Dear Sahabat Pena

Di musim Facebook dan Twitter sekarang, masih ada yang berkirim surat via Pos kah?

Hari ini saya membongkar kardus berisi barang-barang koleksi dari masa lalu. Isinya seputar buku kursus bahasa Inggris, kartu ucapan Natal, potongan kertas ucapan retreat tahunan yang dinamai “palancas”, buku-buku lirik lagu (jangan tanya kenapa dulu suka banget nulisin lirik lagu favorit, sampai punya beberapa buku ^^). Dan diantara tumpukan ‘sampah’ itu, ada sebuntal surat tulisan tangan (oke, salah satunya ada yang diketik mesin) dari sahabat pena saya di masa lampau.

Nila Erfina namanya. Perempuan kediaman Palembang. Kalau saya gak salah hitung, umurnya sekarang sekitar 29 tahun.

Dia yang terlebih dulu menulis ke saya. Usut punya usut, dia mendapatkan nama & alamat saya dari salah satu surat pembaca yang saya kirimkan ke tabloid Fantasy (masih ingat?).

Surat-suratnya saya beri nomor dan kode, karena dia tidak selalu menuliskan tanggal penulisan surat. Kode di surat pertama: M/N/1/95. Yang artinya surat Masuk dari Nila yang ke-1 di tahun 1995. Sebenarnya saya baru mulai memberi nomor dan kode pada masing-masing surat setelah saya punya lebih dari satu sahabat pena deh..

Seru rasanya membaca ulang ke-49 surat-surat (termasuk beberapa kartu pos dan cerita bergambar yang dia buat), sambil mencoba mengingat kejadian-kejadian selama masa 5 tahun saling berkirim surat (suratnya yang terakhir saya terima di tahun 2001).

Membaca ulang cerita-ceritanya, saya dan dia punya beberapa kesamaan: sama-sama anak tengah-perempuan satu-satunya (ralat, di surat ke-43 dia ngabarin kalau ibunya mengandung anak ke-4 ^^), sama-sama berzodiak kalajengking, sama-sama suka cokelat, sama-sama suka baca komik. Kerennya nih.. saya dan dia sudah saling menulis surat dalam bahasa Inggris loh! (Untuk ukuran saya yang baru ‘makan’ buku bahasa Inggris waktu kelas 6 SD, itu prestasi loh!)

Dari surat-suratnya saya jadi tersadar tentang diri saya di masa-masa itu (atau mungkin sampai sekarang). Salah satunya bahwa saya tukang menunda: menunda membalas surat, menunda mengirimkan foto — seperti yang dia minta. Hal lainnya, bahwa persahabatan (bagai kepompong! ^^) adalah isu penting; terlihat dari beberapa surat dimana dia mengkonseling saya tentang topik ini. Dan.. layaknya abege pada umumnya, kami juga saling bertukar cerita tentang gebetan (oh my god, did I just say gebetan?!). Jadin ngakak sendiri membaca beberapa nama cowok lucu idaman — pada masanya.

Saya ingat, dia sempat pindah alamat. Sayang saya gak mencatat alamatnya. Kami juga pernah bertukar nomor telepon dan handphone. But it didn’t work.

Juga pada musim Friendster saya pernah mencari namanya. Tapi tidak menemukan.. atau friend request tidak diterima. Saya lupa detailnya.

Nah.. tadi, baru saja saya nge-add profil di Facebook bernama Nila Erfina. Entah benar dia yang saya cari atau bukan. Entah nanti di-approve atau tidak. I’ve got nothing to lose.

Posted with WordPress for TwirasBerry.

Update:
Yes, it was her on facebook! We wrote a few lines already. It’s good to find your long-lost pen pal :)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked. *

Related articles