Memberantas Mitos Kopi Bersama Trafique Coffee

Katanya kita mengenali rasa pahit di pangkal lidah, asam di sisi kanan-kiri lidah, dan manis di ujung lidah.

Katanya kita mengenali rasa hanya saat makanan atau minuman tersebut berada di rongga mulut.

Katanya kita mengenali rasa hanya dengan lidah.

Ketiga mitos itu menjadi pembuka workshop bertema Home Brewing yang diadakan Trafique Coffee pada Sabtu, 4 Juni lalu. Dipandu oleh Nizar dari Coffee Department – Trafique Coffee, mini workshop ini mengajak ketujuh pesertanya mengenal gambaran besar proses pengolahan kopi dari panen sampai penyeduhan, dan — tentu saja — dasar-dasar penyeduhan kopi secara manual yang bisa kita lakukan di rumah.

Faktanya, titik di pangkal lidah kita adalah yang paling cepat mendeteksi rasa pahit, tetapi rasa pahit tetapi dikenali di seluruh permukaan lidah. Begitupun rasa asam dan manis, dideteksi paling awal di sisi kanan-kiri dan di ujung lidah, tetapi juga dikenali di seluruh permukaan lidah.

Faktanya, makanan atau minuman yang kita konsumsi sebelumnya masih meninggalkan rasa di lidah, sehingga mempengaruhi persepsi rasa makanan atau minuman yang kita konsumsi berikutnya. Misalnya, beberapa waktu lalu saya mengunyah dark chocolate, lalu sekarang saya menyesap kopi, maka saya masih mendeteksi rasa pahit yang ditinggalkan dark chocolate di lidah, dan bisa jadi keliru dalam mempersepsi rasa kopi yang saya nikmati sekarang.

Faktanya, lidah bukanlah satu-satunya indra yang mengenali rasa. Masih ada hidung yang turut menjadi reseptor rasa. Hidung bahkan mengenali rasa dari luar dan dari dalam; dari luar saat kita mengendus wangi mie instan goreng, dan dari dalam — pada rongga mulut yang terhubung dengan hidung — saat kita mengunyah mie instan goreng itu atau saat hawa dari mie instan goreng yang sudah selesai kita kunyah dan telan kembali naik ke rongga mulut.

Dari ketiga mitos yang diberantas di awal mini workshop ini, kami berlanjut mengenal rasa kopi — asam, manis, pahit dan aftertaste-nya — dengan memahami hal-hal yang turut berkontribusi memberikan rasa pada si biji kopi, di antaranya letak geografis pohon kopi, proses pascapanen, proses roasting, dan metode seduh kopi.

Selama ini mungkin kita memanjakan diri dengan datang ke coffeeshop dan memesan minuman kopi, membiarkan barista mengolah biji kopi pilihan dengan alat dan metode yang disediakan coffeeshop tersebut, dan membayar semua proses tersebut. Namun ada cara lain, yaitu dengan mengolah biji kopi pilihan sendiri dengan metode seduh sederhana yang bisa kita lakukan sendiri di rumah — atau, kalau saya, di kantor.

Salah satu alat seduh kopi yang mudah didapatkan (misalnya di sini) dan mudah digunakan,  adalah french press. Untuk “level up” dalam menikmati kopi, Nizar menyarankan kita juga berinvestasi pada digital scale, thermometer dan hand ginder (misalnya di sini). Yang biasanya juga dimiliki penikmat kopi adalah goose necek kettle dan timer; keduanya masih bisa digantikan teko biasa dan timer di handphone.

Pada diagram perbedaan hasil alat seduh, hasil seduh kopi menggunakan french press rupanya jatuh di spektrum more body, less clarity, jadi… kendalikan ekspektasi rasa yang kamu inginkan dari metode seduh ini ya.

Langkah pertama menggunakan alat seduh manual — apapun — adalah… mengenali alat tersebut. Dalam hal ini kami mempelajari rangka french press; mengenali fungsi masing-masing bagian di dalamnya. Langkah berikutnya adalah mengenali cara menyeduhnya, dengan cara mempelajari kombinasi suhu air, ukuran gilingan kopi, rasio kopi-air, dan waktu seduh yang menghasilkan rasa yang kita inginkan.

Pada eksperimen kami di workshop ini, setelah ketujuh peserta masing-masing mencoba menyeduh menggunakan french press, Nizar menyeduh menggunakan alat lain, clever dripper, dengan biji kopi yang sama, suhu air yang sama, ukuran gilingan yang sama, rasio kopi-air yang sama, waktu seduh yang sama, dan… hasil rasanya — body and clarity — jelas berbeda.

Buat saya, sesi mini workshop ini jadi pengingat kalau semakin saya mengenal kopi, dari hulu ke hilir, semakin saya bisa mengapresiasi minuman asam-manis-pahit ini, dan menikmati kopi memang butuh waktu (apapun prosesnya).

 

Memberantas Mitos Kopi - Twiradotnet 3
Tiga hasil ukuran gilingan yang berbeda
Memberantas Mitos Kopi - Twiradotnet 2
Oh, BTW, kami menggunakan gilingan otomatis
Memberantas Mitos Kopi - Twiradotnet 1
Tekan plunger perlahan, tidak perlu terburu-buru

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked. *

Related articles