Main-main Dengan Si Mini

Jadi.. ceritanya liburan Lebaran kemarin saya punya mainan baru yang membuat saya merasa seperti pesulap.

Ini dia..

Fujifilm Instax Mini 7S dalam warna pink.

Dari warnanya saja, orang bisa menilai kalau mainan ini bukan milik saya. Dan memang bukan milik saya, melainkan milik Anggie, yang untungnya tidak berencana membawa kamera instan ini dalam perjalanan mudiknya.

Kalau kamu sering mampir ke 7-Eleven, pastinya sudah terbiasa melihat wujud kamera instan ini berikut filmnya didisplay di dekat meja kasir. Saya bahkan gak tau harus membeli filmnya dimana, selain di sevel.

Nah.. saya merasa ‘luar biasa’ saat memainkan si mini pink ini karena beberapa hal..

Secara kamera instan ini dijual di convenient store dengan pangsa pasar anak-muda-hari-gini, tentu saja saya merasa mendadak hipster — karena Instagram terlalu mainstream; dan merasa mendadak horang kayah — perkaranya begini, kamera instan ini mungkin dibanderol murah, tapi filmnya mahal! Cek ke sevel terdekat, kalau gak percaya.

Seperti yang saya bilang tadi, kamera instan ini juga membuat saya merasa seperti pesulap, yang punya trik yang tidak diketahui orang lain : trik membuat foto langsung jadi.

Untuk saya, yang selalu menolak tawaran bapak-bapak penjaja foto langsung jadi di tempat-tempat wisata lokal semacam Monas dan TMII, jelas saya merasa jemawa — bisa bikin foto langsung jadi kaya mereka, tapi lebih keren! (Entah keren apanya?)

Mungkin keren karena bisa memberikan foto dalam bentuk fisik ke orang lain, pada saat itu juga. Seperti ini..

 

Lebih jauh tentang fitur Instax Mini 7S bisa dibaca pada review di sini.

Saya sih telat baca review itu, setelah beberapa film tersia-siakan menjadi foto kategori gagal.

Di salah satu foto kategori gagal, hasilnya kalau gak salah sih istilahnya overexposure — dimana terlalu banyak cahaya yang masuk ke lensa, sehingga hasil foto seperti pucat pasi. Di foto ini, bangunan luar Gereja Katedral Jakarta yang berwarna cokelat keabu-abuan terlihat putih mentereng seperti kemeja pada iklan-iklan detergen pemutih.

Selain foto ini, masih ada beberapa foto kategori gagal : foto indoor Gereja Katedral Jakarta dengan tata cahaya termaram hasilnya gelap gulita dengan beberapa bagian interior saja yang terlihat; foto Monas di malam hari diterangi lampu warna-warni hasilnya gelap pekat seperti kopi hitam.

Ada juga beberapa hasil foto yang memberitahukan ke saya : jangan diarahkan langsung ke sumber cahaya dong, mbaknya! Karena sumber cahaya itu (matahari, lampu) hanya akan menjadi titik hitam di foto.

Nah.. kalau kamu mau main-main dengan Fujifilm Instax Mini 7S ini, ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan :

  • Kamera instan ini memang terbilang murah, dengan banderol dibawah Rp 1 juta. Perlu punya banget atau aja nih? Masih bisa pinjam teman, loh..
  • Harga filmnya Rp 145.000 untuk film isi 2×10, atau Rp 80.000 untuk fim isi 10. Lumayan kan? Tapi atas nama eksplorasi dan eksperimen, jangan pelit yah..
  • Pelajari fiturnya yang basic. Banget. Coba imbangi fitur basic itu dengan (lagi-lagi) eksplorasi dan eksperimen. Pada beberapa objek foto, saya pertama-tama memotretnya dengan kamera digital pada handpone dan melihat hasilnya terlebih dahulu, sebelum memutuskan memencet tombol shutter Instax Mini 7S.
  • Tujuan lo apa? (loh kok pertanyaannya begini?) Maksudnya, mempertimbangkan harga film yang lumayan, ada baiknya objek foto kamu pilih benar-benar yang ingin kamu lihat dan pegang dalam selembar foto seukuran kartu ATM ini. Objek ‘gak penting’ gak usahlah dijepret pakai Instax Mini 7S ini.

Ini sekadar sharing saya setelah bermain-main dengan Instax Mini 7S selama liburan Lebaran kemarin. Take it or leave it? Terserah kamu.

Saya sih masih mau main-main lagi dengan si mini pink. (Nanti pinjam lagi ya, Nggie)

3 Thoughts.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *