Just In Case

Saat itu saya berdiri di depan sebuah bangunan yang menyerupai gereja beraksitektur Notredame, berwarna terracotta. Yang saya tahu, area yang akan saya masuki adalah sekolah yang sudah ditinggalkan. Saya masuk ke salah satu ruangan dengan rak-rak buku tinggi menjulang sampai ke langit-langit. Entah apa yang sedang saya cari di sana. Seorang teman muncul dari luar ruangan, hendak membantu saya mencari sesuatu itu. Dari sana keadaan berubah kacau.

Tahu-tahu kami sudah berlarian di area luar; tak yakin mengejar sesuatu atau menghindari sesuatu. Saya mendapati diri tengah memegang chef’s knife, menebas segala yang terlihat hidup, kecuali teman saya itu. Langkah kaki kami menuju ke satu titik, di mana teman kami yang lain berada, mencoba menyelamatkan diri dari serangan makhluk yang terlihat hidup.

Saya baru mulai mencerna segala yang terjadi dalam sekejap, ketika mendadak terdengar suara yang familiar memanggil saya, “Nak.. bangun.”

Mimpi semalam tergolong absurd. Apalagi sebelumnya saya tidak mencekoki diri dengan film-fim The Walking Dead atau World War Z. Namun rasanya tidak berlebihan untuk tahu apa yang harus dilakukan kalau-kalau zombie apocalypse terjadi.

zombie apocalypse 1

Separah-parahnya zombie di film-film, lebih parah zombie yang ada di kepala kita — sosok tanpa simpati yang menolak bertindak sementara yang lain menderita.

(Tuh kan saya sok tahu lagi…)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *