Tentang Perjalanan Dari Lombok Sampai Rote

kalender mei 2014

Gak ada bulan yang lebih ajaib di tahun 2014 selain Mei, sepertinya. Bulan penuh berkah buat pekerja kantoran dengan jatah cuti tahunan terbatas seperti saya. Bermodal cuti lima hari, saya dan dua orang travelmates pergi menjelajah Flores dan sekitarnya, dari Pulau Lombok sampai Pulau Rote, selama sebelas hari. Begini ceritanya…

 

ALL ABOARD!

Kamis pagi kami berangkat dari Jakarta ke Lombok. Sempat mencicip pedasnya nasi balap puyung di depan Bandara Lombok Praya. Lanjut ke headquarters Kencana Adventure Tours di Senggigi untuk mendaftar ulang paket. Perjalanan live on boat (LOB) selama 4 hari 3 malam kami mulai dari Labuan Lombok. Kapal berukuran kurang lebih 20 meter x 4 meter itu memuat 24 orang (4 di antaranya adalah traveler asing) dan 6 kru kapal. Fasilitas di atas kapal yang sudah termasuk dalam paket tur: life jacket, snorkeling gear, matras, bantal dan selimut, makan 3 kali sehari, kopi dan teh sepuasnya, air mineral 5 botol 1,5 liter per orang.

Matahari sudah tinggi saat kami mulai mengarungi lautan. Pemberhentian pertama kami (menurut itinerary tur) adalah menikmati sunset dan kawanan kelelawar di Gili Bola. Tapi, seharian itu saya lebih banyak menghabiskan waktu di atas matras, memulihkan kondisi tubuh yang mulai dikhianati usia. Menurut travelmates, sepertinya kami memang tidak berhenti di Gili Bola petang itu.

Pagi di hari kedua, kapal merapat ke Pulau Moyo untuk trekking ke air terjun. Sebenarnya spot ini juga cocok untuk snorkeling, tapi sepertinya para peserta LOB ini belum bersiap sedia untuk nyemplung. Kami lebih banyak menghabiskan waktu di air terjun, setidaknya untuk sekadar berbilas setelah sehari kemarin kami lalui tanpa bertemu air tawar. Saya sendiri bukan penggemar olahraga air karena tidak belum bisa berenang sehingga tidak nyaman berlama-lama di dalam air. Dari Pulau Moyo kapal bertolak ke Pulau Satonda, tempat yang lebih nyaman untuk snorkeling. Di tengah pulau Satonda terdapat danau air asin dengan pemandangan hijau-hijau — hijau lumut di tepian danau dan hijau pepohonan yang mengelilinginya. Menurut percakapan yang beredar, pulau ini dikelola pihak swasta, dengan fasilitas kantin dan kamar mandi umum (dengan air tawar). Untuk masuk ke pulau ini, kami dikenai biaya tambahan Rp 20.000 per orang, di luar biaya paket LOB.

Hari itu kapal menepi di masing-masing pulau dalam waktu yang terbatas, sekitar satu setengah sampai dua jam di tiap-tiap pulau, selebihnya kapal mengangkat jangkar. Sore itu kapal berangkat menuju Gili Laba yang memakan waktu tempuh 18 jam. Kebanyakan peserta LOB, selesai makan malam langsung makan obat anti mabuk supaya dapat tidur nyenyak malam itu.

Gili Laba (atau juga disebut Gili Lawa) adalah “pintu gerbang” memasuki Pulau Komodo dan Pulau Rinca. Atraksi utama di Pulau Gili Laba adalah trekking ke puncak bukit untuk menyaksikan pemandangan kepulauan di sekitarnya secara 360 derajat. Kedua travelmates tiba di puncak dan menyaksikannya. Sementara saya merasa cukup (kelelahan) dan berhenti di dua per tiga perjalanan.

