Luruh di Borobudur

image

 

Sabtu, 25 Mei, sepertinya jadi hari yang dinantikan banyak turis yang berdatangan ke Candi Borobudur untuk perayaan Waisak. Dengan modus apapun.

Saya dan beberapa teman termasuk diantara ratusan (lebih!) orang golongan mainstream yang ikut berbondong-bondong memadati area Barat candi. Tujuan saya: ikut iring-iringan (walaupun tidak dari Candi Mendut), menyaksikan ritual keagamaan dan menonton pelepasan lampion.

Singkat cerita, acara puncak perayaan Waisak di Borobudur terbilang tidak berjalan dengan baik. Bukan karena hujan, tapi karena terlalu rusuh, terlalu banyak turis — termasuk yang bercelana sangat pendek dan yang petantang-petenteng berkalung kamera DSLR. Dan karena bapak Menteri Agama dan Gubernur Jawa Tengah yang terhormat datang terlambat. (menurut saya hal ini turut berkontribusi membangun suasana yang tidak kondusif pada malam itu)

Saya dan teman-teman akhirnya menikmati suasana Waisak-an di Borobudur dengan cara kami sendiri: makan mie dalam cup dan minum kopi sachet di tengah hujan deras di area parkiran. (karena makan mie dalam cup dam minum kopi sachet di parkiran Monas terlalu mainstream, mungkin)

Saya memang gak kesampaian melihat pelepasan lampion ke langit malam Magelang, tapi saya melihat hal lain yang cukup indah. Malam itu saya memandangi tetes-tetes hujan yang terjun bebas di terpaan cahaya biru kehijauan dari lampu tembak yang menyorot ke stupa teratas Candi Borobudur. Bergerak hampir slow motion. Pemandangan itu seperti membuai perasaan saya; segala emosi negatif yang saya bawa dari Jakarta perlahan meluruh ditarik gravitasi, mengalir lalu hilang diserap bumi.

Not bad for a self-healing session ;)

2 comments

  1. aku syuka baca dotnetmu twiras, semacam mengejar ketinggalan waktu yang jarang kita habiskan bersama. I miss you, guys.. :)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked. *

Related articles