Kesempatan Kedua

Tak perlu lagi memohon “Tuhan, berikan aku hidup satu kali lagi, hanya untuk bersamanya” seperti The Virgin, kejadian akhir-akhir ini membuatku semakin yakin kalau Tuhan memang memberikan kesempatan kedua (ketiga, keempat, ke-tidak-terhingga) kepada umatNya – yang mau mengambilnya.

Kesempatan 2.1 Beta Version

Kunobatkan Mark Zuckerberg menjadi Bapak Reuni Dunia Maya!   Betapa tidak, berkat Facebook aku bertemu kembali dengan nama-nama yang tidak asing; mereka yang pernah berbagi fotokopi lembar-lembar materi kuliah; lebih jadul lagi, mereka yang pernah berbagi ruang dan waktu pada upacara penaikan bendera setiap Senin pagi dan Tujuh Belasan – lengkap dengan seragam kebanggan.

Di antara sekian nama yang telah ku-add dan mereka confirm, ada satu nama yang memberi efek berstruktur: wah-sudah-lama-sekali-tidak-bertemudulu-kami-pernah-dekataku-tidak-ingat-entah-mengapa-dulu-kami-menjauhapa-kabar-dia-sekarangapa-mungkin-kami-bisa-berteman-dekat-lagi. Aku ingat pernah dekat dengannya saat kami masih berseragam putih-biru; dengan kombinasi  putih-kotak.  Selebihnya – seberapa dekat kami, kejadian apa yang memisahkan kami, bagaimana perasaanku sesaat setelah kami jauh – aku tidak ingat pasti.  Yang pasti, aku menyesal kemudian, mengingat persahabatan kami yang tidak tahan lama.

Sampai satu hari aku berhadapan dengannya sekali lagi.  Dan segala efek berstruktur, pertanyaan dan penyesalan tadi seketika larut layaknya tablet paracetamol yang kumakan saat sakit kepala menghantam; meninggalkan hanya rasa tenang.  Aku tidak perlu lagi khawatir akankah kami bisa mengulang persahabatan yang pernah terjalin; kami tidak mengulang, kami melanjutkan.  Kami memang berhutang belasan tahun tanpa komunikasi, dan saat ini tengah menebusnya.  Aku bahkan baru menyadari kalau kami berbagi kesenangan/keanehan yang sama.

Kesempatan 2.2 Pro

Kesempatan kedua denganya terjadi beberapa tahun yang lalu dalam sebuah reuni kecil.  Aku mengingatnya sebagai salah satu bocah bengal di sekolah.  Ingatanku (yang kini telah terbukti tidak maksimal) harus menyesuaikan diri dengan kenyataan di depan mata: dia telah berkembang menjadi sosok dewasa dan cenderung pendiam – walaupun masih menyisakan wajah nakal khas-nya.   Penyesuaian ini tidak hanya berlangsung di mata.. pssttt, diam-diam aku jatuh hati pikiran.

Baru belakangan telingaku mendengar kalau dia tengah menjalin hubungan dengan seseorang.   Oh, kasih tak sampai!  Menjadi prajurit kalah perang, aku mundur teratur sambil menata hati pikiran agar tetap jernih.

Pada kesempatan kedua (bagian dua), dia dan perempuan pilihannya telah saling mengikat janji pernikahan; aku melihatnya di tengah keramaian dan berlalu.  Kemudian aku merasa bodoh; mengapa harus enggan menyapanya, padahal kesempatan tidak-sengaja-bertemu sangat langka.

Pada kesempatan kedua (bagian tiga), aku berpapasan lagi dengannya, tepat di tengah keramaian yang sama, dan hampir mengulangi perasaan bodoh yang sama.  Awalnya aku berniat melewatkan kesempatanku menyapanya, sekali lagi; aku berjalan melawan arahnya.  Namun, Tuhan memang memberi kesempatan tidak terhingga; dalam perjalananku memutar balik arah, sekali lagi aku dihadapkan dengannya.  Kali itu aku tidak menyia-nyiakan kesempatan yang telah diberikan berkali-kali.  Aku menyapanya.  Dan merasa menang sesudahnya.  (Tidak.. aku tetap ‘kalah’ melawan perempuan pilihannya itu; tetapi aku ‘menang’ melawan diriku sendiri yang sebelumnya tidak berani mengambil kesempatan)

One comment

  1. Hmmmmm…. i do believe in a second chance :) tapi seringnya orang sudah menyerah saat kesempatan pertama berlalu dan mereka berpikir there will be no second chance.
    ada baiknya juga berpikir seperti itu karena pastinya akan membuat kita untuk moving on as soon as possible mencari kesempatan lain yang jauh lebih baik. apalagi seringkali kesempatan kedua datangnya lamaaaaaaaa bener. *seperti cerita mu :D
    in my opinion lhoooo :p

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked. *

Related articles