Dear Ibu Yatni

Apa kabar Ibu?

Sudah lama sekali sejak kita pertama bertemu di SMAN78 Jakarta, di tahun 1998. Ingatan saya tentang tahun-tahun di 78 agak samar. Maklum, sudah 10 tahun lebih berlalu. Tapi ada hal-hal yang saya ingat, salah satunya tentang Ibu.

Pertama, tentu saja keberadaan Ibu dan beberapa guru lain di kegiatan Rokat (Rohani Katolik). Komunitas murid & guru Katolik memang terbilang kecil. Saya ingat Ibu & Ibu Titisari adalah 2 diantara guru wanita yang selalu menyertai kami dalam kegiatan komunitas, seperti retreat di tahun 2000 ini…

Saya ingat Ibu mengajar Bahasa Indonesia. Saya lupa persisnya kelas bersama Ibu itu di tahun ke berapa.

Dari jaman sekolah sampai sekarang, Bahasa Indonesia jadi mata pelajaran yang paling rumit ya Bu. Rumit karena Bahasa Indonesia itu sendiri yang rumit.

Salah satu kerumitan Bahasa Indonesia jadi pertanyaan saya ke Ibu, yaitu tentang kapan kita menggunakan kata ‘dia’, kapan menggunakan kata ‘ia’. Saya lupa jawaban Ibu waktu itu. Sekarang pun saya hanya bisa berasumsi tentang penggunaan dua kata ganti orang ketiga itu.

Seingat saya, Ibu penggiat karya sastra. Pada salah satu kelas, Ibu memperkenalkan nama Seno Gumira Ajidarma. Dan Ibu terdengar antusias saat memperkenalkan nama itu. Waktu itu nama tersebut sekadar nama yang harus saya kenal sebagai bagian dari mata pelajaran. Siapa sangka ya Bu, sekarang saya justru berkenalan dengan nama-nama penulis karya sastra lainnya tanpa ‘paksaan’. (Psst, tahu gak Ibu, saya pernah beli buku kumpulan puisi Sapardi Djoko Damono. Jangan tanya saya makna masing-masing puisinya. Saya tidak se-sastra itu, Bu.)

Dari semua ingatan samar saya tentang guru-guru di 78, ingatan paling kuat tentang Ibu ada di tahun ketiga.

Waktu itu Ibu jadi wali kelas 3C2. Ibu tentu tahu saya berteman dekat dengan Ece. Terlalu dekat malah, karena selama dua tahun kami di satu kelas, dua tahun itu juga kami berbagi meja.

Sampai suatu hari, terjadi miskomunikasi diantara kami. Singkat kata, saya tidak menjadi teman yang baik untuk Ece di masa-masa sulitnya. Maka wajar kalau pada saat itu Ece memutuskan pindah tempat duduk, jauh dari tempat duduk saya.

Masa-masa ‘dingin’ itu berlangsung cukup lama, sekitar dua minggu. Teman-teman sekelas tentu sadar akan jarak diantara kami. Tapi saya tidak menyangka kalau Ibu juga sadar akan hal itu. Ibu bertanya ke saya secara pribadi, “Kamu dan Ece kenapa?”

Ibu ingat gak jawaban saya saat itu? Sepertinya saya tidak menjawab pertanyaan Ibu ya?

Tapi pertanyaan singkat Ibu membuat saya percaya kalau guru adalah memang orangtua kedua untuk kami, murid-muridnya. Perhatian yang Ibu berikan, terlepas dari ‘label’ Ibu sebagai wali kelas, menyentuh saya secara pribadi. Asal Ibu tahu, tidak setiap guru memiliki sentuhan seperti itu.

Terakhir kita bertemu, beberapa tahun sesudah masa SMA, Ibu sudah terbujur kaku di dalam peti di sebuah misa requiem di Gereja Maria Bunda Karmel.

Saya mendapat kabar dari teman kalau Ibu sudah berpulang ke rumah Bapa, karena sakit yang Ibu derita.

Hari itu, ada ‘terima kasih’ dan ‘maaf’ yang tak terucap. Terima kasih untuk perhatian yang Ibu berikan bertahun-tahun silam. Maaf karena saya tidak dapat menyampaikannya secara pribadi.

Semoga damai bersama Ibu di tempat Ibu berada saat ini.

Terima kasih.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *