Kepada Langit dan Laut

Dek depan kapal penumpang bermuatan dua puluhan orang mulai dipadati mereka yang ingin mengabadikan matahari tenggelam. Dalam diam dia melangkah menjauhi keramaian itu; menyelinap ke ruang kemudi kapal.

Sebatang rokok yang ditawarkan kapten kapal diselipkan di bibirnya lalu dibakar. Di sela-sela kepulan asap dia dan si kapten bertukar cerita. Matanya menunjukkan keingintahuan.

Setelah selesai sebatang rokok itu, mereka terdiam. Si kapten kembali berkonsentrasi pada kemudi. Sementara dia, masih duduk di dipan ruang kemudi, melayangkan pandangannya ke utara di mana langit dan laut bertemu pada garis horizontal. Semburat jingga matahari tenggelam mewarnai pemandangan biru-biru itu.

Saat kerumunan di dek depan semakin riuh menarasikan pemandangan yang mereka saksikan bersama, dia semakin tenggelam dalam lamunannya. Matanya, yang tadi penuh keingintahuan, kini penuh embun. Satu kedipan dan embun itu meleleh. Dibiarkannya lelehan itu semakin membasahi pipi. Hidungnya bergetar menghembuskan nafas berderu, melampiaskan sesak dari rongga dadanya. Semua terjadi dalam sembuyi.

Dia keluar dari persembunyiannya sebelum matahari benar-benar tenggelam. Deru nafasnya mereda. Basah di pipi disekanya. Lalu bibir yang tadi mengepulkan asap, kini mengembang. Tanpa suara dia mengucap “Selamat tinggal.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked. *

Related articles