Daruma

Adalah dia yang bermata satu
yang pertama mendengar doaku
walau dia tanpa telinga

Sering matanya yang hanya satu
beradu tatap dengan kedua mataku
Dan kedua mataku selalu kalah,
dipecundangi dia si wayang semata

Sering tanganku jahil mengguncang tubuhnya
yang kecil bundar, tanpa kaki tanpa tangan
Dan selalu tubuhnya yang kecil kembali
menghadapiku dengan nyali yang besar

Maka kupindahkan dia dari hadapanku
ke tempat lain di ujung kakiku
berharap kelak aku lupa pernah ada dia di depanku
Namun lagi-lagi aku gagal
Karena dia selalu ingat cara menemukanku

Doa apa yang kubisikkan kepadamu
sehingga kau begitu keras kepala
mengingatkanku padanya?
Padahal aku ingin lupa

Hari ini kutambahkan mata kedua
pada wajahmu yang biasa saja
Kubuat kau istimewa
dengan warna mata yang berbeda

Paling tidak kau kini melihatku
dengan cara yang berbeda
Paling tidak aku kini melihat doaku
lewat matamu (yang sebelumnya satu)
dengan cara yang berbeda

Aku, kau, doaku
kita tidak lagi sama

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked. *

Related articles