Kicauan Kacau Dan Merdu

 

twirasdotnet-kicau kacau merdu 1

Pertama melihat buku ini saya penasaran tapi skeptis. Apa sih isinya? Seleb kalo nulis paling-paling cuma humblebrag. Tagline “Curahan Hati Penulis Galau” paling-paling cuma numpang popularitas kata “galau” pada masanya. Emblem Best Seller pun bisa jadi cuma marketing gimmick. Maka saya tidak membelinya.

Kemudian pada sebuah bakul diskonan toko buku kesayangan anda (karena saya lebih sayang toko buku yang lain), saya bertemu lagi dengan buku ini. Dan dia dijual hanya sepuluh ribu. Nothing to lose (cuma sepuluh ribu gitu loh!), saya adopsi buku itu.

Di dalamnya terdata kalau eksemplar yang saya pegang adalah cetakan ketujuh. Wow! Beneran laris manis!

Isi buku dibagi menjadi empat bab; masing-masing sub-bab diawali dengan kutipan kicauannya di Twitter. Total 50 tulisan yang dirangkum dalam buku ini telah terlebih dahulu naik cetak di beberapa majalah tempat Indra berkontribusi dalam bentuk kolom. Di antara tiga ratusan halaman buku, tersisip beberapa halaman ilustrasi hasil coretan Indra Herlambang sendiri. Tak perlu heran, Indra lulusan Desain Komunikasi Visual yang sewajarnya menghasilkan karya visual.

twirasdotnet-kicau kacau merdu 2

 

Buat saya dunia menjadi tidak adil saat orang-orang yang mampu menghasilkan karya visual yang baik, ternyata juga mampu menghasilkan karya verbal yang sama baiknya. Buku ini salah satu bentuk ketidakadilan itu.

Saat ini saya masih berada di sepuluh tulisan terakhir, dan saya sangat menikmati tulisannya. Renungan atas kejadian-kejadian dalam kesehariannya, dilihat dari jarak sedang — cukup dekat untuk mengenal kepribadian penulisnya tapi sekaligus cukup jauh untuk menyentuh banyak orang; tipikal tulisan kolom. Sederhana, jenaka, adakalanya bikin trenyuh. Tulisan yang membuat saya berkata “Gue juga pingin bisa nulis kaya gitu.”

Hey, Indra, kicauan kacaumu merdu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked. *

Related articles