Langkah

Mari sudahi perjalanan ini. Bukan karena kakiku lelah melangkah bersamamu, karena aku menikmati setiap langkah kecil dan besar pada aspal mulus dan bebatuan terjal dan rerumputan liar bersamamu, tapi karena aku sudah tak dapat mengimbangi langkahmu yang tak tentu arah.

Ketahuilah awalnya pun aku berencana menemani langkahmu sampai tuntas, sampai putus sendi, sampai sobek otot, sampai patah tulang, sampai terkelupas kulit, sampai otak tak dapat lagi memerintahkan organ tubuh untuk terus bergerak.

Mungkin aku terdengar lemah bahkan tidak setia. Aku kehilangan arah. Besok lusa memang tak pernah pasti, katamu. Maka izinkan aku menuliskan sendiri besok lusaku, yang mungkin tidak bersamamu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked. *

Related articles