Mangsa Terakhir

Dari selempeng permen bergula dengan rasa pepermint dia berubah wujud menjadi segumpal karet putih penuh liur. Terjun bebas dari ketinggian satu setengah meter, dia kini teronggok di tepi jalan beraspal.

Diam, tapi bukan tanpa rencana. Dia mengincar mangsanya.

Sepasang manusia, lelaki dan perempuan, tengah berdebat dalam bahasa mereka di dekatnya. Hap! Dia memeluk ujung tumit sepatu si perempuan. Beberapa meter dari tempatnya terjun bebas, menyeberangi jalan beraspal, sepasang manusia itu menghentikan langkah. Si perempuan mengeluhkan tentang dia yang melekat di alas kakinya. Sambil mencoba melepaskan dia dari ujung tumit sepatu itu, si lelaki mengeluh, “Lagian kamu udah tau susah jalan kalau pakai sepatu ini, malah tetap dipakai!”

Dia selamat, meski harus mengorbankan sebagian dirinya mati sebagai gumpalan-gumpalan kecil. Kini tergeletak di tengah jalan, terpental dari ujung jemari si lelaki.

Tak lama roda sepeda menggilas dia. Dia senang bisa melihat dunia dari sisi berbeda. Bergerak ke atas, melihat pemandangan dari ketinggian roda, bergerak ke bawah, kembali ke aspal. Terus-menerus, sampai sepeda itu tiba di sebuah rumah. Si anak yang mengendarainya lantas berteriak, “MAMAA!! TOLONG!” Si mama tergopoh-gopoh menghampirinya dari dalam rumah. “Ada apa teriak-teriak?”

“Ada permen karet di ban sepedaku,” rengek si anak. “Hih! Bikin kaget. Mama kira ada apa,” si mama menghembuskan nafas lega. “Minta tolong sama kakakmu ya, mama lagi masak.”

Tak lama si kakak mulai mencungkil-cungkil dia dari roda sepeda. Lagi-lagi sebagian dirinya mati sebagai gumpalan-gumpalan kecil. Sebelum akhirnya dia berpelukan erat dengan sebilah tusuk gigi yang mencabutnya dari roda itu. “Bego amat sih nih orang buang bekas permen karet sembarangan!” serapah si kakak. Dia mengamati mulut si kakak yang bercerocos. Pemandangan yang familiar, pikirnya. Ah, iya. Mulut itu yang sebelumnya membuang dia dari ketinggian ke tepian jalan beraspal.

Dia bahagia. Sekarang tidak lagi sendirian. Ada tusuk gigi yang setia menemani dalam pelukan. Cerita perjalanan mereka dimulai dari ruang gelap, lembap dan berbau menyengat yang manusia sebut tempat sampah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked. *

Related articles