Drama Bandara

drama bandara-twirasdotnet
thank you pexels.com!

Kamu pernah nonton The Terminal (2004)? Ceritanya Victor Novarski (Tom Hanks) datang ke Amerika lewat bandara JFK. Dia datang dari suatu negara yang pemerintahannya baru saja digulingkan. Karena situasi politik tersebut, segala surat identitas Victor dinyatakan tidak berlaku. Victor tidak dapat berpindah ke mana pun dan terpaksa harus tinggal di dalam bandara, sampai situasi politik negara asalnya kembali normal. Dari situlah drama bandara dimulai.

Pasti banyak dari kita yang pernah mengalami drama di bandara, walaupun gak perlu serumit kasusnya Victor. Drama yang pada saat terjadi bikin lelah atau minimal terengah-engah tapi setelah dilewati justru jadi cerita yang seru untuk ditukar-tambah.

Bagasi

Yang terakhir saya alami adalah drama bagasi, yang mengharuskan saya dan rombongan membongkar pasang dua kardus barang; yang pertama karena dicurigai membawa benda cair, yang kedua karena kelebihan berat. Untungnya [sebagai orang Indonesia, harus selalu bisa melihat untungnya] kami tiba untuk check-in dalam waktu yang cukup lengang, jadi dengan drama bagasi pun kami masih bisa bernapas sejenak sebelum boarding.

Berpacu dengan Waktu

Drama bandara yang paling sering terjadi mungkin yang berhubungan dengan mengejar waktu, memaksa kita sebagai pemeran utama drama ini berlarian ke sana ke mari. (Dari sudut pandang yang berbeda, saat saya melihat adegan orang-orang berlari di bandara, ada kalanya saya ingin berteriak menyemangati: Ayo! Kalian bisa!)

Drama kejar-kejaran yang paling berkesan mungkin pada suatu trip liputan ke Jogja. Saya bersama dua rekan kerja sudah duduk santai di ruang tunggu, sambil menunggu panggilan boarding. Saat boarding tiba, kami bertiga memasuki pesawat lewat jembatan belalai. Saya curiga saat melihat pesawat yang akan kami masuki adalah Wings Air, padahal tiket kami Lion Air. Ah, mungkin karena satu grup, jadi bisa pinjam-pinjaman pesawat. (Iya, ini pembenaran diri yang bodoh. Tolong, jangan pernah abaikan kecurigaan kamu.) Saat tiba di nomor bangku kami, sudah ada tiga orang duduk tentram di sana. Kepada pramugari terdekat kami bertanya. Dan… benar saja: Kami salah naik pesawat. Wings Air ini akan berangkat ke Lombok. Dan pesawat kami ternyata dipindahkan ke gate lain, yang berseberangan arah dengan gate yang kami datangi. Ternyata tadi sudah anda info tentang perpindahan ini, tetapi tidak satu pun dari kami yang mendengarnya. Jadilah kami bertiga berlarian ke arah gate untuk pesawat Lion Air menuju Jogja. Untungnya [tuh kan, untung lagi] kami bepergian dengan bawaan yang ringkas, masing-masing dengan satu tas ransel saja. Kecepatan kaki kami menyelamatkan kelalaian telinga kami.

Drama kejar-kejaran yang kurang epik mungkin pada perjalanan pulang Tegar dan saya dari Medan, setelah mengantarkan donasi barang dan bermain bersama-sama anak-anak di pengungsian pasca erupsi Sinabung. Dari Kota Medan kami bertolak ke Bandara Kualanamu menggunakan Rail Link yang super nyaman. Jadwal Rail Link yang terintegrasi dengan jadwal keberangkatan pesawat memungkinkan kami tiba jauh lebih awal dari waktu boarding; cukup untuk berkunjung ke toilet dan sarapan dengan santai. Sambil sarapan kami menjaga telinga tetap awas untuk segala informasi yang merambat lewat udara. Saat sarapan selesai, kami menuju nomor gate yang tercantum di tiket. Ternyata… sudah ada panggilan terakhir untuk Bapak Tegar dan Ibu Tere. *insert WHAT? face here* Kapan panggilan pertama dan keduanya? Sepertinya lagi-lagi terlewat dari telinga saya. Untungnya [gimana, sudah mulai bosan untung terus?]… gak ada untungnya sih, kecuali nama saya jadi menggaung se-Kualanamu.

Metal Detector

Drama nyangkut di pintu screening mungkin yang paling jarang terjadi di sekitar saya. (Atau lagi-lagi saya terlewat mendengarnya?) Saya sendiri baru sekali nyangkut di screening, karena membawa senjata tajam gunting dan cutter di tas ransel. Lupa deh kalau kedua benda itu gak bisa masuk kabin. Padahal rencananya saya masih mau membuat prakarya kecil untuk bahan presentasi di depan anak-anak Tana Paser. Tidak ada kesulitan berarti di pintu screening, saya hanya perlu merelakan kedua benda tajam itu jadi koleksi pengurus bandara.

Kangen-kangenan

Ini mungkin yang paling norak. Dan saya gak sedang ngomongin orang-orang yang displaying public affection di bandara. Saya lagi ngomongin orang-orang yang segitunya kangen jalan-jalan pakai pesawat udara tapi rupiah dan waktu belum mengizinkan sehingga datang ke bandara hanya untuk menghirup hawa jalan-jalan. Iya, saya ngomongin tentang saya dan beberapa teman yang pernah ke bandara hanya untuk duduk ngobrol di coffee shop sambil bawa buku bacaan masing-masing. Atau yang datang malam hari hanya untuk duduk-duduk di area “view point” sambil melihat-lihat kerlap-kerlip lampu di tubuh pesawat. Paling norak kan.

Kenapa jadi bahas drama di bandara? Karena kangen bandara. Gitu aja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked. *

Related articles