Langit

Aku jatuh cinta kepada langit sejak pertama kali aku tengadah.

Percuma menghindari tatapannya. Ke manapun aku menjelajah, dia ada. Maka aku memilih diam di tempatku dan tengadah.

Walaupun aku tak pernah tahu kapan dia berpendar memancarkan putih biru, atau menggelayut berselimut awan kelabu, atau pecah menjadi bulir-bulir menghayutkan debu, aku diam di tempatku. Dan tengadah.

Walaupun terangnya menyilaukan mata, atau gelapnya mengantar gelisah, atau luruhnya membuat gemetar, aku diam di tempatku. Dan tengadah.

Dan walaupun tahu dia jauh dari gapaian, aku tetap mencoba meraihnya. Aku memaksa.

Karena dalam perhatiannya aku tenang. Dalam perhatiannya aku nyaman. Dalam perhatiannya aku menjadi bumi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *