Akhir pekan yang lalu (16-18 Maret) saya bersama Ellie, Fitri dan teman-teman kos mereka (Adit, Hishom, Ayub & Kondang) ‘melarikan diri’ sejenak dari rutinitas harian ke daerah Pangandaran, Jawa Barat. Gak sempat touchdown pantai Pangandarannya sih.. Tapi, yang kami dapatkan lebih ‘mahal’ dari itu.

Tujuan utama jalan-jalan kali ini adalah wisata body rafting di Green Canyon. Oke, saya mendengar bisik-bisik kalian: Haahhh, Tere main body rafting? Sorry to dissappoint you guys, but I really did it. Begini ceritanya..

Titik start Pangandaran Trip dimulai dari sebuah rumah kos di Cilandak jam 9 malam menggunakan Honda Odyssey. Nah, yang bertindak sebagai pilot & co-pilot secara bergantian adalah Adit & Hishom. Kalau mencuri dengar obrolan mereka, keduanya sepakat kalau mobil ini cukup mumpuni untuk dibawa jalan jauh yang berliku dan hemat bahan bakar. Yang lebih penting nih, feeling like a boss saat meluncur dengan minivan ini.

Rute Jakarta – Pangandaran ditempuh sekitar 9 jam melewati Bandung – Cileunyi – Nagrek – Gentong – Tasikmalaya – Ciamis – Banjar. Perjalanan menuju Pangandaran terbilang menantang keberanian pilot & co-pilot. Bermodalkan pengalaman & GPS saja kami masih sempat salah mengambil jalur beberapa kali, sebelum akhirnya tiba di penginapan Bale Karang di Batu Karas.

Penginapan Bale Karang adalah salah satu kandidat yang ditelusuri Fitri. Kebetulan harga & ketersediaan penginapan ini mengakomodir kebutuhan kami. Bale Karang mungkin kalah pamor dibanding Java Cove, yang sudah mendapat rekomendasi dari National Geographic, tapi tidak untuk #teamodyssey (oh, by the way, odyssey means a long series of wanderings or adventures, esp. when filled with notable experiences, hardships, etc). Kamar double/twin bed, dengan kamar mandi outdoor, sarapan & camilan sore, ruang makan dengan free flow air mineral dalam galon untuk kami main kartu cangkulan & outdoor resto tempat kami menggalau ditemani nada debur ombak pantai selatan lebih dari cukup untuk saya rekomendasikan.

Sabtu, jam 6 pagi, kami tiba di penginapan & membalas tidur beberapa jam sebelun berangkat ke Green Canyon. Kami menyewa perlengkapan & jasa guide di Baraja untuk body rafting, dengan harga yang terbilang murah. Dari markas Baraja kami ditemani kang Jarot & Jais menuju starting point yang berjarak 30 menit perjalanan menggunakan pick-up plus 10 menit trekking turun ke sungai. Rute body rafting sepanjang 2km diestimasikan ditempuh dalam 3 jam, dengan kombinasi berenang (atau lebih tepatnya nyelup & ngikutin arus) & beberapa kali trekking di tepian sungai. Beruntung, hari itu cuaca baik & sungai jernih.

Kenalkan, saya Tere & saya gak bisa berenang. Seperti itulah perkenalan diri saya kepada para guide — tentunya dengan penuh harapan mereka akan membantu saya jika terjadi sesuatu yang tidak saya antisipasi.

Byur! And there’s no turning back. Sebuah lompatan besar untuk saya saat pertama kali mencelupkan diri ke sungai Cijulang.

Silahkan tanya keenam teman traveling saya kali ini, setengah perjalanan saya habiskan dengan berpegangan pada pelampung orang lain, berteriak & kekhawatiran yang terlihat di muka tanpa terkendali. Saya harus berterima kasih kepada para guide kami, khususnya kang Jarot yang mempimpin rombongan, karena selain memberi pengarahan mereka juga mendukung dengan motivasi — khususnya supaya saya berusaha menikmati rafting ini. Sehingga.. setengah perjalanan berikutnya saya mulai memberanikan diri melepaskan pegangan, berusaha bergerak di dalam air (saya gak yakin kalau gerakan itu terhitung sebagai berenang), sambil terus mengikuti arus.

Aktraksi pamungkas body rafting ini adalah lompat dari Batu Payung setinggi 7 meter (entah diukur dari permukaan sungai atau dasar sungai). Kelima teman saya memberanikan diri melakukan lompatan terbesar dalam hidup mereka hari itu. Sementara saya, cukup membantu mendokumentasikan adegan tersebut.

That was it! Petualangan air kami ditutup dengan kembali ke markas Baraja menggunakan perahu nelayan.

Malam minggu, gak ada yang lebih seru daripada curi start makan malam seafood rame-rame di rumah makan Kang Ayi, Batu Karas. Menu ikan bakar, cumi goreng tepung, udang saus padang & cah kangkung lenyap sekejap dikeroyok 7 manusia kelaparan.

The rest was a good night sleep.

Minggu pagi dibuka dengan pemandangan dari ‘private beach’ ini..

Banyak rencana water games yang akhirnya tidak terealisasi hari itu, karena kami sepakat mengejar waktu pulang ke Jakarta. Dalam perjalanan pulang, kami hanya sempat mampir ke Batu Hiu sekadar setor tampang di depan kamera foto & menikmati kelapa muda segar, dan makan sore di rumah makan Sederhana di Ciamis (yang harga makanannya sejujur nama tempatnya).

Foto-foto perjalanan Batu Karas – Green Canyon – Batu Hiu kami bisa dilihat di sini.

Believe me, bahkan tulisan ini & foto-foto Ellie pun gak bisa menceritakan betapa menyenangkannya weekend getaway kami.

Jadi.. kalau kamu berminat mengalami keseruan serupa, silahkan coba sendiri!

Salam dari #teamodyssey :)

6 thoughts on “Green Escape

  1. Didn’t make the jump, but still, a blast weekend!

    @Tere : tawt it gounna be like “…Aku terbangun oleh deburan ombak yang menghempas hitam pasir Batu Karas….dst dll dsb” :D

    1. sorry to disappoint you, but i’m not into “Aku terbangun oleh deburan ombak yang menghempas hitam pasir Batu Karas” thingy :D

  2. “Aku terbangun oleh deburan ombak yang menghempas hitam pasir Batu Karas” is my thingy.. Bisa dilihat dari redaksi itinerary yg gue buat. Huahaahahaaaa….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *