Exclusively NOT For Everybody

…adalah frase yang saya dan teman-teman pelesetkan dari tagline suatu campaign sebuah brand minuman beralkohol yang ditangani kantor dulu. Kalau brand itu menyampaikan pesan “Exclusively For Everybody”; bahwa “area” eksklusif bisa diakses oleh siapapun yang ingin, kami justru menegaskan kalau yang namanya eksklusif memang tidak bebas untuk diakses oleh siapapun.

Maka sekali dua kali saya menggunakan frase itu untuk menolak oknum-oknum yang ingin memaksakan diri masuk ke lingkaran eksklusif tempat saya berada. Bisa saja saya bilang, “No, I don’t want you to join us,” tetapi masyarakat kita sampai 2015 sesudah masehi pun seperti belum siap menerima pernyataan frontal semacam itu. Apalagi, generasi baper saat ini.

Menjadi eksklusif memang hakikat suatu komunitas. Fakta ini pertama-tama harus kita hadapi; baik saat kaki kita berada di dalam lingkaran maupun — khususnya — saat kaki kita berada di luar lingkaran.

Tiap komunitas punya kadar ke-eksklusif-annya; ada yang sangat kental sehingga sangat tertutup kecuali untuk mereka yang sudah saling mengenal, ada yang sangat cair sehingga perkenalan pun mudah mengalir. Setidaknya ini yang saya pahami dari mampir ke beberapa komunitas akhir-sana-sini.

Ada komunitas yang terlihat terbuka untuk umum. Tapi begitu saya hadir di antara mereka, karena topik obrolan utama yang sedang mereka bahas menarik minat saya, saya tetap merasa terasing. Di luar topik obrolan utama, rupanya mereka lebih seru membahas topik-topik lain, dalam kelompok-kelompok kecil di belakang.

Lalu ada komunitas yang sejak awal kehadiran saya sudah terlihat sibuk dalam kelompok-kelompok kecil. Tapi begitu ada kursi kosong, mereka langsung menawarkan bergabung. Komunitas yang membuat saya merasa tidak terasing, karena kami berbagi minat yang sama di atas meja.

Mungkin itu kuncinya: berbagi minat yang sama. Berbagi, ya. Bukan sekadar punya minat yang sama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked. *

Related articles