Langit Malam Ini

Langit malam ini terlihat berbeda. Pekat, tanpa jejak awan, yang mungkin larut bersama hujan yang mendadak turun tadi sore. Namun, bertabur bintang.

Awalnya aku tidak yakin benda gemerlap di antara pohon dan bangunan yang kulihat saat tengadah itu memang sebuah bintang. Ah jangan-jangan lampu menara atau lampu pesawat yang terbang di kegelapan, pikirku.

Kuamat-amati, ternyata tidak hanya satu melainkan beberapa bintang tengah memamerkan cahaya mereka, seolah mencari perhatian dari manusia yang sibuk menunduk mengamati cahaya dari layar smartphone mereka.

“Kamukah itu?” tanyaku ke angkasa.

Kutelusuri butir demi butir cahaya di kanvas langit malam itu. Lalu kutemukan tiga bintang penanda dirimu. Tiga bintang di sabukmu.

Aku menahan senyum yang ingin mengembang lebar.

Ingatan tentang kejadian berjuta tahun lalu kembali muncul di depan mataku. Pertarungan kita. Kamu dengan misimu, dan aku dengan misiku. Dari dulu memang kita tidak pernah sepakat. Semesta pun seperti tidak tahan melihat pertikaian kita, memisahkan kita untuk tidak pernah berada di tempat yang sama.

Dan walaupun sekarang aku menjejak bumi ini dan kamu di angkasa sana, masih bisa kurasakan energimu. Energi perlawanan yang tidak pernah kuhindari, justru kunanti. Karena hanya kamu yang bisa memberi perlawanan setara untukku. Dan itu yang selalu membuatku rindu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked. *

Related articles