Dari Gili Laba kapal bertolak ke Pink Beach (atau juga disebut Pantai Merah) di Pulau Komodo. Pasir putih bertemu serpihan koral merah menjadikan pantainya terlihat kemerahan. Di sini kapal tidak boleh merapat ke pantai, sehingga peserta LOB bisa langsung nyemplung ke laut lalu berenang-renang ke tepian. Atau, untuk yang tidak sanggup berenang sejauh itu, bisa nego perahu-perahu kecil (yang sebenarnya berjualan cinderamata) ntuk mengantarkan ke pantai.

Dari Pink Beach kami pindah ke sisi lain Pulau Komodo, tepatnya ke Loh Liang, pintu masuk ke Taman Nasional Komodo. Rombongan kami cukup beruntung karena dapat mengiringi (iya, mengiringi!) seekor komodo berukuran cukup besar berjalan kaki selama beberapa puluh meter. Komodo itu tiba-tiba hadir saat ranger sedang yang menemani kami sedang menjelaskan tentang taman nasional dan tata krama di dalamnya. Rombongan terbagi dua; pertama mengiringi dari depan, yang kedua mengiringi dari belakang komodo.

Perjalanan hari ketiga berakhir dengan melepas jangkar dan bermalam di dekat Pulau Kalong. Malam itu kami menikmati langit gelap bertabur bintang (yang kata seorang teman, seperti wijen pada kue onde-onde, saking banyaknya). Sayang kami tidak “kebagian” seekor kalong pun. Saya dan beberapa peserta tur juga sempat menjajal permainan dadu “kanabul” yang diajarkan kakak beradik dari New Zealand. Sementara beberapa perserta tur lainnya sibuk berdebat akan nasib seekor ikan yang berhasil dipancing salah satu awak kapal.

Hari keempat dimulai dengan berlabuh di Loh Buaya, pintu masuk Pulau Rinca. Pulau Rinca memiliki populasi komodo yang lebih sedikit dibanding Pulau Komodo, tetapi dengan luas area yang lebih kecil penyebaran komodo di pulau ini jelas lebih padat. Terbukti nyata saat kami memulai trekking di pulau ini ditemain ranger setempat. Lebih banyak komodo yang kami amati dari dekat di pulau ini. Kondisi alam Pulau Rinca juga lebih menantang dibanding Pulau Komodo, dengan luas area trekking terbagi menjadi tiga level: short, medium dan long. Kami menempuh jalur trekking medium, demi mengejar jadwal. Trek medium ini memiliki bukit yang fotogenik sekaligus menjadi viewing point.

Dari Pulau Rinca kapal lanjut ke Pulau Kelor, tempat untuk sekali lagi snorkeling. Sayang (atau syukur?) dalam perjalanan hujan turun cukup deras. Saya sih mensyukuri air hujan yang bisa dimanfaatkan untuk berbilas, setelah sekian lama di laut hanya ketemu air asin. Hanya sayangnya pemangan menuju dan di Pulau Kelor jadi agak kelabu.

Pulau Kelor jadi pemberhentian terakhir sebelum kami mengakhiri perjalanan 4 hari 3 malam di lautan dan menepi di Labuan Bajo. Sebenarnya paket yang ditawarkan adalah 4 hari 4 malam, yang mengizinkan peserta menginap semalam lagi di atas kapal yang menepi di pemberhentian terakhir di Labuan Bajo. Hampir semua peserta LOB, kecuali 2 orang kakak beradik dari New Zealand itu, turun kapal dan meneruskan perjalanan masing-masing dengan biaya akomodasi masing-masing.

Dari sini perjalanan saya dan travelmates akan berganti dari lautan ke pegunungan.

Simak kelanjutan cerita saya di sini ya.. [BERSAMBUNG]

 

 

 

BONUS

  • Paket LOB Kencana Adventure Tours hanya berangkat tiap Senin dan Kamis. Jadi pastikan tiket pesawat ke Lombok yang kamu booking sesuai dengan itinerary tour.

3 comments

    1. wah.. thanks infonya, Mbak. foto-foto lainnya aku embed dari flickr. nanti aku cek deh, kenapa gak tampil begitu :)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked. *

Related articles