Kopi tak lagi hangat. Begitupun roti panggang. Tapi aku masih betah duduk sendiri di meja untuk berdua ini. Memandangmu, yang juga duduk sendiri di meja untuk berdua, dibalik jendela.

Dalam khayalku, kita duduk di satu meja. Berbagi cerita. Beradu pendapat. Berderai tawa. Berdiam. Berpandangan.

Tangan kananku menyusuri tepian meja. Dalam khayalku, kugenggam tangan kirimu.

Tanganmu beringsut melepaskan diri. Membetulkan posisi kaca mata yang tidak bergeser sedikitpun dari tadi.

“Sori lama,” suara itu membuyarkan khayalku. “Sampai mana kita tadi?”

Mataku menyapu pemandangan dibalik jendela. Dia yang tadi ada dalam khayalku telah hilang. Berganti rupa menjadi dia yang kini duduk di hadapanku.

Posted with WordPress for TwirasBerry.

One thought on “Dibalik Jendela

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *