Haruki Murakami dan Sekitarnya

Gara-gara satu nama, Haruki Murakami, tiga puluhan orang berkumpul pada bincang sore bertema Haruki Murakami and New Writings from Japan yang diadakan di Kinosaurus, Kemang, Minggu sore kemarin. Acara yang diselenggarakan The Japan Foundation (Jakarta) bekerjasama dengan Makassar International Writers Festival (MIWF) dan Monkey Business Literary Journal ini mengajak Roland Kelts (Monkey Business) dan Aoko Matsuda (penulis, penerjemah) untuk berbagi cerita tentang… tentunya Murakami-san dan kehidupan tulis-menulis di Jepang.

Roland  membuka dengan cerita perkenalannya dengan Murakami-san di tahun 1999, saat Murakami telah kembali menetap di negeri matahari terbit setelah sebelumnya berkelana ke Rusia dan Amerika Serikat. Menurut cerita Roland, kepergian Murakami-san dari Jepang adalah karena ia merasa ambivalent terhadap tanah kelahirannya itu, masyarakatnya lebih tepatnya. Murakami-san merasa tidak nyaman dengan perlakuan masyarakat di sekitarnya terhadap dirinya — khususnya setelah ia menjadi sensasi literatur internasional. Sementara kepulangannya ke Jepang adalah ia merasa “bertanggung jawab” untuk berkontribusi pada negaranya, apalagi setelah beberapa tahun sebelumnya Jepang dilanda gempa dan mengalami serangan teroris.

Dari sudut pandang Roland, tulisan-tulisan Murakami jadi bentuk pemberontakan terhadap gaya-gaya penulisan yang sudah dikenal sebelumnya, termasuk “melanggar” paradigma penulisan ala Barat yang umumnya terdiri dari 3 babak; beberapa tulisan Murakami bahkan tanpa babak ketiga, tanpa resolusi. “It’s as if he  (Murakami) decided stop writing.”

Sebagai pembaca beberapa buku Haruki Murakami, saya tidak bisa tidak setuju pada opini Roland. Tulisan-tulisan Murakami-san yang sudah saya baca memang bergerak perlahan (salah satunya bahkan menurut saya terlalu perlahan sampai-sampai saya tinggalkan di tengah cerita untuk beberapa saat), tapi kita dibuat berantisipasi karena kita tahu sesuatu akan muncul ke permukaan, lalu setelah kita terikat pada halaman demi halaman berikutnya tiba-tiba cerita selesai begitu saja. Tulisan Haruki Murakami yang pertama saya baca adalah Norwegian Wood, dan saya masih ingat suasana hati saya setelah menyelesaikan novel itu begitu… muram. Saya menolak membaca novel lain untuk beberapa saat, dan membiarkan mono no aware yang disalurkan Toru, Naoko dan Midori mengambil alih ruang hati.

Ekspektasi saya (dan mungkin ekspektasi tiga puluhan peserta bincang sore lainnya) adalah menemukan korelasi antara karya-karya Haruki Murakami pada para penulis Jepang generasi hari ini. Namun rupanya ibu Lily dari MIWF lebih senang menelisik perasaan Murakami-san terhadap negaranya korelasi itu tidak cukup organik. Sebagai salah satu penulis Jepang generasi hari ini, Aoko justru tidak merasa related dengan Murakami-san dan karya-karyanya. Aoko membaca semua buku Murakami-san pada masanya di usia sekolah menengah atas, gaya penulisan Murakami-san yang terbilang “baru” pada saat itu tidak serta merta memberi pengaruh pada gaya tulisan Aoko. Aoko justru lebih terpengaruh oleh penulis Jepang lainnya, khususnya penulis perempuan yang mengedepankan tokoh perempuan dalam tulisannya.

Hal ini kontras bila dibandingkan dengan kehidupan tulis-menulis di Indonesia, banyak penulis (atau calon penulis) yang menyebut nama Murakami sebagai influencer, seperti yang terjadi di Makassar sehari sebelumnya. Kata Aoko, dia tidak mengerti apa yang sedang didiskusikan karena dalam Bahasa Indonesia, tapi ada satu kata yang dia mengerti dan cukup sering disebut: Murakami.

Hal ini wajar, menurut saya, karena akses kita ke buku-buku dari penulis Jepang cukup terbatas; Haruki Murakami adalah salah satu yang “cukup beruntung” bisa mampir ke toko-toko buku brick and mortar dan online, bahkan dalam versi terjemahan Bahasa Indonesia. Nama-nama penulis Jepang selain Murakami-san yang saya tahu — sekaligus yang pernah saya baca — terbatas pada Banana Yoshimoto dan Soseki Natsume. Saya bahkan belum pernah mendengar nama Aoko Matsuda sebelumnya.

Lain di Jepang tentu lain di Indonesia. Namun ada satu hal yang cukup mirip di kehidupan tulis-menulis di kedua negara: kegelisahan penulis. Ada kegelisahan yang coba dituangkan dalam tulisan. Buat seorang Aoko Matsuda kegelisahan itu salah satunya berasal dari dirinya, seorang perempuan di tengah masyarakat patriarki. (Sounds familiar, kan?) Hal lain yang juga membuat Aoko gelisah adalah hal-hal yang dari-sananya-sudah-begitu, terus-menerus diturunkan begitu saja tanpa pernah dipertanyakan, hal seperti lagu kebangsaan. Aoko mempertanyakan tentang lagu kebangsaan Jepang yang harus dibawakan bahkan saat ia yang menyanyikannya tidak mengerti isi lagunya. Kegelisahannya itu dituangkan dengan menarik pada suatu cerita pendek yang diterjemahkan menjadi Love Isn’t Easy When You’re The National Anthem, yang pada acara bincang sore kemarin dibacakan dalam versi bahasa Jepang dan bahasa Inggris secara bergantian.

(Selepas acara bincang sore, saya mendekati Aoko untuk bertanya tentang satu hal terkait cerpen lagu kebangsaan itu. Pada versi bahasa Jepang, Aoko menggunakan kata “boku” [dan bukan “watashi”] yang memberi konteks informal, bahkan boyish. Aoko bilang dia memang sengaja memberi kesan itu, kesan bocah pada diri si aku. Sayangnya konteks ini hilang karena terjemahan bahasa yang tidak menemukan padanan yang sesuai konteks keakuan pada boku.)

Buat saya, sesi bincang sore kemarin adalah suatu penemuan; masih ada penulis Jepang lain di luar Haruki Murakami, dan beberapa nama yang saya kenal, yang juga sama menarik untuk dikenal, untuk dibaca, untuk dipahami. Sebagai langkah awal perkenalan dengan Aoko Matsuda, silakan baca beberapa tulisannya yang saya temukan (thanks to Google) di Granta, Newwriting, dan PDF ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked. *

Related articles