“Ada korek?” Obrolan santai pertama kami dibuka dengan pertanyaanku ini.

Dia mengeluarkan korek berwarna dominan merah, yang dinamainya ‘Si Jago’. “Kalau kehabisan gas, gimana?” “Beli lagi, tapi yang persis kaya itu.”

Sejak hari itu niatku berhenti merokok malah padam. Sejak yang kunikmati bukan hanya tembakau terbakar, tapi juga setiap hembusan asap bersamanya.

Hari ini. Jam ini. Duduk di lobby belakang. Tanpa rokok. Tanpa dia. Hanya Si Jago yang dititipkannya dengan janji “I’ll be back for our ciggy break.”

Setahun sudah. Tanpa kabar.

“Ada korek?” Suara seseorang yang sepertinya juga bekerja di gedung ini membuyarkan lamunanku.

“Ada.”
“Ambil saja. Saya berhenti.”

Posted with WordPress for TwirasBerry.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *