Kenapa (Takut) Sendirian?

twirasdotnet-sendirian

Sudah seminggu lebih saya bekerja di “pulau” terpencil diapit balkon dan toilet, hasil relokasi jelang libur Lebaran kemarin. Dari 5 orang penghuni pulau, hanya saya yang paling setia menduduki work station; penghuni lainnya lebih sering berkeliaran. Pekerjaan saya tidak menuntut banyak pergerakan; begitupun saya tidak memilih banyak berkeliaran, kecuali ke kantin untuk makan, ke toilet di lantai bawah yang lebih nyaman dan sesekali berkunjung ke pulau-pulau atau ke ruang-ruang kerja divisi lain, atau sekalian keluar dari bangunan kantor.

Banyak orang yang melalui pulau ini — menuju toilet, menuju balkon, atau sekadar ke meja printer — sering kali melihat saya sendirian di pulau. Dan beberapa orang sudah melontarkan komentar tentang kesendirian saya. Walaupun bernada bercanda, kebanyakan komentar memberi kesan prihatin atau kasihan melihat saya sendirian. Gak ada satu komentar pun yang bernada positif semacam “Enak banget sih lo bisa sendirian.” Paling-paling komentar positif tentang kesendirian saya sejauh “Enak banget sih lo bisa nguasain AC sendirian.”

Ini bukan pertama kalinya saya mendapat “anti-simpati” saat bersendiri. (Karena kalau “simpati” seharusnya mereka juga merasa senang atas kesendirian saya.)

Breaking news: Saya nyaman bersendiri. Dan, kalau saya merasa nyaman, kenapa kalian perlu merasa prihatin atau kasihan?

Saya masih manusia biasa kok, yang juga ingin butuh berinteraksi. Tapi saya sadar, saya juga makhluk individual. Makhluk tunggal. Yang adakalanya ingin butuh sendirian. Saya pun tidak langsung merasa nyaman saat pertama kali sendirian untuk jangka waktu lebih lama dari seadanya — lebih dari sekadar menunggu bis sendirian saat teman-teman sudah diangkut bis jurusan mereka, lebih lama dari sekadar menunggui rumah sendirian saat bapak-ibu kondangan. Apalagi setelah terbiasa berkelompok di jaman sekolah dan kuliah. Saya mulai berteman dengan diri saya sendiri saat sendirian, mencoba mengenal diri sediri lebih dalam saat sendirian. Lalu kesendirian pun terasa nyaman.

Katanya, cara orang melihat diri orang lain adalah cara orang itu melihat dirinya sendiri. Jangan-jangan, orang yang merasa prihatin atau kasihan pada orang yang sendirian, sebenarnya merasa prihatin atau kasihan kepada dirinya sendiri saat sedang sendirian. Jangan-jangan orang itu merasa tidak nyaman atau bahkan takut sendirian.

Nah, mungkin orang-orang justru perlu bertanya ke diri sendiri: Kenapa sendirian terlihat memprihatinkan? Kenapa sendirian membuat saya kasihan? Kenapa saya gak nyaman atau bahkan takut sendirian?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked. *

Related articles