Dari Terbit Matahari

Pekan lalu saya mendapat kesempatan berjalan-jalan ke Maluku, disponsori oleh #SunriseProject yang digagas Think.Web. #SunriseProject adalah kegiatan internal kantor yang mendorong thinkers untuk lebih banyak berbagi pengetahuan tentang apapun, khususnya tentang digital dan online, lewat berbagai jalur. Thinkers mengumpulkan sharing mileage yang kemudian dapat di-redeem dengan jatah sharveling alias sharing sambil traveling. (Dan walaupun saya sudah tidak aktif di Think.Web, saya masih mendapat jatah sharveling.)

Maka berangkatlah saya, empat orang thinkers dan bu bos ke Maluku pada 14-18 September lalu; pak bos menyusul kami karena belum bisa move on dari panggilan pekerjaaan.

Pantai Ora

Senin dini hari kami terbang dari Jakarta ke Ambon; dilanjutkan perjalanan darat ke Pelabuhan Tulehu; menyeberang dengan kapal feri ke Pelabuhan Amahai di selatan Pulau Seram; membelah pulau ke negara Saleman di utara Pulau Seram; lalu menyeberang lagi ke Pantai Ora, tepatnya ke Ora Resort.

Tiga hari pertama kami habiskan dalam perjalanan dan menikmati Pantai Ora dan sekitarnya. Kami menempati satu-satunya cottage besar dengan tiga kamar tidur, ruang tengah dan balkon yang dapat disinggahi perahu cepat. Hari-hari di Ora Resort masih dibatasi dengan aliran listrik yang terbatas, dari matahari tenggelam sampai matahari mulai tinggi. Gak masalah buat saya, toh provider yang saya pakai tidak menjangkau area tersebut; smartphone otomatis menjadi alat untuk mencatat dan memotret.

Pantai Ora memang paling cocok untuk snorkeling — menurut para penikmat kedalaman air laut, tentunya. Untuk yang masih belum akur dengan air laut seperti saya, pemandangan di atas permukaan laut juga cukup menghibur. Menginap di Ora mengajak saya untuk slow down, mundur sesaat dari rutinitas yang bikin jiwa dan raga kaku; menikmati pemandangan laut dan gunung dan langit, menikmati makanan sederhana tapi menggugah selera, menikmati heningnya alam, dan permainan kartu yang gak akan pernah selesai.

IMG_20150916_062544 IMG_20150915_163738IMG_20150915_082146 IMG_20150915_120844

Ambon Manise

Kembali ke kota Ambon seperti kembali ke rutinitas, karena agenda kami untuk bersilaturahmi dengan rekan-rekan di sana cukup padat rupanya. But first…

Mencicipi sajian khas Ambon jadi prioritas, tentunya. Setidaknya kami sempat mencicipi rujak di Natsepa, papeda ikan kuah kuning dan pisang goreng dengan sambal di sela-sela perjalanan kami ke sana ke mari. Dari banyak warung rujak di Natsepa, kami mampir ke Rujak Natsepa Mama Nona Tualahuru yang menurut rekan sekaligus pemandu tur kami selama di Maluku adalah  yang paling enak. Dan memang enak. Rujak bikinan Mama Nona Tualahuru berlimpah bumbu kacang. Mereka mencampur kacang yang digiling halus dan kacang yang ditumbuk kasar, meninggalkan rasa gurih pedas yang menggugah selera untuk nambah.

Saya baru sempat mencicip papeda ikan kuah kuning pada makan malam terakhir di Ambon. Paduan bubur sagu diguyur ikan dan kuah kuning terlihat cukup sederhana tapi kaya rasa. Orang-orang Ambon pandai mengolah ikan dengan pilihan bumbu-bumbunya; setiap restoran seperti punya ciri khas rasa yang berbeda. Selama lima hari  di sana kami menyantap ikan lagi ikan lagi, tanpa merasa jenuh. Walaupun pada makan siang terakhir memang akhirnya kami menyerah pada ayam goreng tepung yang bisa take away demi mengejar jadwal terbang  pesawat.

