Jangan Punya Anak*

Kemarin universe seperti memberi petunjuk tentang menjadi ibu. (Bukan berarti saat ini saya sedang ingin-inginnya menjadi ibu loh!)

kasih ibu

Dalam perjalanan pergi menggunakan bus TransJakarta, saya melihat seorang anak duduk tidur sembarangan di bangku. Kedua kakinya terangkat,  menyingkap terusan batiknya. Dan dia merajuk. Pemandangan ini mengganggu saya. Bukan karena si anak yang berlaku sembrono, melainkan karena si ibu membiarkan hal itu.

Buat saya ini bukan wujud kasih sayang seorang ibu. Buat saya ini wujud kelalaian si ibu dalam mengajarkan anaknya berkelakuan yang pantas di tempat umum.

Dalam perjalanan pulang menggunakan angkot, peristiwa sejenis terjadi. Kali ini si anak yang duduk di pangkuan ibunya, merajuk, minta duduk di bangku kayu dekat pintu. Awalnya si ibu melarang, mengingat sopir angkot menyetir ugal-ugalan. Tetapi, saat angkot berhenti di tengah kemacetan dan si anak merajuk meminta hal yang sama, si ibu mengizinkan. “Tapi sambil pegangan sama Ibu ya..” katanya.

Sekali lagi saya terganggu dengan pemandangan kompromi-ibu-kepada-anaknya. Buat saya hal seperti keamanan anak tidak sebaiknya dinegosiasi. Buat saya sikap si ibu yang ‘lemah’ ini tidak seharusnya terjadi.

Setiap kali melihat adegan seperti ini, saya berusaha menahan diri untuk tidak berkomentar: Mbak, tolong jaga anaknya baik-baik ya!

Tapi.. siapalah saya?

Saya tidak tahu bagaimana rasanya mengurus anak. Saya bahkan tidak punya anak. Tapi saya percaya seorang ibu seharusnya jadi guru pertama untuk anaknya. Jangan sampai orang lain — misalnya, penumpang di bus TransJakarta atau di angkot — yang harus menatar anaknya.

Oke, universe, petunjuk diterima dengan baik: Jangan punya anak. *Kalau belum siap.

1 Thought.

  1. Kalau harus siap dulu, manusia tidak akan pernah siap.
    Oleh karena itu harus terus belajar.
    Walau kadang..
    its us against the world.. :D

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *