat untuk merelakan Wae Rebo keluar dari itinerary kami. Sehingga yang tersisa dari itinerary awal adalah Ruteng, Bajawa, Moni (dan Kelimutu), dan Ende.

Malam itu kami menyempatkan makan layak di restoran Tree Top yang menyajikan seafood. Salah satu menu yang kami pesan dan kami nobatkan menjadi juara adalah teri pedas. Iya, teri pedas seperti pada umumnya. Mungkin teri pedas ini menjadi istimewa setelah empat hari sebelumnya kami makan ala kadarnya.

Hari kedua di Labuan Bajo kami diberkahi sinar matahari yang melimpah. Cuaca sangat mendukung…. untuk mengeringkan cucian kami, dan mengeksplorasi kota pelabuhan ini. Area Labuan Bajo sendiri terbilang kecil, dengan satu trayek angkot (yand di sini disebut bemo) pergi-pulang. Tidak banyak yang bisa dilihat atau dilakukan di sini; maklum Labuan Bajo adalah wilayah transit untuk mereka yang ingin mengeksplorasi Flores baik darat maupun laut. Salah satu tourist attraction di sini adalah Gua Batu Cermin yang dapat dijelajahi dalam 1-2 jam saja. Beberapa area dinding di dalam gua terlihat berkilauan karena kandungan mineral yang mengristal.

Setelah melihat beberapa opsi penyelenggara tour overland di sepanjang Jl. Soekarno Hatta, kami akhirnya sepakat menggunakan jasa Christian Adventure Tour untuk perjalanan 3 hari 2 malam menelusuri Pulau Flores sampai Ende. Jasa tour sudah mencakup biaya bensin Avanza dan sopir. Perjalanan akan dimulai pagi esok harinya. Di waktu yang tersisa di Labuan Bajo, kami sempat menyusuri jalan-jalan kecil di sana, menikmati bakso Malang Pak Sardi (yang asli Bojonegoro), menikmati rembang senja dari Restoran Matahari, makan malam di pusat jajanan, dan menyaksikan rangkaian keriaan MTQ yang berlangsung hari itu.

 

Overland Flores

Perjalanan overland Flores dari Labuan Bajo sampai Ende akan ditempuh dalam 3 hari 2 malam. Beruntung kami mendapatkan jasa sopir Bang Marcel (atau Marsel) yang mengantarkan kami menggunakan mobil Avanza ke tempat-tempat wisata yang kami sepakati dengan pihak penyelenggara tour dengan nyaman.

Perhentian pertama trip overland ini adalah Desa Melo di Manggarai Barat. Sebuah area dengan rumah tradisional di tengahnya berfungsi sebagai ruang penerimaan tamu (baca: turis) sekaligus menjadi taman baca dan viewing point. Di sana kami disambut Papa dan Mama yang tengah menjamu sekeluarga turis asing. Kami dipersilakan mengambil posisi di atas bantal duduk yang dibungkus anyaman daun pandan, lalu Papa menyalami kami satu per satu sambil mengucapkan kalimat sambutan selamat datang. Tak lama, Mama mengyuguhi kami dengan kopi buah panen kebun di desa itu.

Menyenangkan sekali rasanya bersantai sejenak di rumah itu.

Setelah berpamitan dengan Papa dan Mama, kami melanjutkan perjalanan ke Ruteng. Sepanjang perjalanan di Pulau Flores, saya pikir Ruteng adalah tanah yang paling subur; dengan hamparan sawah yang menghasilakan panen yang baik dan mata air (kami memang tidak menjelajahi mata air di sana, tapi air minum dalam kemasan bermerek Ruteng yang kami beli sepanjang perjalanan kami di sana cukup menjelaskan).

Yang paling terkenal dari Ruteng mungkin sehamparan sawah  berbentuk jaring laba-laba. Untuk melihat bentuknya dengan jelas, kami perlu mendaki bukit sejauh beberapa puluh meter. Perjalanan kami ke atas bukit ditemani Vera (atau Fera) yang kemudian saya titipkan sebuah buku cerita, sebagai bagian dari gerakan #1Traveler1Book.

Di atas bukit kami bertemu dengan 2 anak lainnya, yang sedang beristirahat sejenak dalam perjalanan pulang setelah mengambil kayu bakar di sisi lain desa. Beristirahat sejenak di atas bukit sambil menikmati pemandangan sawah dengan bentuk unik mungkin jadi pengalaman yang biasa saja untuk mereka, tapi tidak untuk kami yang biasa menikmati (?) pemandangan kemacetan.

Dari Ruteng kami menempuh perjalanan cukup panjang untuk mencapai Bajawa. Kami tiba di Bajawa saat malam, dan mengalami sedikit kesulitan mencari hotel yang masih menyediakan kamar, padahal jumlah hotel di sana tidak sedikit.

Jadwal kami di hari kedua trip overland Flores cukup padat, menjangkau beberapa tempat wisata sekaligus dalam perjalanan menuju Desa Moni di kaki Gunung Kelimutu di malam harinya. Desa Bena (atau juga disebut Kampung Bena) di Kabupaten Ngada menjadi salah satu destinasi yang menawan; memperlihatkan secuil keseharian orang-orang Bajawa. Desa yang terbentuk dari 45 rumah ini menghasilkan di antaranya kain songket, kerajinan anyaman daun pandan, biji vanila, kemiri dan kayu manis. Di sana kami sempat ngobrol dengan seorang Mama yang di usia lanjut masih tetap produktif menghasilkan kain songket. Proses produksi kain songket berukuran besar (standar kain sarung) bisa memakan waktu satu bulan. Dalam perjalanan ke Desa Bena, kami menyaksikan cantiknya Gunung Inerie di kejauhan.

Untuk masuk ke Desa Moni, kami melewati Kota Ende terlebih dahulu. Jalan utama yang kami lewati (dari Labuan Bajo) sampai Ende melewati beberapa titik kemacetan. Tapi bukan karena padatnya kendaraan, melainkan karena kendaraan harus bersabar mengantri truk-truk yang datang dan pergi mengangkut bebatuan yang dikeruk dari dinding bukit di salah satu sisi jalan.

 

BONUS

  • Selama perjalanan 11 hari ini, makan layak jadi sebuah “kemewahan” buat kami, sisanya… ya makan supaya gak lapar aja. Hampir tidak ada makanan khas, kecuali cabe yang semakin ke timur semakin pedas.
  • Jangan bayangkan hotel-hotel yang kami tempati seperti hotel-hotel berbintang sekian yang selama ini kamu tau. Hotel-hotel di sana tersedia dengan fasilitas seadanya, dengan harga yang terbilang tidak murah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked. *

Related articles