Camilan pisang goreng di sana jadi istimewa berkat pendampingnya: sambal. Kedai Sibu-Sibu, kafe yang kami kunjungi dalam rangka silaturahmi, menyajikan pisang goreng polos (tanpa baluran tepung) dengan sambal asam pedas — mirip rasa cuka pempek khas Bangka. Makin sedap diiringi open karaoke lagu-lagu Ambon Manise tentunya.

IMG_20150916_150159 IMG_20150916_142732IMG_20150917_193413 IMG_20150916_174036

Selain kulinernya, Ambon juga diberi langit yang luar biasa. Menikmati pemandangan matahari tenggelam di Ambon sekadar dari depan rumah/kantor HekaLeka saja sudah indah; apalagi dari ketinggian, tepatnya dari area Tugu Christina Martha Tiahahu, sambil memandangi hamparan bangunan kota. Sepertinya Tuhan menghabiskan lebih banyak waktu saat mendekorasi langit di atas Maluku; dengan detil yang lebih kaya warna.

IMG_20150916_162945 IMG_20150916_161909 IMG_20150916_161938 IMG_20150916_162029

Dan pantainya. Pada suatu sore kami sempat mampir untuk sekadar leyeh-leyeh di Pantai Liang, di utara Pulau Ambon. Sayangnya memang pantai ini seperti terbengkalai. Banyak area gubuk untuk berjualan yang seperti sudah lama ditinggalkan; tangga semen menuju dermaga sudah setengahnya termakan ombak. Padahal suasana di pantai ini cukup menyenangkan. Pantai pasir putihnya teduh dipayungi pepohonan lebat; sewa tikar, lalu pesan pisang goreng dan kopi panas, maka bengong-bengong sore pun jadi maksimal. Di satu sisi, laut dibatasi tembok pemecah ombak; di sisi lain garis pantai memanjang nyaman untuk dipijak. Sejauh mata memandang kita bisa melihat kapal feri menyeberang ke arah Pulau Seram. (Konon pemda setempat sedang mencari investor untuk menyewa dan mengelola pantai ini; yuk patungan!)

IMG_20150917_141648 PANO_20150917_141419

#SunriseProject

Agenda utama kami selama di Maluku adalah berbagi dengan adik-adik di Poltek Negeri Ambon tentang industri digital. Satu per satu kami maju dan bercerita hal-hal yang kami ketahui tentang bisnis di era digital, peran perempuan di industri ini, menulis, memotret, dasar logika programming dan promosi di media digital ke sekitar dua ratusan mahasiswa lintas jurusan. Ternyata adik-adik ini pun cukup antusias dengan materi yang kami bagikan; sesi tanya jawab pada masing-masing topik mengambil porsi waktu yang cukup lama.

IMG_20150917_100037 IMG-20150917-WA0003

Agenda kedatangan kami ke Maluku berikutnya adalah Bioskop Bisi-Bisi, kerjasama Bioskop Bisik dan HekaLeka yang mengajak rekan-rekan tuna netra menikmati film bersama para relawan pembisik. Pembisik menemani rekan tuna netra untuk bisa menikmati film dengan mendeskripsikan adegan (khususnya yang tanpa dialog); membawa dunia visual ke telinga rekan tuna netra.

Seperti para tuna netra, saya untuk pertama kalinya menonton Cahaya Dari Timur: Beta Maluku. Film yang digarap dengan baik tentang semangat bangkit dari perpecahan antar saudara satu darah lewat sepakbola. (Kecuali pada logat Ambon yang dibawakan pemeran utama yang, menurut rekan kami, terlalu dibuat-buat: Logat Ambon tida begitu, kakak!) Menonton film ini jadi semakin relevan setelah kami berkenalan Maluku selama beberapa hari.

