Kamu Berbohong Aku Pun Percaya, Kamu Lukai Ku Tak PEDULI

Akhir-akhir ini ada suatu lagu yang saya dengar di radio hari demi hari, dan membuat saya ingin menempeleng seseorang. Pasalnya, lagu tersebut membuat dua kesalahan; saya tidak yakin kesalahan mana yang paling mengganggu saya.

Pertama, lirik lagu berjudul “Aku Cuma Punya Hati” itu menyebut

Aku cuma punya hati

Tapi kamu mungkin tak pakai hati

Kamu berbohong aku pun percaya

Kamu lukai ku tak perduli

Coba kau fikir di mana ada cinta seperti ini

Ayolah Mr./Ms. Songwriter, jangan malas riset. Kroscek ejaan ke KBBI. Suatu lagu punya peran lebih dari sekadar hiburan. Dengan beredarnya lagu di radio, televisi, dan tayangnya teks lirik lagu di website dan blog pribadi, suatu lagu juga berperan menyebarkan penggunaan kata dan kalimat ke masyarakat luas; membuat penggunaan kata dan kalimat tersebut menjadi populer.

Aku cuma punya kesadaran berbahasa, tapi kamu mungkin tak punya kesadaran. Kamu salah eja, aku tak percaya, kamu lukai bahasa, ku tetap peduli. Coba kau pikir di mana ada ulasan lagu seperti ini.

Lagu ini bukan lagu pertama yang mempromosikan ejaan yang salah.  Glenn Fredly bisa saja bilang

Terserah kali ini

Sungguh aku tak ‘kan perduli

Namun saya gak bisa gak peduli. Entah berapa ribu perempuan dan lelaki yang memekik tiap kali suara melankolis Glenn mendayu-dayu membawakan lagu itu. Berapa ribu perempuan dan lelaki yang selama ini terjerumus pada ejaan yang salah?

Sampai kapan para penulis lagu ini tidak mau peduli?

Kedua, lirik lagu “Aku Cuma Punya Hati” itu berlanjut

Kau tinggalkan aku, ku tetap di sini

Kau dengan yang lain, ku tetap setia

Tak usah tanya mengapa

Aku cuma punya hati

Iya, si aku mungkin memang punya hati, tapi sepertinya tak punya otak. Buat saya lirik lagu ini mempropagandakan pembodohan diri khususnnya perempuan — karena dibawakan oleh penyanyi perempuan. Pertama kali menyimak lirik lagu itu, saya berpikir “What the hell? Tahun 2016 dan masih ada lagu bodoh seperti ini?”

Yang saya dengar dari lagu itu adalah “Ada perempuan segitu cintanya sama lelaki, dia dibohongi, dilukai, ditinggalkan, diselingkuhi, tapi dia tetap bangga dengan cintanya itu, karena menurut dia seperti itulah cinta yang pakai hati.”

This is fvcking verbal assault to oneself! Lain kali jangan pakai hati saja, coba pakai otak juga ya.

Sekali lagi, suatu lagu punya peran lebih dari sekadar hiburan. Dengan beredarnya lagu di radio, televisi, dan tayangnya teks lirik lagu di website dan blog pribadi, suatu lagu juga berperan menyebarkan pesan ke masyarakat luas; membuat pesan tersebut menjadi populer.

Sampai kapan para penulis lagu ini tidak mau peduli akan pesan yang disampaikan lewat lirik lagunya?

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked. *

Related articles