Memahami Mimpi, Memahami Diri

Kemarin pagi adalah salah satu hari di mana saya bangun dari tidur dalam keadaan menangis, tidak hanya basah di mata tetapi juga sesak di hati. Saya ingat, sebelumnya, dalam mimpi, saya menyaksikan adegan yang terlalu buruk untuk jadi kenyataan. Saya ingat, dalam mimpi saya menunduk, mencoba tidak melihat adegan itu, akan tetapi mendapati diri menangis. Lalu saya terbangun.

Yang lebih memilukan adalah adegan yang saya lihat dalam mimpi kemarin seperti dejavu. Saya pernah melihat adegan serupa di mimpi sebelumnya. Adegan di mimpi kemarin seperti sekuel mimpi sebelumnya, seolah mengonfirmasi: Ya, yang lo lihat di mimpi sebelumnya beneran terjadi.

Pada mimpi-mimpi semacam itu saya ingin protes, entah kepada siapa: Kenapa gue mimpi begitu?

Pada bab Dreams di buku (atau mini ensiklopedia) Psych 101 karya Paul Kleinman, ada Sigmund Freud, Carl Jung, Robert McCarley-J. Allan Hobson, Calvin S. Hall, dan G. William Domhoff yang mencoba mengartikan mimpi.

Mengikuti teori psikoanalisis mimpi ala Freud, saya jadi bisa memilah komponen dalam mimpi tersebut: 1) Konten manifestasi, yaitu yang terlihat nyata, adegan dan tokoh yang saya lihat dalam mimpi; dan 2) Konten laten, yaitu makna yang tersembunyi, makna di balik adegan yang saya lihat, makna di balik kehadiran tokoh dalam mimpi.

Membaca teori dan analisa mereka tidak membuat saya benar-benar langsung memahami arti mimpi, tapi setidaknya saya jadi tau harus mulai dari mana untuk belajar memahami mimpi tadi. Dan belajar memahami diri sendiri.

Saya sering masuk ke “pit stop” dan bertanya kepada diri sendiri: Lagi ngapain sih lo? Mau ke mana sih lo? Kenapa sih lo? Dan sesering itu juga saya tidak menemukan jawaban atas pertanyaan saya sendiri. Buku Psych 101, dan Philosophy 101 dari pengarang yang sama, jadi investasi yang penting buat saya untuk belajar memahami diri.

Sekali lagi, membaca teori-teori psikologi dan filosofi tidak membuat saya langsung mendapatkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan, tetapi membuat saya tau dari mana saya harus memulai, untuk meladeni diri saya sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked. *

Related articles