IMG_20150918_063813 IMG_20150918_073250

Perjalanan Ini

…tentunya belum lengkap tanpa drama.

Bahkan pada hari terakhir, agenda kami masih padat; berpindah dari satu tempat ke tempat lain — selatan ke utara ke selatan — sambil menjaga kecepatan untuk mengejar pesawat pulang. Salah satu mobil yang kami gunakan sempat mogok, dua kali, dalam perjalanan ke dan dari downtown Ambon ke salah satu titik di garis Pantai Morela. Kunjungan ke Pantai Morela berlangsung cukup singkat padat; beberapa sempat menikmati pemandangan bawah laut dan semua menikmati bekal makan siang (bersebelahan dengan para pekerja tambang Masela, sepertinya).

IMG_20150918_131002 PANO_20150918_142929

Buat saya, perjalanan ke Maluku kali ini sekadar perkenalan, karena baru menyentuh beberapa titik di Maluku, apalagi dengan itienary yang cukup padat. Sementara Maluku sendiri masih punya Pulau Banda, Pulau Kei dan banyak alasan untuk dikunjungi kembali.

 

CATATATAN TAMBAHAN:

  • Salah satu airline yang melayani jalur Jakarta-Ambon adalah Batik Air, jasa penerbangan kelas-yang-lebih-atas dari Lion Air dengan leg room yang lebih lega (bahkan untuk kelas ekonominya), in-flight meal dan in-flight entertainment. Coba selipkan earphone ke kantung atau tas kabin, untuk mengisi waktu perjalanan sambil mendengarkan musik atau menonton. Batasan bagasi Batik Air per tas/paket adalah 30kg; timbang baik-baik paket yang kamu bawa ya. Dalam perjalanan ini kami membawa paket buku untuk diserahkan ke rekan HekaLeka di sana; salah satunya berbobot 40kg. Jika kamu kebetulan melihat pemandangan enam orang membongkar ulang kardus pada suatu tengah malam di Terminal 1C Soetta, mungkin kamu telah bertemu kami.
  • Paket menginap di Ora Resort sudah termasuk sewa mobil jemputan dari airport ke Tulehu, tiket feri dari Tulehu ke Amahai, sewa mobil dari Amahai ke Ora Resort, perahu cepat dari Saleman ke Ora, penginapan tiga hari dua malam, tiga kali makan dan satu kali camilan sore, dan sewa perahu cepat ke lokasi wisata di Ora: Tebing dan Air Belanda.
  • Buruh panggul barang di Pelabuhan Tulehu cukup agresif; menempel ke mobil, mengintip barang bawaan kita. Jika kamu tidak berencana menggunakan jasa mereka, tegaskan sejak awal kamu menjejakkan kaki di sana ya.
  • Ora Resort tidak menyediakan minuman soda maupun beralkohol maupun camilan semacam mie instan calam cup. Kalau kamu berencana minum-minum atau ngemil-ngemil di sana, pastikan kamu membelinya paling lambat di kota Masohi, dekat Pelabuhan Amahai.
  • Provider yang “aman” untuk perjalanan ke Maluku: Telkomsel. Namun, jika kamu memilih untuk tidak dapat dihubungi, kamu selalu bisa menggunakan airplane mode; matikan airplane mode hanya saat kamu perlu menghubungi atau mengupdate status.
  • Mode transportasi yang tersedia di Ambon: angkot dan taksi —  mobil pribadi yang melayani jasa angkutan layaknya Uber, tanpa aplikasi.
  • Kopi kenari rupanya cukup populer di Ambon. Jika kamu menikmati kopi seperti saya, coba sempatkan waktu mencicip kopi kenari ya.
  • Salah satu oleh-oleh khas Maluku adalah minyak kayu putih. Menurut rekan kami, minyak kayu putih yang paling mantap adalah dari Pulau Seram.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked. *

Related articles