Lelaki dari Kota Tua

Sudah 15 menit aku di halte ini, belum kelihatan tanda-tanda datangnya bus ke Kota Tua.

Lelaki di sampingku terlihat tenang, seperti sudah biasa dibuat menunggu seperti ini. Sudah tiga batang rokok habis dibakarnya bahkan sebelum aku datang. Setidaknya itu yang terlihat dari bekas puntung di dekat kakinya.

Seorang perempuan tua mendekatinya.

“Nak, bus ke Kota Baru sudah lewat?”

Dia menoleh ke arah perempuan itu. Detik demi detik berlalu tanpa lelaki itu memberi jawaban. Seperti tidak mendengar suara perempuan itu, atau tidak mengerti kalimatnya.

“Maaf, bus ke Kota Baru berangkat dari halte seberang,” suaraku memecah keheningan. Perempuan itu lantas menyeberang jalan, meninggalkan kami berdua di halte ini.

Rokok di tangannya sudah habis. Puntung keempat jatuh ke tanah. Tangannya segera merogoh kantong jaket, meraih bungkus rokok dan korek api, membakar batang kelima.

“Menunggu bus ke Kota Tua juga?” suaranya mengagetkanku. Dia terdengar lebih dewasa daripada dia terlihat.

“Eh.. Iya. Selalu lama seperti ini ya?”

“Orang-orang sudah jarang ke Kota Tua. Makanya bus ke sana juga sedikit.” Dia melirik jam tangannya. “Paling cepat setengah jam lagi. Tadi pas saya ke sini bus sebelumnya baru saja berangkat.”

“Oh gitu..”

“Saya Devan,” katanya tanpa menjulurkan tangan untuk bersalaman. Juga tanpa kesan menunggu balasanku menyebutkan nama.

Dari situ Devan mulai tenggelam dalam ceritanya. Dia berasal dari Kota Tua. Kemudian delapan tahun yang lalu dia dan keluarganya pindah ke kota ini, memulai hidup baru. Setahun terakhir ini dia rutin berkunjung ke Kota Tua. “Menikmati yang tersisa di sana,” katanya.

“Ada apa di sana?” tanyaku.

“Kuburan. Ada banyak kuburan di sana. Banyak yang bentuknya menarik, tapi ada satu kuburan yang istimewa. Letaknya di ujung Kuburan Utama, di dekat pohon-pohon bambu.”

“Ohya? Apa istimewanya?”

“Ada namaku di batu nisannya.”

Jantungku terasa berhenti berdetak. Insting pertamaku adalah melihat apakah kakinya menjejak tanah. Kuperhatikan baik-baik, kedua kakinya, beralas sepatu kanvas warna putih pudar, benar-benar menjejak tanah. Kaki kanannya kini menggerus puntung rokok kelima.

Sambil mengatur nafas, menetralkan detak jantungku yang tak beraturan, kuangkat pandanganku ke wajahnya.

“Kok bisa?”

“Itu juga pertanyaanku. Kok bisa?”

Tangannya baru saja mengarah kembali ke kantung jaketnya, sebelum tiba-tiba..

“Hey, itu bus kita,” tangannya batal masuk ke kantung jaket, malah menunjuk ke arah bus yang sudah mengerem di depan kami. Deru mesin tua memenuhi ruang dengarku.

“Ayo..” Dia berdiri menghampiri pintu bus.

“Ka-kamu duluan saja.. Saya menunggu teman..”

“Ohya?”

“Iya..”

“Senang berbicara denganmu,” wajahnya membentuk lekuk senyum yang manis dengan lesung di pipi kirinya.

Bus tua menuju Kota Tua melanjutkan perjalanannya dari halte ini. Meninggalkan dengus abu-abu pekat.

Aku melangkah menyeberang jalan, menuju halte tempat perempuan tua tadi menunggu bus ke Kota Baru.

“Nama saya Devina. Senang berbicara denganmu juga,” kubisikan kalimat itu ke langit lembayung.

Sore itu adalah terakhir kalinya aku melihat sosok lelaki itu. Bukan dari seberang halte seperti biasanya, tapi dari halte yang sama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *