Come and See the Horsemen

Aidan Breslin (Dennis Quaid) seorang detektif yang terganggu secara emosional karena dijauhkan dari kedua putranya setelah kematian istrinya. Saat menyelidiki sebuah pembunuhan berantai, ia menyadari bahwa ia memiliki hubungan dengan tersangka yang membunuh atas dasar empat wahyu: Perang, Kelaparan, Wabah Penyakit dan Kematian.

Produser: Brad Fuller, Michael Bay, Andrew Form
Produksi:Lionsgate
Durasi: 90 menit
Pemain: Dennis Quaid, Zhang Ziyi, Lou Taylor Pucci, Clifton Collins Jr., Chelcie Ross, Peter Stormare
Sutradara: Jonas Akerlund
Penulis: David Callaham

horsemen

Film ini menyajikan ketegangan hampir sepanjang cerita yang berdurasi 90 menit.  Keterlibatan detektif Breslin bermula dari penemuan gigi hasil cabutan paksa pada sebuah TKP; mengingat latar belakangnnya sebagai ahli forensik gigi.  Breslin kemudian ditunjuk memimpin penyelidikan kasus pembunuhan berantai yang mengakar pada kutipan Injil Wahyu bab 6, tentang penglihatan rasul Yohanes atas 4 penunggang kuda –  mewakili makna Perang, Kelaparan, Wabah Penyakit dan Kematian.  Dari supaya mencari petunjuk pada setiap kasus, Breslin perlahan menyadari kaitan antara dirinya dan keempat tersangka.
Yang menjadikan film ini menarik adalah caranya menyuguhkan drama gelap kehidupan keluarga – khususnya hubungan orangtua dan anak – ke titik ekstrim, dalam kemasan horor dan misteri.  Yang juga menarik adalah filosofi “Death is physicality, War is state of mind” yang beberapa kali ditegaskan dalam dialog antar pemeran – seolah hendak menyampaikan sesuatu ke penonton (atau perasaan saya saja?).
Dennis Quaid bukanlah nama baru di layar perak, tetapi saya tidak akan bertingkah sok tahu mengenai dia kecuali bahwa ia memerankan Aidan Breslin yang depresif dengan baik.   Zhang Ziyi bukan aktris favorit saya dan perannya sebagai Kristin Spitz tidak luar biasa.  Saya justru jatuh hati kepada Lou Taylor Pucci, pemeran Alex Breslin.  Peran Alex Breslin yang pendiam memang mencurigakan sejak awal.  Dan Lou Taylor Pucci berhasil menginterpretasikan peran si sulung yang sama depresifnya dengan sang ayah.
Saya tidak merekomendasikan film ini kepada Anda yang tidak suka dibuat tegang oleh alur cerita misteri yang cenderung mudah ditebak, Anda yang tidak suka melihat ceceran darah atau  mayat pada beberapa adegan, dan Anda yang tidak suka bila film fiksi mengakitkan diri dengan kutipan Injil atau iman kepada Kristus.  Kepada Anda yang tidak keberatan dengan hal-hal tersebut, try come and see the Horsemen.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *