Gak sengaja mata saya bertumbukan dengan tweet ini beberapa jam yang lalu. Lalu berpikir : ah, benar juga.

Untuk seorang seperti saya yang masih bekerja untuk ‘orang lain’, akhir pekan, libur hari raya, dan jatah cuti jadi hari-hari istimewa.

Rasanya adil untuk memberi waktu sejenak untuk jadi diri sendiri, dan bukan jadi social media officer. Sama sekali gak terpapar dengan pekerjaan, dalam bentuk email, telepon, SMS, instant message, atau bentuk-bentuk lainnya.

Tapi, apa bisa? (Ah, bahkan dari sini sudah terdengar sorak-sorai kalian : PASTI BISA! HARUS BISA!)

Coba tebak, apa yang sedang saya lakukan saat membaca tweet tersebut? Yes,  berbalas email tentang suatu pekerjaan.

Mari mundur sejenak ke satu-dua minggu lalu, saat populasi Jakarta sedang surut-surutnya. Bahkan di hari-hari yang dinamai liburan itu, saya (dan saya yakin banyak orang yang ‘bernasib’ sama) masih harus bolak-balik antara berhaha-hihi dengan keluarga, sahabat atau diri sendiri dan berbalas email, numpang wifi di coffee shop atau meeting di cafe.

Buat saya, melakukan pekerjaan di hari-hari istimewa itu gak masalah.. asalkan saya sudah mengkondisikan diri sebelum tiba waktunya.

Tapi.. kalau setiap weekend atau liburan saya harus bekerja, kapan saya benar-benar merasakan istimewanya weekend atau liburan? (Atau jangan-jangan sebenarnya weekend dan liburan tidak istimewa?)

“Tapi.. emang lo mau ngapain sih kalo weekend atau liburan? Paling nge-recharge badan.”

Sekali lagi saya yakin kalau saya bukan satu-satunya yang sering mengalami kondisi badan yang menurun saat weekend. Biasanya karena penyakit recehan semacam batuk, pilek, sakit kepala atau masuk angin.

Ada yang bilang kalau gejala ini terjadi karena kita secara gak sadar menahan penyakit itu selama weekdays karena kita harus beraktivitas. Ada yang bilang kalau gejala ini semacam alergi ngangur.

Seorang teman saya, Lele, bahkan menganggap ruang kerja (lengkap dengan orang-orang di dalamnya) sebagai pain killer.

Mungkin karena di tempat ini gue bisa berekspresi kali ya? Bisa seneng, bisa kesel, bisa gila, tapi jarang bisa sedih. It’s like.. i learn about all kind of emotion in this place.. and automatically forget about the pain.

Yah.. begitu deh dilema seorang pekerja, yang masih bekerja untuk ‘orang lain’.

Belum kebayang deh gimana dilemanya saat saya bekerja untuk diri sendiri. Kelak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *