Dia Lo Gue Orang

Pada obrolan bersama super senior dan super junior tentang rupa-rupa manusia di Indonesia sekitar kita, sambil mengunyah xxl crispy chicken bumbu mecin (sungguh, detil ini penting untuk dituliskan), saya jadi teringat pada bulan-bulan pertama saya di kelas satu SMA.

SMA jadi awal saya berhadapan dengan keragaman budaya; bertemu dan berinteraksi dengan macam-macam manusia Indonesia dan latar belakang — khususnya tetapi tidak terbatas pada — suku dan agamanya. Sebelumnya saya berada di lingkungan yang walaupun cukup heterogen tapi tetap terbatas pada teman-teman keturunan Cina (atau keturunan Tionghoa, sama saja lah), umat Katolik, orang-orang asal Flores (umumnya para guru, biarawati dan pastor), kenalan dan tetangga Jawa (mayoritas Jawa Tengah dan Jogja).

Perkenalan dengan rupa-rupa manusia Indonesia waktu itu tidak seindah terdengarnya. Karena saya “terpaksa” mengompromi identitas saya yang keturunan Cina ini.

Semua berawal dari olok-olokan teman-teman saat mendengar saya atau teman-teman keturunan Cina lainnya menyebut frasa “lo orang”, “dia orang” atau “gue orang” (fyi, it’s a Chinese-Indonesian thing, yang artinya masing-masing: kalian, mereka, kami). Olok-olokan yang kalau sekarang dibawakan Sule bersama wayangnya terdengar biasa saja, tetapi dulu terdengar memarjinalkan. Seolah-olah saya aneh dan asing karena menggunakan frasa ‘lo orang’ untuk menyebut ‘mereka’. Sementara di lingkungan semi-heterogen sebelumnya, saya tidak pernah mendengar tawa maupun cibiran saat frasa ‘lo orang’ meluncur dari mulut seseorang; mereka dia orang paham.

Salah satu kesalahan mendasar manusia adalah berusaha (terlalu keras) untuk menjadi serupa dengan sekelilingnya.

Dari olok-olokan itu saya “belajar” menggunakan kata kita, mereka dan kami dalam obrolan lisan; awalnya tentu terdengar kaku dan tidak wajar. (Sama tidak wajarnya kalau mendengar teman berlogat Jawa medhok melafalkan kata “kotak” dengan akhiran -k telak demi tidak dikatai medhok.) Sehingga sekarang saat mendengar teman atau sepupu menyebut “Lo orang…,” walaupun saya paham, saya merasa frasa itu asing. Mendengarnya saja sudah asing, apalagi mengucapkannya. Di sini saya merasa satu keping puzzle keturunan Cina saya hilang.

Padahal apa salahnya menjadi aneh dan asing? Apa salahnya menjadi berbeda?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked. *

Related articles