Infal

Seharusnya aku mendengarkan perkataan Ibu: Jangan percaya bujuk rayu anak kota. Anak kota seperti kamu, yang dengan motor bebek mulus dan gombalan bulus membuatku percaya kalau janjimu tulus.

Masih ingat janjimu itu? Yang kamu serukan di hamparan rumput dekat kuburan di belakang rumahku. Katamu cuma aku di hatimu. Katamu kamu akan kembali, setelah lanjut sekolah dan kuliah di ibu kota, untukku. Bertahun-tahun aku menunggu.

Tahu-tahu kudengar kamu sudah punya usaha bengkel di Jakarta. Kukuras habis tabunganku mencari alamatmu di sana. Mana kusangka kamu sudah punya anak istri juga.

“Kamu datang tepat waktu. Kami memang sedang mencari pembantu,” begitu kata istrimu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *