Melayang

Dia menggenggam tanganku erat. Terlalu erat, telapak tangan kami berbagi keringat.

Aku tidak keberatan. Aku ingin menikmati sesaat ini.

Kami melangkah perlahan di tengah arus yang terburu-buru. Menyusuri lorong remang di bawah jalan protokol — jalan pintas, katanya. Berlari kecil menapaki tangga. Menyelinap di antara riuh manusia ibu kota.

Nafasnya menderu.

“Kamu gak apa-apa?”

Matanya basah. Senyumnya merekah.

Di kejauhan terlihat cahaya melesat mendekat. Klakson angin menggema.

Dia menarikku keluar dari kerumunan.

Jantungku berdegup kencang. Kami mengambil ancang-ancang.

 

Yang terakhir kuingat kami melayang dalam gerak lambat. Suara-suara manusia ibu kota memekak.

Tangan kami, masih bergenggaman erat, berubah menjadi sayap-sayap mengepak.

Bebas. Lepas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *